In Love

In Love
Dinas Lagi



Happy reading ❤️


Tiga hari telah berlalu sejak Nadia melakukan presentasi yang ternyata dilakukan di kantor suaminya sendiri.


Nadia ingat saat itu dirinya begitu gemetar dengan dada berdebar kencang tak karuan. Tegangnya melebihi ketika ia melaksanakan sidang sarjananya dulu, ataupun ketika ia melakukan wawancara kerja. Sungguh ia tak menyangka jika Alex yang akan menyaksikan presentasinya. Terlebih lagi hubungan mereka tengah memburuk waktu itu.


Namun untungnya Nadia sendirilah yang membuat proposal itu hingga ia tahu dan paham apa yang ada di dalamnya. Hanya pertanyaan-pertanyaan konyol Alex saja yang membuatnya tersenyum samar saat ini.


Nadia tersenyum mengingat banyak pertanyaan tak masuk akal yang Alex lontarkan dan setelah itu lelaki itu mengajak ke ruang kerjanya.


Bohong jika Nadia tak terpukau, tentu saja ia sangat takjub dengan yang Alex miliki. Tampan, muda dan sukses. Setiap wanita pasti mendambanya termasuk dirinya yang masih saja menautkan hatinya pada Alex.


"Haaahhhh," Nadia menghembuskan nafasnya pelan.


Meskipun ia berusaha menekan segala perasaan namun nyatanya rasa cinta itu masih saja ada.


Dan bolehkah ia terus berharap ? Karena ketika wanita itu, Lola menghubungi Alex yang sepertinya meminta untuk bertemu suaminya itu menolak dan langsung mematikan daya ponselnya. Nadia bahagia untuk sesaat, walaupun ia tahu sikap Alex tak dapat ditebak.


Tak hanya itu yang membuatnya bahagia. Alex membuka jasnya dan memakaikannya pada Nadia.


"Jangan pakai baju dan dandan seperti ini lagi. Kamu jelek," kata Alex waktu itu.


Nadia sudah mau naik pitam namun ucapan Alex selanjutnya membuat ia menahannya. "Kamu jadi pusat perhatian para lelaki dan aku gak suka," kata Alex kemudian.


Apa itu artinya Alex cemburu ? Seperti ketika ia dan Edo bersama.


"Aarrgghhhh," erang Nadia ketika mengingat apa yang Alex lakukan pada hatinya.


Sudah berlalu 1 jam dari waktu yang ditentukan untuk bertemu Heru sang asistennya Alex. Mereka harusnya telah menaiki pesawat yang akan membawa keduanya ke Bali. Saat ini Nadia tengah duduk di bangku tunggu bandara. Ia dan Heru akan terbang ke Bali untuk mengecek lokasi proyek.


Walaupun Alex melarangnya untuk pergi tapi kantor lah yang memberinya tugas ini.


"Panggilan terakhir bagi para penumpang....," Terdengar suara peringatan terakhir dari pihak penerbangan namun orang yang ditunggu belum datang juga. Akhirnya Nadia menghubungi kantornya sendiri dan mereka mengatakan sebaiknya ia pergi saja meski sendiri karena di Bali pihak perusahaan Alex telah menanti.


Nadia memasuki pesawat dengan tas ransel di punggungnya. Ia duduk di bangku yang sesuai dengan nomor yang tertera di tiketnya dan ternyata sudah ada seorang lelaki yang tertidur disebelahnya dengan wajah tertutup kain jas.


"Lama banget," decak lelaki itu kesal.


Nadia segera menolehkan kepala ke arah suara. Ia sangat mengenali suara yang menyebalkan itu.


"Alex ?" Tanya Nadia tak percaya.


"Kamu hampir saja ketinggalan penerbangan. Bukannya kamu kerja dengan profesional ?" Tanya Alex dengan wajahnya kesal.


"Ngapain kamu di sini ?" Tanya Nadia terheran.


"Kamu lihatnya apa ? Dinas juga lah,"


"Bukannya pak Heru yang...."


"Bukannya kamu juga di larang oleh suami mu untuk pergi huh ?" Potong Alex cepat.


"Pihak kantor yang bersikeras agar aku yang pergi," jawab Nadia beralasan.


