
Im not heartless, i just learn how to use my heart less.
(Bukannya aku tak berperasaan, aku hanya belajar bagaimana untuk lebih sedikit melibatkan hati)
-Alexander Henry Salim-
Happy reading ❤️
"Alex, how about us ?" Nadia mengulang pertanyaannya.
"There is no us," (tak ada 'kita') jawab Alex pada akhirnya.
"What ?" Gumam Nadia tak percaya. Seketika hatinya bagai teriris sembilu, dadanya begitu sesak dan matanya tak henti-henti menitikkan air bening yang terus turun membasahi pipi.
Alex kembali terdiam, ia menatap nanar wanita yang tengah menangis di hadapannya. Jujur dalam hatinya, Alex pun merasakan sakit yang sama. Ia tak mau jatuh cinta karena tak ingin merasakan lagi terluka.
"Kamu pasti mengerti... Aku tak akan mengulang apa yang baru saja aku katakan," jawab Alex dengan jelasnya. Bahkan dirinya sendiri tak sanggup untuk mengulangi kata-kata menyakitkan itu.
Hening...
Keduanya duduk dalam sepi tanpa sepatah kata pun yang lagi terucap. Nadia tak lagi menangis, ia hanya menatap kosong lelaki di hadapannya. Sedangkan Alex, ia tak sanggup dipandangi seperti itu. Ia pun menundukkan kepalanya dan dengan perlahan meminum segelas air yang telah Nadia berikan padanya.
Suara derit kursi terdengar begitu jelasnya di pagi buta yang sunyi ini. Alex menggeserkan tempat duduknya agar ia bisa berdiri. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berjalan dengan sempoyongan dan juga meraba-raba menuju kamar tidurnya. Meninggalkan Nadia yang duduk terpaku dalam sepi.
Nadia menatap nanar bangku kosong di hadapannya. Beberapa saat yang lalu, seseorang yang sangat ia cintai sepenuh hati duduk di sana dan mengatakan jika diantara mereka tak terjadi apa-apa, tak akan ada kisah yang berujung bahagia.
Sesekali ia masih mengusap pipinya yang basah dengan punggung tangan. Alex telah berulangkali membuatnya patah hati, tapi apa yang baru saja terjadi adalah yang paling menyakitkan diantara semuanya.
Ia tahu Alex tengah mabuk tapi Nadia yakin jika lelaki itu cukup sadar ketika mengatakannya. Karena Alex berbicara tanpa terbata, ia berkata-kata dengan begitu jelasnya.
Nadia tersenyum miris, kisah cintanya usai sudah. Lelaki itu tak memberikannya kesempatan untuk memasuki celah hatinya padahal ia telah memberikan seluruh rasa cintanya.
Hanya rasa sepi yang menemani patah hati Nadia pagi ini, ia terus duduk di atas kursi sendiri hingga tanpa sadar mentari pagi pun mulai menyapa.
Terlalu larut dalam rasa sakitnya hingga membuat Nadia terlambat dalam melaksanakan ibadahnya. Ia pun segera berdiri dari tempatnya duduk dan berjalan menuju kamar yang selama ini ia tempati yaitu kamar suaminya.
Meskipun enggan, tapi mau tak mau Nadia harus masuk ke dalamnya karena Alex telah memindahkan semua barangnya kesana.
Jantung Nadia bekerja ekstra, padahal yang ia lakukan hanya sekedar membuka pintu kamar tapi kenapa rasanya begitu sulit saat ini. Dengan menarik nafas dalam Nadia pun melakukannya, ia membuka pintu itu dengan perlahan. Yang pertama kali ia lihat adalah lelaki yang telah membuatnya patah hati berkali-kali sedang tidur meringkuk bagai janin si salah satu sisi tempat tidur.
Yang Nadia lakukan adalah mengambil semua yang diperlukannya pagi ini, dan secepat kilat ia keluar dari kamar itu dan kembali ke kamarnya yang dulu untuk membersihkan diri dan bersiap pergi ke kantor.
Masih pagi sekali ketika Nadia telah bersiap diri. Ia keluar dari kamarnya dalam keadaaan apartemen yang sunyi. Alex pasti masih terbaring di atas ranjangnya. Ia tak akan menunggu lelaki itu bangun untuk pergi bersama ke kantor. Nadia akan pergi sendirian, sama seperti yang sering ia lakukan dulu ketika awal menikah.
