
'Dorr, Dorr !!'
Hening untuk sesaat...
"Siallaannn," desis dari salah satunya dan tak lama genangan air berwarna merah segar mulai menggenang di atas sprei berwarna putih itu hingga terlihat begitu kontras.
Keduanya melihat ke arah bawah, ke arah kaki mereka. Tepat ketika Nicky akan menjauhkan tubuhnya, beberapa orang berseragam polisi datang dengan mengarahkan senjata mereka pada kedua orang yang masih bergumul di atas ranjang.
"Angkat tangan !! Letakkan dan lempar ke samping pistolnya !!!" Teriak salah satu petugas.
Nicky berusaha bangkit dengan kedua tangan yang ia letakkan sejajar dada menandakan ia menyerah. Sedangkan Lola, ia tak bersuara karena meringis menahan sakit akibat terjangan 2 timah panas yang menembus kaki karena ulahnya sendiri.
Beruntung bagi Nicky Lola lah yang terus menerus menggenggam senjata itu hingga tak ada sidik jarinya disana.
"Dia mau membunuh saya," tuduh Lola dengan suaranya yang lemah seraya menuruti apa yang petugas polisi tadi perintahkan yaitu menjauhkan senjata api itu darinya.
"Jal*ng," maki Nicky kesal. Sudah terluka pun Lola masih bersikap jahat. Hingga Nicky pun berusaha mengambil alat perekam suara dari saku kemejanya.
Apa yang Nicky lakukan membuat para petugas kembali siaga. "Tetap angkat tangan anda !!" Serunya memberikan perintah.
"Saya hanya ingin mengambil ini," ucap Nicky sembari mengeluarkan alat itu dan memutarnya.
"Diam di situ atau gue habisi Lo ! Lo tahu ? Gue beberapa kali datang ke rumah sakit buat habisin nyawa lo, tapi ternyata gue gak usah susah-susah datang kesana karena lo datang sendiri untuk mati," Terdengar suara Lola yang sedang mengancam dengan jelasnya.
"Dan masih banyak lagi," ucap Nicky dengan tersenyum mengejek.
"Laki-laki sialan," desis Lola dan sedetik kemudian ia kehilangan kesadarannya.
Kawasan apartemen Nicky terlihat ramai dikelilingi aparat dan juga juru medis. Nicky keluar dari pintu utama dengan tangan diborgol dan dikawal beberapa petugas kepolisian sedangkan Lola di angkut menggunakan brankar dengan beberapa orang perawat yang merawatnya menuju sebuah mobil ambulans.
Alex yang melihat itu dari kejauhan segera meninggalkan tempat dengan mobil taksi yang digunakannya.
***
Sore harinya Alex beserta pengacara dan asistennya mendatangi kantor polisi untuk memenuhi panggilan.
Semuanya duduk bersama dalam sebuah ruangan yang tak begitu besar dan Nicky pun berada di sana.
Sedangkan Lola masih terbaring di atas meja operasi karena kakinya terluka sangat parah akibat tembakannya sendiri.
Setelah berbicara beberapa puluh menit lamanya kini terbukti sudah jika dalang dari semua kejahatan ini adalah Laura atau Lola yang merupakan mantan kekasih Alex dan rasa cemburu menjadi latar belakang mengapa ia melakukan hal itu.
Walaupun Nicky dimanfaatkan tapi tetap ia pun harus mempertanggungjawabkan apa yang telah diperbuatnya.
***
Sepanjang perjalanan dari Jakarta menuju Bogor, Alex memikirkan apa yang telah terjadi. Sungguh ia tak menyangka jika Lola bisa melakukan hal senekat dan sekejam itu.
Ia menatap kosong ke depan sembari mengetuk-ngetuk setir mobil dengan jemarinya. Berpikir bagaimana menyampaikan semua ini pada istrinya, Nadia.
Alex takut jika kenyataan bahwa Lola lah yang mencelakainya akan membuat Nadia menyalahkannya, karena Alex sadar sikapnya yang tidak tegas pada Lola akhirnya membuat ia dan Nadia kehilangan buah hati mereka walaupun memang kondisi kandungan Nadia juga lemah.
"Seandainya... Seandainya saja waktu itu aku laporkan Lola mungkin ini tak akan terjadi," batin Alex dalam hati.
"Maafin aku sayang... Maafin aku, Nad...," Alex terus menyalahkan dirinya sendiri. Ia menjambak rambutnya frustasi dan menyesali semua kelalaian yang ia lakukan.
***
Nadia berjalan menuju pintu yang diketuk oleh seseorang. Ia tahu siapa yang datang karena suara deru mesin mobilnya yang terdengar begitu khas. Siapa lagi jika bukan Alex, suaminya.
"Hai...," ucap Alex ketika pintu itu terbuka. "Buat kamu," lanjutnya lagi, ia begitu senang karena Nadia yang melakukannya dengan begitu Alex bisa langsung memberikan satu ikat bunga mawar putih yang dibelinya khusus untuk sang istri.
"Terima kasih," sahut Nadia seraya meraih buket bunga itu dan menghirup wanginya dalam-dalam.
Alex tersenyum dan merangkul pinggang Nadia agar padu dengan tubuhnya serta memberikan ciuman mesra di puncak kepala istrinya itu.
"Ada ayah dan ibu," ucap Nadia mengingatkan. Tentunya akan malu jika kedua orangtuanya melihat Alex tengah mendekapnya erat.
"Tak apa, mereka pasti mengerti," timpal Alex. Ia masih enggan untuk mengurai pelukannya.
