
Selamat membaca.
"Aku pergi ya... Supir sudah terlalu lama menungguku. Selamat tinggal, Alex." Nadia pun mengecup pipi Alex untuk terakhir kalinya sebelum ia berdiri dan menyeret kedua kopernya meninggalkan Alex yang masih duduk bersimpuh dalam diam.
Susah payah Nadia menyeret kedua kopernya, bukan karena berat terlalu banyak isinya tapi berat karena meninggalkan seseorang yang ia cintai dengan dalam. Seperti yang Nadia katakan sebelumnya, ia terlalu mencintai Alex bukan sangat namun terlalu.
Alex masih duduk bersimpuh dengan tatapan mata kosong pada sembarang arah. Tak hanya pandangan matanya yang kosong tapi jiwanya pun terasa hampa. Bagaikan langit runtuh, dunia Alex hancur seketika. Wanita yang mampu membuatnya merasakan lagi cinta akan pergi dari hidupnya.
Alex tolehkan kepala dan melihat Nadia yang sedang menekan nomor acak pintu apartemennya, ia berdiri dan berjalan tergesa menuju Nadia yang baru saja menekan gagang pintu agar terbuka. Alex peluk istrinya itu dari arah belakang dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Nadia hingga istrinya itu terkejut luar biasa.
Nadia melonjakkan tubuhnya karena belitan tangan Alex yang melingkar erat di atas perutnya yang datar dan nafasnya yang menderu terasa hangat menerpa kulitnya. Tubuh Alex gemetar menandakan ia tengah menumpahkan air matanya membuat Nadia pun merasakan kacau dalam hatinya "A-Alex, apa yang kamu lakukan ?" Tanya Nadia pelan dan takut-takut.
"Ka-Kamu boleh pergi tapi hanya untuk sementara, aku akan mencari dan membawamu pulang kembali ke tempat yang seharusnya yaitu di sisiku," bisik Alex lirih. Bibirnya yang bergetar bersentuhan dengan ceruk leher Nadia hingga membuat tubuhnya meremang seketika.
"Alexhh," lirih Nadia menahan tangisnya.
"Aku akan menemukan mu dan membawamu pulang," lanjut Alex mengulang perkataannya seraya mengeratkan pelukannya.
"Aku mencintaimu.. Aku pun terlalu mencintaimu Nadia, hingga tak akan ku izinkan kamu untuk pergi dari hidupku begitu saja. Akan aku buktikan jika perasaanku itu nyata dan kita akan bahagia. Jadi tunggu aku," masih Alex berbisik lirih dan itu membuat tubuh Nadia gemetar.
Alex uraikan pelukannya setelah ia mengatakan apa yang ada dalam hati juga kepalanya, ia akan biarkan Nadia pergi untuk sementara. Alex akan selesaikan semua masalahnya terutama yang berkaitan dengan Lola dan setelah itu ia akan mencari Nadia meskipun harus sampai ujung dunia.
"Pergilah, dan tunggu aku," ucap Alex dengan jelasnya. Ia mencium pelipis Nadia dengan bibirnya yang basah hingga membuat Nadia menelan salivanya yang kelat. Perlahan Alex uraikan pelukannya dan membebaskan tubuh Nadia dari kuasanya.
Kata-kata yang Alex ucapkan bagaikan sebuah mantra yang membuat Nadia tak mampu berkata-kata. Yang ia lakukan adalah menekan gagang pintu dengan tangannya yang gemetar tanpa menolehkan kepala untuk melihat Alex. Nadia sadar, ia akan membatalkan kepergiannya jika ia melihat wajah Alex saat ini.
Tanpa sepatah katapun lagi yang keluar dari mulutnya, Nadia melangkahkan kakinya keluar dari apartemen dan meninggalkan Alex seorang diri. Seorang laki-laki yang merupakan supir yang akan mengantarkan Nadia berdiri di balik pintu untuk membantu membawakan kopernya.
"Sudah siap, Bu ?" Tanya nya ragu karena melihat wajah Nadia yang sembab dan matanya yang merah. Lelaki itu tahu jika Nadia baru saja menumpahkan air matanya dengan hebat.
"Ya, saya sudah siap," jawab Nadia dan lelaki itu pun dengan sigap membantu membawakan kedua koper milik Nadia.
Nadia berjalan gontai, kepalanya dipenuhi oleh kata-kata yang belum lama Alex ucapkan. "Kamu boleh pergi tapi hanya untuk sementara, aku akan mencari dan membawamu pulang kembali ke tempat yang seharusnya yaitu di sisiku."
Apa yang Alex ucapkan meluluh lantakkan hati dan perasaannya. Nadia pun kembali berusaha menghilangkan jejak air mata di wajahnya dengan punggung tangan dan menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Nadia...," Ucap seseorang yang berjalan di belakangnya tapi Nadia yang sibuk dengan pikirannya sendiri tak menanggapinya.
"Nadia...," Ulangnya lagi hingga akhirnya Nadia menghentikan langkahnya dan menolehkan kepala ke arah suara.
"Kamu pergi hari ini ?" Tanya Edo yang berjalan tepat di belakangnya. Mata Edo menelisik wajah Nadia yang memerah begitu kentara karena tangisnya.
"Iya Alex, aku pergi hari ini," jawab Nadia dan itu membuat Edo tersenyum samar menahan sakit di dadanya karena Nadia menyebutnya dengan nama yang lain. Edo yakin jika saat ini kepala Nadia penuh dengan pemikiran mengenai Alex suaminya.
Edo tersenyum lagi mengingat bagaimana Nadia dan Alex berciuman dengan mesranya saat di lift 2 hari yang lalu. Dunia Nadia terlalu di penuhi oleh Alex hingga ia tak sadar dengan kehadirannya.
