In Love

In Love
Kesepakatan Baru



Hari sudah berganti gelap ketika Nadia dan Alex tiba di apartemen mereka. Tadi, ketika mobil mewah Alex memasuki pelataran parkir, Nadia layangkan pandangannya menatapi gedung tinggi yang ia tinggalkan beberapa hari lalu. Masih teringat jelas dalam ingatannya bagaimana ia mati-matian menahan rasa sakit ketika harus meninggalkan Alex dan menekan perasaannya sendiri karena waktu itu Nadia berpikir jika berpisah dari Alex adalah jalan terbaik bagi keduanya.


Namun nyatanya tak butuh waktu berminggu-minggu atau hingga berbulan-bulan untuk menyadari jika dirinya tak bisa hidup tanpa Alex. Cinta lah yang membawanya kembali pada sisi suaminya itu dan Nadia berjanji setelah ini akan lebih banyak bersabar dan tak hanya mengandalkan egonya saja.


Begitu juga Alex yang sama-sama akan belajar memperbaiki hubungan mereka. Alex lah yang mengajak Nadia untuk memulai dari awal hubungan mereka yang baru. Keduanya berjanji jika akan menghadapi apapun dengan kepala dingin dan saling bergandengan tangan dengan rasa cinta. Alex dan Nadia saling berjanji untuk tidak menyerah dengan mudah.


Nadia tersenyum samar melihat gedung yang menjulang itu, bersyukur dalam hati ia bisa kembali ke tempat yang diinginkannya.


"Sayang ?" tanya Alex terheran karena Nadia terus memperhatikan gedung apartemen mereka.


"Rasanya senang sekali bisa kembali ke sini," jawab Nadia. Senyuman terkembang sempurna di wajah cantiknya.


"Sudah ku katakan, aku akan datang menjemputmu pulang dan sudah ku buktikan," sahut Alex seraya meraih jemari Nadia ke dalam genggamannya.


"dan tak akan ku lepaskan lagi," lanjut Alex kemudian dan ia mencium lembut punggung tangan istrinya itu.


Dada Nadia bergemuruh karena debaran jantungnya yang bertalu-talu. Alex selalu berhasil membuat tubuhnya gemetar karena rasa cinta, walaupun lelaki itu kini sering menyatakan perasaannya namun tetap saja bisa membuat perasaan Nadia melambung tinggi.


Nadia berjalan sambil bergandengan tangan, tak sekalipun Alex melepaskan tautan jemari mereka. Kini keduanya berjalan menuju lift yang ternyata sudah ada beberapa orang menunggu di sana. Sedangkan koper dan yang lainnya dibawakan oleh orang suruhan Alex.


Edo yang berdiri di depan pintu lift menolehkan kepalanya dan ia pun melihat wanita yang sangat dipujanya sedang berjalan mendekati tempatnya berdiri. Ia tak bisa menutupi wajahnya yang berbinar bahagia ketika melihat kedatangan Nadia, bahkan ia mengabaikan kehadiran Alex yang jelas-jelas menggenggam tangannya erat.


"Hai kamu sudah kembali ?" tanya Edo. Deretan gigi putih terlihat karena ia tersenyum dengan lebar dan matanya berbinar bahagia.


Nadia sedikit memutar kepalanya untuk melihat Alex dan benar saja kini wajah suaminya berubah dingin dengan bibir yang terkatup rapat.


"hu'um iya, aku baru datang hari ini. Ternyata aku gak bisa jauh-jauh dari dia," jawab Nadia sambil menyenggol lengan Alex dengan pundaknya dan ia pun tertawa untuk mencairkan suasana.


Mendengar jawaban Nadia, senyum di wajah Edo pun perlahan surut dan ia hanya bisa tersenyum canggung pada Alex setelahnya. Sedangkan Alex, ia merasa sangat bahagia. Ia melepaskan genggaman tangannya dari sang istri dan memilih untuk memeluk Nadia dari arah belakang. Alex lingkarkan kedua tangannya di atas perut Nadia yang datar dan sesekali mencium gemas puncak kepala istrinya. Nadia akan menengadahkan kepalanya menatap Alex setiap lelaki itu memberikan ciuman. Beberapa orang memperhatikan keduanya dengan malu-malu.


Sungguh situasi yang membuat Edo sangat tersiksa dan entah kenapa pintu lift pun terasa begitu lama untuk terbuka. Sebenarnya Edo pun tak merasa terkejut dengan kembalinya Nadia. Ia pun telah membaca hasil wawancara Alex di majalah dan menerka jika kini hubungan keduanya telah membaik.


'Ting,' pintu lift pun terbuka. Edo membiarkan Nadia dan alex untuk memasukinya lebih dulu karena ia tak ingin lagi melihat kemesraan keduanya.


Alex dan Nadia berdiri di barisan paling belakang dan seperti sebelumnya, Alex kembali melingkarkan tangannya di atas perut Nadia yang datar dan tak peduli jika orang-orang memperhatikannya. "Nadia adalah istriku tak ada yang salah jika aku ingin selalu memeluknya," batin Alex dalam hati.


