
Selamat membaca ♥️
"Hah...hah... aaargggghhhh," erang Alex, nafasnya menderu dan terengah-engah menikmati cengkraman hebat pada bukti gairahnya di bawah sana. Ia memejamkan mata dengan bibir yang sedikit terbuka.
Udara di luar sangat panas namun atmosfer kamar Alex dan Nadia lebih panas lagi padahal suhu AC sudah menunjukkan 18 derajat saja.
Nadia tatapi wajah Alex yang tengah menikmati percintaan mereka saat ini. Lelaki itu mengerang sembari memejamkan mata tanpa menghentikan pergerakan pinggulnya yang mengentak tanpa jeda. Tubuh Nadia bergoyang seiring hujaman yang Alex berikan dan tak jarang Nadia pun mendes*hkan nama Alex ketika nikmat ia rasakan.
Pandangan mata mereka bertemu saat Alex membuka matanya. Ia pun tersenyum pada Nadia yang tergolek indah di bawah kuasa tubuhnya. Alex tundukan kepala dan menyatukan bibir mereka dengan sempurna, ia me-***** bibir Nadia dengan lembut namun lama-lama semakin penuh tuntutan menandakan pelepasannya akan tiba.
Alex terus bergerak menghujam kian intens, sedangkan Nadia menggeliatkan tubuhnya gelisah ketika pelepasannya yang ke dua akan kembali menghampiri. "Aleeexxhhh, akuhh.. akuhhh...," racau Nadia terengah-engah.
Alex kembali tundukkan kepala dan membenamkan bibirnya di atas bibir Nadia lalu mengulumnya dengan panas menggiring Nadia dan dirinya untuk mencapai puncak gelora.
"Aarrrggggghhhh," erang keduanya secara bersamaan ketika puncaknya tiba.
Tubuh Alex ambruk dan menindih Nadia rasa-rasa ( penuh perasaan karena tak ingin menyakiti Nadia dan anak mereka ). "Aku mencintaimu," bisik Alex dengan tubuhnya yang masih menyatu sempurna. Tak lama, ia pun menarik diri dengan pelan dan berguling ke bagian ranjang yang kosong.
Keduanya masih bernafas dengan rakus seolah saling berlomba untuk memasukkan oksigen pada paru-paru. Tapi kata-kata cinta Alex masih terngiang dengan jelas di telinga Nadia dan ia sangat menyukai itu.
Seperti yang pernah Alex katakan beberapa tahun lalu saat itu ia menjemput Nadia yang meninggalkannya ke Bandung. "Aku akan terus mengatakan itu, aku akan mengatakan bahwa aku mencintaimu sampai kamu bosan mendengarnya," ucap Alex waktu itu dan ia benar-benar melakukannya, Alex tak pernah melewatkan satu hari pun tanpa mengatakan rasa cintanya. Tapi di sisi lain Alex bohong, karena Nadia tak pernah bosan mendengarnya.
"Jam berapa ?" tanya Alex sembari melihat jam yang menempel di dinding kamar mereka.
"Jam 12, aku akan menyiapkan makan siang buat kamu. Tunggu," Alex menjawab pertanyaannya sendiri sembari berusaha untuk bangkit dari ranjang mereka.
Tepat seperti perkataannya tadi, Alex mempersingkat pertemuannya dengan wanita bernama Marcela juga asistennya dengan alasan akan mempelajari proposal pengajuan kerja sama dengan tenaga ahli yang ia punya siapa lagi jika bukan istrinya, Nadia.
Nadia tatapi tubuh Alex yang berkilat basah karena keringat. Memang suaminya itu tak bisa diajak bercanda dengan sentuhan dan juga masalah ranjang. Ia akan langsung menanggapinya dengan serius.
Masalah ranjang memang sangat mudah membuat Alex baper. Ia akan langsung merespon dengan cepat seperti saat ini. Padahal tadi Nadia hanya ingin menunjukkan kepada Marcela jika Alex miliknya tapi Alex malah berpikir jika Nadia ingin disentuh olehnya dan buah cinta mereka ingin ditengok papanya.
"Bahaya memang kalau bercanda sama Alex soal tengok menengok," gumam Nadia pelan tapi Alex masih bisa mendengarnya walaupun dengan samar-samar.
"Tunggu sebentar, kita makan siang dulu lalu aku akan kembali menengok anak kita," ucap Alex sembari memasangkan kaos di tubuhnya dan tak lupa ia kedipkan sebelah mata dengan genitnya. Ia kira Nadia masih menginginkan Alex untuk menengok anak mereka.
"kan ...," batin Nadia dalam hati. Siapa sangka seorang Alex yang terkesan dingin dan arogan tapi begitu mesoom dan juga genit.
"Istirahat dulu, nanti aku bangunkan setelah makan siangnya siap" ucap Alex seraya menundukkan kepalanya dan mengecup dahi Nadia penuh kasih sayang. Ia pun menutupi tubuh polos istrinya dengan bedcover dan segera pergi untuk menyiapkan makan siang mereka.
Alex sengaja menyuruh asisten rumah tangganya untuk berbelanja dengan supir mereka padahal yang sebenarnya terjadi ia ingin menghabiskan waktu bersama Nadia saja.
***
"Hu'um Joy, kosongkan jadwalku untuk dua jam ke depan. Saya dan istri sedang mendiskusikan proposal kerjasama yang baru. Kami harus berkonsentrasi tentang hal ini," ucap Alex pada panggilan telepon dengan sekretaris pribadinya itu.
