In Love

In Love
Bingung Judulnya



Happy reading ❤️


Alex mendorong troli belanja sedangkan Nadia berjalan di depannya memilih barang apa saja yang akan dibeli. Sebenarnya ini bukan kali pertama mereka berbelanja bersama namun setelah melewati kewajiban mereka sebagai suami istri, rasa yang bertaut diantara keduanya kini berubah.


Seperti sekarang ini Alex terus memperhatikan sang istri yang dengan cekatan memilih apa saja yang dibutuhkan suaminya dan Alex sangat takjub dengannya. Mereka baru tinggal bersama beberapa bulan lamanya namun Nadia hampir hapal semua yang Alex butuhkan juga sukai.


Tak hanya itu istrinya kini terlihat lebih berbinar di mata Alex hingga ia tak bisa mengalihkan pandangannya barang sedetikpun.


Dan yang lebih gilanya, walaupun saat ini Nadia mengenakan sweater hoodie berwarna pink dusty dan celana jeans  skinny berwarna hitam juga sepatu sneaker warna putih namun Alex bisa menggambarkan dalam kepalanya jika Nadia yang tengah berdiri dihadapannya ini tampil polos tanpa sehelai benangpun. Walaupun mereka baru melakukanya sebanyak 2 kali tapi Alex hapal benar bagaimana tubuh istrinya itu sebenarnya bahkan letak tahi lalat dalam tubuhnya pun bisa Alex petakan dengan jelas.


"F*ck," maki Alex seraya memukul gagang troli karena sang anaconda yang terbalut celana menggeliat untuk sesaat ketika ia membayangkan tubuh polos istrinya.


Alex melepaskan troli dan berjalan mendekati, ia merangkul pundak Nadia dan melekatkan bibirnya di pelipis sang istri.


Apa yang Alex lakukan tentu saja membuat Nadia melonjakkan tubuhnya karena terkejut. "Kamu ngapain?" Tanya Nadia seraya melihat sekitar karena takut seseorang melihat mereka.


"Cium istri gak boleh ?" Tanya Alex masih  tanpa melepaskan rangkulannya.


"Istri ?" Dada Nadia berdegup kencang seketika, ini kali pertama Alex berkata seperti itu. Tapi yang tahu pernikahan mereka hanya segelintir orang saja karena keduanya memang menutupinya. Bahkan cincin pernikahan pun tak pernah mereka kenakan karena untuk menutupinya dari orang lain.


Menyadari hal itu, Nadia pun perlahan melepaskan rangkulan Alex dengan dalih berjalan menuju lorong yang lain dan tanpa curiga Alex pun kembali mengikuti dengan mendorong troli.


Sepanjang Nadia berjalan, pikirannya melayang pada pernikahannya sendiri. Apa boleh ia meminta Alex untuk mendeklarasikan hubungan mereka yang sebenarnya ? Namun perjanjian pernikahan yang konyol dan menyakitkan itu belum di bahas bagaimana kelanjutannya.


Nadia menarik nafas pelan, menyadari sakitnya cinta sendiri.


"Ah maaf, Mbak," ucap seorang lelaki yang dengan tidak sengaja bertubrukan dengan Nadia yang tengah melamun.


"Ah, aku yang minta maaf," sahut Nadia merasa tak enak. Alex yang sedang melihat-lihat produk yang dipajang langsung menyimpannya kembali di atas rak dan mendatangi Nadia yang saat ini tengah berbicara dengan seorang pria muda.


Tanpa banyak bicara, Alex merengkuh pinggang sang istri untuk padu dengan tubuhnya. "Ada apa ?" Tanyanya dengan wajah yang terlihat tak bersahabat.


Nadia mengerutkan keningnya karena terheran dengan apa yang Alex lakukan saat ini.


"Maaf, saya tadi tak sengaja menabrak mbaknya," jawab lelaki itu sopan.


"Sebenarnya salah aku juga karena melamun. Maaf ya, Mas," sahut Nadia tersenyum. Ia sungguh merasa tak enak.


