In Love

In Love
Menemani



Happy reading ❤️


"Kenapa Tuhan tak mengambilku juga ?" Batin Nadia dalam hatinya. Ia begitu merasa terpukul mendapati kenyataan paling pahit dalam hidupnya.


Hawa dingin yang Nadia rasakan terasa makin dingin saja setelah ia mengetahui kenyataan bahwa ia kehilangan buah cintanya.


"Bisakah kamu pergi ? Tinggalkan aku sendiri, Lola. Biarkan aku berpikir untuk sejenak," terdengar suara Alex berbicara dan itu membuat hati Nadia kian perih saja. Apa suaminya itu terpengaruh dengan apa yang baru saja Lola katakan ? dan bagaimana bisa wanita itu berada disana dengan suaminya?


"Baiklah... Aku hanya ingin menemanimu di masa sulit ini karena aku peduli padamu, Alex." Ucap Lola seraya membelai halus wajah Alex dengan tatapannya yang sayu seolah-olah ia peduli.


"Terimakasih," sahut Alex singkat.


"Baiklah aku pergi, kamu bisa hubungi aku kapan saja maka aku akan langsung datang padamu," ucap Lola lagi sebelum ia pergi.


Nadia yang mendengarkan itu semua merasakan patah hati entah untuk yang ke berapa kalinya. Mungkin memang benar ia dan Alex ditakdirkan bersama untuk waktu yang tak lama.


Sepeninggal Lola, Alex mengelap pipinya yang tadi Lola sentuh dengan tisu karena ia merasa jijik karenanya dan ia pun mengirimkan pesan pada beberapa orang yang dibayarnya khusus untuk menangani kasus istrinya. "Dia baru saja meninggalkan ruangan gawat darurat, ikuti terus jangan sampai kehilangan jejaknya," tulis Alex pada pesan singkat itu.


Alex merasa Lola ada campur tangan dalam masalah ini, namun ia tahu bagaimana nekadnya wanita itu hingga Alex menggunakan cara halus untuk menangkapnya sembari mengumpulkan barang bukti walaupun sebenarnya menyerahkan Lola ke kedutaan Belanda pun cukup untuk menahannya tapi Alex ingin wanita itu mendapatkan hukumannya juga di sini jika ia benar-benar terlibat.


Lola keluar dengan senyum terkembang, hanya saja ada satu masalah lagi. Nicky ! Kenapa lelaki masih hidup ? Seharusnya Alex menemukan Nadia ketika wanita itu bergulat penuh hasrat dengan teman kecilnya itu hingga Alex pasti akan menghabisinya seketika tapi ternyata Nicky masih hidup dan akan merepotkan jika lelaki itu menyebutkan namanya.


Baru saja Lola akan berjalan menuju kamar lelaki itu terbaring di ruangan yang lain namun ia sadar masih mengenakan baju yang sama hingga Lola memutuskan untuk pergi dan tanpa ia ketahui dua orang lelaki mengikutinya dari belakang.


***


Sepeninggal Lola, Alex mendudukkan tubuhnya tepat disebelah Nadia dan membawa jemari istrinya itu pada genggamannya dan mencium punggung tangannya, "cepat bangun, aku benar-benar mengkhawatirkanmu," bisik Alex lirih dan ia pun kembali mengecup punggung tangan Nadia yang terasa begitu dingin.


Ibu Nadia memasuki ruangan itu diikuti ayahnya di belakang. Wajahnya terlihat begitu cemas begitu pun sang ayah.


Mereka baru saja tiba karena sebelum pergi, ayah Nadia yang memiliki riwayat penyakit jantung mengalami serangan panik ketika mengetahui putri  kesayangannya mengalami hal yang buruk hingga memerlukan beberapa waktu untuk menenangkannya. Belum lagi perjalanan Bogor-Jakarta yang cukup padat hingga membuatnya datang terlambat.


"Maaf kami baru datang," ucap ibu Nadia dengan wajahnya yang terlihat begitu cemas bahkan kedua matanya telah mengembun menahan tangis.


"Ah ayah, ibu," sahut Alex dan ia pun berdiri menyalami kedua mertuanya.


"Bagaimana Nadia sekarang ?" Tanya ayahnya takut-takut.


