
Happy reading ❤️
Nadia tertegun untuk sesaat dan mengamati Alex yang berdiri tegap di hadapannya. Matanya menelisik penampilan Alex dari ujung kepala hingga pandangan itu menurun ke arah bawah. Bisa ia lihat dengan jelas siluet aset pribadi Alex yang tak kecil itu, dan membuatnya menelan saliva.
"Ehemm, mau sampai kapan berdiri disini ?" Tanya Alex dengan suaranya yang terdengar berat.
"Ayo masuk," lanjutnya kemudian.
Nadia melangkahkan kakinya meskipun dengan sedikit rasa ragu, ia memeluk erat map yang ada dalam dekapannya seolah-olah mencari kekuatan dari sana. Atmosfirnya terasa begitu berbeda.
"Duduk !" Titah Alex. .
Nadia tersentak dari pikirannya sendiri dan menolehkan kepala pada arah suara. Sungguh Alex terlihat berbeda saat ini. Terlalu dominan dan mengintimidasi.
Meski gemetar namun Nadia berusaha untuk tenang. Ia pun menuruti apa yang Alex perintahkan dengan duduk di atas sofa yang berada di kamar itu.
Kamar Alex yang mewah tak menjadi perhatiannya saat ini, karena Nadia terus merasakan hawa lain dari Alex yang kini sedang menyiapkan minuman.
Tak lama Alex pun mendudukkan tubuhnya tepat di sebelah sang istri masih dengan bertelanjang dada. Wangi maskulin khas lelaki dewasa menguar dari tubuhnya yang kekar tak berlebihan itu.
Tubuh Alex terlihat liat, tubuh yang hanya pernah Nadia lihat di internet atau media hiburan namun kini terpampang nyata di sebelahnya.
"Alex bisa kita mulai ? Aku ingin istirahat untuk pekerjaan kita besok," kata Nadia beralasan padahal yang sebenarnya terjadi adalah pikirannya telah terpengaruh oleh penampilan Alex saat ini.
"Sure," sahut Alex singkat.
Nadia membuka mapnya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalamnya. Ia menggigit bibir bawahnya sebelum memulai pekerjaannya.
Apa yang Nadia lakukan tak luput dari perhatian Alex tentu saja. Cara ia menggigit bibir bawahnya terlihat sangat menggoda di mata Alex dan membangunkan sesuatu yang berada di pangkal pahanya.
"Huuufffffttt," Alex menghembuskan nafasnya yang dalam mencoba menenangkan diri dan juga sang anaconda yang mulai menggeliat hidup.
Rambut panjang nadia masih setengah basah, bibirnya hanya berpoles lipgloss dan wangi tubuhnya nya pun hanya sebatas wangi sabun mandi beraroma buah strawberry tapi bagaimana bisa wanita polos ini membuat Alex begitu berhasrat saat ini.
Bukannya mendengarkan apa yang Nadia ucapkan, Alex hanya sibuk memperhatikan bibirnya yang bergerak setiap istrinya itu berbicara.
Mata hitam Alex telah berkabut karena gair*h yang tak tertahankan. Tanpa aba-aba, Alex meraih kertas yang Nadia pegang dan meletakkannya di atas meja.
Ia segera meraih bibir sang istri dengan bibirnya kemudian m*lumatny* dengan penuh tuntutan dan tak sabaran seolah tak sanggup lagi menahan rasa dahaganya selama ini.
"Mmmmhhhhh," gumam Nadia sembari membelalakkan matanya tak percaya. Bibir Alex yang kenyal dan basah mengulumnya bergantian. Lidahnya menyeruak masuk ketika bibir Nadia sedikit terbuka. Mengajak lidah Nadia untuk saling membelai dalam rasa nikm*t yang selalu Alex bayangkan.
"Nggghhhhhhh," lenguh manja lolos dari mulut Nadia ketika bibir Alex mulai menjelajah sepanjang rahang, bawah telinga dan kemudian leher jenjangnya yang mulus. Tak hanya ciuman namun Alex juga mengulasnya dengan lidah dan memberikan gigitan gemas yang membuat Nadia mengerang setiap Alex melakukan itu.
Nadia rasakan tangan Alex telah merambat masuk menyingkap kaosnya tanpa memisahkan tautan bibir mereka. Telapak tangannya yang besar meremas gemas benda kenyal yang selalu Alex khayalkan. .
"A... Alexhh...," Des*h Nadia tertahan.
Mendengar Nadia mendes*hkan mamanya membuat Alex semakin berhasrat. Ia desak tubuh Nadia agar terbaring di atas sofa dan perlahan menindihnya. Ia meregangkan kedua kaki Nadia dan mengges*kkan ketegangannya dengan perlahan tepat di pusat tubuh istrinya.
Mata Nadia kembali membelalak, merasakan ketegangan Alex tepat di inti tubuhnya yang telah berkedut hebat.