"Mungkin kamu kelelahan, sayang. Ayo kita sudahi belanjanya dan segera pulang," sahut Alex dengan kembali mencium pelipis Nadia. Membuat lelaki di hadapan terlihat malu dan jengah.


"Oke, Mbak sekali lagi maafin saya ya,"


"Aku juga minta maaf," Sahut Nadia, dan lelaki itu pun berlalu pergi. Tanpa disadari siapapun, Alex menatap sinis kepergian lelaki itu.


"Pulang yuk,"


"Tapi kita belum makan malam," sahut Nadia.


"Masak di rumah aja, gak baik lama-lama di luar," jawab Alex sembari mendorong troli belanjaannya ke arah kasir.


Alex memasukkan semua kantong belanja ke dalam bagasi, sedangkan Nadia duduk di bangku penumpang tepat sebelah Alex.


Tak lama suaminya itu memasuki mobil dan mulai menyalakan mesin, Nadia kira Alex mencondongkan tubuhnya untuk melihat kaca spion yang ada di sebelahnya lebih jelas lagi. Namun yang nyatanya terjadi adalah Alex menarik dagu Nadia agar menghadapnya dan membenamkan bibirnya di atas bibir Nadia dengan sempurna.


Ia mengulum bibir istrinya itu dengan lembut serta memberikan sesapan penuh tuntunan.


Mata Nadia terbelalak, sungguh ia merasa terkejut dengan apa yang Alex lakukan padanya saat ini.


Ciuman penuh tuntutan itu berlangsung cukup lama, bahkan kedua tangan Alex menahan kepala istrinya agar tak menjauh.


"Jangan bicara dengan orang asing sembarangan, aku gak suka" lirih Alex tepat di atas bibir istrinya yang basah karena sesapannya.


Nadia menelan salivanya sendiri dan mengangguk pelan.


"Bisa jadi orang itu berniat jahat," lanjut Alex beralasan, dan lagi-lagi Nadia menganggukan kepalanya pelan. Sungguh ia tak bisa hanya sekedar berkata-kata.


"Good girl," gumam Alex seraya mengusap bibir Nadia yang basah dengan jempolnya. Tak lama ia pun memarkirkan mobilnya untuk keluar dari pusat perbelanjaan itu. Sedangkan Nadia berusaha mati-mati untuk menenangkan diri karena detak jantungnya yang menggila.


***


"Aarrrrgghhhh," erang Nadia yang tengah meregangkan tubuhnya. Ia merasakan ngilu di sekujur tubuh karena percintaannya semalam.


Setelah makan malam, Alex kembali meminta haknya. Tak hanya satu kali tapi lebih dari itu.


Sungguh saat ini tubuhnya terasa luluh lantak, namun ia harus bangun dan bersiap untuk ke kantor.


Baru Nadia sadari jika Alex sudah tak ada di sebelahnya ia pun merasa ada sesuatu yang kurang, tak ingin larut dalam perasaannya ia pun memilih untuk segera memasuki kamar mandi dan membersihkan diri.


Setelah bersiap, Nadia keluar dari kamar suaminya dan terkejut hebat ketika mendapati Alex tengah berada di dapur dengan pakaiannya yang terlihat rapi dan telah siap untuk pergi. Padahal biasanya lelaki itu akan masih bersantai jika Nadia pergi ke kantor.


"Sarapan dulu," titah Alex seraya menunjuk sebuah piring dengan satu tumpuk roti isi diatasnya.


Nadia pun menuruti apa yang Alex katakan dengan duduk di hadapan suaminya.


"Kamu ada meeting pagi ?" Tanya Nadia sembari memasukan roti isi itu pada mulutnya.


"Lalu ?"


"Lalu apa ?" Sahut Alex.


"Pagi-pagi udah rapi banget," jawab Nadia terheran.


"Bawel !" Sahut Alex. Ia memilih untuk menghabiskan sarapannya daripada menjawab pertanyaan sang istri.


Nadia mencebikkan bibirnya karena kesal dan Alex tertawa melihatnya.


Setelah menyelesaikan sarapan paginya, Nadia pun bersiap untuk pergi begitu juga Alex.


Keduanya keluar dari apartemennya secara bersamaan, naik lift pun bersamaan hingga sampai di pelataran parkir.


