
Selamat Membaca
"Hai, beautiful," sapa seseorang yang sangat Nadia kenali suaranya. Ia pun mengangkat kepalanya yang tertunduk dan melihat ke ke arah suara. Senyum terkembang dengan sempurna di wajah Nadia karena suaminya kini tengah bersandar di ruang kerjanya dengan satu tangan yang merogoh ke dalam saku celananya.
Entah sudah berapa lama Alex berdiri di sana, terlalu larut dalam pekerjaannya membuat Nadia tidak sadar dengan kehadiran suaminya itu. Volume pekerjaannya kian menumpuk setelah Nadia meninggalkannya beberapa hari lalu.
"Alex !" sahut Nadia dengan begitu antusias. Alex pun menutup pintu ruang kerja Nadia dengan sempurna dan membalas senyuman istrinya itu, lalu ia berjalan mendekati. Tanpa Nadia persilahkan, Alex langsung duduk di atas kursi yang berada di hadapannya.
"Ngapain kesini ?" tanya Nadia tanpa bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya dan juga bahagia yang ia rasakan dengan bersamaan.
Alex sandarkan tubuhnya di kursi dan mengangkat sebelah kaki lalu menyilangkan nya, "Aku sedang melakukan sidak," jawab Alex tanpa berhenti menatapi wajah sang istri.
"What ?" gumam Nadia tak paham dengan bibirnya yang sedikit terbuka membuat Alex mengigit bibir bawahnya sendiri karena merasa tergoda. "Bagaimana bisa kamu masih bisa terlihat secantik ini ketika bekerja ?" batin Alex dalam hati. Ingin rasanya Alex memasukkan Nadia ke dalam saku jasnya dan membawanya kemanapun ia pergi hingga tak seorang pun lelaki yang bisa melihatnya.
"Hu'um sidak padamu seorang saja, jika kerjamu tak benar dan tidak profesional maka aku tak akan segan-segan untuk menghukummu," jawab Alex yang kini merubah cara duduknya yaitu mencondongkan tubuhnya pada Nadia hingga wajah mereka berdekatan. "Dan kamu tahu jika aku sangat suka 'menghukum mu', ya aku sangat menyukainya," lanjut Alex seraya mengedipkan sebelah matanya penuh goda.
"Aleeexx," rengek Nadia terdengar kesal dan Alex pun tertawa karenanya.
"Suka ruangan baru mu ?" tanya Alex yang kini menyandarkan kembali tubuhnya di kursi sembari bertumpang kaki.
"su-suka," jawab Nadia terbata. Godaan Alex selalu bisa membuat dunianya luluh lantak dalam sekejap. Walaupun Alex mengenakan setelan jas lengkap seperti ini tapi Nadia bisa merasakan bagaimana liatnya otot perut Alex yang sangat ia suka.
"Benar-benar suka ?" tanya Alex meyakinkan
"Suka sekali, tapi apa ini tidak terlalu berlebihan ?" Nadia balik bertanya dengan takut-takut.
Alex mengerutkan keningnya tak paham, "berlebihan ?" tanya Alex kemudian.
"Hu'um, ruangan pak Adi atasanku saja tak semewah ini, Alex. Ruangan ini lebih menyerupai ruangan direktur utama hanya ukurannya saja yang lebih kecil," jawab Nadia dan apa yang ia ucapkan itu benar adanya bahkan tadi saja Meta mendatanginya hanya untuk berfoto-foto di ruangannya. Tak hanya itu, Meta juga melakukan panggilan video grup dengan sahabat mereka dan memperlihatkan pada semua bagaimana ruang kerja Nadia yang istimewa.
"Beberapa orang yang datang ke ruangan ini akan duduk dengan wajah terheran dan menelisik isinya," lanjut Nadia.
"Aku tak peduli," jawab Alex. " Aku hanya ingin istriku mendapatkan yang terbaik selama dia bekerja dan asal kamu tahu sayang, untuk pembuatan ruangan ini tidak membebani keuangan perusahaanmu. Aku menggunakan uang pribadi untuk menyiapkan semua ini untukmu," lanjut Alex lagi.
Nadia yang mendengarkan itu terdiam sejenak dan ia ingat bagaimana dulu Alex pun melakukan hal yang sama untuk kamar yang ia tempati di apartemen sebelum mereka tidur bersama. Alex memfasilitasi kamar itu hampir sama dengan miliknya. Nadia sadar jika suaminya itu tak pernah berubah selalu memberikan yang terbaik untuk dirinya.
