In Love

In Love
Masih Menyelesaikan Masalah



"Terima kasih atas waktunya, Pak Henry," ucap Imelda setelah wawancara itu selesai dilakukan. Lalu ia menjabat tangan Alex dengan erat, namun sayangnya Alex segera menarik genggaman tangannya dari wanita itu.


"Kapan hasil wawancara ini diterbitkan ?" tanya Alex, mencoba mengalihkan perhatian. Ia sadar jika wanita di hadapannya masih saja mencari perhatian darinya meskipun Alex beberapa kali memberikan respon penolakan


"Secepatnya, akan terbit dalam versi cetak, juga online," jawab Imelda sedikit malu karena penolakan Alex.


"Oh baiklah, terimakasih," sahut Alex singkat sambil tersenyum. Sebisa mungkin ia bersikap ramah. Setelah itu, ia pun berpamitan untuk pergi meninggalkan studio tempatnya di wawancara dan kembali ke kantornya.


Imelda tatapi punggung Alex yang pergi menjauhi, ia menarik nafas dalam dan menghembuskan nya pelan. Alex berjalan didampingi asisten juga sekertarisnya. Terlihat sibuk dengan sebuah tablet di tangannya yang baru saja diberikan oleh sang sekretaris.


Alex dan sejuta pesonanya bisa membuat wanita manapun bertekuk lutut tapi lelaki itu dengan jelasnya membentengi diri dan memilih untuk menolak godaan para wanita. Alex memilih untuk setia pada wanita yang telah membuatnya jatuh cinta yaitu Nadia.


Rasa kagum pada sosok Alex kian bertambah saja, untuk masa sekarang ini sangat sulit menemukan lelaki yang sukses dan setia dalam waktu bersamaan.


"Lupakan, Mel... he is so out of reach," (Dia sangat di luar jangkauan ) bisik salah satu temannya, bahkan pundaknya ditepuk-tepuk halus oleh temannya itu agar Imelda sadar dari halunya.


Imelda menolehkan kepala pada temannya dan tersenyum membenarkan, walaupun kecewa luar biasa ia rasakan dalam hati karena Alex sama sekali tak menanggapinya. Lelaki itu hanya bersemangat ketika berbicara tentang Nadia sang istri. Matanya berbinar bahagia dan senyum pun tak surut dari wajahnya namun setelah itu Alex kembali bersikap biasa saja bahkan nyaris dingin karena ia hanya akan menjawab setiap pertanyaan dengan singkat.


Imelda masih terus memperhatikan, di depan sana Alex belum juga meninggalkan studio. Ia masih berbicara dengan beberapa orang yang menghentikan langkahnya. Alex tersenyum dan berbicara dengan penuh wibawa. Ia merapikan sendiri kancing jas nya yang terlepas. "Sini... Biar aku yang rapihkan," Des*ah Imelda penuh harap, yang bisa ia lakukan hanya mengangumi Alex dari jauh.


***


Untuk ke sekian kalinya Alex membuang pandangannya ke arah luar jendela, memperhatikan jalanan yang dilaluinya dengan tatapan mata kosong. Kini, hal itu menjadi kebiasaannya setelah Nadia tak lagi di sampingnya. Bibirnya terkatup rapat dan rahangnya mengeras. Jemarinya memainkan cincin pernikahan yang melingkar sempurna di jari manisnya.


"Kita akan langsung menuju kantor pusat PT. XYZ," ucap Joy yang kini duduk tepat samping sang supir.


Alex hanya mengangguk tanpa menolehkan kepala, tak satupun kata yang terucap dari bibirnya. Ia masih saja sibuk menatapi jalanan yang dilaluinya.


Joy yang melihat itu menarik nafas dalam. Sudah satu Minggu ini atasannya sangat irit bicara dan sikapnya dingin luar biasa. Setelah bertahun-tahun menjadi sekretaris, ini pertama kalinya bagi Joy mendapati Alex bersikap seperti itu.


Tak hanya pada Joy, namun Alex bersikap seperti itu pada semua pegawainya yang lain hingga mereka menjadi sungkan pada Alex termasuk Heru yang kini duduk di sebelahnya. Beberapa kali ia bergerak gelisah dan berharap dalam hatinya agar segera sampai di tempat tujuan karena sikap alex yang tak bersahabat. Joy yang menyadari itu tersenyum canggung pada Heru seolah ingin mengatakan jika ia pun merasakan hal yang sama.


Setelah beberapa puluh menit berkendara, akhirnya mereka sampai di tujuan yaitu kantor pusat PT.XYZ sebuah perusahaan di mana istrinya, Nadia bekerja.