Nadia hendak pergi ke halte bis namun Alex menarik jemarinya untuk mengikutinya.


"Alex, aku lagi gak mau bercanda. Bis lu sebentar lagi lewat, kalau tertinggal aku harus menunggu 30 menit lagi," rengek Nadia seraya berusaha melepaskan genggaman tangannya.


Alex tak menggubrisnya, yang ia lakukan hanya terus menarik tangan istrinya hingga sampai ke tempat mobilnya yang terparkir.


"Naik," titah Alex tak terbantahkan.


"Naik ? Kita mau kemana ? Aku harus masuk kantor, Alex."


"Iya naik aja dulu," jawab Alex seraya membukakan pintu untuk istrinya dan dengan terpaksa Nadia pun menurutinya.


Alex berlari kecil memutar menuju pintunya sendiri dan segera memasukinya.


"Kita mau kemana ? Aku bisa terlambat," ucap Nadia cemas.


Lagi-lagi Alex mencondongkan tubuhnya seolah ingin melihat kaca spion padahal yang dilakukannya adalah menarik dagu Nadia dan mencium bibirnya dengan mesra.


"Mulai sekarang aku akang mengantarmu ke kantor," lirih Alex tepat di atas bibir istrinya.


"Ta-tapi jarak kantor kita berjauhan," jawab Nadia terbata.


"Gak masalah, aku tahu rute jalan yang lebih dekat," timpal Alex dan ia pun mulai memarkirkan mobilnya untuk keluar dari apartemen.


Sepanjang perjalanan Nadia masih merasa tak percaya, beberapa kali ia melihat Alex yang sedang fokus menyetir.


"Aku emang ganteng, tapi ngelihatnya gak usah begitu juga," ucap Alex.


"Isssshhhhh," decak Nadia kesal.


"Alex, ini kamu beneran mau nganterin ?" Tanya Nadia.


"Kamu mau turun di sini ?" Tanya Alex yang di jawab Nadia oleh gelengan kepala.


Tentu saja Nadia tak mau, karena jalan yang Alex lewati saat ini bukan jalan yang biasa bisnya lalui.


"Makanya duduk manis dan nikmati perjalanannya," sahut Alex dan Nadia pun menurutinya.


Setelah beberapa belas menit berkendara, Nadia pun tiba di depan gedung kantornya. Alex kembali memagut bibir istrinya sebelum ia turun.


"Nanti sore aku jemput ya, kamu tunggu," ucap Alex sebelum ia pergi meninggalkan Nadia di depan kantornya.


Nadia meraba bibirnya yang basah karena sesapan suaminya. Ia berdiri bagai orang linglung. Hingga Dian yang merupakan anak magang di bagian divisinya mengagetkan Nadia dan membuatnya sadar.


"Mbak, ngapain berdiri di sini ? Gak masuk ? Tumben datangnya pagi banget,"ucap Dian.


"Eh, oh.. ini mau masuk. Kamu ngagetin aja. Ayo masuk," jawab Nadia seraya menarik lengan Dian untuk masuk ke dalam kantor dengannya.


***


Alex tiba di kantor tepat waktu, ia merapikan jas juga dasinya sebelum turun dari mobil.


Dengan penuh percaya diri dan mood yang baik ia menyapa juga tersenyum pada siapa saja yang kebetulan berpapasan dengannya membuat semua orang terheran.


Sesampainya di depan ruang kerjanya, Joy sang sekretaris berdiri menyambut kedatangannya dengan wajah menegang karena cemas.


"Pak," sambut Joy sedikit takut-takut.


"Kenapa Joy ?" Tanya Alex terheran.


"Ada wanita yang beberapa waktu datang kemari bersikeras untuk bertemu dengan Anda, padahal saya sudah katakan padanya harus membuat janji temu dulu jika ia ingin berbicara langsung dengan anda tapi ia terus memaksa masuk," jelas Joy.


"Di mana dia sekarang ?"


"Se-sedang duduk menunggu dalam ruangan anda," jawab Joy takut-takut.


To be continued ❤️


Thanks for reading 😘