
Happy reading ❤️
Beberapa menit yang lalu sang manager baru saja mendapatkan sebuah photo selfie dari dua orang yang sedang berciuman melalui email resmi kantor dengan kata-kata yang cukup mencengangkan.
"Terimakasih untuk servis sempurna yang pegawai anda berikan,"
***
Sekitar satu jam lalu pak Adi sedang melakukan sebuah meeting di kantornya. Pertemuan baru berjalan beberapa belas menit saja, materi pun sedang dipaparkan setengah jalan namun Dian si anak magang mengganggu kegiatan itu dengan bersikeras untuk menemuinya padahal sudah pak Adi wanti-wanti untuk tak mengganggunya saat ini.
Wajah gadis muda yang menyembul dari balik pintu itu terlihat pucat, bibirnya bergetar dan ia tergagap ketika berbicara. "M-mbak Nadia," ucapnya tanpa penjelasan lebih panjang lagi.
Pak Adi yang melihat itu, memutuskan untuk berdiri dan meminta izin untuk menemuinya barang sebentar saja karena tadi nama Nadia yang merupakan anak buahnya disebutkan dengan gemetar.
"M-mbak Nadia," lagi-lagi kata itu yang keluar dari mulut Dian tanpa penjelasan. Tapi wajah pucat gadis itu dan bibirnya yang kelu cukup bagi pak Adi sadar jika telah terjadi sesuatu yang buruk.
"Terjadi sesuatu dengan Nadia ?" Tanya pak Adi dan Dian menganggukkan kepalanya kuat-kuat.
"Ada email berisi photo mbak Nadia dengan kliennya yang baru sedang berciuman, dan hanya saya yang tahu Pak. Saya tak percaya mbak Nadia melakukan hal itu dan yang semakin membuat saya tak percaya adalah sepertinya mbak Nadia dalam keadaan tak baik-baik saja," jelas Dian pada akhirnya.
Pak Adi terperanjat,"ayo Dian, tunjukkan pada saya," ucapnya dengan langkah lebar mendahului Dian. Ia meninggalkan ruang meeting begitu saja.
Dian memperbesar photo itu beberapa kali hingga yang ingin ia tunjukkan pada atasannya itu terlihat dengan jelas."ini," unjuk Dian pada buliran air mata yang terlihat jatuh di ujung mata Nadia yang terpejam dengan bibir saling bertautan.
"Jika Mbak Nadia melakukannya dengan sukarela ia tak mungkin menangis seperti ini, mbak Nadia orang baik saya yakin itu," jelas Dian dengan nafas pendek-pendek karena kini ia tengah menangis.
"Dian, segera hapus email ini dan pastikan tak ada yang melihatnya selain kita. Ayo bersiap kita jemput Nadia," ucap pak Adi dan Dian pun dengan senang hati menuruti.
Seperti email pertama dulu, ketika photo Nadia dan Alex yang keluar dari kamar periksa dokter kandungan tersebar. Sebenarnya pak Adi dan orang-orang yang berada satu divisi dengan Nadia tak ada percaya atau sulit percaya karena mereka sangat tahu bagaimana pribadi Nadia yang sebenarnya. Namun saja mereka kalah cepat dalam menutupinya, karena tangan ulah seseorang yang dengki memanfaatkan itu semua.
Dewa, padahal dia seorang laki-laki tapi hati orang memang tak dapat diselami. Ternyata dialah yang menyebarkan photo itu pada yang lainnya dengan kata 'sampah' sebagai judulnya.
Merasa tak terima karirnya jauh tertinggal meskipun mereka beda divisi, Dewa si pencaci maki menghembuskan berita buruk yang dibumbui hingga orang-orang mudah dikelabui.
Tak hanya pada Nadia, Dewa mencaci 'sampah' bahkan pada rekannya yang lain yang bernama Gibran ia juga memaki dengan kata-kata tololl dan tak hanya itu pada Renata pun ia melakukan hal yang sama. Tapi anehnya setiap gerak-gerik ketiga rekannya itu selalu diikuti. Memalukan bukan ???
Ia merasa diri lebih baik dari semuanya, merasa dirinya lebih pintar hingga bisa dengan mudah menghakimi dengan mulut kotornya padahal yang ia rasakan hanya iri dengki semata dan kini pak Adi telah tahu tentang itu semua hingga nama Dewa sudah ada dalam catatan pribadinya.
