
Happy reading ❤️
Ia buka kiriman makan siang dari Lola dan tertawa muak melihatnya. "Joy, kembalikan makan siang ini pada pengirimnya," titah Alex pada joy melalui sambungan telepon.
Sebenarnya makan siang yang Alex minta pada Lola hanya sebuah tes. Apa benar wanita itu pernah mencintainya dengan dalam seperti yang Lola katakan tadi malam. Namun ternyata dengan satu kali pun mengirimkan makanan Alex sudah cukup tahu jika wanita yang dulu ia puja itu tak pernah mengenalnya dengan baik. Ia pun tersenyum muak dibuatnya, sadar menjadi lelaki bodoh yang hanya di manfaatkan si wanita. Padahal Alex mencintai Lola dengan dalam dan sungguh-sungguh.
"Anda yakin ini harus dikembalikan ?" Tanya Lola memastikan.
"Ya, katakan padanya ini bukan yang saya mau."
"Baiklah," jawab Joy sembari membenahi kembali box makan siang Alex untuk ia kembalikan pada pengirimnya.
"Joy, tolong hubungi istriku ke kantornya dalam waktu 1 jam mendatang. Setelah terhubung berikan padaku,"
"Baik," timpal Joy patuh.
"Jangan lupa, Joy !"
Joy mengangguk patuh, ia tak berani untuk berkata-kata lagi karena terlihat raut wajah Alex yang tidak bersahabat.
Sementara itu Alex terus menghubungi Nadia melalui ponselnya namun setelah berulang kali melakukannya tak dapat terhubung juga.
"F*ck," umpat Alex seraya melemparkan ponselnya asal. Ia mengacak rambutnya sendiri karena frustasi.
***
"Jika ada yang mencari aku, katakan aku sedang dinas luar," ucap Nadia pada resepsionis di kantornya. Ia yakin Alex akan coba menghubunginya lagi. Lelaki menyebalkan itu memang keras kepala.
Setelah itu Nadia pun berlalu pergi menuju bilik kerjanya sendiri. Meskipun enggan tapi ia harus mulai mengerjakan proposal kerjasama yang baru dengan perusahaan Alex.
Seperti yang Alex inginkan, Nadia menjadi pilot projek untuk 2 kerjasama yang baru. Sudah pasti ia akan semakin sering atau bahkan pergi berdua keluar kota dengan suaminya itu.
Gerakan tangan Nadia di atas keyboard terhenti ketika ia mengingat itu semua. Bagaimana hatinya bisa baik-baik saja jika Alex akan terus ada di dekatnya.
"Ingat bonus yang besar, Nad !! Buat bayar hutang lalu pergi dari hidup Alex !!" Nadia berucap penuh semangat. Mencoba menyemangati dirinya sendiri.
"Pergi dari hidup Alex ? Apa bisa ?" Semangat yang berkobar kini menyurut lagi seiring wajah Alex yang terbayang di dalam kepalanya.
"Tak pernah menyangka jika jatuh cinta ternyata begitu menyiksa," Nadia kembali merasa melow mengingat apa yang terjadi di kantor Alex tadi siang.
***
Waktu terus berlalu, tak terasa waktu pulang pun tiba. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 5 lebih 10 menit. Asik dengan pekerjaannya membuat Nadia lupa waktu.
"Ah harus pulang ke kostan dulu," gumam Nadia ketika teringat salah satu buku yang penting dan menyangkut pekerjaannya tertinggal di sana. Ia pun meregangkan tubuhnya yang terasa pegal sebelum berdiri.
"Ayo, bestie kita pulang. Katanya kamu dapat tawaran kerjasama lagi ya ?" Tanya Meta yang kini telah berada dalam bilik kerja Nadia.
"Hu'um," jawab Nadia setengah malas.
"Makin banyak waktu bersama Alex dong ?" Tanya Meta lagi.
"Iya....,"
"Semoga dengan begitu perasaan kalian bisa semakin jelas. Kalau menurutku ya,Nad. Sebaiknya kamu bicarakan baik-baik, apapun tanggapan Alex anggaplah sebagai resiko yang harus diambil. Dengan begitu kamu bisa menentukan sikap lanjut atau mundur,"
Nadia terdiam, meresapi apa yang sahabatnya itu ucapakan. Memang benar apa kata Meta, sebaiknya ada kejelasan hubungan diantara mereka tapi Nadia bingung harus mulai bicara dari mana. Dari hati yang paling dalam Nadia takut untuk berpisah dengan Alex hingga ia terus memilih bertahan walau dalam rasa sakit yang tak tertahankan.
"Udah, mikirnya entar aja. Ayo kita pulang !" Meta pun menarik tangan sahabatnya itu dan Nadia pun menurutinya.
Nadia dan Meta baru saja keluar dari lobi kantor dan berjalan menuju jalan raya. Belum juga sampai di tujuan, keduanya sudah disuguhi oleh seorang lelaki yang berdiri dan menyenderkan tubuhnya di badan mobilnya yang mewah. Siapa lagi jika bukan Alex, suami Nadia yang sangat tampan dan menggemaskan bagi para readers semua.
"Jemputan kamu udah datang," bisik Meta dan Nadia pun melihat suaminya dengan malas.
