
Selamat membaca ❤️
Nadia baru saja menginjakkan kakinya di bandara internasional Ngurah Rai Bali. Untuk satu Minggu ke depan ia akan tinggal disini guna mengecek lokasi proyek dan membuat proposal pengajuan kerja sama.
Kini ia maju sebagai pilot projek yang artinya ia menjadi penanggung jawab penuh dari pekerjaan kali ini.
Bali menjadi pilihan Nadia karena bukan hanya bekerja tapi ia juga butuh liburan sebagai healing ( penyembuhan ) dari semua beban hati yang sedang dirasakannya saat ini.
Setelah makan bersama tadi malam, Nadia masih saja merasakan sakit yang teramat sangat dalam hatinya bahkan ia merasa kian hancur ketika akhirnya bertemu wanita bernama Lola. Wanita yang sangat Alex cintai.
Sepanjang perjamuan makan malam sekuat tenaga Nadia menyembunyikan segala kesakitan nya. Ia tak akan membiarkan Alex melihatnya hancur. Dan entah setan apa yang merasuki suaminya tadi malam karena Alex terus mengamatinya. Bagai mata elang melihat mangsanya.
Semalam pun hal bodoh masih saja dilakukan dirinya. Nadia masih terjaga dari tidurnya hanya untuk menunggu kedatangan Alex ke apartemen mereka.
Setibanya di apartemen tadi malam, keadaan begitu sunyi menandakan Alex belum pulang dari mengantarkan kekasihnya. Jika Lola memang tinggal di apartemen XY seperti yang dikatakan sepupu Alex di malam sebelumnya maka jarak nya memanglah jauh dari apartemen yang Nadia dan Alex tempati.
Nadia membaringkan tubuhnya di atas ranjang dengan mata yang selalu tertuju pada jam. Detik demi detik yang dilalui dengan terasa begitu lama dan menyiksa. Hati dan pikirannya dipenuhi sesuatu yang sangat buruk. Ia membayangkan Alex dan Lola sedang memadu kasih dan itu membuatnya begitu hancur.
Namun semua rasa cemas berganti lega ketika 20 menit kemudian terdengar pintu apartemen yang dibuka. Kekasih hatinya telah pulang, Nadia pun melengkungkan senyumnya dan ia sangat bersyukur karena itu.
Bersyukur karena Alex tak bermalam di sana. Tak hanya itu yang membuat Nadia merasa senang, karena setelahnya Alex melakukan hal yang selalu Nadia tunggu yaitu mengetuk pintu kamarnya berulang kali.
"Nad... Nadia, kamu udah tidur ?"
"Nad... Ku mohon buka pintunya, ayo kita bicara,"
Setelah itu hening beberapa saat, Nadia kira Alex telah pergi ke kamarnya. Namum beberapa saat bunyi ketukan di pintu terdengar lagi.
"Nad... Please... Kamu udah tidur ? Siapa lelaki itu ? Aku gak suka kamu dekat sama dia,"
Hening....
"Nadia....," Ucap Alex lirih dan setelah itu tak terdengar lagi ketukan di pintu atau suara Alex yang memanggil namanya.
Nadia menarik nafas dalam. Bagaimana perasaan cintanya bisa hilang jika Alex terus melakukan hal seperti itu.
Tak hanya tadi malam...
Tadi pagi pun ketika Nadia akan pergi ke Bali. Ia keluar dari kamarnya dengan menyeret sebuah koper. Alex yang sudah terbangun dan telah bersiap dengan setelan jas kerjanya terkejut luar biasa. Ia bahkan menjatuhkan cangkir kopi yang dipegangnya hingga membasahi jas dan celananya.
"Ah shiit," maki Alex karena air kopi yang panas mengenai dirinya sendiri.
"Kamu mau kemana? Tanya Alex seraya mengipas-ngipaskan jas dan celananya yang terkena siraman air kopi.
"Kamu ngapain bawa koper segala ? Udah aku bilang kita gak boleh saling ninggalin. Apa karena Lola datang ? Tapi kamu juga bawa pacarmu !" Ucap Alex beruntun.