"Kenapa pergi kalau kamu begitu berat untuk meninggalkannya," ucap Edo. Lagi-lagi ia harus merasakan sesak di dadanya.
"Maaf ?" Tanya Nadia. Ia berkerut alis tak paham.
"Tinggallah di sini," jawab Edo.
"A-aku harus pergi," sahut Nadia terbata.
"Bagaimana dengan ?" Tanya Edo sedikit ragu. Ia ingin bertanya tentang hubungan Nadia dan Alex.
"Edo... Maaf... Mengenai kamu...," Sahut Nadia dengan wajah memelas bercampur bingung. Ia mengira Edo bertanya tentang pernyataan cintanya yang lalu.
"Ah mengenai itu... Tadinya aku akan menunggumu untuk menjawab perasaanku tapi kini aku sudah tahu jawabannya tanpa perlu kamu katakan," sahut Edo menanggapi.
Edo sadar diri jika tak ada tempat baginya di hati Nadia. Cinta, hati dan dunia Nadia telah dipenuhi oleh Alex seorang dan tak ada celah baginya untuk memasuki kehidupan wanita itu.
"Maaf," sahut Nadia pelan. Ia tak menundukkan kepalanya untuk menghindari.
"Maafkan aku, Edo. Aku tak bisa menerima mu karena aku....,"
"Karena kamu hanya mencintai Alex seorang ?" potong Edo dengan tersenyum masam.
Nadia tak menjawab, yang ia lakukan hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya tegas sebagai jawaban.
"Maaf," sahut Nadia lagi. "Maaf karena tak mengatakannya dari kemarin,"
Nadia menggelengkan kepalanya pelan, untuk saat ini dan mungkin untuk waktu yang sangat lama ia tak akan jatuh cinta lagi pada lelaki manapun.
"Baiklah, aku mengerti. Semoga kamu selalu berbahagia," lanjut Edo. Ia dengan tulus mendoakan Nadia walaupun hatinya tengah meradang merasakan patah hati.
"Kamu juga, semoga bahagia selalu. Terimakasih sudah menjadi teman yang baik selama ini. Aku benar-benar menghargainya," ucap Nadia.
Edo mengulum senyum mendengar apa yang Nadia ucapkan. "Apa kita masih bisa berteman setelah ini ?" Tanya Edo kemudian.
"Tentu, pertemanan di antara kita tak ada yang berubah. Ah Edo, maaf aku harus pergi sekarang," ucap Nadia. Ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya dan sadar jika ia sudah terlambat.
"Ya, hati-hati... Aku akan menghubungimu," sahut Edo.
Nadia tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu ia pun pergi meninggalkan Edo yang menatapi punggungnya.
Edo berdiri terpaku di tempatnya, matanya terus memperhatikan Nadia hingga wanita itu menghilang di balik pintu lift tanpa melihat ke arahnya lagi. Sungguh tak ada tempat baginya di hati Nadia.
"That lucky bast*rd," ( si bajing*n yang beruntung). Maki Edo dalam hatinya, ia membayangkan wajah Alex ketika mengatakan itu.
"Bagaimana Nadia bisa jatuh cinta pada lelaki yang dengan jelas menyakitinya," gumam Edo. Ia bertanya pada dirinya sendiri.
Tapi itulah cinta, seandainya hati bisa diatur untuk mencintai siapa tentunya kita tak akan merasakan sakit.
Setelah Nadia benar-benar pergi dari hadapannya Edo pun meninggalkan tempat ia berdiri untuk kembali ke unit apartemennya, ia mungkin akan sangat terlambat datang ke kantornya karena saat ini ia akan menikmati perihnya patah hati. "Salah lo sendiri bisa jatuh cinta sama istri orang," lirih Edo sambil tertawa. Mentertawakan kebodohannya sendiri.
***
Nadia menolehkan kepala menatap gedung tinggi yang menjulang di belakangnya. Gedung yang beberapa bulan terakhir ini ia tinggali dan sekarang harus ia tinggalkan.
"Bu ?" Tanya sang supir karena Nadia masih berdiri di luar walaupun pintu mobilnya telah terbuka lebar.
"Ah maaf," sahut Nadia dengan senyum rasa bersalahnya dan ia pun menaiki mobil itu.
"Aku akan baik-baik saja," batin Nadia dalam hatinya.
Sepanjang perjalanan Nadia menatap keluar jendela, ia memperhatikan jalanan yang sering dilaluinya bersama Alex.
"Huuufffffttt," Nadia menarik nafas dalam-dalam. Baru beberapa menit saja ia meninggalkan lelaki itu tapi kini sudah kembali memikirkannya.
Untuk membunuh keheningan sang supir menyalakan mesin pemutar lagu di dalam mobil. Lagu Only Love Can Hurt Like This dari Paloma Faith pun terdengar mengalun.
Nadia memejamkan matanya, meresapi setiap kata yang ada di dalam lagu itu seolah mewakili perasaannya saat ini.
I tell myself you don't mean a thing,
And what we got, got no hold on me
But when you're not there I just crumble
I tell myself I don't care that much,
But I feel like I die 'til I feel your touch,
Only love, only love can hurt like this.
Aku berkata pada diriku jika kamu tak lagi berarti.
Dan apa yang terjadi diantara kita tak ada lagi yang dapat menahan kepergianku
Tapi ketika kamu tak ada, aku merasa hancur
Aku katakan pada diriku sendiri jika aku tak begitu peduli.
Tapi rasanya aku mau mati sampai aku merasakan sentuhanmu.
Hanya cinta, hanya cinta yang bisa menyakiti seperti ini.
To be continued ❤️
Thanks for reading ❤️😚