
"Perusahaan ini milikmu.. aku membelinya atas nama mu," ucap Alex dan itu membuat Nadia membulatkan matanya tak percaya.
"Apa ?" tanya Nadia sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Aku membeli saham perusahaan ini dengan menggunakan namamu," jawab Alex. Keduanya tengah berdiri saling berhadapan satu sama lain dengan jarak yang cukup dekat. Alex sedikit menundukkan kepalanya dan Nadia menengadahkan kepala agar dapat menatap Alex lekat-lekat.
"Tapi untuk apa ? Aku tak pernah menginginkan itu semua. Aku mencintaimu bukan karena uang atau kedudukanmu, aku...,"
"Ssstttttt.....," Alex menyentuhkan telunjuknya dengan pelan di atas bibir Nadia yang sedang berbicara agar istrinya itu berhenti berucap.
"Aku tak pernah memberimu hadiah apa-apa sejak menikah, dan aku sangat tahu jika kamu mencintai pekerjaanmu tapi ternyata beberapa orang melihatmu dengan sebelah mata. Tahukah kamu ? ketika aku tahu mereka menyebarkan rumor buruk tentang mu, hatiku terasa sakit. Aku tak bisa terima istriku yang seorang wanita baik-baik digunjingkan dengan hal yang tak pantas dan kini mereka bisa tahu siapa kamu yang sebenarnya," jawab Alex.
"Alex, Aku...," Nadia berucap lirih wajahnya kini berubah sendu karena bukan itulah yang dirinya inginkan.
"Anggaplah sebagai hadiah atas rasa yakin mu padaku. Aku tahu dari awal kita akan menikah kamu pasti tahu tentang aku walaupun sedikit. Tahu jika aku bukan lelaki baik seperti temanmu yang lain, aku tak memperlakukanmu layaknya suami pada istri tapi kamu tetap bertahan sesuai dengan yang kamu ucapkan. Bertahan semampu yang kamu bisa kamu benar-benar melakukannya. Terimakasih, Sayang.... terimakasih sudah menerima aku sebagai suami kamu," ucap Alex seraya menyentuh rambut Nadia seolah merapikannya.
Nadia tak menjawab, ia hanya mampu menatapi mata Alex sambil menelan ludahnya paksa. Seketika tubuhnya menjadi gemetar dan menegang, "Aku juga bukan wanita sebaik itu," batin Nadia dalam hatinya. Tak terbayangkan jika Alex tahu bahwa ia menikahi lelaki itu sebagai balas budi dan hutang.
"Apa yang aku miliki akan menjadi milikmu juga," ucap Alex lagi dan itu membuat Nadia semakin menegang.
"Alex... A-aku pun tak sebaik yang kamu kira.. Aku...,"
"Kamu yang terbaik, percayalah....," potong Alex cepat. Ia balas tatapan Nadia sama dalamnya. Alex sadar jika semua wanita yang mendekatinya hanya karena uang dan kedudukan yang dimilikinya tak terkecuali Lola.
Tapi Nadia... Walaupun Alex memiliki segalanya tak pernah sekalipun ia menuntut kemewahan bahkan istrinya itu masih naik bis umum untuk pergi ke kantor setelah menikah. Tak pernah meminta uang bulanan yang besar dan selalu memberitahukan Alex apa saja yang dibelinya untuk keperluan rumah tangga mereka padahal Alex tak pernah memintanya untuk melakukan itu.
"Alex...," gumam Nadia lirih dengan bibir bergetar karena kini Alex mengangkat dagunya dengan jempol dan Nadia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Benar saja, bibir kenyal dan basah itu sudah menempel sempurna dengan bibirnya. Harum aroma mint yang menjadi ciri khas Alex kini sudah memenuhi mulutnya. Lidah Alex pun tak tinggal diam, membelai lidah Nadia untuk bergulat dengan miliknya.
