In Love

In Love
Setelah Itu



Happy reading ❤️


Pukul 10 pagi Nadia sudah sampai di tempat kostnya. Tak ada yang tahu jika semalaman ia tidur di bangku tunggu bandara dan kembali ke Jakarta dengan penerbangan pertama.


Setelah meninggalkan hotel dalam keadaan limbung tak tahu arah dan tujuan, yang ia inginkan hanya pulang pada pelukan ibunya. Oleh karena itu Nadia langsung pergi menuju bandara dan menghabiskan waktu disana hingga pagi dengan perasaan hancur dan kecewa untuk yang kesekian kalinya oleh lelaki yang sama.


Sesekali Nadia masih menyeka air mata yang turun tanpa ia minta. Bayangan dengan Alex semalam terus menghantuinya. Beberapa kali Nadia berusaha melupakannya tapi jejak cinta yang Alex tinggalkan di lehernya terus mengingatkan Nadia pada kejadian buruk tadi malam.


Bagaimana bisa Alex berpikiran seperti itu ? Apa tak pernah sekalipun Alex menyadari jika Nadia sudah jatuh cinta padanya.


Yang Nadia lakukan saat ini adalah terbaring diatas ranjang kosnya dengan mata memandang kosong langit-langit diatasnya.


"Tak bisakah kamu lihat rasa cinta di mataku, Alex ? Apa kamu tak menyadari jika aku tetap bertahan di sisimu hanya karena aku mencintaimu ? Aku rela menahan rasa sakit hanya demi bisa berada di dekatmu ? Tak bisakah kamu rasakan itu sedikit saja ?" Batin Nadia dalam hati dan ia kembali mengusap pipinya yang basah.


"Kamu tak mengerti, Alex. Aku sangat mencintaimu," gumam Nadia lirih.


Sebenarnya yang Nadia inginkan saat ini adalah pelukan hangat ibunya namun ia takut ibunya itu akan curiga dengan kondisi pernikahannya yang buruk. Ia tak mau menjadi beban pikiran kedua orangtuanya terlebih lagi ayahnya memiliki penyakit jantung.


"Ya Tuhan, kapan patah hati ini akan berakhir ?" Tanya Nadia dalam hati dan ia pun membalikkan tubuhnya dan tidur dalam posisi meringkuk.


***


Alex baru saja tiba di bandara internasional Soekarno Hatta. Setelah mengetahui jika Nadia telah meninggalkan hotel dari semalam ia langsung menghubungi istrinya itu berulang kali namun ternyata Nadia mematikan daya ponselnya.


Banyak pihak yang Alex hubungi guna mencari istrinya itu. Dari kantor tempat Nadia kerja hingga temannya Meta.


Pikiran Alex terus dihantui hal buruk yaitu Nadia melarikan diri untuk kembali pada kekasihnya Edo atau Bimo. Dan jika hal itu benar adanya, ia akan menguliti hidup-hidup lelaki yang berani menyentuh istrinya itu.


"F*ck !!!" Maki Alex seraya melemparkan ponselnya dengan penuh amarah. Supir pribadinya memperhatikan Alex dari kaca spion yang terletak diatasnya.


Saat ini Alex tengah duduk di bangku penumpang dengan menggunakan mobil kantor dan juga supir. Ia meminta Joy sang sekretaris untuk mengatur kepulangannya dari Bali.


Tempat pertama yang Alex datangi adalah apartemennya. Ia segera keluar dan berlari ketika sang supir baru saja memberhentikan mobilnya.


"Nad, Nadia !!!" Teriak Alex ketika ia baru saja memasuki apartemennya namun tak ada siapapun disana.


"Shiiiiiiit, dimana sih kamu ?" Alex begitu merasa panik saat ini.


Ia mendudukkan tubuhnya di atas sofa untuk sesaat dan berpikir kemana kira-kira Nadia pergi karena tak ada seorangpun yang tahu.