"Bukannya kamu seharusnya berada di Riau ?" Tanya Nadia terheran.


"Berisik jangan nanya terus," jawab Alex sembari kembali tidur dan menutup wajahnya.


***


Flashback beberapa puluh jam yang lalu.


Alex baru saja memasuki kamar hotelnya di Riau. Hari mulai malam dan ia segera menelepon sekretarisnya untuk menanyakan perihal pekerjaan yang ia tinggalkan termasuk rencana keberangkatan asistennya ke Bali dan terkejut hebat ketika mengetahui jik istrinya lah yang mewakili dari perusahaan.


"Apa ? Apa mereka gila mengirimkan Nadia sebagai wakil dengan Heru?  Atur ulang semua Joy ! Atur penerbangan saya ke Jakarta, kemudian ke Bali. Pastikan Nadia pergi bersama saya. Kamu ngerti ?" Tanya Alex panik.


"Lalu pak Heru ?" Tanya Joy.


"Biar dia yang gantikan saya di sini," jawab Alex cepat dan memutuskan hubungan telepon itu dengan penuh makian. Malam itu juga Alex membereskan semua barang bawaannya ke dalam koper untuk kembali ke Jakarta dan kemudian pergi ke Bali menemani istrinya.


"Gila apa ? Ngirim Nadia sama asisten gue yang jelas-jelas banget kelihatan nafsunya," omel Alex sembari membenahi dan tak lama asistennya itu menghubunginya.


"Ya benar, jadwal kita di tukar. Saya yang akan pergi ke Bali besok pagi," kata Alex pada asistennya itu dan segera menutup panggilannya padahal si lawan bicara belum menyelesaikan kalimatnya.


Di lain tempat, Lola termenung seorang diri di apartemennya yang mewah dan disewakan alex tentu saja. Sudah cukup lama lelaki itu tak menemuinya dengan alasan sibuk dengan pekerjaannya.


Namun ia tak sebodoh itu, Lola tahu dan sadar jika ada sesuatu yang terjadi antara Alex dan Nadia yang ia akui sebagai sepupu.


"Siaall," umpat Lola kesal.


Ia tak bisa melepaskan Alex. Terlebih saat ini, Lola sangat memerlukan laki-laki itu untuk bertahan hidup karena ia sendiri tak bisa menggunakan semua fasilitas keuangannya. Lola takut seseorang masih mengejarnya. Bahkan beberapa hari ini ia tak berani keluar dari apartemennya sendiri karena rasa was-was yang terus menghantuinya.


Bagaimanapun caranya Alex harus kembali di bawah kendalinya seperti dahulu. Pikiran Lola melayang mencari jalan agar dapat menjerat Alex dalam dekapannya lagi.


Flashback off...


***


Setelah menempuh penerbangan selama satu jam lebih kini keduanya telah sampai di Bali.


Sebuah mobil mewah menjemput Alex juga Nadia dan membawa mereka ke sebuah hotel yang mewah di daerah Kuta. Tentu keduanya menempati kamar yang berbeda. Nadia di kamar yang biasa sedangkan Alex di kamar yang jauh lebih mewah.


Hari telah  sore ketika mereka tiba karena penjadwalan ulang yang membuat keduanya tiba lebih lambat dari waktu yang ditentukan.


"Beristirahatlah, kita akan ke lokasi proyek besok pagi saja," kata Alex ketika keduanya memasuki lift. Nadia menuju lantai 5 sedangkan kamar Alex berada di lantai 9.


"Hu'um baiklah," jawab Nadia singkat.


"Jam 7 aku jemput buat makan,"


"Aku udah janji makan ma teman aku yang kemarin," sahut Nadia.


Alex yang tengah berdiri langsung menghadapkan tubuhnya pada Nadia dan memojokkan tubuh istrinya itu di dinding lift.


"Kenapa kamu selalu begini huh ? Selalu berusaha menghindari aku." Tanya Alex dengan wajahnya yang begitu dekat hingga nafasnya yang beraroma citrus menerpa wajah istrinya.


"Ka.. karena aku sudah berjanji untuk bertemu mereka sebelum tahu kamu lah yang berangkat ke Bali," jawab Nadia.


