
Masih ada yang nungguin gak ya ?
Happy reading ♥️
Tapi tawa itu berhenti dan Alex kembali memasang wajah dinginnya ketika ia keluar dari ruangan istrinya itu sambil bergandengan tangan.
"Siang Pak Henry, Bu,"
Beberapa orang menyapa keduanya dengan sedikit mengangguk hormat. Nadia membalas sapaan itu dengan tersenyum lembut sedangkan Alex hanya menganggukkan kepalanya sesekali saja untuk menanggapinya hingga kesan arogan begitu kental tersemat padanya.
"Senyum lah, Alex. Mereka begitu baik padamu," bisik Nadia sembari mengusap halus lengan suaminya.
"Seperti ini ?" tanya Alex seraya menarik paksa kedua sudut bibirnya hingga melengkungkan senyuman palsu di wajahnya karena kedua mata Alex tak mengisyaratkan begitu.
Nadia melihatnya dengan wajah datar dan kesal. Karena sulit sekali untuk memberitahu suaminya itu. "Ya ampun...,' Nadia memutar bola matanya malas.
"Sabar Nad... sabar... jangan benci nanti anakmu mirip dia," gumam Nadia sembari mengelus dada dan Alex pun terkekeh geli mendengarnya.
Katanya nih kalau kita hamil dan benci seseorang maka wajah sang anak akan mirip orang yang kita benci dan Nadia tak mau hal itu terjadi karena ia pun ikut lelah dan bermandikan peluh ketika proses pembuatannya
Ia yang mengandung selama sembilan bulan dan akan sangat tidak adil jika yang nanti keluar dari perutnya hanya mirip Alex saja. Walaupun sang anak dipastikan akan memiliki paras yang tampan atau cantik jika benar-benar mirip papanya.
Alex masih menggenggam tangan Nadia ketika mereka sampai pelataran parkir dan memasuki mobil mereka. Nadia mengenakan sabuk pengaman dan Alex membantu memasangkannya. "Terimakasih," ucap Nadia dan Alex pun menjawab "sama-sama," dengan senyumnya yang lebar hingga deretan gigi putihnya yang rapih terlihat jelas, matanya pun menatap teduh membuat Nadia terpesona untuk sesaat karena senyuman suaminya itu.
"Nah itu kamu bisa, ketawa begitu," ucap Nadia antusias.
"Oh ini ? ini hanya khusus untukmu, tidak untuk yang lain," jawab Alex sembari memutar setirnya dan fokus pada jalanan untuk bisa keluar dari area parkir.
Nadia yang mendengar itu merasa perasaannya melayang tinggi di awan. Entah Alex mengucapkannya dengan sungguh-sungguh atau hanya sebatas gurauan saja, tapi sungguh kata-kata yang Alex katakan membuat dadanya menghangat dan tersenyum sendiri karena senang.
"Gombal," sahut Nadia untuk menutupi rasa gugupnya saat ini.
Alex tolehkan kepala dan menatap Nadia yang kini salah tingkah. 3 Tahun bersama dan Alex masih saja berhasil membuat perasaan Nadia melambung tinggi. "Aku serius," ucap Alex terdengar sungguh-sungguh. "Khususnya untuk para wanita, aku tak akan memberikan senyum seperti itu. Aku suka tak enak hati jika aku senyum dan mereka mengartikan lain. Gak mungkin kan mereka gak tau kalau aku udah nikah," lanjut Alex kemudian. Tak satu atau dua kali ia mengalami hal seperti itu. Si wanita akan berusaha mencari perhatiannya ketika mereka bertemu lagi. Itu semua hanya karena Alex senyumi saja.
Jangan salahkan para wanita yang mendambakan Alex. Dengan wajah tampan dan tubuh nyaris sempurna juga kekayaan berlimpah, wanita mana yang tak mau ? Nadia saja dulu mati-matian mencintai Alex.
"Yang penting mereka sejahtera dan mendapatkan haknya sebagai pegawai, aku tak peduli jika mereka mencap aku sebagai seseorang yang arogan. Cukup bagiku hanya kamu saja yang tahu bagaimana aku sebenarnya karena kamulah yang paling penting untukku," ucap Alex lagi.
Nadia tersenyum mendengar penjelasan suaminya yang lagi-lagi membuatnya melayang. "terimakasih," ucapnya pelan. Semburat merah menghiasi pipinya saat ini.
lagi-lagi Alex tolehkan kepala pada Nadia sebelum. ia berbicara "Kurasa memang itulah yang harus dilakukan seorang suami yaitu menjaga pandangannya agar tidak menyakiti hati istrinya karena aku pun pasti akan sangat marah kalau kamu terlalu ramah dengan orang lain khususnya laki-laki, suamimu ini sangat pencemburu,"
Kini Nadia mengerti dan paham kenapa Alex bersikap seperti itu ternyata untuk menjaga perasaannya. Rasa cinta Nadia makin besar saja pada suaminya itu.
"Jadi kita makan siang di mana ?" tanya Alex membuyarkan lamunan istrinya.