"Apa karena aku tak suka dengan pacarmu ? Dia belum tentu laki-laki baik !!!" Ucapnya lagi sembari berjalan mendekati dan Nadia terheran melihatnya.
Melihat Nadia yang terdiam membisu membuat Alex menurunkan tekanan nada bicaranya.
"Mmm, ayo kita bicara... Apa yang membuatmu ingin pergi ? Duduklah dulu," bujuk Alex dengan melembutkan suaranya.
"Tapi aku harus pergi sekarang," jawab Nadia pada akhirnya.
"Ssssttt..," ucap Alex seraya menyentuhkan telunjuknya pada bibir istrinya itu agar Nadia tak lagi bicara.
"Jangan berucap begitu, ayo kita duduk dulu. Apa yang membuatmu ingin pergi ? Apa kata orang tua kita nanti ? Mereka pasti akan sedih jika kita berpisah dan kita akan menjadi beban pikiran bagi mereka," bujuk Alex lagi.
"Kamu ngomong apa sih ?" Nadia berkerut alis tak paham.
"Kamu, kenapa mau pergi ?" Tanya Alex.
"Dinas kerja," jawab Nadia singkat.
"Din-dinas kerja ?"
"Iya, ke Bali selama satu Minggu."
"Oooh... Bukan mau keluar dari apartemen ini ?" Tanya Alex yang kini tersenyum lega.
"Maksudmu pindah ? Apa kamu mau aku pindah dari apartemen ini ?"
"No, tidak malah sebaliknya. Jangan pergi...," Ucap Alex dengan matanya yang sendu. Jemarinya merapikan rambut Nadia yang menutupi dahi. Membuat istrinya itu gemetar karena ingat ciuman mereka semalam. Namun seketika bayangan indah itu sirna mengingat siapa yang datang setelahnya.
"Aku harus pergi sekarang," ucap Nadia karena dadanya yang berdegup kencang.
"Kamu ke Bali sama siapa dan tinggal di mana ?" Tanya Alex beruntun. Ia masih menahan lengan istrinya itu untuk pergi.
"Mmm... Sendiri, dan tinggal di hotel yang di pesankan kantor,"
"Di daerah mana ?"
"Alex aku udah telat, jemputan aku udah nunggu di bawah,"
"Laki-laki ?"
"Apanya ?" Tanya Nadia tak paham.
"Yang menjemputmu ?" Alex balik bertanya dengan memicingkan matanya.
"Pacarmu huh ?" Tanya Alex lagi, kini dengan rahangnya yang mengeras.
"Ya Tuhan... Supir kantor, Alex !" Jawab Nadia kesal.
"Dan kurasa aku pergi dengan siapapun juga bukan urusanmu. Aku akan sangat-sangat sibuk, kemungkinan besar aku tak akan ada waktu luang untuk bicara denganmu. Tapi bukankah itu bagus ?" kata Nadia kemudian.
"Apa ?"
Nadia tak menghiraukan ucapan Alex lagi, ia memilih untuk pergi dan menghindari pertanyaan-pertanyaannya yang tak masuk akal.
"Nad, Nadia tunggu! Kita belum selesai bicara," Alex masih berusaha menahannya namun Nadia memilih untuk pergi karena takut terlambat.
"Jangan membuatku terus berharap padamu, Alex." Lirih Nadia dari balik pintu.
Sikap Alex yang tak menentu membuat hatinya selalu terpaut kembali padanya.
Dan disinilah Nadia sekarang, di pulau Dewata Bali untuk melakukan pekerjaan dan juga mencoba menenangkan hatinya.
Kedatangannya disambut oleh kedua orang teman baiknya ketika duduk di bangku kuliah. Teman yang kini menjadi pasangan suami-istri.
"Hayooo, ngelamunin apa ?" Tanya Adelia atau yang sering di panggil Lia itu.
"Hai, aku lagi mikirin kalian lagi dimana," jawab Nadia bohong.
"Lihatlah bocah tengik, di Bali pun aku masih memikirkan kamu," decak Nadia kesal.