Disinilah sekarang Nadia, duduk di dalam bis dekat jendela. Bagai dejavu, dulu pun ia pernah mengalami hal itu. Duduk dalam bis dengan rasa sedih karena patah hati oleh orang yang sama namun kali ini bedanya Nadia tak lagi menangis, hanya hampa dan kosong yang kini ia rasakan dalam hatinya.
***
Alex terbangun dengan kepala yang berdenyut hebat karena sakit. Dengan perlahan, ia mendudukkan dirinya di atas ranjang sembari memijit pelipisnya sendiri. Berharap sakit kepala yang ia rasakan dapat sedikit berkurang.
Setelah itu yang Alex lakukan adalah menoleh ke tempat tidur yang kosong di sebelahnya. Masih terlihat rapi tanpa ada jejak seseorang tidur di sana. Dengan begitu Alex tahu jika Nadia tidak tidur di sebelahnya.
Ia pun berdiri dan berjalan dengan gontai menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan segera bersiap untuk pergi ke kantor.
Setelah selesai bersiap, Alex pun berniat keluar dari kamarnya. Namun ada yang berbeda kali ini, tubuhnya terasa kaku dan tangannya sulit digerakkan hanya untuk membuka pintu. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan jika bertatap muka dengan istrinya pagi ini.
Tepat seperti yang Nadia duga, walaupun semalam ia mabuk tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya diucapkan dengan penuh kesadaran.
Ia memutuskan untuk tak melibatkan hati dalam hubungannya bersama sang istri, namun semua sudah terlambat.
Walaupun Alex tak mau mengakuinya, tapi hatinya sudah tertambat pada Nadia. Hanya saja ia takut untuk jatuh cinta terlalu dalam hingga kembali merasakan sakit yang teramat sangat ketika dikecewakan.
Lola saja yang berhubungan dengannya dengan sukarela ternyata tak mencintainya, apalagi Nadia yang terikat pernikahan dengannya karena sebuah keterpaksaan. Itulah yang membuat Alex membuat keputusan yang sangat menyakitkan bagi Nadia dan juga bagi dirinya sendiri.
Im not heartless, i just learn how to use my heart less.
(Bukannya aku tak berperasaan, aku hanya belajar bagaimana untuk lebih sedikit melibatkan hati)
Karena nyata nya seseorang yang paling kita cintai adalah seseorang yang paling bisa menyakiti hati dan itulah yang Alex rasakan saat ini.
Bukan berarti dia masih mencintai Laura, namun kenyataan bahwa wanita itu tak pernah mencintainya adalah hal yang menyakitkan padahal Alex telah memberikan segalanya dan itu membuat Alex trauma akan rasa cinta. Ia tak mau merasakan hal yang sama untuk ke dua kali.
Tapi ternyata tak ada siapapun diluar sana, apartemennya terasa begitu sepi. Alex pun membuka pintu kamar Nadia tapi hal yang sama yang ia dapatkan. Tak ada seorangpun di dalamnya.
Alex berjalan menuju ruang tamu dan melihat tak ada sepatu kerja Nadia di sana. Itu menandakan jika istrinya telah pergi bekerja. Ia pun memutuskan untuk kembali ke ruang makan dan meminum obat pereda sakit kepala yang tadi malam Nadia berikan padanya.
***
"Nad, cek rekening mu ! Udah masuk ya"
Ucap pak Adi sang manager yang tiba-tiba muncul dalam bilik kerja Nadia.
Nadia yang tengah larut dalam pekerjaannya segera meraih ponselnya dan membuka aplikasi m-banking miliknya. Ia tersenyum puas ketika salah satu bonusnya telah mendarat dengan selamat ke dalam rekeningnya.
Tuhan masih memberinya bahagia dengan cara yang lain di dalam sakitnya patah hati.
"Itu buat yang proyek di Bali. Yang Jogja dan Semarang belum ya, Nad. Karena belum rampung. Kamu harus cek lagi kesana untuk yang kedua kali,"
"Okeeyyy siap boss !" Sahut Nadia seraya mengangkat tangannya untuk memberikan penghormatan.