"Menurut dokter keadaannya stabil... Tapi...," Alex menjeda ucapannya, ia tak kuasa mengatakan jika mereka baru saja kehilangan calon buah hati yang Nadia kandung. Matanya membasah ketika memikirkan itu semua.


"Sabarlah, ini sebuah ujian untuk kalian,"  sahut ibu Nadia sembari menepuk pelan bahu menantunya.


Alex menganggukkan kepalanya dan mengusap matanya yang basah dengan kedua ibu jari. Ia menarik nafas dalam, berusaha untuk menenangkan diri.


"Aarrgghh," erang Nadia yang kini mulai membuka matanya pelan.


"Sayang..," lirih Alex. Dengan tak sabaran ia mendudukkan tubuhnya kembali dan meraih jemari Nadia dalam genggamannya.


"I...ibu..," rintih Nadia pelan memanggil ibunya, hati Alex mencelos perih ketika bukan ia yang pertama kali Nadia cari.


"I...ibu ada disini," sahut Alex sembari berdiri dan membiarkan ibu mertuanya untuk duduk sedangkan ayah mertuanya berada di bagian ranjang yang lain.


"Ini ibu, Nak... Ayah juga ada," ucap ibu Nadia sembari memberikan usapan-usapan halus di puncak kepala anaknya.


Nadia menangis lirih didalam belaian kedua orangtuanya, Alex yang melihat itu tak kuasa menahan air matanya sendiri. Seketika ia merasa telah gagal menjaga seorang wanita yang sangat dicintainya.


Ya...


Saat ini Alex merasakan benar-benar mencintai Nadia. Ia ingat beberapa waktu lalu ketika Nadia mengalami pendarahan hebat dan tak sadarkan diri. Ia meraung hebat memohon pada dokter untuk menyelamatkan istrinya. Alex merasa takut luar biasa, takut kehilangan istri yang sangat ia cintai itu.


Pak Adi yang merupakan manager Nadia juga Meta sahabat Nadia yang dikabari oleh Dian, mencoba menenangkan Alex kala itu. Keduanya terus menemani Alex selama dokter memberikan tindakan. Lelaki yang terlihat angkuh itu berkali-kali mengusap matanya yang basah, menangisi sang istri yang sedang berjuang melawan kesakitannya.


Dan kenyataan kehilangan calon buah hatinya membuat Alex kian terpuruk tapi ia berusaha menguatkan diri. Banyak hal yang harus Alex lakukan, menanami Nadia dalam masa sulit ini juga menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi.


"I...ibu.. a... Aku..," rintih Nadia di sela isakan tangisnya.


"Ssttt...tenanglah dan bersabarlah..," sahut ibunya dan Nadia menganggukkan pelan kepalanya.


Dokter yang menangani Nadia pun datang dan memeriksa, sejauh ini kondisi fisik Nadia baik-baik saja, hanya kondisi mentalnya yang yang sangat jauh dari kata baik.


Setelah beberapa jam di ruang gawat darurat, Nadia pun dipindahkan ke ruang rawat inap di rumah sakit Itu. Alex memberikan kamar terbaik di sana dan tak sekalipun ia meninggalkan Nadia walaupun Alex merasa jika istrinya itu sedikit menghindarinya, ia lebih memilih untuk bergantung pada ibunya.


"Alex pulanglah, besok kamu harus bekerja. Biar ayah dan ibu yang akan menjaga Nadia," ucap ibu Alex karena ia melihat menantunya itu kelelahan.


Alex menatap Nadia, namun istrinya itu tak mengatakan apapun. "Aku akan tetap berada di sini, kita akan menjaga Nadia bersama-sama," jawab Alex tanpa ragu.


***


Keesokan harinya Lola datang ke rumah sakit dengan kain penutup kepala dan kacamata besar untuk menyamarkan penampilannya. Ia bertanya pada resepsionis untuk mengunjungi pasien bernama Nicky dan Lola mengaku sebagai teman kantornya. Setelah mengetahui dimana lelaki itu kini dirawat Lola pun menuju kesana.


"Sungguh merepotkan," keluh Lola. Kini ia harus menghabisi temannya sendiri karena ia tak mau lelaki itu menyebutkan namanya. Entah bagaimana caranya tapi lelaki itu harus mati. Ia berusaha menutupi kejahatan yang satu dengan kejahatan yang lainnya.