"Ada Nayla juga, dia masih kecil gak boleh liat beginian," ucap Nadia beralasan.
Alex tersenyum, berusaha memahami. Ia pun menguraikan pelukannya tapi sebelum tubuh sang istri lepas dengan sempurna dari dekapannya ia sempatkan untuk mencuri sebuah kecupan dari bibirnya.
"Aleeeexxxxx..," desis Nadia. Ia merasa kesal karena Alex tak menggubris perkataannya.
Nadia memutar bola matanya malas, tapi semburat merah di pipinya tak mampu Nadia sembunyikan. Alex yang melihat itu semakin gemas saja.
"Ayo, masuk ! Makan dulu, tadi ibu masakin rendang kesukaan kamu," ajak Nadia seraya berjalan mendahului.
"Oke, tapi aku mau ganti baju dulu,"
Untuk menuju kamar Nadia, Alex harus melewati ruang tengah juga ruang makan. Ia menyalami kedua mertuanya sebelum masuk ke dalam kamar istrinya guna membersihkan diri.
Alex tersenyum penuh arti, hatinya menghangat ketika melihat Nadia telah menyiapkan semua keperluannya. Sungguh ia merasa senang, di balik sikap Nadia yang berubah sejak kehilangan calon buah hati mereka tapi ternyata istrinya itu masih memperhatikannya.
Senyum Alex kembali surut, tatkala ia ingat apa yang terjadi di hari ini. "Huuufffffttt," Alex menarik nafas dalam. Ia masih mencari cara bagaimana menyampaikan semua pada Nadia.
***
Semua berkumpul di meja makan untuk menikmati makan malam. Mereka aling bercerita tentang semua yang dilalui di hari ini. Keluarga Nadia memang sederhana tapi hubungan emosional satu sama lainnya begitu erat dan harmonis, membuat Alex sangat suka berada di sana.
"Bagaimana dengan kasus Nadia ? Apa sudah ada perkembangan terbaru ?" Tanya ayah Nadia.
Alex yang mendapatkan pertanyaan seperti itu berdehem untuk menetralisir gugupnya, ia mengambil segelas air putih dan meminumnya sebelum menjawab pertanyaan sang ayah mertua.
"Ehemm, sejauh ini belum ada perkembangan berarti," jawab Alex bohong. Ia belum siap untuk mengatakan semuanya, terlebih lagi apa yang menimpa Nadia adalah ulah dari mantan kekasihnya. Bagaimana pandangan kedua mertuanya pada Alex nanti ? Pasti akan berubah atau mungkin menyalahkannya.
Alex menelan ludahnya paksa ketika ia membayangkan itu semua.
"Kenapa berjalan lambat ?" Tanya ayah Nadia lagi.
"Entahlah, saya mengikuti langkah kerja pihak kepolisian," jawab Alex beralasan.
"Lalu....,"
"Ayah.. sudahlah...," Kali ini ibu Nadia yang meminta suaminya untuk berhenti bertanya karena ia melihat raut wajah Nadia yang tertunduk lesu seolah tak ingin mendengarkan pembicaraan ini.
Ayah Nadia pun mengerti, pada akhirnya ia berhenti untuk bertanya. "Semoga semuanya bisa diselesaikan secepatnya," ucapnya mengakhiri pembicaraan itu.
"Saya pun berharap seperti itu," sahut Alex dengan tersenyum canggung. Di hatinya yang paling dalam, Alex merasa tak enak karena menyembunyikan sesuatu yang besar.
Ponsel Alex berbunyi juga bergetar dalam saku celana pendeknya, ia mengambilnya dan tertera nama orang kepercayaannya disana.
"Maaf, saya harus terima panggilan ini," ucap Alex sambil berdiri dan kemudian ia berjalan menuju ruangan lain untuk menerima panggilan itu.
"Maaf mengganggu waktu istirahat anda, Pak Henry," ucap lawan bicaranya saat Alex menerima panggilannya.
"Ya, tak apa. Ada berita apa ?" Jawab Alex.
"Berita terbaru yang saya dapatkan, nona Laura harus diamputasi kakinya karena lukanya yang sangat parah. Ia menembakan peluru itu dari jarak yang begitu dekat hingga dokter harus melakukan itu agar nyawanya selamat,"
"What ? Laura harus diamputasi" Gumam Alex tak percaya.
"Ya, salah satu kaki Nona Laura harus diamputasi," jawab lelaki itu lagi.
"Saya hanya ingin menyampaikan hal itu saja, maaf mengganggu waktu istirahat anda,"
"Baiklah, terimakasih," jawab Alex dan ia pun menutup panggilan itu.
"Apa yang terjadi ? Siapa yang harus diamputasi ?" Tanya Nadia yang kini berdiri di belakangnya.
Alex membalikkan tubuhnya dengan terkejut, tak menyangka jika Nadia mendengarkan percakapannya.
"Ma, maaf aku gak bermaksud untuk menguping. Ibu menyuruh membawakan air minum untuk kamu," ucap Nadia. Ia merasa tak enak hati karena Alex terlihat begitu terkejut melihat kehadirannya.
"Mmm, itu teman...," Sahut Alex tanpa bisa menyembunyikan salah tingkahnya.
"Laura ? Lola yang harus diamputasi ? Kenapa ?" Tanya Nadia beruntun, ia menatap Alex dalam ketika menanyakan itu semua.
Tbc ❤️
Thank you for reading ❤️
Jangan lupa vote bagi yang ikhlas ya ❤️
Terimakasih 🙏