"Kita sudah sampai, Pak," ucap Joy mengingatkan karena Alex masih terdiam terpaku dan lagi-lagi ia hanya menganggukkan kepala tanpa bersuara. Alex keluar dari kendaraan yang membawanya setelah sang supir membukakan pintu untuknya.


Rupanya kedatangan Alex sudah sangat di tunggu, terbukti dari adanya beberapa orang yang menyambutnya hangat ketika ia melangkahkan kakinya memasuki kantor yang dulunya merupakan tempat kerja Nadia.


"Pak Henry," ucap pak Adi sembari mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Alex. Ia yang merupakan manager Nadia dulu, begitu antusias menyambut kedatangan Alex.


"Senang bisa bertemu dengan anda lagi," sahut Alex tersenyum hangat dan menjabat tangan pak Adi sama eratnya.


Alex edarkan pandangan, dan menelisik kantor yang dulunya menjadi tempat kerja sang istri. "Setelah hampir satu tahun menikah akhirnya saya bisa berkunjung ke kantor istri saya, Nadia. Namun sayang kini istri saya sudah berpindah tugas ke kota Bandung," ucap Alex dengan jelasnya hingga beberapa orang yang mendengar itu menutup mulut mereka dengan kedua tangan karena tak percaya. Namun tidak dengan Meta dan juga Dian si anak magang. Keduanya tersenyum senang sambil beradu pandang.


Melihat kehadiran Meta dan Dian di antara banyaknya orang yang menyambutnya membuat Alex melepaskan jabatan tangan dari pak Adi dan beralih mendatangi kedua wanita itu.


"Meta dan....," Alex menjeda ucapannya karena ia tak bisa mengingat nama perempuan yang dulu pernah membantu Nadia ketika mengalami insiden di hotel beberapa waktu lalu.


"Dian," sahutnya sedikit malu-malu. Ia tak menyangka Alex mengingatnya.


"Ah ya... Dian.. senang bisa bertemu kalian lagi," ucap Alex sambil mengumbar senyumnya.


"Saya tak menyangka, bapak masih mengingat saya," ujar Dian polos.


Alex yang mendengar itu semakin melebarkan senyumnya, "Saya pasti akan ingat siapa-siapa saja yang telah bersikap baik pada Nadia, istri saya," sahut Alex.


Apa yang Alex ucapkan membuat beberapa orang yang mendengarnya bergidik ngeri. Mereka yang telah berbuat jahat pada Nadia sadar jika kedatangan Alex ke kantor mereka pasti ada kaitannya dengan rumor yang berhembus beberapa waktu lalu.


"Silahkan, Pak Henry...," Pak Adi berusaha mengalihkan perhatian Alex agar segera ikut dengannya untuk bertemu pemimpin tertinggi mereka dengan mempersilahkan Alex berjalan mendahuluinya.


"Saya harus pergi dulu, semoga kita bisa bertemu lagi," ucap Alex pada Meta dan Dian. Keduanya menganggukkan kepala sebagai jawaban dan juga penghormatan. Saat ini Alex tengah menjadi tamu kehormatan di kantor mereka.


Alex berjalan beriringan dengan pak Adi dan diikuti sekretarisnya Joy dan Heru sang asisten. Sedangkan di belakang mereka bisik-bisik cemas mulai terdengar, hanya Meta dan Dian yang tersenyum bahagia melihat kedatangan Alex.


"Pastinya pak Henry menikahi Nadia karena ketahuan telah menghamilinya," ucap salah satu perempuan yang dulu pernah bersitegang dengan Meta di kamar mandi perempuan. Ia masih tak percaya jika Nadia si gadis biasa adalah istri dari seorang Alexander Henry Salim, pengusaha muda yang tampan dan kini namanya tengah melejit tinggi.


"Kamu bisa tanya langsung orangnya biar tahu," sahut Meta sambil berlalu pergi dan meninggalkan mereka dengan pikirannya masing-masing.


***


Alex menarik nafas dalam sebelum ia melangkahkan kakinya untuk memasuki ruangan pemimpin tertinggi perusahaan di mana Nadia bekerja saat ini. Seperti janjinya pada sang istri, ia akan menyelesaikan semua masalah yang diakibatkan olehnya. Alex lakukan itu agar bisa segera membawa sang istri ke sisinya.


"Aku sudah di sini, Sayang, siapapun tak boleh menyakiti kamu," gumam Alex lirih sebelum ia melangkahkan kakinya memasuki ruangan yang didalamnya telah duduk beberapa orang yang sangat menanti kedatangannya.