"walaupun sejujurnya yang kuinginkan adalah kamu bekerja satu atap denganku, aku benar-benar menginginkannya. Aku ingin kamu berada di dekatku. Tak masalah dengan saham yang telah kita beli di perusahaan ini, kita masih bisa mengawasinya dari jauh," ucap Alex dengan senyuman penuh harap di wajahnya.
Ini bukan pertama kalinya Nadia mendengar permintaan Alex agar ia bekerja satu kantor dengan suaminya itu. Bukannya tak ingin, tapi Nadia masih merasa ragu bagaimana jadinya jika dirinya dan Alex bekerja dalam satu kantor kemudian pulang ke rumah yang sama.
"Apa kamu tak akan merasakan jenuh? " tanya Nadia.
"Jenuh ?" Alex berkerut alis tak paham.
"kita akan bertemu di kantor, setelah itu kita akan bertemu lagi di rumah dan tidur di atas ranjang yang sama. Kita akan selalu bersama hampir dalam 24 jam sehari selama satu minggu dan berbulan-bulan atau bertahun-tahun lamanya. Bayangkan selama waktu itu kamu akan selalu bertemu denganku," jawab Nadia.
Alex dengarkan dengan seksama apa yang istrinya jelaskan itu, ia mengerti apa yang Nadia khawatirkan. "Aku tak akan pernah jenuh padamu, dengan begitu aku bisa melindungi kamu dengan lebih maksimal karena jarak kita yang berdekatan," sahut Alex tanpa ragu.
"Alex...," gumam Nadia terdengar frustasi. Ia masih berpikir jika bekerja satu atap dengan Alex bukanlah suatu ide bagus. Nadia sangat takut tidak akan berkonsentrasi dalam bekerja. sangat sulit bersikap profesional jika yang dihadapinya adalah seorang Alexander Henry Salim yang penuh pesona.
"Tapi aku tak akan memaksa, aku akan selalu mendukung apapun yang kamu inginkan selama itu tidak keluar dari koridor pernikahan kita. Jadi jangan menjadikan permintaanku ini sebagai beban untukmu," ucap Alex kemudian.
"baiklah, akan aku pikirkan," jawab Nadia.
Alex yang mendengar itu mengulum senyumnya dan ia pun menggerakkan tubuhnya untuk berdiri. "mau ke mana?" tanya Nadia.
"Aku sengaja datang ke sini untuk bertemu atasanmu, setelah itu aku akan kembali ke sini dan mengajakmu untuk makan siang. Jangan pergi kemanapun sebelum aku datang," jawab Alex. Ia berjalan memutari meja dan mendekati istrinya itu. Alex bungkukkan tubuhnya agar ia dapat memberikan kecupan mesra di bibir istrinya sebelum ia pergi.
"Ingat, tunggu aku. Jangan pergi ke mana pun, aku tidak akan lama," lanjut Alex dan dengan berat hati ia berjalan gontai meninggalkan ruangan istrinya.
Nadia melirik jam yang melingkar indah di pergelangan tangannya, jam tangan yang Alex berikan padanya tadi pagi sebagai hadiah. Entah hadiah dalam memperingati apa, tapi yang Nadia tahu jam itu pasti tak murah harganya.
"Masih jam 11," gumam Nadia. Masih ada waktu satu jam hingga Alex datang menjemputnya untuk makan siang. Ia harus segera menyelesaikan semua pekerjaan yang tertunda.
Nadia kembali pada tumpukan kertas di hadapannya dan meneruskan pekerjaannya yang tertunda. Baru melalui waktu beberapa menit saja Nadia sudah menyimpan balpoin yang dia pegang dengan asal. Ia menopang kepalanya dengan kedua tangan, membayangkan apa yang baru saja terjadi. Bayangan Alex menciumnya dengan mesra terus berlarian di dalam kepalanya.
Itulah Alex yang selalu bisa membuat dunia Nadia luluh lantak dalam sekejap mata. Lelaki itu yang selalu ada dalam kepala Nadia hampir di setiap waktunya. "Aku semakin mencintaimu, Alex," desah Nadia seraya menghela nafas.