"Pastikan si Dewa tak mendapatkan email ini karena sudah pasti akan menjadi makanan empuk baginya yang buruk hati," ucap pak Adi dan Dian pun kembali menganggukkan kepalanya patuh.
Tak lama mereka pun segera meninggalkan kantor dan pergi menuju tempat pertemuan Nadia dengan kliennya.
***
"Bisa katakan dengan siapa Nadia bertemu ? Berikan nama jelas dan perusahaan tempat laki-laki itu bekerja !!" Tanya Alex gusar pada pak Adi yang merupakan manager Nadia. Ia bahkan tak lebih dulu mengucapkan salam ketika panggilan telepon itu terhubung.
"Pak Henry ?" Sang manager balik bertanya dengan terheran.
"Ya ! Katakan padaku cepat !! Hah.. hah..," jawab Alex dengan nafasnya yang tersengal-sengal, ia melakukan panggilan sambil berlari kecil menuju mobilnya yang terparkir. Dalam pikirannya saat ini hanya ingin segera menemukan istrinya itu.
"Nicky Budiman dari PT. YYY, mereka bertemu di restoran AA tapi keduanya tak ada ketika saya sampai disini," jawab pak Adi.
Alex tertegun, ia sepertinya pernah mendengar nama orang yang tadi pak Adi sebutkan juga nama perusahaannya.
"Anda sudah berada di restoran ?" Tanya Alex kemudian.
"Iya, tapi sudah tak ada siapapun di sini," jawab pak Adi.
"F*ck !!!" Maki Alex pelan namun pak Adi masih bisa mendengarnya dengan jelas hingga lelaki itu berpikir mungkin gosip yang beredar itu benar adanya jika Nadia dan Alex memiliki hubungan yang lebih dari sekedar rekan bisnis.
Tapi ia menepis itu semua, 2 tahun menjadi bawahannya Nadia adalah seseorang yang baik dan ia tak percaya jika Nadia melakukan hal hina seperti itu
Alex pun tak kuasa mengatakan pada pak Adi untuk mencari Nadia di hotel yang letaknya tak jauh dari restoran itu. Ia tak mau seorangpun berpikiran buruk tentang istrinya, Alex hanya menyerahkan Nadia pada Tuhan dan berharap agar Tuhan menyelamatkan istrinya itu. Ia sedikitpun tak percaya jika Nadia melakukan hal buruk dibelakangnya.
Alex menutup panggilan itu tanpa kata-kata penutup, yang ia lakukan adalah memacu mobilnya secepat yang ia bisa hingga decitan suara ban yang bergesekan dengan aspal terdengar begitu jelasnya.
Sedangkan pak Adi, ia ditemani Dian si anak magang mencari keberadaan Nadia di sekitar restoran.
***
Beberapa orang melihatnya heran, karena saat ini Nadia berjalan dengan bertelanjang kaki dan sempoyongan sambil meraba-raba dinding untuk ia gapai. Ia harus segera menemukan tempat persembunyian karena Nadia yakin lelaki bernama Nicky itu akan mengejarnya.
"Maaf," sahut Nadia ketika bahunya tak sengaja menabrak seseorang.
"Bisakah anda menolong saya ?" Tanya Nadia takut-takut. Peluhnya membanjir, dadanya berdegup kencang dan sesekali melihat ke belakang karena rasa cemas lelaki jahat itu membuntutinya.
"Tentu, ayo saya antar ke lobi," ucap wanita yang tadi Nadia tabrak bahunya.
"Bisa tolong panggilkan polisi atau suamiku," lirih Nadia lagi.
"Saya hanya tamu disini, sebaiknya anda bicara dengan pihak hotel," jawab wanita yang tak Nadia tahu namanya itu.
Sekuat tenaga Nadia menyeret langkahnya menuju lobby yang letaknya cukup jauh dari pintu lift itu sambil berkali-kali menoleh waspada dengan wanita yang membantunya.
Jalan yang Nadia lalui terasa begitu jauh dan melelehkan padahal jaraknya tak sejauh itu, nafasnya tersengal-sengal ketika ia berhasil duduk dan kemudian beberapa petugas hotel mendatanginya.
