
Happy reading ❤️
"Nadia, ada berita bagus," ucap pak Adi sang manager. Ia sengaja datang sendiri ke meja Nadia dengan begitu antusias.
"Kenapa Pak ?" Tanya Nadia, ia pun menunda apa yang sedang dikerjakannya hanya untuk mendengarkan berita baik yang dibawa atasannya itu.
"Mereka sangat tertarik dengan proposal yang kamu ajukan, bahkan Pak Henry yang akan melihat presentasi kamu secara langsung,"
"Pak Henry ?"
"Pak Henry itu pimpinan mereka dan ia juga meminta kamu yang melakukan presentasinya," jawab managernya itu.
"Be-benarkah ? Tapi kenapa aku ?" Tanya Nadia yang kini merasa sedikit gugup.
"Karena kamu pilot projek nya. Pimpinan mereka ingin kamu yang melakukan presentasi,"
"Kapan ?" Tanya Nadia lagi.
"Lusa pukul 3 sore. Kamu siap ?"
"Pukul 3 sore ? Aku siap Pak," jawab Nadia tanpa ragu.
"Bagus, kamu emang bisa diandalkan. Nanti saya dan Bagas akan menemani kamu untuk presentasi di sana karena kita satu tim,"
"Baik pak !"
Nadia segera merogoh ponselnya yang berada di dalam saku ketika atasannya itu pergi. Ia segera mencari kontak yang tertera nama 'Ibu ❤️' dan menekannya.
Setelah 3 nada tunggu terdengar suara sang ibu yang sangat Nadia sayangi di ujung sana.
"Ibu, pekerjaan yang aku jalani kemarin hingga harus pergi ke Bali ternyata menarik perhatian perusahaan itu. Aku akan melakukan presentasi lusa sore hari. Mohon doa dari ayah dan ibu ya," jelas Nadia dengan nada suara yang terdengar bahagia.
"Tentu, Nak. Ayah dan ibu selalu mendoakan kamu," jawab sang ibu dengan sama antusiasnya.
"Seharusnya aku pulang dulu untuk meninta restu kalian, tapi aku sangat sibuk untuk presentasi. Maaf ya, Bu."
"Tak apa, ibu dan ayah pasti doakan dari jauh. Semoga presentasimu lancar,"
"Terimakasih, Ibu. Peluk dari jauh ya,"
Nadia pun menutup panggilan itu dengan mengusap ujung matanya yang sedikit basah. Ia sangat merindukan ayah dan Ibunya dan sedikit merasa sedih ketika tak bisa meminta restu mereka secara langsung. Nadia selalu yakin jika ia bisa berada di posisi sekarang ini adalah berkat doa kedua orangtuanya.
Nadia menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Memikirkan orangtuanya selalu membuat hatinya lebih mellow ( lembut ).
Setelah itu ia mengirimkan pesan di grup ke 5 sahabatnya dan mengatakan jika ia akan melakukan presentasi penting.
Semua memberikan doa dan semangat. Mereka juga meyakinkan Nadia jika ia akan mampu melakukannya. Bimo dan Meta pun mengajaknya makan siang bersama sebagai bentuk dukungan pada temannya itu.
Orang-orang terpenting bagi Nadia sudah mengetahui tentang perihal presentasi ini kecuali suaminya, Alex.
Nadia kembali menarik nafas dalam ketika memikirkan suaminya itu. Ia memutuskan untuk tidak bercerita padanya. Hubungan yang kembali memburuk membuat Nadia memilih untuk bungkam.
***
Sore menjelang gelap Nadia sudah tiba di apartemennya dengan satu map yang berkaitan dengan pekerjaannya. Ia akan mempelajari kembali apa yang sudah dikerjakannya agar ia dapat menguasai materi presentasinya dengan baik.
"Sibuk banget, Mbak," ucap lelaki yang kini berdiri tepat di sebelahnya dan sama-sama menunggu pintu lift terbuka.
"Ah Edo, apa kabar ?"
"Baik, semangat banget kelihatannya. Lagi seneng kah ?" Edo balik bertanya.
"Hu'um. Minta doanya aja biar aku berhasil," jawab Nadia sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Kalau berhasil traktir aku minum kopi ya ?"
"Siiip, sama makannya sekalian,"
Edo tertawa mendengar jawaban Nadia. "Aku yakin kamu pasti berhasil,"
Dan mereka pun terlibat pembicaraan ringan sepanjang perjalanan menuju unit apartemennya masing-masing. Edo menatap Nadia kagum, ia sangat terkesan dengan kecerdasan yang Nadia miliki dan inner beauty yang terpancar dengan begitu jelasnya. Rasa kagum dalam hati Edo selalu bertambah setiap kali mereka bertemu.
"Aku udah sampai," ucap Nadia tepat di depan pintu apartemennya.
"Ayo cepat masuk," sahut Edo. Ia menunggu hingga Nadia benar-benar memasuki unit apartemennya.
"Iya...," Jawab Edo. "Semoga secepatnya kita bisa bertemu lagi," lanjut Edo dalam hatinya dan ia sungguh-sungguh ketika mengatakan itu. Edo meninggalkan Nadia ketika pintu itu tertutup dengan sempurna. Ia melangkah dengan gontai menuju apartemennya sendiri.
***
Sesampainya di kamar, Nadia membuka lemari dan mengeluarkan satu buah dress kerja formal berwarna monokrom hitam dan putih. Dress yang ia beli dengan gaji pertamanya dulu dan akan digunakan untuk sesuatu yang penting. Lusa adalah hari penting bagi Nadia, ia akan mengenakannya ketika presentasi.