Alex tak menggubris apa yang Nadia ucapkan, ia sibuk mengamati wajah istrinya yang telah beberapa hari ini ditinggalkan dengan seksama.


Matanya yang berhiaskan bulu mata lentik, hidungnya yang mancung dan bibirnya yang mengundang selalu memenuhi pikiran Alex beberapa hari terakhir ini.


Tak hanya beberapa hari ini saja. Sebenarnya semenjak melihat Nadia berada dalam pelukan Bimo waktu itu membuat hati Alex meradang. Ia sangat tak rela jika istrinya itu berdekatan dengan laki-laki lain.


Lalu datangnya lelaki yang Nadia akui sebagai kekasih, membuat hati Alex meradang lebih parah lagi.


Tak ada yang tahu, semenjak makan malam itu yang ada dalam pikiran Alex adalah bagaimana cara memiliki Nadia dengan seutuhnya. Wanita dalam kuasanya ini adalah miliknya seorang.


Nadia yang selalu menghindarinya membuat Alex terpaksa bertanya pada istrinya itu ketika ia melakukan presentasi.


Alex ingin tahu bagaimana sebenarnya hubungan Nadia dengan para lelaki itu, Bimo dan Edo. Tapi yang terjadi malah dirinya yang dipojokkan oleh jawaban sang istri.


Memikirkan Nadia membuat Alex banyak melupakan Lola. Padahal tujuan utamanya adalah membuat mantan kekasihnya itu kembali padanya dan itu telah terjadi tapi ternyata semua terasa biasa saja.


Menaklukkan Nadia sang istri kini jauh lebih memicu adrenalinnya.


'ting' terdengar bunyi pintu lift yang terbuka. "Aku keluar disini," kata Nadia kemudian.


Mau tak mau Alex pun membiarkan istrinya itu keluar dari lift karena berbarengan dengan 2 orang lainnya yang akan memasuki lift itu sehingga ia tak bisa menahan Nadia untuk lebih lama.


Nadia menelan salivanya sendiri ketika ia membuka pintu kamar hotelnya dengan sebuah kartu. Tatapan Alex kali ini lebih tajam dari sebelumnya dan nafasnya yang memburu begitu jelas terdengar di telinganya.


"Nafas Nadia, nafas," gumam Nadia menenangkan dirinya sendiri. Ia membaringkan tubuhnya seraya mengatur debaran jantungnya yang masih saja menggila.


Di lantai yang lain Alex keluar dari lift dengan dada bergemuruh hebat, ia mengatur nafasnya berulang kali. Sungguh Nadia sangat mengganggu pikirannya dan ternyata berada dekat dengan istrinya membuat Alex menginginkan lebih dari hanya sekedar berdekatan. Ia sangat menginginkan Nadia seutuhnya.


***


Pukul 7 malam ponsel Nadia berdering tertera nama Alex di sana. Ia baru saja membersihkan dirinya sebelum pergi dengan kedua temannya.


"Aku tunggu sekarang, kita bahas untuk kegiatan besok pagi. Kamar 1405," tulis Alex dalam pesannya karena Nadia tak sempat menerima panggilan itu.


Dengan terpaksa Nadia membatalkan janji temu dengan temannya. Setelah berganti baju dengan celana tidur dan kaos biasa Nadia pergi untuk menemui Alex di kamar yang tadi ia sebutkan dengan map di dekapannya.


"Dasar gila kerja, apa gak istirahat dulu," keluh Nadia sembari memasuki lift.


Setelah beberapa menit terlalui akhirnya Nadia tiba di kamar yang di tuju. Ia menekan bel beberapa kali hingga Alex membuka pintu itu hanya dengan mengenakan celana panjang kaos berwarna abu-abu muda dan bertelanjang dada.


Nadia tertegun untuk sesaat dan mengamati Alex yang berdiri tegap di hadapannya. Matanya menelisik penampilan Alex dari ujung kepala hingga pandangan itu menurun ke arah bawah. Bisa ia lihat dengan jelas siluet aset pribadi Alex yang tak kecil itu, dan membuatnya menelan saliva.


To be continued alias berzhembeng


Mon maap telat yaaa... Ada urusan di RL dulu 🙏🙏