"Ealah boss apanya ?" Sahut pak Adi sambil tertawa. "Kayanya bentar lagi ada yang naik jadi manager nih," lanjutnya lagi.
Nadia tertawa saja mendengarnya walaupun dalam hati ia sangat berharap hal itu terjadi.
"Aku yakin kamu pasti bisa Nad. Minggu depan cek yang terakhir kalinya ke Jogja. Pasti bareng pak Henry lagi ya ? Kayanya dia naksir kamu deh, Nad,"
'Deg !' hati Nadia mencelos seketika dan ia pun tersenyum miris.
"Jangan ngadi-ngadi lah pak, gak mungkin dia naksir saya. Lagian kasian Kimbum pacar saya yang di korea," sahut Nadia sambil tertawa.
"Halah Nad, halu terus. Cari pacar beneran sana !" Ucap pak Adi sebelum ia pergi meninggalkan bilik kerjanya. Tawa Nadia makin keras ketika mendengar apa yang dikatakan managernya itu.
Tak lama setelah kepergian pak Adi, datanglah Meta sang sahabat. Ia mengajak Nadia untuk makan siang bersama dan seperti biasanya Bimo pun ikut. Tentu saja Nadia menyambut baik ajakan kedua sahabatnya itu. Dengan begitu ia tak akan merasakan kesepian melewati istirahat siang ini dan bisa melupakan Alex untuk sesaat.
Tentang Alex, lelaki itu tak lagi mengirimnya makan siang. Sepertinya kali ini Alex sangat serius dengan ucapannya. "There is no 'us' " adalah kata penutup dari hubungan keduanya.
"Alex gak ngirim makan siang ?" Tanya Meta terheran karena dari awal mereka menikah Alex hampir tak pernah absen mengirimkan makan siang.
"No, dia lagi sibuk banget," jawab Nadia beralasan. Walaupun Meta adalah sahabatnya namun Nadia belum siap berbagi rasa sedihnya kali ini.
***
Pukul 7 malam Nadia telah sampai di apartemennya. Walaupun rasanya begitu berat untuk kembali ke apartemen tapi Nadia harus lakukan itu.
Bukan karena ia lemah dan bodoh karena cinta butanya, bukan juga karena Nadia tak punya nyali untuk melarikan diri seperti yang netizen inginkan darinya.
Ia kembali karena banyak hati yang harus ia jaga. Ada ayahnya yang memiliki penyakit jantung dan Nadia sangat tak mau untuk menjadi beban pikirannya. Ada ibunya yang telah berjuang demi keselamatan sang ayah hingga ia berhutang budi pada sahabatnya sendiri yaitu mamanya Alex. Tak hanya berhutang budi namun ia juga berhutang materi. Ada mama Alex yang begitu tulus menyayanginya, Nadia tak bisa lari begitu saja dan mengecewakan semuanya. Yang terakhir Nadia juga tak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja.
Bisa saja Nadia tinggal dikostnya untuk sementara waktu tapi ia tak mau masalahnya kian larut. Dan disinilah Nadia berdiri. Ia akan hadapi masalah dengan kepala tegak, bukannya berlari menghindari.
Jika suatu saat dirinya harus berpisah dengan Alex, ia ingin pergi dalam keadaan baik dan semua masalah terselesaikan hingga tak ada alasan untuk kembali berurusan dengan lelaki itu.
Nadia menundukkan kepalanya dan mengusap perutnya yang datar. " Ya Tuhan.. jangan hadirkan dulu dia dalam diriku. Bukannya aku menolak karunia mu, hanya saja aku belum siap saat ini," ucapnya lirih.
To be continued ❤️
Thanks for reading 😘
Seperti biasanya aku nulis sesuai alurku. Maaf kalau para readers kecewa karena Nadia nggak pergi. Ada waktunya kok akhirnya Nadia pergi 😌😌😌
Ingat... Semua akan mumet pada waktunya.
Kabooooooorrrrrrr 🤣🤣🤣🤣
please like n share novel ini ya... rekomendasikan pada teman dan orang terkasih kalian ❤️
Jangan lupa juga follow akun Instagram aku meegorjes. kita gabut bersama wkwkwkkwkw
maaciw 😘