
Celia masih tak paham dengan maksud Daddy-nya. Setahu gadis itu, perusahaan mereka sedang tidak membuka sebuah pabrik baru. Lalu mengapa Daddy-nya berkata kalau pabriknya akan beroperasi?
"Maksud Daddy, apa kamu sudah benar-benar siap?" tanya Fabian dari seberang panggilan.
Celia menganggukkan kepala padahal lawan bicaranya tak dapat melihat apa yang ia lakukan.
"Aku takut Collin terlalu lama menunggu lalu melakukannya dengan wanita lain, Dad," cicit Celia.
"Apa kamu membutuhkan bantuan Mommy?" Renata ikut nimbrung dalam percakapan seluler itu.
"Tunggu, memangnya kalian di mana? Bukankah ini jam kerja?"
"Eh ... M-mommy hanya menemani Daddy-my saja yang kesepian karena tak ada kamu yang membantunya," jawab Renata sedikit tergagap.
"Mencurigakan," ujar Celia.
Tanpa aba-aba gadis itu melakukan panggilan video alih-alih panggilan suara. Benar saja, padahal matahari belum naik terlalu tinggi, penampilan mereka sudah berantakan lagi.
"Ah, aku iri dengan kalian!"
"Makanya jangan terlalu lama larut dalam bayangan itu. Move on!" kekeh Fabian.
Celia mengerucutkan bibirnya. Kesal dengan perkataan orangtuanya yang staminanya masih tinggi di usia yang tak muda lagi.
"Kalau begitu Celia tutup dulu. Jangan sampai nambah adik lagi buat Celia dan Aksa!"
"Tak janji," ledek Fabian.
Panggilan pun terputus. Celia mengembuskan napas panjang. Berulang kali dia melakukannya untuk mengurangi rasa gugup yang mendera.
"Ayo Celia! Semangat! Kamu pasti bisa! Jangan sampai Collin menabur bibit presidennya di mana-mana hanya karena trauma!" ujar Celia menyemangati dirinya sendiri.
Celia membereskan kamarnya. Menatanya sedemikian hingga untuk menyambut suami yang nanti akan dia manjakan. Celia juga menaburkan kelopak bunga mawar imitasi yang sempat ia beli sesuai saran dokter Almira. Tak lupa lilin aromaterami ia letakkan di beberapa sudut agar menciptakan suasana kamar yang romantis.
Tak hanya di kamar, Celia juga menghias kamar mandi dalam kamar itu dan meletakkan dua buah lilin yang aromaterapi yang sama, untuk berjaga-jaga jika suaminya mengajaknya mandi bersama.
Seketika rona merah jambu terbit di wajah gadis bersuami itu. Membayangkan kegiatan menyenangkan yang akan dia lakukan bersama untuk pertama kalinya. Pun Celia menyiapkan pakaian dinas dan beberapa produk perawatan tubuh yang ia sembunyikan di dalam lemari khususnya sebagai pendukung pelayanannya agar semakin paripurna.
***
Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Berdasarkan penuturan suaminya, dia akan pulang pukul empat sore. Setidaknya saat jarum jam menunjuk ke angka lima, dia sudah ada di rumah bersama sang istri tercinta yang sudah berjanji akan menyuguhkan sesuatu yang sangat manis untuknya.
Celia memasak beberapa hidangan untuk makan malam. Dari sekian jenis menu, Celia memilih untuk membuat Steak daging sapi untuk sang suami. Gadis itu memasak hidangan itu sendiri berbekal tutorial dari yutub yang ternyata sekali coba, jadi.
Tak lupa ia menyiapkan beberapa pelengkapnya seperti kentang, wortel dan buncis.
"Semoga dia suka," ucap Celia bermonolog.
Celia menyajikan dua porsi Steak di atas meja yang telah ia tata. Dua piring steak dengan jus anggur non alkohol sudah siap tersaji di atasnya.
"Waktunya bersiap," ucap Celia terkikik geli.
Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat. Celia menyelesaikan ritual mandinya dan semua persiapan sudah selesai ia siapkan.
Namun, saat jam sudah menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit, Collin masih belum menampakkan batang hidungnya.
