In Love

In Love
New Normal



Happy reading ❤️


Kini keduanya bagai orang asing yang tinggal dalam satu atap dan tidur di atas ranjang yang sama.


Kini Alex dan Nadia hanya dua orang asing yang memiliki kenangan indah bersama.


Nadia berjalan menuju kamar di mana ia dan Alex tidur bersama. Ia tak sadar jika Alex terus memperhatikannya selama ia berjalan hingga menghilang di balik pintu.


Alex menundukkan kepala menatapi gelasnya yang berisi teh hangat. Jarang sekali ia minum teh tapi saat ini ia sungguh merasa tak enak badan.


Di dalam kamar, Nadia melucuti pakaiannya sendiri dengan pikirannya dipenuhi Alex. Ia menarik nafas lega ketika bisa menghadapi ketakutan terbesarnya dengan baik.


Setelah satu Minggu tak bertegur sapa, Nadia merasa cemas luar biasa. Ia memikirkan jika pada akhirnya bertatap muka dengan suaminya itu. Apakah ada emosi yang meledak-ledak dan perkataan yang menyakitkan lainnya ? Namun yang Nadia takutkan tak terjadi. Ia bisa menghadapinya dengan tenang walaupun apa yang Alex katakan masih saja menyakiti perasaannya.


Alex semakin menunjukkan ketidak pedulian nya. Sepertinya kisah cintanya usai sudah.


Apakah ini bisa dikatakan sebagai kisah cinta ? Karena Nadia hanya merasa cinta sendirian. "Yes im in love, but he is not," (ya aku jatuh cinta, tapi dia tidak ) batin Nadia dalam hatinya dan ia pun tersenyum kecut karenanya.


Setelah berganti baju Nadia pun keluar kamar dan kini Alex terduduk di ruang makan sendirian. Pandangan matanya langsung tertuju pada Nadia seolah menunggu kedatangannya.


"Kamu udah makan ?" Tanya Nadia.


"Belum, kamu ?" Alex balik bertanya.


"Belum juga, mau aku masakin atau mau pesan online ?" Tanya Nadia.


"Kamu masakin," jawab Alex tanpa mengalihkan pandangannya. Ia ingin Makanan yang berasal dari tangan istrinya.


"Oh ok, aku masakin pakai bahan yang ada dikulkas aja ya," jawab Nadia. Ia pun segera berjalan menuju lemari pendingin itu dan membukanya. Memilih apa saja yang sekiranya bisa digunakan untuk membuat makan malam.


Setelah memilih beberapa bahan Nadia pun membawanya menuju dapur dan mulai mengolahnya. Sedangkan Alex terus memperhatikannya tanpa jeda. Ia amati tubuh istrinya yang kini berdiri membelakanginya.


"Maaf, aku gak ngirimin makan siang lagi. Takutnya kamu bosan," ucap Alex memecahkan keheningan diantara keduanya.


Nadia menghentikan apa yang sedang dilakukannya beberapa saat untuk mendengarkan apa yang Alex katakan. "Its oke, aku jadi bisa makan keluar sama teman-teman. Seharusnya aku yang minta maaf karena gak pernah sekalipun mengirimkan makan siang buat kamu. Takutnya kamu makan siang di luar sama klien," jawab Nadia tanpa menolehkan kepala.


"Hu'um kamu benar, aku memang seringnya makan di luar," sahut Alex. Lalu hening kembali menyelimuti keduanya. Hanya suara-suara Nadia yang mengolah makanan nya yang terdengar.


Padahal beberapa Minggu lalu semuanya tak se-canggung ini. Alex akan melingkarkan tangannya di atas perut Nadia yang datar dan menggoda istrinya itu dengan menciumi lehernya yang jenjang. Tak jarang jika akhirnya kegiatan masak itu berakhir dengan pergulatan hebat di atas ranjang.


Namun kini...


Semua telah berubah, tak ada lagi kata-kata manis penuh goda apalagi sentuhan-sentuhan halus yang memabukkan.


Yang ada hanya 2 orang dewasa yang saling mencintai namun sulit untuk mengungkapkannya hingga masing-masing memilih untuk tersiksa dengan pemikiran mereka.


Meksipun sakit, keduanya masih memilih untuk tetap bersama karena dalam hati mereka yang sesungguhnya tak ingin saling melepaskan.


Setelah selesai memasak Nadia pun menyajikannya di atas meja dan ia pun segera duduk di hadapan suaminya.


"Gak ada nasi, jadi aku ganti kentang saja," ucap Nadia.


"Gak pa-pa, ini lebih dari cukup," jawab Alex.


Alex memakannya dengan lahap. Dalam seminggu terakhir, baru kali ini ia bisa makan dengan nikmat. Bukan hanya karena makanannya yang terasa enak tapi juga karena seseorang yang menemaninya makan saat ini adalah seseorang yang selalu memenuhi pikirannya.


"Alex, makanya pelan-pelan," ucap Nadia karena ia melihat Alex makan bagai orang kelaparan.


"Ah maaf, ini karena masakannya enak," puji Alex.


"Terimakasih," jawab Nadia singkat.


Lalu pandangan keduanya saling bertemu dan terpaku. Menatap satu sama lain dan dalam hati mereka berucap "bukan percakapan seperti ini yang aku inginkan, bukan kata-kata formal begini,"


Nadia menundukkan kepala, ia lebih dulu mengakhiri tatap mata itu. Nadia kembali fokus pada makanan yang berada di atas piringnya.