Tak lama terdengar pintu apartemen terbuka. Ternyata Alex pun pulang lebih awal ke apartemen mereka. Pukul 7 malam Alex telah pulang tak seperti biasa dalam hati Nadia yang dalam ia bersyukur jika suaminya itu telah pulang.
Cukup lama Nadia berdiam diri dalam kamarnya dan Alex pun tak lagi mengetuk pintunya. Meksipun begitu terdengar suara tv yang di nyalakan juga kesibukan di dapur yang menandakan jika suaminya itu tetap tinggal di apartemen, tak lagi mendatangi kekasihnya. Nadia tersenyum lega karenanya.
***
2 hari berlalu dan saat ini adalah hari yang ditunggu-tunggu. Pak Adi dan Bagas yang menjadi tim Nadia telah bersiap untuk pergi. Mereka memutuskan untuk pergi lebih awal agar tak terlambat di kesan pertama mereka.
"Aku pergi ya, doakan aku," pamit Nadia pada Meta sahabatnya. Mereka berpelukan untuk beberapa saat dan pesan penuh kata-kata semangat yang dikirimkan para sahabatnya yang lain pun telah memenuhi layar ponselnya.
Nadia memasuki mobil kantornya dan duduk bersama Bagas di bagian yang kedua.
"Udah siap ?" Tanya Bagas.
"Bismillah aja," jawab Nadia.
"Kamu pasti bisa, Nad," ucap pak Adi yang duduk tepat di sebelah sopir.
Nadia tersenyum dan mulai melantunkan banyak do'a dalam hatinya. Berkali-kali ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. Inilah projek terbesar yang sedang digarapnya dan ia sebagai pemimpinnya.
Sementara itu Alex terus melihat jam tangan mewah yang membelit pergelangan tangannya. Ia menanti kedatangan Nadia dengan sama gugupnya. Telah berhari-hari tak melihat wajah istrinya itu padahal mereka tinggal dalam satu atap yang sama. Ia berjalan mondar-mandir di dalam ruangannya dengan perasaan tak karuan.
"Pak, tamu yang anda tunggu sudah datang," kata Joy dari balik pintu dan itu membuat Alex menghentikan langkahnya.
"Bagus ! Antarkan mereka ke ruang rapat karena aku akan menunggunya di sana. Jangan lupa Heru ( asisten Alex ) juga perintahkan untuk segera datang ke ruang rapat," titah Alex.
"Dan kamu sebagai notulen rapat, Joy."
Joy mengangguk patuh dan segera meninggalkan Alex dan melakukan segala yang diperintahkan atasannya itu.
Alex berjalan keluar dari ruangannya dengan penuh rasa percaya diri dan memasuki ruang rapat dimana asistennya telah duduk disana.
"Silahkan," terdengar Joy mempersilahkan tamunya yang baru datang.
Alex duduk dengan tenang dan memperhatikan setiap orang yang memasuki ruangan itu.
Yang pertama memasuki ruangan itu adalah pak Adi sang manager, kemudian di susul oleh Bagas.
"What the f...," Maki Alex melihat para lelaki yang menjadi rekan istrinya itu. Ia sungguh tak suka Nadia bergaul dengan banyak laki-laki.
"Terimakasih," ucap wanita yang suaranya sangat Alex kenali. Siapa lagi jika bukan Nadia istrinya yang baru saja memasuki ruang rapat itu.
Mata mereka langsung bertemu dan terkunci untuk sesaat. Alex menarik nafas dalam melihat penampilan Nadia saat ini yang mengenakan dress kerja monokrom dengan rambutnya yang panjang bergelombang dan riasan natural pada wajahnya. istrinya itu terlihat sangat berbeda dari penampilan sehari-harinya yang sederhana dan itu membuat Alex sangat terpesona.
Namun ternyata tak hanya Alex yang terpesona, Heru sang asisten pun merasakan hal yang sama. Bahkan tanpa sengaja lelaki lajang itu bergumam kata "wow" ketika melihat istrinya Nadia, membuat Alex mengepalkan tangannya karena ingin memberikan bogem mentah namun ia menahannya.
Semuanya saling berjabat tangan dan memperkenalkan diri. "Alexander Henry Salim, tapi saya biasa dipanggil Henry," ucap Alex seraya menjabat tangan istrinya dengan erat.
"Na-Nadia," jawab Nadia sedikit gugup dan Alex tersenyum penuh maksud setelahnya.
Nadia hendak bersalaman dengan assisten Alex yang terlihat begitu antusias untuk berkenalan namun Alex segera menahannya dengan meminta Nadia segera menyiapkan presentasinya. Lelaki bernama Heru itu hanya tersenyum canggung karenanya.
Nadia berdiri di depan ke 5 orang yang memperhatikannya melakukan presentasi. Sinar lampu dari alat yang memperlihatkan apa yang dipresentasikannya membuat Nadia terlihat begitu jelasnya.
Ia memaparkan materi dengan penuh percaya diri dan sangat menguasainya. Kecerdasannya terpancar dengan begitu kentara membuat orang-orang yang melihatnya terkagum-kagum.
Tak hanya memperhatikan Nadia istrinya namun Alex juga mengedarkan pandangannya pada orang-orang yang hadir disana yang sebagian besarnya adalah laki-laki yang kini tengah memperhatikan istrinya dan Alex tak suka itu. Ingin rasanya Alex membawa Nadia dari sana dan menyembunyikannya dari tatapan semuanya.
Nadia terus membawakan presentasi dengan bersemangat di depan sana sedangkan Alex mulai merasakan sesak dan panas dalam dadanya sampai ia harus melonggarkan dasinya sendiri hanya untuk bisa bernafas dengan lega.
To be continued ❤️
Thanks for reading 😘