Alex miringkan kepala untuk perdalam ciumannya dan ia merengkuh pinggang Nadia dengan kedua tangannya agar kian rekat perpaduan tubuh mereka.
"Aleeexxhhh..," lenguh Nadia lirih. Ia tak mau siapapun mendengarkan lenguhannya di siang ini. Akan sangat memalukan jika seseorang mendengar suara khas percint**n ini.
"Jangan ditahan, Sayang," ucap Alex parau. "Aku sangat suka ketika kamu menyebutkan namaku seperti itu," lanjut Alex lirih, sembari menggesek pelan puncak hidungnya yang mancung di pipi Nadia hingga tubuh Nadia meremang karena godaan yang Alex berikan.
"Alexhhh, hentikan kita berada di kantor," sahut Nadia mengingatkan tapi ia juga tak mampu menolak godaan suaminya itu. Ia meremas kain jas Alex untuk berpegangan karena Nadia rasakan lemas di kedua lututnya.
"Aku tak peduli," jawab Alex. Ia masih saja menyentuhkan puncak hidungnya pelan. Deru nafasnya yang hangat menerpa wajah Nadia saat ini, membuat semburat merah kembali menghiasi pipinya.
'Tok tok tok' ketukkan di pintu menyadarkan keduanya dari situasi yang seolah di selimuti senyawa feromon itu ( Feromon : sejenis zat kimia pada hewan yang berfungsi untuk merangs*ng dan menarik daya pikat secara se-ksual ). Walaupun tak ingin tapi akhirnya Alex lepaskan Nadia dari kuasa tubuhnya.
"Ma-masuk," titah Nadia dengan suaranya yang serak dan terbata. Sedangkan Alex menyenderkan bokongnya di meja kerja istrinya itu.
Masuklah Ina dengan membawa sesuatu di nampan, beberapa jenis buah potong yang berwarna-warni dan terlihat segar di atas piring putih dengan garpu sebagai pelengkapnya. "Bu-buah potong untuk Bapak dan ibu karena katanya tadi Anda berdua langsung pergi setelah makan siang," jelas Ina sedikit canggung karena atmosfer udara di ruangan Nadia terasa begitu berbeda.
"Terimakasih," sahut Alex. "Anda bisa meletakkannya di meja sana," lanjut Alex seraya menunjukkan sebuah meja dan Ina pun menurutinya.
"Apa ada yang anda butuhkan lagi ?" tanya Ina sebelum ia pergi meninggalkan ruang kerja Nadia.
"Apa Pak Daniel ada di ruangannya ?" tanya Alex.
"Iya, beliau ada di ruangannya," jawab Ina.
"Terimakasih, saya akan segera menemuinya," sahut Alex dan ia pun menegakkan tubuhnya dan siap untuk beranjak pergi.
"Aku menemui Daniel dulu dan kamu rapihkan mejamu sebelum pergi," ucap Alex pada Nadia yang masih berdiri terdiam terpaku.
Ina tundukan kepala, ia lakukan itu agar tidak melihat apa yang terjadi di depannya saat ini. Alex melewatinya begitu saja, seolah tak terjadi apa-apa.
"Maaf," ucap Nadia ketika Alex sudah tak ada di antara mereka.
"Tidak apa-apa, Bu. Pasti suami ibu kangen banget setelah berpisah lebih dari satu Minggu ini," sahut Ina. Ia berusaha memaklumi apa yang baru saja terjadi.
"Ibu mau kembali ke Jakarta hari ini?" tanya Ina.
"Hu'um.. Saya harus kembali ke sana karena seperti yang tadi sudah dijelaskan oleh Alex eh Henry, saya kembali ditunjuk menjadi pilot project untuk beberapa proyek besar," jelas Nadia. Padahal yang sebenarnya terjadi ia tak sanggup untuk berjauhan dengan suaminya itu.