Alex melihat jam di tangannya menunjukkan hampir pukul setengah 12 siang. Ia pun mencoba peruntungan untuk datang ke rumah orangtuanya Nadia di Bogor.


Sebelum pergi meninggalkan apartemennya dan pergi ke Bogor, Alex terlebih dahulu meminum obat pereda nyeri karena sakit kepala yang ia rasakan.


Rasa khawatir dan menyesal bercampur dalam dirinya saat ini. Ia khawatir hal buruk terjadi pada Nadia dan menyesal karena kejadian semalam.


Apa salah jika dirinya menginginkan Nadia seutuhnya ? Nadia adalah istrinya, dan setelah pernikahannya ia selalu menjadikan istrinya itu sebagai objek fantasinya sebagai pria dewasa namun Alex selalu merasa jika Nadia menolaknya hingga kata-kata tak bermoral itu keluar dari mulutnya.


"Ke Bogor," titah Alex pada sang supir ketika ia baru saja mendudukkan tubuhnya kembali di dalam mobil.


"Baik, ini ponsel bapak yang terjatuh," kata supir itu seraya menyerahkan ponsel yang tadi Alex lempar.


Alex meraih ponselnya tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, pikirannya begitu kacau dan hatinya diliputi rasa cemas yang hebat karena tidak mengetahui dimana keberadaan sang istri hingga untuk berbicara pun ia merasa enggan.


Banyak panggilan telepon masuk pada ponselnya baik itu dari kantor, klien bahkan Lola pun terus menerus menghubunginya tapi dari semua itu tak ada satupun yang Alex terima. Ia sedang tak ingin bicara dengan siapa pun. Yang ia inginkan hanyalah menemukan istrinya, Nadia. Sepanjang perjalanan Alex melemparkan pandangannya ke luar jendela dengan tatapan mata kosong.


***


"Terus kamu maunya gimana ?" Tanya Meta yang kini tengah mengunjungi Nadia di tempat kosnya. Tak hanya Meta, namun Bimo juga berada di sana. Keduanya datang ketika tahu Nadia pulang lebih cepat dari Bali dengan keadaan yang tak baik-baik saja.


Nadia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan yang Meta ucapkan.


Pada akhirnya Nadia bercerita yang sebenarnya terjadi dan kedua temannya itu merasa begitu prihatin.


"Bim, kamu hajar Alex kek ! Ajak Adrian sama Diki. Hajar sampai dia babak belur biar gak nyakitin Nadia terus," ucap Meta dengan kesalnya.


"Seandainya Adin dan Alex belum menikah tentu udah aku hajar si Alex itu. Gak usah pake bantuan siapapun, tapi masalahnya mereka udah menikah dan bila hal itu terjadi nama Adin yang jadi jelek karena aku ini mantan kekasihnya. Aku gak mau jadi Adin yang disalahkan," timpal Bimo.


"Nah kan... Itu akan memperkeruh keadaan," lanjut Bimo.


"Ih kenapa laki-laki selalu mengandalkan logika, sekali-kali pakai hati kek," ledak Meta penuh emosi. Ia merasa tak terima dengan apa yang terjadi pada sahabatnya itu.


"Menurutku Alex juga menyukaimu, Adin. Hanya saja dia belum sadar. Percaya deh," ucap Bimo.


"Hah? Benarkah ?" Kali ini Nadia membuka mulutnya setelah sekian lama berdiam diri.


"Ya, untuk apa dia jauh-jauh terbang dari Riau hanya untuk pergi denganmu ke Bali ? Karena ia tak rela kamu dengan lelaki lain. Kamu ingat waktu aku memberikan obat yang kamu jatuhkan ? Alex melihatku dengan tatapan mata tak suka. Aku tahu dia cemburu. Dan untuk apa dia terus mencoba untuk mencium mu ? Sayangnya dia belum sadar saja," jelas Bimo.