Alex langsung menegakkan tubuhnya ketika ia melihat Nadia sang istri keluar dari kantor tempatnya bekerja. Ia pun segera membukakan pintu mobil sebagai isyarat agar Nadia memasuki mobilnya.
"Aku pulang ya, kamu baik-baik sama Alex," bisik Meta dan Nadia pun menganggukkan kepalanya.
"Sure, akan saya jaga sepenuh hati," jawab Alex seraya menepuk dadanya sendiri. Nadia yang melihat itu memutar bola matanya malas.
"Ayo ku antar sekalian," tawar Alex.
"Gak usah, aku harus ke minimarket dulu beli susu hamil lagian apartemenku dekat sini, bye yaa" jawab Meta menolak ajakan Alex dan ia pun berlalu pergi
Nadia masih berdiri padahal pintu mobil mewah Alex telah terbuka lebar. "Ayo kita pulang," ajak Alex yang masih setia menunggu Nadia untuk memasuki mobilnya.
Tak ingin berdebat, Nadia pun menurutinya. Alex menutup pintu itu pelan setelah yakin Nadia telah duduk dengan sempurna di dalam mobilnya dan ia pun setengah berlari menuju pintu yang lain dan memasukinya.
"Ke tempat kos aku dulu," ucap Nadia ketika Alex mulai menyalakan mesin mobilnya.
"Emang kamu masih kos ?" Alex bertanya dengan herannya.
"Hu'um," jawab Nadia singkat dan hening pun kemudian menyelimuti keduanya.
"Kamu ngapain tadi turun dari mobil segala ? gimana kalau orang lain lihat ?" Tanya Nadia memecahkan keheningan.
"Biar kamu gak bisa kabur karena udah terlanjur lihat aku. Salahmu sendiri tak mau aku hubungi dan aku gak peduli jika ada orang lain yang lihat. Jemput istri sendiri tak salah bukan ?"
"Istri ?" Gumam Nadia seraya tersenyum malas. Ia masih merasa sakit hati dengan kebohongan Alex semalam.
Setelah beberapa menit berkendara akhirnya mereka sampai di tempat kost Nadia. Alex yang keras kepala tak mau hanya menunggu di dalam mobil. Ia ikut turun dan untuk pertama kalinya ia memasuki kamar kost istrinya itu. Agar diizinkan masuk Alex terang-terangan mengaku sebagai suami dari Nadia.
Malas berdebat membuat Nadia membiarkan Alex melakukan apapun yang dia mau.
Kamar kost Nadia tidak begitu besar namun semua benda terletak dalam tempatnya dengan rapi hingga begitu nyaman untuk di tempati.
Mata Alex tertuju pada koper coklat kecil milik istrinya yang tak pernah ia lihat semenjak Nadia kabur dari Bali ketika Alex berusaha untuk menidurinya.
Alex merasa malu sendiri, karena selama ini ia kira koper itu disimpan oleh Bimo yang merupakan mantan kekasih istrinya itu. Dan setiap mengingat itu Alex selalu merasa cemburu.
"Udah, ayo kita pergi," ucap Nadia setelah ia membawa beberapa buku yang dibutuhkannya.
"Oke, ayo !" Sahut Alex seraya membawa koper kecil yang sepertinya masih penuh dengan barang milik Nadia yang belum dikeluarkan.
"Ngapain bawa koper aku segala ?" Tanya Nadia terheran.
"Rumahmu bukan lagi disini, tapi di apartemen kita," jawab Alex seraya melangkahkan kakinya keluar dengan sebuah koper di tangannya.
Apa yang Alex ucapkan membuat Nadia terdiam terpaku. Ia cukup terkejut dengan jawaban yang diberikan suaminya.
***
Mereka tiba di apartemen ketika hari sudah berganti gelap. Seolah tak terjadi apapun keduanya tak lagi membicarakan soal insiden tadi siang di kantor Alex di mana lelaki itu ketahuan telah berbohong tentang alasan kepergiannya semalam.
Meskipun begitu, Nadia tetap menjaga jarak dengan suaminya itu. Ia masih merasakan cemburu dan sakit hati yang menyatu dengan sempurna dalam hatinya.
Saat ini Nadia tengah duduk di ruang makan dengan tumpukan buku dan juga kertas kerjanya yang berserakan.
Alex yang telah membersihkan diri dan berganti baju duduk di atas kursi yang letaknya tepat di hadapan Nadia.
"Maaf soal semalam," ucap Alex membuka pembicaraan.
Nadia yang sedang menulis menghentikannya untuk sesaat, "sudahlah, itu semua urusanmu. Tak ada kaitannya denganku," sahut Nadia tanpa mengangkat wajahnya. Lalu ia pun meneruskan pekerjaannya. Ia tak sanggup hanya untuk sekedar menatap wajah Alex, karena ia yakin tak kan bisa menyembunyikan rasa cemburunya.
"Kamu harus dengarkan semua," lanjut Alex tak terbantahkan dan akhirnya Nadia pun meletakkan pinsilnya di atas meja lalu mengangkat wajahnya menatap Alex yang terlihat begitu serius saat ini.
"Aku akan bercerita tentang masa laluku dengan Laura. Dengarkan baik-baik," ucap Alex dengan wajahnya yang dingin.
To be continued ❤️
Thanks for reading 😘