
Happy reading ❤️
"Du-duduklah... Kita harus bicara," sahut Nadia terbata.
Rahang Alex mengeras seketika, mata hitamnya yang berkilat menatap wajah Nadia yang sedikit sembab.
Nadia kembali mengusap pipinya sebelum ia berbicara. Dadanya berdegup kencang dan keringat dingin mulai membasahi. Bibir Alex terkatup rapat, mata hitamnya memperhatikan dengan tajam.
"A-Alex...," Nadia mulai berbicara dengan terbata, sedangkan Alex terdiam terpaku tanpa mengalihkan pandangan matanya sedetik pun.
Hening...
Bibir Nadia bergetar dan sedikit terbuka. Kedua tangannya saling meremas satu sama lain di bawah meja berusaha untuk menenangkan diri. Ia seorang yang berani tapi di hadapan Alex, Nadia hanya seorang yang lemah. Rangkaian kata yang sudah beberapa kali ia hafalkan dalam hati untuk perpisahan kali ini nyatanya tercekat dalam tenggorokannya, lidahnya mendadak kelu. Wajahnya sudah terasa panas dan matanya sudah memburam, menahan air bening yang siap untuk ditumpahkan.
Alex menelisik dalam diam, bibirnya masih terkatup rapat namun sedetik kemudian senyuman muak tersungging di wajahnya.
"Kamu mau ninggalin aku ?" Tanya Alex dengan suaranya yang berat dan dingin.
Nadia yang mendengar itu langsung mengusap air bening yang lancang jatuh membasahi pipinya.
"A-aku tak bermaksud untuk meninggalkanmu, aku hanya ingin kita berpisah secara baik-baik," jawab Nadia. Bibirnya yang bergetar ketika mengatakan itu dapat terlihat jelas oleh Alex.
"Yeah right," gumam Alex terlihat muak. "Semua wanita sama saja," lanjut Alex. Tatapan mata menghakimi tertuju pada Nadia yang kini menundukkan kepalanya.
"Aku tak meninggalkanmu seperti dia ( Lola ). Aku masih duduk di sini, di hadapan kamu agar kita bisa berbicara dan berpisah secara damai," Nadia mengangkat wajahnya, balas menatap Alex dan mati-matian menahan air matanya.
"Kamu tahu Nadia ? Aku kira kamu mencintai aku tapi ternyata tidak. Beberapa hari ini kita lalui dengan banyak hal manis. Dan bodohnya aku mengira itu semua kita lakukan karena kamu merindukan aku seperti aku yang hampir gila karena merindumu, tapi ternyata semua hanya bualan semata. Kamu berpura-pura baik hanya untuk meninggalkan aku. Untuk kedua kalinya aku jatuh cinta pada wanita yang salah," ucap Alex dengan jelasnya.
"Kamu dengar Nadia ? Aku mencintaimu ! Rasanya hampir gila karena mencintaimu tapi sayangnya kamu tak merasakan hal yang sama, kamu boleh pergi." lanjut Alex sambil menggeser kursinya untuk berdiri dan beranjak pergi.
Air mata berhamburan di wajah Nadia walaupun beberapa kali ia mengusapnya dengan punggung tangan.
"I love you too much," ( aku terlalu mencintaimu ) ucap Nadia lirih.
Alex yang hendak pergi terdiam seketika dan menahan diri untuk mendengarnya.
"I love you 'too much'... not 'so much' but too much..."(Aku ini terlalu mencintaimu, bukan sangat tapi terlalu ) lanjut Nadia. Ia menengadahkan kepalanya, memberanikan diri untuk menatap wajah Alex yang masih terlihat gusar.
"Aku mencintaimu Alex, aku memutuskan untuk berpisah karena aku terlalu mencintaimu tapi aku sadar bahagia tak pernah berpihak pada kita meksipun kini kamu merasakan hal yang sama," lanjut Nadia.
Alex berdiri dan mendengarkan apa yang Nadia ucapkan dalam diam.
"Cinta yang luar biasa ini terlalu menyakiti aku," lirih Nadia sambil kembali mengusap air matanya.