Baru saja Lola berbelok untuk menuju ruangan lelaki itu dirawat tapi ia mengurungkan niatnya ketika melihat 2 orang lelaki berbadan besar menjaga pintu kamar dimana lelaki itu terbaring.


"Sial," umpat Lola. Akan sulit baginya untuk melenyapkan lelaki itu. Ia pun begitu frustasi saat ini.


***


Alex masih setia menemani Nadia walaupun istrinya itu menjadi sangat diam sekali, bahkan Alex membatalkan beberapa janji pentingnya hanya untuk bisa berada dekat istrinya.


Suara ketukan di pintu membuat semua yang ada di ruangan itu menolehkan kepala ke arah suara. Setelah pintu dibuka masuklah 2 orang laki-laki yang merupakan petugas kepolisian.


Nadia yang melihat kedatangan 2 laki-laki itu langsung beringsut, ia mencoba menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut seolah melindungi diri.


Alex yang memperhatikan istrinya, sadar jika Nadia begitu trauma bertemu dengan laki-laki yang tak dikenalnya.


"Sayang... Tenanglah mereka hanya petugas kepolisian yang akan mengambil keterangan darimu perihal kejadian kemarin. Tapi jika kamu belum siap tak apa-apa, mereka bisa kembali lagi nanti," ucap Alex pelan. Ia berusaha menenangkan istrinya.


Nadia menelan salivanya paksa, sorot matanya memperlihatkan rasa takut yang luar biasa. Kedua tangannya saling meremas karena rasa gugup menyelimutinya.


"Sayang... ?"


"A-aku belum siap mengingat semuanya," jawab Nadia dengan suara bergetar. Ia belum sanggup untuk menceritakan kejadian buruk yang dialaminya.


"Baiklah, tak apa.., kita bisa melakukanya lagi nanti ketika kamu sudah siap," sahut Alex dan ia pun segera berbicara dengan petugas kepolisian itu dan mengatakan jika Nadia belum siap untuk memberikan keterangan.


"Baik, kami mengerti." Petugas kepolisian itu mengangguk paham.


"Bagaimana dengan laki-laki bernama Nicky itu ?" Tanya Alex dengan berbisik.


"Oh... Saudara Nicky juga belum bisa diambil keterangannya karena dia belum bisa berbicara dengan lancar,"


Ya wajahnya yang babak belur karena pukulan Alex membuat lelaki itu tak bisa berbicara.


"Tapi seperti yang anda minta, petugas kami terus menjaganya agar ia tak lari,"


"Bagus, terimakasih atas bantuannya," sahut Alex.


Setelah berbicara beberapa saat kedua petugas itu pun pamit undur diri, dan akan kembali ketika Nadia telah siap memberikan keterangan.


***


2 hari berlalu keadaan Nadia secara fisik kian membaik, namun secara mental ia masih tertekan hebat. Terlihat dari dirinya yang tak banyak bicara, nafsu makannya yang menurun dan banyaknya Nadia melamun.


Dan selama itu terjadi Alex tak pernah sekalipun meninggalkannya, bahkan ia melakukan semua kegiatannya di ruang rawat sang istri. Makan, mandi, bekerja, semua hal Alex lakukan di sana walaupun Nadia mengabaikannya tapi Alex dengan sabar menemaninya.


Hari ini Nadia telah bersedia untuk memberikan keterangan, ditemani pengacara juga Alex dan kedua orangtuanya.


Nadia menceritakan semuanya yang ia ingat dengan bibir bergetar karena sangat menyakitkan baginya untuk mengingat itu semua.


Alex yang mendengarkan itu semua mengepalkan tangannya menahan amarah yang siap meledak. Bagaimana mungkin seseorang berlaku begitu jahat pada istrinya dan mengarang banyak cerita palsu termasuk pertemanannya dengan lelaki bernama Nicky itu.


Alex semakin yakin jika Lola terlibat dengan semua ini. "Wanita jal*ng dan lelaki bajingan itu akan mendapatkan balasan yang setimpal," geram Alex dengan gigi gemeletuk menahan rasa marah.


To be continued ❤️


Thanks for reading ❤️