Kepala Nadia menengadah, tatapannya berbayang karena rasa pening yang tak juga hilang. Ia memandang petugas hotel yang juga menatapinya sambil bertanya.
"Mbak baik-baik saja ? Bisa ceritakan pada kami apa yang telah terjadi ?" Tanyanya beruntun.
"A-aair," jawab Nadia terbata. Mulutnya terasa kering hingga ia sulit berbicara.
Petugas hotel itu pun segera memberikannya sebotol air mineral. Namun belum juga Nadia meminumnya, wajahnya kembali memucat ketika melihat kehadiran lelaki jahat itu berdiri tak jauh dari tempatnya duduk.
Dengan tubuhnya yang ringkih Nadia berusaha berdiri dan kembali melarikan diri karena ia begitu takut dengan kehadiran lelaki jahat itu di belakang sana yang kini sedang memandangnya lekat-lekat.
"Mbak, tunggu..," ucap petugas hotel itu tapi Nadia menyeret langkahnya berusaha menjauhi lelaki itu. Dalam pikirannya ia harus kembali melarikan diri.
Lelaki itu pun berjalan dengan langkahnya yang lebar berusaha untuk mengejar tanpa ketahuan, ia semakin panik ketika Nadia berhasil keluar melalui pintu dan mata lelaki itu membulat sempurna ketika tubuh Nadia yang lemah terjatuh dan ditangkap oleh seorang lelaki yang ia kenali. Lelaki yang beberapa lalu makan siang dengannya dan mengambil photo bersama.
"Sayaaanggg, bertahanlah !!! Tolong siapapun, tolong istri saya !!!" Teriak lelaki itu terdengar pilu.
Nicky membeku menatap keduanya dari jarak yang cukup jauh. Wanita cantik yang ingin ia miliki seutuhnya itu kini terkulai lemah di pelukan lelaki yang ia ketahui bernama Alexander Henry Salim dan kini mengaku sebagai suaminya ??
To be continued ❤️
Thanks for reading ❤️
Jujur...
Sebenarnya saya sedikit ragu untuk meneruskan cerita ini karena komentar para netijen yang cukup mempengaruhi hati juga pikiran saya.
Sekali lagi mohon maaf yang sebesar-besarnya jika cerita saya tak sesuai dengan keinginan para reader. Jika tak suka silahkan tinggalkan, toh kalian juga baca secara GRATIS jadi tidak dirugikan secara materi dan saya juga tak pernah memaksa siapapun untuk memberikan hadiah atau vote
Saya berterimakasih pada readers sekalian yang membaca dan berkomentar. Tapi saya juga hanya manusia biasa yang punya hati juga rasa jadi TOLONG berkomentarlah dengan sopan.
Sebenarnya saya gak pernah ambil pusing dengan komentar para julidahwati tapi ketika kata-kata yang ditulis kasar dan menghina saya juga tak bisa terima. Mohon maaf 🙏 saya cuma bisa berucap semoga Tuhan memberikan kalian hidayah karena menulis itu tidak mudah. Kecuali kalian punya karya sendiri yang sudah sangat sempurna maka saya pun akan senang hati untuk belajar dari kalian.
Jika tak suka silahkan angkat kaki daripada ada duri diantara kita, untuk yang setia baca saya ucapkan berjuta-juta kata terimakasih ❤️
Saya akan teruskan cerita ini hingga tamat dengan outline yang saya buat.
Cerita ini pemeran perempuan nya beda dengan semua tokoh yang saya buat ? Ya iyalah tiap cerita beda karakter.
Perempuannya di siksa dan penuh derita ? Disiksa apanya ya ? Alex gak pake fisik loh ini hanya maen perasaan aja, soal photo dan ciuman ? anggaplah itu cobaan untuk nadia karena hidup tak semulus paha lisa blekping
Pelakor selalu menang ? Kan kalian belum baca sampai tamat.
Nasib jadi otor remahan selalu di underestimate 😢
Sekali lagi terimakasih yang sudah setia baca, selamat tinggal untuk kalian yang tidak suka dan mohon maaf jika ada kata-kata yang menyinggung 🙏
Salam sayang dari ayanknya kimbum ❤️