Sedangkan Nadia, ia tatapi punggung Edo yang berdiri di hadapannya dan terhalang beberapa orang. Sebenarnya ia merasa tak enak hati pada Edo karena walau bagaimanapun Edo adalah teman baiknya dan Nadia takut jika Edo berfikir saat ini ia sengaja memanas-manasi nya.


Pintu lift terbuka hampir di setiap lantai hingga lajunya terasa begitu lambat dan membutuhkan waktu lama untuk sampai di lantai yang mereka tuju. Dari arah belakang Edo sudah terlihat tak sabaran ingin keluar dari benda berbentuk segi empat itu.


Setelah melalui beberapa menit akhirnya mereka tiba di lantai yang diinginkan. Edo berjalan tergesa tanpa menolehkan kepala atau mengucapkan kata-kata perpisahan pada Nadia yang berjalan di belakangnya sambil kembali bergandengan tangan.


Nadia dan Alex tiba lebih dulu di unit apartemen mereka. Alex menekan angka kombinasi untuk membuka kunci apartemennya dan ia memasuki apartemennya itu setelah pintunya terbuka dengan sempurna diikuti oleh Nadia yang berjalan mengekorinya.


"aaawww," pekik Nadia karena Alex merengkuh pinggangnya tiba-tiba. Tubuhnya melekat erat dan Alex langsung tundukan kepalanya dan tatapi wajah Nadia dengan intens.


"Aku cemburu," ucap Alex begitu jelas terdengar di telinga Nadia.


"Hah ?" gumam Nadia sambil menelan ludahnya paksa.


"Tapi aku hanya menganggap dia sebagai teman, tidak lebih. Dan asal kamu tahu... Edo sangat tahu jika aku hanya mencintai mu seorang," jawab Nadia dengan tenang.


"Benarkah ?" tanya Alex penuh selidik.


"Hu'um, dia tahu jika aku hanya mencintai Alex seorang saja,"


"Bagaimana dia bisa tahu ?" tanya Alex sambil mengeratkan pelukannya.


"Karena aku yang mengatakan padanya secara langsung," jawab Nadia sembari memainkan jemarinya di atas dada Alex yang tengah berdegup kencang.


"Alex kita akan memulai hubungan ini dari awal... Katakan apa yang kamu inginkan dariku dan aku akan katakan apa yang kuinginkan darimu hingga kita bisa lebih saling memahami satu sama lain," ucap Nadia.


"To be honest...," ( sejujurnya.... ) Alex menjeda kalimatnya seolah ragu untuk meneruskan, yang Alex lakukan selanjutnya adalah menatap mata Nadia kian dalam.


"Tell me, ( katakan padaku ) apa yang kamu inginkan?" tanya Nadia tenang. Ia sadar jika Alex sedang memikirkan sesuatu.


"Aku..," ucap Alex kembali ragu.


"Aku mencintaimu lebih dari yang kamu tahu, percayalah padaku. Aku ingin kamu percaya padaku," sahut Nadia.


"Jika kamu mengkhianati aku, maka anak-anak kita akan ikut denganku dan kamu tak boleh lagi menemui mereka" ancam Alex dan kini Nadia tahu jika suaminya itu sangat takut untuk dikhianati.


Nadia mengulum senyumnya sebelum menjawab. "Deal, ( Setuju ) dan itu pun berlaku padamu. Jika kamu mengkhianati aku, maka anak-anak dan hartamu jadi milikku seorang," Nadia balik mengancam suaminya itu dan tak menyangka dengan jawaban yang Alex berikan. "Aku setuju, karena aku tak akan pernah melakukannya," jawab Alex tanpa ragu.


"Jadi inilah kesepakatan baru diantara kita ?" tanya Alex dan Nadia pun mengangguk pelan.


"Aku jadi ingat perjanjian pernikahan kita yang dulu," sahut Nadia sambil terkekeh geli.


"iya sangat konyol... Aku yang memintamu untuk tidak melibatkan perasaan, tapi aku sendiri yang melakukannya," sahut Alex.


"Tah hanya kamu, tapi aku juga" ucap Nadia dan mereka pun tertawa bersama.


"Alex, aku letakkan rasa percayaku dalam tanganmu. Tapi ingatlah, kepercayaan itu bagaikan selembar kertas, sekali kamu meremasnya atau merusaknya maka ia tak akan kembali sempurna," ucap Nadia.


"Ya aku mengerti, aku akan menjaga rasa percayamu dengan sekuat tenaga," Alex berucap dengan jelas dan tanpa keraguan di dalamnya.


"Aku pun... akan aku jaga rasa percayamu padaku dan tak akan membuatmu kecewa," ucap Nadia sungguh-sungguh.


"Dan aku... aku ingin kamu selalu terbuka dan jujur dengan apa yang terjadi padamu hingga aku tidak menjadi orang yang terakhir tahu," ucap Alex lagi mengingat kejadian di waktu lalu di mana Nadia menyembunyikan banyak hal darinya.


"Baiklah, akan lebih terbuka padamu," ucap Nadia sembari menelan ludahnya paksa. Ia kembali teringat dengan alasannya menikahi Alex. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya pada Alex saat ini juga ?


to be continued ♥️


jangan lupa like, komen, vote dan hadiah.


terimakasih ♥️