"Aku mencintaimu lebih dari yang kamu tahu, Alex. Kamu ingat ketika aku menyiapkan makan malam romantis ketika kamu ulang tahun ? Aku berniat untuk menyatakan cintaku padamu tapi kamu dengan mudahnya membuat ku patah hati,"
"Aku sudah meminta maaf tentang hal itu, dan aku benar-benar menyesalinya," potong Alex terdengar tak terima.
"Apa kamu juga ingat ? Ketika kamu ingin menyentuhku untuk pertama kalinya kamu katakan akan memberikan apapun yang aku mau asal aku bisa puaskan kamu. Aku yang sangat mencintaimu merasakan sakit di dalam sini," ucap Nadia seraya menunjuk dadanya.
"Aku pun sudah meminta maaf karena hal itu," timpal Alex.
"Dan setelah aku menyerahkan diriku padamu dengan sepenuh hati karena aku mencintaimu, aku selalu memintamu untuk memelukku karena dengan begitu aku bisa memiliki dirimu walaupun bukan hatimu karena nyatanya dirimu masih memikirkan Lola hingga kamu pernah mengatakan tak ada lagi "kita" dan untuk ke sekian kalinya aku patah hati,"
"Tapi aku sudah meralatnya, dan sudah ku katakan padamu perasaanku yang sebenarnya bahwa aku mencintaimu," bantah Alex.
"Apa kamu sadar Alex ? Dari semua rasa sakit yang aku rasakan aku tak pernah menyerah bahkan aku tak bisa membencimu walaupun aku ingin karena cintaku yang terlalu dalam padamu," ucap Nadia dan itu sukses membuat Alex bungkam.
"Banyaknya rasa sakit yang aku terima, aku abaikan hanya untuk bisa berada bersamamu. Walaupun rasanya tersiksa tapi aku bertahan karena aku terlalu mencintaimu," lanjut Nadia, ia sedikit meninggikan suaranya.
"Apa kamu tahu Alex ? Aku pernah berharap agar buah cinta tak hadir diantara kita karena sikapmu yang tidak bisa ditebak tapi ketika ia hadir walaupun untuk sesaat, aku merasa bahagia dan juga cemas di saat yang bersamaan. Bahagia karena bagian dari dirimu hadir di dalam diriku dan cemas karena takut kamu tak merasakan bahagia yang sama,"
"Nad...,"
"Tapi aku bahagia ketika kamu mengatakan menginginkannya juga bahkan kamu pun menyatakan cinta padaku. Tapi setelah itu aku mengalami pendarahan dan tak pernah mengatakannya padamu karena aku takut, Alex ! Aku takut membuatmu kecewa karena aku tahu kamu pun mengakui perasaanmu karena kehadiran buah cinta kita. Boleh kan aku mengatakannya seperti itu ? Karena aku melakukannya penuh rasa cinta padamu,"
"Aku pun melakukannya karena rasa cinta ! Setiap aku menyentuhmu itu semua dengan perasaan cinta !" Protes Alex, ia meninggikan suaranya karena merasa tak terima.
"Aku berusaha menjaganya sekuat tenaga dan do'a semoga dia bertahan dalam diriku karena dia lah yang mengikat kita berdua. Aku berharap kehadirannya akan membuatmu terikat kuat padaku. Tapi nyatanya ia tak dapat bertahan dan yang membuatku sakit hati karena ternyata Lola, wanita yang pernah sangat kamu cintai ikut andil di dalamnya, ia berusaha mencelakai aku hanya untuk bisa kembali padamu !" ucap Nadia dengan air mata berhamburan.
Alex yang mendengar itu menarik nafas dalam-dalam dan ia pun berjalan mengitari meja untuk bisa mendekati Nadia yang masih berada di tempatnya. Ia bersimpuh di hadapan Nadia dan menarik jemari Nadia kedalam genggamannya.
"Aku tak lagi mencintainya, aku hanya mencintaimu," ucap Alex. Ia melembutkan suaranya ketika mengatakan itu.
"A-aku merasa putus asa, aku merasa hampa. Tak ada lagi yang bisa mengikat kita untuk bersama. Kehilangan buah cinta kita adalah patah hati yang sebenarnya. Walaupun kita saling mencinta tapi ternyata bahagia bukanlah milik kita," lirih Nadia hampir tak terdengar.