Celia hanya bisa menunggu suaminya yang tak kunjung memberi kabar kapan akan pulang dari tempat kerjanya.
Merasa kelelahan, Celia tak sangguplagi menahan kantuk yang tiba-tiba mendera. Di bawah cahaya temaram dari sebuah lilin dan beberapa lampu meja, gadis itu tertidur lelap di atas meja makan, tak jauh dari piring makanan yang kini sudah mulai dingin.
***
Jam menunjukkan pukul delapan malam saat terdengar seseorang membuka pintu yang terkunci. Sebelumnya, suara ketukan terdengar dari pintu utama rumah itu. Namun, taj ada seorang pun yang membukanya. Beruntung dia membawa kunci cadangan sehingga membuatnya bisa masuk ke dalam rumahnya sendiri.
Collin terkejut saat mendapati Celia tertidur di atas meja. Diusapnya lembut surai gadis itu sehingga tidur lelapnya terusik dan membuatnya terjaga.
"Kamu baru pulang?" Gadis itu mengucek kedua matanya.
Collin mengangguk. "Maafkan aku telah membuatmu menunggu."
Celia hendak bangkit dari kursinya dengan mengangkat piring yang ada di hadapannya. Namun, gerakannya dihentikan oleh sang suami yang menahan pundaknya.
"Biar aku yang menghangatkannya," ujar Collin seraya mengambil alih piring di tangan istrinya.
Pria itu membawa dua piring yang berisi makanan itu ke dapur, menghangatkannya kembali. Dia tak ingin perjuangannya sia-sia karena kesalahannya yang tak memberi kabar pada istrinya bahwa dia akan pulang terlambat.
"Maaf. Aku tak mengabarimu kalau pulang terlambat. Tadi di IGD banyak pasien yang baru masuk."
Celia menggeleng. "Itu tak apa. Lagi pula itu sudah menjadi tugas dan kewajiban menolong mereka yang membutuhkan penanganan."
"Terima kasih," ucap Collin seraya tersenyum menatap Celia.
Cahaya temaram ruangan itu membuat Collin baru menyadari kalau saat ini istrinya tengah memakai pakaian tipis yang sekali tarik, bisa kenampilkan apa yang tersembunyi di baliknya. Pria itu susah payah menelan ludahnya saat membayangkan keindahan yang selama ini selalu menggodanya.
Collin buru-buru menandaskan makanannya. Ia sudah tak bisa lagi menunggu. Sudah empat bulan lamanya dia menahan diri agar Celia mau membuka hati dan menyerahkan dirinya secara sukarela. Dan apakah saat ini sudah tiba saatnya?
"Hm ... Celia ... Pakaianmu ...."
"Kenapa? Bagus bukan?" ucap Celia terang-terangan.
Gadis itu menyelesaikan makannya. Dia kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan perlahan ke arah suaminya. Sengaja menggoda suaminya yang masih perjaka.
Tatapan pria itu sedikit pun tak menoleh ke arah lain, seolah terkunci oada satu pusat yakni istrinya. Apalagi saat ini wanita itu dengan berani duduk di pangkuannya, membelai rahang tegas pria itu hingga membuat sekujur tubuhnya menegang.
Collin yang tak sabar, meraih kepala istrinya dan menautkan bibir mereka satu sama lain. Perlahan sentuhan bibir pemuda itu menuruni leher jenjang istrinya yang saat ini tak tertutup apa pun. Napasnya mulai memburu seiring keinginan yang sudah lama ia tahan, kembali menyeruak ke permukaan.
"Apa boleh?" tanya Collin di sela-sela pemanasan yang mereka lakukan.
Celia menganggukkan kepalanya pasti. Malam ini, dia mempercayakan semuanya kepada sang suami yang telah sabar menunggunya menyerahkan diri. Rasa takut kehilangan suaminya membuat Celia perlahan melupakan traumanya. Gadis itu benar-benar tak rela jika suaminya memilih penampungan lain untuk benihnya yang berharga.
Tanpa menunggu lama, Collin membawa tubuh Celia, menggendongnya hingga ke kamar mereka yang telah dipersiapkan begitu sempurna oleh istri tercinta.