Cukup 1 Minggu Lebih bagi Nadia untuk menyadari jika Alex adalah segalanya dan cinta yang ia miliki lebih besar dari rasa sakit yang pernah dirasakannya dan semua usaha serta perjuangan Alex telah meluluh lantakkan hatinya.
"Selamat, Bu. Semoga sukses dimana pun ibu berada," sahut Ina.
Nadia tersenyum senang mendengarnya "Terimakasih, kamu juga ya, Ina. Semoga sukses dan maaf jika ada kata-kata atau sikap saya yang kurang berkenan," timpal Nadia.
"Sama-sama, Bu," ucap Ina dengan sedikit berkaca-kaca. Walaupun baru saling mengenal dalam waktu yang sangat singkat tapi Ina sangat menyukai Nadia sebagai bosnya.
Nadia tak pernah memerintah atau memberikan tugas dengan suara meninggi, dan ia akan datang ke meja bawahannya tanpa rasa arogan dan mau untuk diajak makan bersama di tempat sederhana. Tak ada satu orangpun yang menyangka jika Nadia adalah istri seorang penguasa sukses yang terkenal dan wajahnya selalu wara-wiri di berita seputar bisnis.
Tak hanya di berita bisnis namun dulu Alex sering juga diberitakan dekat dengan beberapa model papan atas dan memang namanya menghilang dari berita gosip untuk satu tahun terakhir ini. "Ternyata karena ia sudah menikah," batin Ina dalam hati.
"Nanti main-main kesini ya, Bu. Kita makan di tempat biasa," ucap Ina yang masih saja berdiri dan memperhatikan Nadia yang kini mulai mengemasi barang pribadinya dari meja.
"Tentu, aku pasti hubungi kamu kalau main ke Bandung. Kamu juga ya, Ina... Jangan segan-segan untuk menghubungi aku jika sedang berada di Jakarta," sahut Nadia.
Ina menganggukkan kepalanya pelan dan matanya kembali berkaca-kaca. Belum apa-apa dirinya sudah merasa kehilangan sosok bos barunya itu.
***
Hari Rabu sore Nadia sudah berada bersama Alex duduk berdampingan di kursi penumpang dan menyiksa sang supir dengan ke-uwuan mereka. Saat ini kedua hendak kembali ke Jakarta.
Entah berapa kali Alex mencium punggung tangan Nadia dengan mesra, ia masih merasa tak percaya jika istrinya itu bersedia kembali ke Jakarta, kembali ke sisinya.
"Besok mau langsung kerja ?" tanya Alex.
"Emm entahlah," jawab Nadia singkat.
"Kalau kamu gak masuk kantor, aku juga nggak. Kita akan habiskan waktu berduaan saja," lanjut Alex dengan tatapan wajah penuh maksud.
Nadia mengulum senyumnya dengan wajah merona, sudah terbayangkan apa yang akan dirinya dan Alex lakukan di apartemen jika mereka hanya berduaan saja. Selama tiga hari terakhir ini ia dan Alex selalu melakukan "hal itu" apapun yang dibicarakan pasti berakhir dengan suara lenguhan yang saling bersahutan dan nikmatnya pelepasan. Nadia pun menggigit bibir bawahnya pelan ketika membayangkan itu semua.
Tapi...
Masih ada yang mengganjal... Nadia harus bertemu mama Alex dan berbicara dengannya. Nadia tak ingin Alex mengetahui jika ia menikahinya karena balas budi dan hutang.
Nadia tak ingin menyakiti hati Alex dan membuat Alex mempunyai pandangan lain padanya karena cinta yang ia rasakan untuk Alex saat ini benar adanya.
Nadia tolehkan kepala dan menatap Alex dengan perasaan tak karuan. "Alex, i love you," ucapnya pelan.
Mendengar kata-kata yang Nadia ucapkan membuat Alex membalas tatapan istrinya itu dengan teduh. " Love you more, Sayang," balas Alex seraya mencuri sebuah kecupan dari bibir sang istri.
To be continued ♥️
jangan lupa like dan komen ya