Deru nafas Alex yang memburu terdengar jelas di telinganya.
"Apa ini saatnya ?" Batin Nadia dalam hati.
"A... Alexhhh....,"
"Akan ku berikan apapun yang kamu mau. Kamu akan mendapatkan pekerjaan ini dan pekerjaan lainnya tapi ku mohon puaskan aku," bisik Alex dengan suaranya yang berat.
Mendengar apa yang Alex ucapkan membuat Nadia terdiam, harga dirinya terluka. Apa ini penilaian Alex terhadapnya ? Ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan sebuah tender termasuk memuaskan kliennya. Apa menurut Alex, hanya demi karir dirinya rela untuk menjual dir* ?
Padahal baru saja Nadia terbawa, sama-sama ingin melepaskan hasrat, cinta, dan rindunya yang selalu terpendam. Namun kini tak lagi.
"Stop Alex," kata Nadia dengan jelasnya dan tanpa ia sadari air bening telah jatuh dari ujung matanya.
"Hentikan ini semua dan turun dari atas tubuhku !" Sentak Nadia seraya mendorong kuat tubuh Alex dari atasannya.
Masih dengan kepalanya yang pening karena hasrat yang tertahan Nadia berusaha berdiri dan kemudian berlari menuju pintu.
"Nadia, tunggu !!!!" Alex berusaha mengejar namun terlambat karena istrinya itu telah berlari keluar dengan bertelanjang kaki meninggalkan dirinya seorang diri. Ingin Alex mengejar namun anacondanya telah gagah berdiri dan siap untuk beraksi. Apa kata orang yang melihatnya nanti dalam keadaan seperti itu.
"F*ck, f*ck, f*ck !!!!" Umpat Alex berulang kali. Ia melemparkan apapun yang bisa diraihnya.
Di dalam lift Nadia terus mengusapi pipinya yang basah dengan punggung tangannya. Tubuhnya gemetar hebat dan pikirannya melayang pada apa yang Alex ucapkan.
Apakah Alex tak sadar akan rasa cintanya ? hingga lelaki itu berpikiran jika ia mau disentuh jika memenangkan pekerjaan ini.
"Aku mencintaimu Alex, aku cinta kamu," lirih Nadia frustasi. "Apa kamu tak mengerti juga ? Aku cinta kamu," lanjutnya lagi sembari mengusap pipi.
Jika Alex meminta haknya maka Nadia akan memberikannya karena dalam perjanjian nikah mereka tak terdapat syarat untuk tak melakukan hal itu. Tapi Nadia tak mau bila caranya seperti ini.
Apa pikiran dan hati Alex terlalu penuh oleh Lola hingga ia menganggap dirinya sebagai pemuas saja ?
Nadia berlari kecil ketika pintu lift terbuka. Ia mengeluarkan sebuah kartu dari celana tidurnya dan menempelkannya di pintu.
Suara dering ponsel yang terletak di atas ranjang terdengar memenuhi kamarnya yang sunyi. Ponsel itu tertinggal disana selama ia pergi ke kamar Alex.
Tertera nama Alex setiap ponsel itu bergetar dan berbunyi. Lelaki itu menghubunginya tanpa henti.
Nadia membiarkan panggilan itu tanpa menerimanya. Yang ia lakukan adalah membenahi segala barang yang ia bawa dan memasukkannya ke dalam tas. Ia segera mengganti baju dan pergi keluar kamar secepat yang ia bisa. Alex pasti mendatanginya jika ia terus berada di sana. Setelah selesai membenahi, ia pun memutuskan untuk pergi.
***
'ting,' suara lift yang terbuka dan Nadia segera memasukinya. Ia akan melarikan diri dari lelaki yang sangat dicintainya itu.
Selang beberapa detik bunyi lift terbuka terdengar dan Alex keluar dari dalamnya, ia berlari kecil menuju kamar sang istri.
Ia mengatur nafasnya sebelum menekan bel pintu. "Nad.. sayang... Maafkan aku.. ayo kita bicara," ucap Alex lirih dari balik pintu.
"Aku menyesal, ayo kita bicara. Nadia.. sayang...," Lanjutnya kemudian tapi tak ada tanggapan apapun dari dalam kamar.
Alex melakukan itu berulang kali, ia akan berhenti sejenak jika ada orang yang melewatinya. Namun setelah beberapa menit berlalu akhirnya Alex menyerah.
"Baiklah, kita akan bicarakan ini besok. Beristirahatlah... Sekali lagi, aku minta maaf," ucap Alex lirih. Tanpa ia sadari yang sedang diajak bicara telah pergi melarikan diri.
To be continued ❤️
Yang berharap kegiatan penuh peluh mohon bersabar yaaa tinggal dikit lagi......
Semoga masih bersedia menunggu.
Lop yu ! ❤️