"Jangan katakan itu, Sayang. Kita akan bahagia. Aku berjanji, kita akan bahagia," sanggah Alex saraya menciumi punggung tangan Nadia yang basah karena air matanya sendiri.
"Tahukah kamu Alex ? Bahkan sekarang pun aku tak bisa membencimu karena aku terlalu mencintaimu. Tapi aku sadar jika aku terus seperti ini aku akan mati pelan-pelan. Jadi sebaiknya kita berpisah saja, karena aku tak sanggup lagi menjalani ini semua,"
"No.. no... Jangan katakan itu..." Lirih Alex penuh mohon.
"Alex... Aku takut... Aku takut merasakan patah hati lagi karenamu. Oleh karena itu izinkan aku membawa seluruh rasa cintaku ini pergi,"
"Apa yang harus aku lakukan, Sayang ? Apa aku harus bersujud di kakimu agar kamu tidak pergi?" Tanya Alex. Ia pandangi lamat-lamat wajah Nadia yang sembab.
Nadia menggelengkan kepalanya pelan, "Apa yang harus aku lakukan ?" Tanya Alex lagi penuh tuntutan.
Hening untuk sesaat, keduanya hanya diam dan saling bertatapan menahan sakit dan ngilu di hatinya masing-masing.
"Biarkan aku pergi, aku mohon....," Lirih Nadia pada akhirnya.
"Tidak... Tidak... Aku bisa gila tanpamu," tolak Alex sembari menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Alex... Aku tak bisa... Salahku yang jatuh cinta pada lelaki yang belum bisa melepaskan masa lalunya," ucap Nadia sembari tertawa. Ia menertawakan kebodohannya sendiri.
"Aku akui aku lengah hingga Lola bisa masuk diantara kita dan melukai mu tapi percayalah hanya kamu yang aku cinta, Nadia. Im in love with you, only you."
"A-aku....," kata Nadia terbata.
"Aku sedang berusaha untuk menyelesaikan semua, ku mohon beri aku kesempatan," ucap Alex penuh mohon.
Belum juga menjawab permohonan Alex, ponsel Nadia berdering dan tertera nomor dari supir kantornya yang telah menunggunya di pelataran parkir.
Nadia tak menjawab panggilan itu, yang ia lakukan hanya menatapi wajah Alex yang bersimpuh di hadapannya.
"A-aku harus pergi. Mulai hari ini aku dipindahkan ke Bandung. Mungkin ini adalah cara Tuhan untuk memisahkan kita," ucap Nadia.
"Jangan pergi, Sayang. Aku mohon....,"
Lagi-lagi ponsel Nadia bergetar dan berbunyi menandakan seseorang kembali menghubunginya.
"Aku harus pergi. Maafkan aku, Alex..," ucap Nadia dan ia pun membelai lembut wajah Alex yang basah karena lelaki itu dengan tak malu-malu menumpahkan air matanya.
"Aku mencintaimu, Alex... Selalu... Aku akan berdoa untuk kebahagiaanmu," kata Nadia sungguh-sungguh.
Alex yang mendengar itu menggelengkan kepalanya berkali-kali berusaha mengingkari ucapan istrinya.
"Aku harus pergi... Minggu depan setelah aku tak terlalu sibuk, aku akan pulang ke Bogor untuk menyelesaikan perpisahan kita secara resmi. Kamu tak usah datang jika tak ingin, karena katanya itu lebih mudah jika kamu tak datang,"
Alex diam tak berkata-kata.
Nadia tersenyum dan mengeluarkan sebuah cincin dari sakunya, sebuah cincin pernikahan yang tak pernah dikenakannya.
"Bolehkah cincin ini tetap jadi milikku ? Sebagai kenangan terakhir darimu," tanya Nadia tapi Alex masih diam tak menjawab.
"Diam mu ku artikan sebagai iya, terimakasih," lanjut Nadia kemudian.
"Aku pergi ya... Supir sudah terlalu lama menungguku. Selamat tinggal, Alex." Nadia pun mengecup pipi Alex untuk terakhir kalinya sebelum ia berdiri dan menyeret kedua kopernya meninggalkan Alex yang masih duduk bersimpuh dalam diam.
To be continued ❤️
Thanks for reading 😘
Jangan lupa vote bagi yang suka.