Setelah makan malam, Nadia sibuk dengan pekerjaannya begitu juga Alex dengan laptop diatas pangkuannya. Tak ada pembicaraan lainnya. Keduanya larut dalam kesibukannya masing-masing.


Inilah kehidupan new normal mereka yang sekarang.


***


Esoknya Alex kembali pulang pada sore hari, demamnya tak juga mereda walaupun ia telah meminum obat.


Sebenarnya Nadia pun sadar jika suaminya sedang tidak baik-baik saja namun ia berusaha membatasi diri untuk tidak terlalu peduli. Namun nyatanya Nadia tak bisa.


"Kamu sakit ?" Tanya Nadia yang sudah berganti baju.


"Mmm sedikit demam," jawab Alex.


"Mau ke dokter ?" Tanya Nadia.


"Gak usah, aku baik-baik aja,"


"Ayo aku anterin," ajak Nadia seraya berdiri.


"Gak usah, lagian aku pusing nyetirnya." Jawab Alex.


"Gak pa-pa biar aku yang nyetir,"


"Emang bisa?" Tanya Alex sedikit tak percaya.


"Try me," sahut Nadia sambil tersenyum.


***


Disinilah sekarang keduanya, dalam mobil mewah Alex dan Nadia yang menyetir.


Alex menatap Nadia tak percaya, istrinya itu sungguh mahir. Merasa diperhatikan Nadia pun menolehkan kepalanya.


"Lihat baik-baik Alex," ucap Nadia seraya meletakan tangannya pada perseneling mobil dan mengoper giginya, dengan cekatan Nadia menyalip beberapa mobil di depannya. Dan itu membuat Alex tertegun tak percaya.


"Kamu kenapa gak dari dulu beli mobil aja ?" Tanya Alex.


"Hum ? Oh itu..," jawab Nadia sedikit terjeda.


"Karena uangnya aku pakai untuk mambantu kuliah dan sekolah adik-adikku," lanjut Nadia.


Dan ia pun jadi berpikir tentang sesuatu, setelah ia menikah ayahnya selalu menolak uang pemberiannya dengan alasan karena kini Nadia telah menikah.


"Ohh," sahut Alex.


"Siapa yang ngajarin kamu nyetir kaya gini ?" Tanya Alex kemudian.


"Bimo," jawab Nadia dan itu membuat Alex bungkam seketika dengan hati mencelos.


"Lalu Adrian dan Diki juga," lanjut Nadia menyebutkan nama sahabat laki-lakinya yang lain.


Mendengar itu hati Alex kian meradang, rasanya ia tak rela mendengarkan Nadia menyebutkan nama laki-laki lain dari bibirnya.


Alex tak bisa mengalihkan pandangannya dari sang istri. Ia semakin terjerat dengan pesona istrinya itu. Nadia dan segala kejutan yang di milikinya. "Kamu cerdas, pintar, dan bisa melakukan apa saja," sahut Alex penuh dengan rasa kagum.


"Tidak semua," sahut Nadia dengan tenangnya.


"aku tak bisa meluluhkan hati kamu," lanjutnya lagi dalam hati.


***


"Ish, makan es krim terus kaya anak gadis lagi patah hati aja," ledek Nadia ketika tahu Alex menderita gangguan lambung karena makan yang tidak teratur dan hanya makan es krim saja.


Alex yang mendengar itu langsung melihat istrinya gemas. "iya, patah hati karena kamu," jawabnya.


"Yeah right," sahut Nadia dengan memutar bola matanya malas.


Ia lebih memilih untuk tidak menanggapi apa yang Alex ucapkan. Ia telah lelah dengan semua yang Alex lakukan pada hatinya. Nadia tak akan terpancing kata-kata seperti itu lagi kecuali Alex mengatakan kata cinta baru ia akan bereaksi.


Tapi sebenarnya itulah yang Alex rasakan, ia yang mengatakan tak ada apa-apa diantara keduanya tapi ia juga yang merasakan patah hati.


***


Tibalah saat Nadia untuk pergi ke Jogja, ia keluar dari kamar dengan sebuah koper kecil yang berisikan beberapa potong pakaiannya.


"Pergi hari ini ?" Tanya Alex yang kini sedang duduk di ruang makan.


"Hu'um," jawab Nadia singkat.


"Jaga diri dan bersenang-senang lah," ucap Alex lagi.


"Tentu saja," jawab Nadia dengan tersenyum penuh semangat namun tidak dengan Alex. Ia merasakan cemas dalam hatinya.


"Aku akan bersenang-senang di sana,"


Melihat itu, Alex kian cemas saja. Ia segera merogoh ponselnya yang berada di dalam kantong dan berjalan menjauhi Nadia untuk menghubungi seseorang.


"Halo. Heru, kamu jangan macam-macam sama Nadia selama di Jogja. Ngerti?" Desis Alex pada asistennya ketika panggilan itu terhubung padahal sang asisten belum juga sempat mengucapkan kata halo.


"Ha-halo, Pak?" Jawab Heru terbata saking terkejutnya.


"Jangan berani macam-macam dengannya, kamu ngerti ? Dia milikku," ucap Alex dengan menekankan pada setiap kata.


"Ba-baik, Pak," jawab heru lagi. Ia semakin terkejut saja.


Lalu Alex pun menutup panggilan itu dengan kasar.


To be continued ❤️