***
Alex berjalan di ikuti Heru sang asisten dan Pak Adi yang merupakan atasan Nadia. Saat ini ia akan bertemu dengan pemimpin perusahaan tempat Nadia bekerja dan membahas kerjasama mereka dan tak hanya itu ia juga ingin meminta izin agar istrinya itu bisa mengikuti persidangan yang akan di mulai dalam waktu satu Minggu mendatang.
Tentunya persidangan itu tak hanya dijalani dalam satu kali saja, oleh karena itu Alex datang agar boss Nadia memberikan kelonggaran waktu pada istrinya.
Hal yang sangat berat bagi Alex untuk berbicara dengan istrinya mengenai persidangan ini, sehingga ia terus mengulur waktu dan menunggu saat yang tepat. Bahkan Alex memberikan banyak perhatian agar Nadia merasa lebih tenang. Seperti tadi pagi ia memberikan sebuah jam tangan mewah agar istrinya itu merasa bahagia sebelum nanti ia dihadapkan pada persidangan. Tak hanya itu, kejutan manis siang ini juga Alex lakukan agar Nadia tahu jika ia selalu ada untuknya.
Sebenarnya Alex tak ingin Nadia kembali mengingat tentang kejadian yang pernah menyebabkan trauma itu, tapi di sisi lain Alex juga menginginkan semua yang terlibat dalam menyakiti sang istri mendapatkan balasan yang setimpal terutama Lola.
***
Tepat pukul 12 siang Alex datang kembali ke ruangan istrinya itu seperti yang Ia janjikan. "Sudah siap ?" tanya Alex pada Nadia yang kini tengah mengenakan blazernya.
"Sudah," jawab Nadia. Ia pun meraih tasnya dari atas meja yang sudah terlihat rapi karena tadi Nadia telah membereskannya terlebih dahulu.
"Ayo," ucap Nadia yang berjalan mendekati dan mereka pun berjalan bersamaan ke luar ruangan yang Nadia tempati.
Heru menganggukkan kepala sebagai tanda penghormatan pada Nadia dan Nadia hanya tersenyum saja menanggapinya.
"Kamu boleh pulang ke kantor atau makan siang dengan supir karena saya akan makan siang dengan istri saya," ucap Alex pada asistennya itu dengan menekankan kata istri seolah ingin mengingatkan Heru jika Nadia adalah miliknya seorang.
"Baik pak," jawab Heru patuh dan ia pun berjalan tepat di belakang Alex dan Nadia yang berada di hadapannya.
Alex lingkarkan sebelah tangannya pada pinggang Nadia, ia rengkuh tubuh istrinya itu agar padu dengannya. Jika dulu keduanya selalu menyembunyikan status pernikahan mereka tapi kini tidak lagi.
Saat ini Alex tengah mengklaim jika Nadia adalah miliknya dengan penuh rasa bangga. Ia perlihatkan pada semua orang jika seorang Nadia Wirahma adalah istrinya. Tak hanya pada semua orang, tapi ia juga menunjukkan pada Nadia bagaimana bahagianya ia menjadi seorang suami.
Dan Nadia pun merasakan hal yang sama, ia tak menolak rengkuhan tangan Alex di pinggangnya walaupun banyak pasang mata yang memperhatikan keduanya dengan saling berbisik tapi Nadia tak peduli.
Nadia ingin semua orang tahu jika ia dan Alex saling memiliki satu sama lain, terbukti dengan cincin pernikahan yang saling melingkar indah di jari manis masing-masing.
"Mau makan dimana ?" bisik Alex dengan sedikit menundukkan kepalanya agar ia bisa menyesapi aroma vanila yang menguar dari titik-titik nadi istrinya itu.
"Terserah," bisik Nadia menjawab pertanyaan suaminya.
"Mmm... Kamar kostmu... apa masih bisa kita gunakan ?" Alex kembali berbisik dengan nada suara yang sudah terdengar berat dan penuh maksud.
"Aleeexxhhh....," cicit Nadia sembari mencubit gemas pinggang suaminya. Ia tahu apa yang sedang ada dalam pikiran Alex saat ini.
Heru dan pak Adi yang berjalan tepat di belakang mereka menundukkan kepala seolah tak melihat kemesraan Alex dan Nadia.
to be continued ♥️
terimakasih sudah baca
jangan lupa like komen vote dan hadiah yaa
terimakasih ♥️