
Happy reading ❤️
"Aku tahu ini bukan saat yang tepat untuk mengatakannya tapi aku sudah tak bisa menahannya lagi." lanjut Alex. Ia terlihat lebih serius lagi.
"Aku jatuh cinta padamu, Nadia Wirahma... Aku cinta padamu hingga rasanya mau gila karena terus menahannya,"
Nadia terdiam terpaku di tempat ia duduk. Tak menjawab, tak juga menanggapi apa yang Alex ucapkan. Bibirnya terbuka tanpa bersuara, dan matanya menatap tak percaya. Dunia berhenti untuk sesaat baginya saat ini.
"Nad, im In Love with you," ucap Alex mengulang pernyataan cintanya. Bahkan ia berbicara lebih dekat agar istrinya itu bisa mendengarnya dengan jelas.
"Bercanda mu gak lucu," ucap Nadia sambil tertawa namun sedetik kemudian air matanya tumpah membasahi pipi dan segera saja ia menghapusnya dengan punggung tangan.
Nadia tak mau Alex melihatnya menangis karena menurutnya candaan Alex kali ini sangat keterlaluan hingga memporak-porandakan hatinya.
"Aku gak bercanda, Nad. Demi Tuhan, aku mencintaimu. Im so In Love with you," ucap Alex gemas. Susah payah ia mengatakan cinta tapi Nadia menganggapnya seperti itu.
"Kamu tak usah mengatakan cinta hanya karena, mmmmhhhhh,"
Bibir Alex membungkam bibir Nadia secepat kilat padahal istrinya itu belum selesai berbicara. Alex mengulumnya lembut dan penuh penghayatan. Tak ada pagutan lidah penuh nafs*, seolah-olah menyatakan perasaan cintanya lewat ciuman lembut itu.
"I love you," gumam Alex tepat di atas bibir Nadia yang basah karena ulahnya.
Nadia menelan ludahnya paksa, bibirnya bergetar karena pagutan yang Alex berikan. Getaran yang kini merambat memasuki relung hatinya hingga debaran terasa begitu kencangnya.
"Ta-tapi kamu bilang 'there is no us', ju-juga jangan libatkan perasaan dalam pernikahan ini, dan..." Ucap Nadia terbata. Air matanya kembali turun padahal ia belum menyelesaikan kalimatnya. Sungguh Alex selalu membuatnya lemah.
Alex tersenyum penuh arti, ia mengeringkan air bening yang membasahi pipi Nadia dengan jempolnya namum istrinya itu belum juga berhenti menangis.
Lalu Alex memberikan beberapa lembar tisu pada istrinya itu, "lap dulu ingusnya, jelek tahu," ucap Alex sambil tertawa ringan dan ia mendapatkan sebuah cubitan sebagai hadiahnya.
"Aaaawww, aku nyatain cinta malah dicubit sih, Nad," keluh Alex sembari mengusap tangannya.
"Lagian nyatain cinta gini amat sih, Lex. Kaya di film romantis kek jadi akunya percaya," sahut Nadia.
"Ajarkan aku tentang cinta, Nadia. Katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya kalau aku benar-benar mencintai kamu," sahut Alex seraya menatap dalam mata Nadia.
"Gimana mau ngajarin kamu ? aku aja pengalamannya minim," kata Nadia sambil mencebikkan bibirnya kesal.
"Kalau begitu kita belajar tentang cinta bersama," ucap Alex seraya memasukkan helaian rambut yang menghalangi wajah Nadia ke belakang daun telinganya.
"Sebelum bicara tentang cinta, aku ingin meluruskan dulu semua ucapan yang pernah kamu ucapkan padaku," mata Nadia menatap dalam ketika ia mengatakan itu. Ia sungguh-sungguh mengatakannya.
Alex mengangguk paham, "let's talk about us," ucap Alex dan ia pun segera menyalakan kembali mesin mobil dan menjalankannya.