"Waktu aku bilang Edo pacarku juga Alex bilang dia cemburu. Tapi sikapnya selalu begitu. Menerbangkan tinggi perasaanku lalu menghempaskannya dengan cepat," sahut Nadia seraya kembali mengusap pipinya.


"Alex mencintaimu tapi ia terus berusaha menyangkal perasaannya sendiri karena ia belum yakin sepenuhnya," kata Bimo lagi.


"Apa ia tak merasakan jika aku mencintainya ? Apa ia tak mengerti perasaanku sedikit saja?" Tanya Nadia frustasi.


"Kalian harus memperbaiki komunikasi dan bicara dari hati ke hati," sahut Meta.


Tapi... Bagaimana mau bicara dan mengungkapkan perasaan jika Alex jelas-jelas masih terikat dengan masa lalunya dan membentengi diri dengan perjanjian nikah yang konyol juga menyakitkan itu.


Tapi hubungan ranjang tak pernah dibahas di dalamnya. Jika Alex meminta haknya, sebenarnya Nadia akan memberikannya dengan suka rela karena mereka telah terikat dengan pernikahan yang sah di mata agama juga hukum.


Meksipun pada akhirnya mereka harus berpisah dengan keadaan Nadia yang tak suci lagi, itu tak masalah baginya. Tak ada yang perlu disesali karena ia melakukannya dengan suami juga lelaki yang dicintainya. Namun bukan seperti ini caranya...


Nadia hanya ingin Alex dengan sadar menyentuhnya sebagai istri bukan sebagai pemuas nafsunya. Dan bukan hanya itu saja, Nadia pun ingin ketika mereka masih terikat pernikahan Alex hanya menyentuh dirinya saja tak ada wanita lainnya termasuk Lola. Jika Alex sanggup maka Nadia akan menyerahkan kesucian dirinya karena ia yakin jika lelaki itu akan memintanya lagi.


"Aku akan memberikan Alex syarat," ucap Nadia membuyarkan lamunannya sendiri.


"Hah ?" Tanya kedua temannya secara berbarengan.


"Mmm... Nggak," elak Nadia.


"Terus sekarang mau gimana ? Kamu mau tinggal disini dulu ?" Tanya Meta.


"Aku mau pulang ke Bogor, aku mau ketemu ibu aja," jawab Nadia.


"Bimo bisa antar aku ke stasiun ?" Tanya Nadia dan Bimo menyanggupinya.


***


"Bim, kok ke arah sini ? Aku mau pakai kereta biar gak macet, gak mau pakai bis," protes Nadia ketika Bimo mengambil jalur jalan yang salah.


"Aku anterin aja sampai Bogor, aku udah izin juga ke kantor bilang mau ketemu klien. Gak mungkin aku biarin kamu pergi sendiri dalam keadaan seperti ini,Adin."


Nadia tersenyum samar mendengar apa yang Bimo ucapkan. Ia merasa tenang untuk sesaat.


"Tidurlah, aku bangunin ketika sampai," ucap Bimo lagi seraya mengacak puncak kepala Nadia penuh rasa sayang. Bagai kakak pada adiknya sendiri.


***


"Adin, ayo bangun udah sampai."


Nadia terbangun dan meregangkan tubuhnya kemudian ia meminum sebotol air mineral yang Bimo berikan.


Setelah semua kesadarannya terkumpul ia pun turun dari mobil diikuti oleh Bimo dibelakangnya.


"Assalamualaikum ibu... aku pulang !! lihat siapa yang aku bawa !" ucap Nadia dengan riangnya. ia tak mau ibunya tahu rasa sedihnya saat ini.


Ibunya membuka pintu itu dengan wajah terkejut yang tak bisa Nadia artikan.


"Aku pulang dianterin Bimo," ucap Nadia lagi. Tanpa ia sadari Alex yang telah lebih dulu tiba, melihat juga mendengarkan semua yang istrinya itu lakukan.


To be continued ❤️


Thanks for reading 😘