***
Alex datang terlambat ke kantornya. Ia harus mengganti pakaian kerjanya yang terkena kopi. Kepergian Nadia yang mendadak ke Bali membuat dirinya begitu terkejut. Alex kira istrinya itu akan pergi meninggalkannya namun ia dapat bernafas lega ketika tahu kepergian Nadia hanya sebatas pekerjaannya.
Beberapa kali Alex melihat layar ponselnya. Bila pesawat Nadia tak mengalami keterlambatan harusnya istrinya itu telah sampai dari satu jam yang lalu dan salahnya, tadi pagi Alex tak meminta Nadia untuk selalu menghubunginya.
"Pak, tamu dari PT. YYY telah menunggu anda di ruang rapat," kata Joy yang telah berdiri di hadapannya.
"Ok, tunggu sebentar," Alex berdiri dan tak lupa membawa serta ponselnya.
Sepanjang pertemuan Alex terus menerus mencuri pandang ke layar ponselnya, berharap sang istri memberikan kabar.
"Apa anda sedang menunggu telepon penting, Pak Henry ?" Tanya lawan bicaranya pada Alex.
Ya dalam dunia bisnis Alex memang menggunakan nama tengah sebagai panggilannya.
"Oh.. oh tidak, eh iya. Tapi its oke, teruskan saja," jawab Alex.
Lawan bicaranya pun meneruskan kembali ucapannya dan setelah sekian puluh menit berlalu, kabar yang Alex tunggu tak juga ada.
Menit pun berganti jam, namun istrinya tak juga memberikan kabar. Sudah 3 kali juga Alex berusaha menghubungi tapi ternyata ponsel sang istri sedang mati daya.
"What the f... Nadia !!" Umpatnya kesal.
Menjelang sore Joy masuk ke dalam ruangan Alex karena lelaki itu memintanya untuk membawakanbeberapa dokumen kerja. Ketika joy masuk pun sudah terlihat jelas raut wajah Alex yang tak bersahabat.
"Dokumennya saya letakan di sini ya, Pak." Joy pun meletakkan beberapa tumpuk map di atas meja Alex.
"Apa Lo gak liat gue lagi pusing, huh ? Siapa yang nyuruh lo masuk ?" Hardik Alex dengan suara meninggi.
"Mmm... Kan bapak yang meminta saya untuk membawakan semua berkas ini 15 menit yang lalu," jawab Joy sedikit terbata. Baru kali ini Alex berbicara se-keras itu padanya.
"Oh ya ? Sorry kalau begitu. Lo boleh keluar sekarang," titah Alex masih dengan cara bicaranya yang ketus.
Dengan berdecak kesal Alex kembali membuka layar ponselnya. Ia membaca berita satu persatu dan berharap semoga tak ada berita buruk apapun mengenai penerbangan ke Bali.
Dan sesuai dengan harapannya, berita buruk itu tak ada. "Kamu di mana sih ?" Decak Alex kesal.
Ia kembali memasuki aplikasi pesan dan melihat pembaharuan status kontak ponselnya. Memperhatikan setiap nama hingga nama Nadia muncul di sana dan Alex pun memilihnya.
Terlihat Nadia sedang duduk santai di tepi pantai dengan pakaian sedikit terbuka membuat Alex memelototkan matanya.
"Whaaaatttt theee f.....,' maki Alex kesal.
Tak hanya itu yang membuat Alex naik darah. Fakta bahwa nadia duduk bersebelahan dengan lelaki lain juga membuatnya merasa sakit kepala seketika.
"Gue khawatir banget sama lo dan ternyata ini yang lo lakuin !" Desis Alex seraya menghubungi ponsel istrinya.
"Apa ?" Tanya Alex tak percaya ketika Nadia menolak panggilannya. Ia pun segera menghubungi kembali namun lagi-lagi Nadia menolaknya.
Dengan rahang yang mengeras dan bibir yang terkatup rapat, Alex menuliskan pesan pada istrinya itu.
"Angkat teleponnya, Nadia ! Atau aku akan terbang ke Bali sekarang juga dan menyeret mu pulang,"
To be continued ❤️
Thanks for reading 😘
Mon maap telat update yaaa 🙏🙏