Nadia tersenyum samar, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Alex menyatakan cintanya dan ia menciumnya dengan penuh perasaan sayang sangat berbeda dari sebelumnya. Atau ini hanya perasaannya saja ? Namun semuanya terasa begitu berbeda.
Alex menolehkan kepalanya, menatap wajah Nadia yang sedang tersenyum sendiri dan kini senyum itu menular padanya. Satu tangannya memegang setir dan tangan yang lain membawa jemari Nadia pada genggamannya dan ia mencium punggung tangan istrinya itu dengan mesra.
Nadia menolehkan wajahnya begitu juga Alex. Keduanya tersenyum samar dengan tatapan mata penuh cinta. Hampir sepanjang perjalanan pulang Alek melakukan itu, menggenggam tangan Nadia penuh rasa cinta.
***
Alex memarkirkan mobilnya dengan sempurna di lantai dasar dan itu membuat Nadia sedikit terheran. "Kamu gak ke kantor lagi ?" Tanya Nadia.
"Hum ? Mau tapi nanti setelah kita selesai bicara," jawab Alex.
"Kamu yakin ? Bukannya kata Heru, kamu lagi sibuk banget ?"
"Iya," jawab Alex membenarkan. "Tapi aku ingin kita berbicara dulu mengenai ini semua," lanjut Alex kemudian.
"Kita bisa bicara nanti malam, kamu jangan sampai melewatkan pekerjaanmu yang penting," kata Nadia lagi. Ia sangat tahu jika Alex begitu disiplin jika berkaitan dengan pekerjaan.
Alex menatap Nadia sembari tersenyum simpul, istrinya terlihat begitu menggemaskan ketika ia sedang merasa khawatir. Padahal pembicaraan ini mengenai hubungan keduanya tapi Nadia masih mengkhawatirkan pekerjaan Alex yang memanglah sangat penting.
"Dan berbicara denganmu lebih penting dibandingkan dengan semua pekerjaanku," ucap Alex tanpa ada kebohongan di matanya.
"Ayo," Alex pun menekan tombol kunci otomatis pada pintu mobilnya hingga tak terkunci lagi.
Alex keluar dari dalam mobil, begitu pula Nadia di sisi yang lainnya. Alex pun berlari kecil menuju sang istri dan kembali menggenggam tangannya.
Tak cukup sampai di situ, Alex merengkuh pinggang Nadia agar padu dengan tubuhnya. Ia juga tak lupa untuk memberikan sebuah kecupan di puncak kepala istrinya dan Nadia tak bisa menahan senyumnya ketika Alex melakukan itu semua padanya.
Baru juga beberapa langkah mereka berjalan namun keduanya terpaksa berhenti ketika mendengar suara tepuk tangan yang begitu nyaring dari seorang wanita yang berdiri tepat di belakang mereka.
"Well played," (permainan yang bagus ) ucap Lola dengan sinisnya. Ia bertepuk tangan melihat Alex yang sedang berjalan mesra dengan Nadia.
"Kamu bilang aku wanita jal*ng karena pergi dengan laki-laki lain. Tapi sepertinya kita tak jauh berbeda, Alex. Kamu pun tak setia, buktinya selama ini kamu tinggal dengan sepupu.... Atau lebih tepatnya pelac*r kecilmu." Lanjut Lola hingga membuat Alex serta Nadia membalikkan tubuh mereka.
"Jaga mulutmu !" Sentak Alex seraya menunjuk wajah Lola dengan telunjuknya.
"Kenapa ? Yang ku ucapkan benar bukan ? Dia hanya wanita yang menjadi penghangat ranjangmu. Dan sekarang kamu hamil ? Kenapa ? Alex lupa mengenakan pengamannya ?" Lola masih berucap dengan sinisnya hingga Alex pun terpancing emosi.
"Jaga mulutmu, Laura !! Jangan sampai aku berbuat kasar padamu !" Ancam Alex.
"Kamu tak akan pernah berani seperti itu padaku Alex ! karena kamu hanyalah seorang laki-laki lemah yang selalu berada di ujung telunjukku. Kamu tak akan pernah berani untuk membela pelac*r itu !" Teriak Lola.