Nadia yang mendengar itu mendengar itu menggelengkan kepala sembari tertawa geli. "Dasar," gumam Nadia pelan. Saat ini dirinya tengah bersandar pada dinding dapur dan memperhatikan Alex yang sedang membolak-balik daging dalam wajan.
Merasa diperhatikan Alex pun tolehkan kepala dan melengkungkan senyumnya ketika melihat sang istri yang sangat dicintainya berdiri memperhatikannya. "Udah aku bilang istirahat dulu, nanti aku bangunin," ucapnya sembari berjalan mendekati Nadia dan mengecup pipinya ketika ia sudah dekat dengan sang istri.
Alex sangat suka ketika ia merasa dicintai dan jiga dibutuhkan dan ia mendapatkan semua dari istrinya itu.
Mungkin karena hormon kehamilannya, membuat Nadia lebih sensitif terhadap perasaannya sendiri. Ia masih saja merasa insecure setelah mengetahui wanita bernama Marcela secara terang-terangan memperlihatkan rasa tertariknya pada sang suami padahal Alex tak menanggapinya.
Alex malah disibukkan dengan isi kepalanya sendiri yang menyalahartikan perlakuan Nadia padanya. Cemburunya Nadia, Alex artikan sebagai kode menuju ranjang dan ia benar-benar melakukannya.
Setelah mempersingkat waktu pertemuannya dengan Marcela, ia langsung mengajak Nadia pulang dan menghabiskan waktu bersama dengan berbagi peluh. Benar kata Nadia, Alex gak bisa diajak bercanda soal sensitif seperti ini.
Alex mengulum senyumnya dengan mata berbinar, ia terbuai dengan kata-kata yang baru saja Nadia ucapkan padanya. "Benarkah ?" tanya Alex seraya merapikan rambut Nadia yang menutupi dahi istrinya itu.
"Hu'um, inginnya dekat kamu terus," jawab Nadia terdengar lirih. Ia pun menggoda Alex dengan membuat lingkaran-lingkaran kecil dengan jemarinya di atas dada Alex yang terbalut kaos.
Alex gigit bibir bawahnya, menahan geli juga hasratnya yang kembali tersulut. "Jangan goda aku terus," ucapnya pelan. Mata hitamnya menatap sayu juga teduh pada Nadia.
Nadia tersentak dan sadar jika ia tak boleh bercanda soal beginian dengan Alex karena suaminya itu akan sangat serius menanggapinya.
"Sebaiknya kita makan siang dulu," ajak Nadia untuk mengalihkan perhatian suaminya itu.
"Ayo, aku udah siapkan sapi lada hitam untuk kamu," jawab Alex seraya menarik tangan Nadia untuk mengikutinya.
***
"Benarkah kamu merasa cemburu ?" tanya Alex sembari menopang dagunya dengan kedua tangan. Mata hitamnya berbinar bahagia dan senyuman tak surut dari bibirnya.
Pada akhirnya Nadia menceritakan rasa cemburunya pada sang suami. Bukannya marah atau merasa bagaimana tapi Alex malah merasa senang. Lagi-lagi Alex merasa bahagia jika ia dicintai dan rasa cemburunya Nadia, Alex artikan sebagai salah satu bukti cinta sang istri.
"Kok malah senyum-senyum ?" tanya Nadia.
"Aku gak percaya kamu cemburu sama aku, karena biasanya aku yang cemburu sama kamu," jawab Alex tanpa bisa menyembunyikan wajah sumringahnya.
"Tentu saja aku cemburu karena aku sangat mencintaimu," jawab Nadia dan lagi-lagi itu membuat Alex sangat bahagia, saat kata cinta Nadia ucapkan untuknya. "Kalau kamu gak suka, aku akan tolak kerjasama ini," kata Alex.
Nadia balas tatapi wajah Alex, memang benar ia cemburu tapi logikanya masih berjalan dengan baik. Ia tak mau menjadi seorang yang egois hingga menghambat bisnis suaminya. "Tidak, kerjasama yang Marcela ajukan memiliki potensi yang baik dan akan menguntungkan kita. Teruskan saja, tak apa. Hanya saja kamu harus lebih berhati-hati dengannya, aku rasa ia tertarik padamu," jawab Nadia.
"Aku tahu, dengan cara ia duduk dan kancingnya yang terbuka tentu ia ingin menggodaku," sahut Alex. Nadia yang mendengar itu mencebikkan bibirnya karena kesal.
"Oh come on, aku ini laki-laki normal. Tentunya aku paham. Tapi aku tak akan pernah tergoda. Untuk mendapatkan wanita seperti itu mudah sekali, tapi untuk mendapatkanmu sangatlah sulit," ucap Alex.
"Kamu ingat ? untuk mendapatkan malam pertama denganmu saja, aku harus mengejarmu dari Bali hingga Bogor dan membawamu kembali ke Jakarta. Tak hanya sampai disitu, aku juga harus menyetujui syarat untuk bisa menyentuhmu padahal kamu ini istriku," jelas Alex kemudian.
"Salahmu sendiri yang begitu menyebalkan," sahut Nadia sambil terkekeh geli mengingat bagaimana ia dan Alex dulu.
"Tapi semua yang aku lakukan sangat sebanding dengan apa yang aku dapatkan. Aku sudah merasakan bagaimana sulitnya perjuangan cinta kita dan aku tak akan menghancurkannya. Percayalah aku akan setia padamu," ucap Alex sungguh-sungguh seraya menarik tangan Nadia dalam genggamannya.
Dada Nadia menghangat seketika, ia merasakan lega luar biasa dalam hatinya. "Aku pun... aku akan setia padamu dan kamu tahu itu,"
thanks for reading ♥️