"huummm... Terserah... kamu maunya dimana ?" alih-alih menjawab pertanyaan suaminya, Nadia malah balik bertanya.
"aku maunya dimana ?" tanya Alex lagi sambil mengulum senyumnya dan menatap Nadia penuh maksud.
"Aleeexxxhhh, kenapa sih selalu kesitu terus pikirannya ?" cicit Nadia seraya mencubit gemas pinggang Alex yang terasa liat.
Alex tertawa menahan geli karena cubitan tangan Nadia yang menggelitiknya. Ia selalu senang ketikan bisa mengerjai istrinya. "Nanti malam kan gak bisa karena kita akan makan malam di rumah mama. Dan tak hanya kita, tapi mama juga mengundang beberapa saudara yang lainnya. Pasti kita akan pulang malam dari rumah mama,"
"ah iya !" Nadia ingat jika ibu mertuanya itu mengajaknya makan malam bersama sebagai tanda syukur atas kehamilannya dan juga rasa bahagianya karena peresmian kantor baru Alex.
"Dan pasti kita akan pulang terlambat karena kamu akan merasa tak enak pada mama atau saudara aku yang lainnya jika kita pamit pulang duluan,"
Nadia membenarkan apa yang Alex ucapkan, tapi bukan berarti mereka harus berbagi peluh ditengah hari seperti ini, masih banyak waktu untuk melakukan hal itu di lain kesempatan. Akan sangat merepotkan untuk membersihkan diri dengan waktu yang singkat. Ia pun terlihat bergerak resah gelisah di atas bangku penumpang.
"Aku cuma bercanda, Sayang. Kita akan pergi makan siang tapi kalau kamu mau serius pun, ayo !" ucap Alex masih menahan geli melihat istrinya yang salah tingkah.
Nadia memicingkan matanya dengan bibir manyun menahan kesal. "Ingat Nad, ingat... jangan kesal... nanti anakmu mirip Alex banget," batin Nadia dalam hati. Mengingatkan dirinya sendiri untuk tak terpancing dengan Alex yang terus menggodanya.
***
"Ber...di..ri.. !" ucap Alex seraya menarik paksa tubuh sepupunya yang duduk tepat di sebelah Nadia dan ia segera menempati tempat duduk itu menggantikan sepupunya yang terbengong melihat kelakuan abangnya itu.
"Yaelah Bang, aku lagi nanya-nanya soal kerjaan sama bini Lo," protesnya. Ia tak terima Alex mengusirnya begitu saja.
"Nanya nya bisa dari sana," jawab Alex sembari menunjukkan sebuah kursi yang letaknya cukup jauh karena rumah mama Alex cukup ramai dipadati oleh tamu-tamu yang datang yang merupakan keluarga dekat mereka.
"Jauh itu ! gimana gue mau nanya ?" protesnya lagi.
"Bo-do a-mat !" sahut Alex tak peduli, Ia melingkarkan tangannya di bahu Nadia dan merengkuhnya. " Gak ada yang boleh deket-deket sayangnya gue," lanjut Alex sembari mengecup pelipis Nadia sekilas saja hingga membuat pipi istrinya itu merona merah.
"Aleeexx...," protes Nadia karena kini semua mata hampir menatapnya dengan raut tersenyum geli di wajah mereka.
"Dasar bucin akut !" ledek sepupunya yang tadi. Mau tak mau ia pun harus menyeret bangku tambahan agar bisa duduk dekat Nadia dan melanjutkan pembicaraan mereka.
Mama Alex melihat itu dengan tersenyum samar dari kejauhan. Sungguh ia merasa bahagia karena Alex kini mau untuk bergabung dan bercengkrama dalam acara keluarga. Dulu, ketika Nadia belum hadir dalam kehidupan putra semata wayangnya itu. Alex tak kan pernah mau ikut acara seperti ini. Setiap akhir pekan ia akan tidur di apartemennya karena lelah setelah berpesta semalaman dengan teman-temannya dan itu membuat mama Alex sangat mengkhawatirkannya. Tapi begitu menikah dengan Nadia, kebiasaan itu langsung berhenti dan kini ia bisa hidup dengan benar.
"Siapa yang akan menyangka jika mereka menikah karena perjodohan," bisik salah satu tante Alex pada mamanya.
Mama Alex menolehkan kepala pada arah suara dan menyetujuinya.
"Aku ikut senang melihat kebahagiaan mereka," lanjutnya lagi.
Di ruang tengah Alex terus melingkarkan tangannya di bahu Nadia, seolah laki-laki itu tak ingin berjauhan dengan istrinya. Begitu juga Nadia yang tak menolak rangkulan suaminya. Ia akan bicara dengan tatapan mata penuh cinta pada suaminya.
Bisa mereka lihat dengan jelas bagaimana Alex dan Nadia yang tak bisa berhenti untuk saling jatuh cinta satu sama lain.
Mama Alex mengusap ujung matanya yang basah karena rasa haru bahagia dan berucap banyak kata syukur dalam hatinya.
thanks for reading ♥️
Happy weekend 🥰