'Plaaakkk !' Alex yang tak dapat menguasai emosinya mendaratkan telapak tangannya di pipi mulus mantan kekasihnya itu hingga wajahnya tertoleh ke samping.
"Alex, apa yang kamu lakukan ?" Nadia segera menahan Alex agar tak melakukan hal yang lebih buruk lagi.
"Berhenti mengatai istriku pelac*r ! Karena kamu lah sesungguhnya yang menjadi wanita murah*n itu," ucap Alex dengan suara meninggi.
"Is.. istri ?" Tanya Lola tak percaya. Matanya berkilat marah serta berembun menahan tangis.
"Iya, dia istriku ! Dan kamu ? Kita tak pernah terikat apapun secara resmi meskipun tubuhmu pernah kamu serahkan secara suka rela dan aku percaya kamu menyerahkannya tak hanya padaku saja. Pasti banyak laki-laki lain yang kamu tipu dengan memberikan tubuhmu cuma-cuma sebagai balasannya," jawab Alex penuh hina.
'plaaakkk' Lola menampar lelaki yang dulu pernah jadi kekasihnya itu.
"Lo !!!!" Alex kembali naik pitam namun Nadia menahan suaminya itu dengan memeluknya erat.
"Biarkan aku, Nadia ! Parasit ini pantas mendapatkan lebih dari ini karena ia seorang penipu !" Geram Alex penuh amarah. sungguh ia merasa benci pada wanita yang sudah memanfaatkannya itu.
"Apa istrimu tahu jika selama ini kamu masih menemuiku ? Ah... Pasti tahu karena dia mengaku sepupu, apa kamu tak punya malu mempunyai suami yang tak menganggapmu ?" Kali ini Nadia yang menjadi sasaran luapan amarah Lola.
"Tentu saja aku tahu jika Alex masih menemui kamu. Tapi kini semua terbayarkan, Alex tahu wanita seperti apa kamu sebenarnya, hingga ia membuat keputusan yang tepat dengan meninggalkan kamu," jawab Nadia dengan tenangnya. Ia tak menunjukkan rasa marah atau emosi berlebihan.
"Kamu !!!" Desis Lola sembari menunjuk wajah Nadia namun Alex segera melindunginya.
"Kamu jangan bangga karena bisa menjadi istri dari seorang Alex, aku yakin dia menikahi mu hanya sebagai pelampiasan karena sesungguhnya akulah yang Alex cintai," lirih Lola sembari berhamburan air mata.
"kamu salah Laura," kali ini Alex yang menjawab pernyataan wanita bernama Lola itu.
" i love her, im so in love with her. Aku jatuh cinta pada Nadia sejak pertama aku melihatnya. Nadia tak pernah menjadi seorang pelampiasan karena aku begitu mencintainya, karena ia adalah seorang Nadia Wirahma, tak ada seorangpun yang bisa dibandingkan dengannya," lanjut Alex seraya memandangi wajah istrinya penuh cinta ketika mengatakan itu hingga membuat Lola semakin meradang.
"Kalian berdua akan mendapatkan balasan dari ku !" Ancam Lola penuh penekanan.
"Lo, berani sentuh istri gue meskipun satu helai rambutnya saja, maka lo berhadapan dengan gue !" Sahut Alex seraya menjentikkan jarinya tepat di dahi wanita yang dulu jadi kekasihnya.
Mata Lola mengembun menahan tangisnya karena dulu Alex tak pernah melakukan ini padanya. Ia terdiam terpaku menatap kepergian Alex yang kembali menggandeng mesra Nadia.
"Kalian tak akan bahagia..." Ucap Lola lirih namun Alex dan Nadia masih bisa mendengarnya dengan jelas hingga keduanya menolehkan wajahnya menatap Lola yang berdiri sambil menangis.
"Kalian tak akan bahagia...,"
to be continued ❤️
thanks for reading ❤️❤️❤️