
Happy reading ❤️
"Andrew Bright dan kekasihnya jatuh miskin setelah Abigail Claire memenangkan tuntutannya dan akan menjebloskan keduanya ke dalam penjara."
Lola membaca penggalan-penggalan berita itu dengan mata memerah menahan tangisnya.
"Ini semua bohong," ucap Lola lirih. Ia tak berani mengangkat wajahnya untuk menatap Alex yang tengah diselimuti emosi.
"Lihat gue kalau lo mau ngomong !" Geram Alex seraya kembali menjambak kasar rambut kekasihnya itu.
Lola kembali menengadahkan kepalanya sembari menahan nyeri karena Alex meremas rambutnya dengan kasar dan kencang.
"A... Alex..., Aku bisa jelasin semuanya,"
"Anak ? Lo punya anak ? Dan itu pasti bukan anak gue karena lo selalu nolak gue waktu itu. Gue gak nyentuh lo dalam waktu yang lama, jawab gue !!!" Desak Alex penuh tuntutan.
Lola menelan salivanya paksa, jantungnya berdebar kencang karena Alex menuntut sebuah jawaban darinya.
"Di-dia... Andrew melakukannya secara paksa padaku," jawab Lola terbata, dan tentu saja ia berbohong.
"Pikir pakai logika ! Dimana ada wanita yang mau lari dengan lelaki yang memperk*sanya dan hidup bersama, karena seharusnya dia merasa trauma. Tapi lo ? Gue yakin, lo yang murahan ini nyerahin diri dengan sukarela. Pantas saja karir lo cepat naik ternyata lo jadi pelac*r nya," sahut Alex dengan pandangan penuh hina.
Laura terdiam terpaku, lidahnya kelu tak dapat berkata-kata karena yang Alex ucapkan benar adanya. Dirinya lah yang menyerahkan diri secara suka rela. Malah ia sendiri yang merayu atasannya itu. Karirnya yang meroket bukan karena ia seorang yang cerdas dan pekerja keras tapi ia menggunakan tubuhnya untuk mendapatkan itu semua.
"Lo tahu ? Ternyata selama ini yang gue tunggu cuma seorang wanita jal*ng yang melarikan diri dengan suami orang. Gue selalu ngerasa gak pantas buat lo, Laura ! Gue selalu merasa rendah diri karena tak bisa menjadi lelaki yang lo mau, tapi ternyata lo lebih hina dari gue," desis Alex seraya menyeret paksa Lola untuk berdiri.
"Aaaawww Alex, sakit.... Hentikan.." lirih Lola menahan nyeri karena cengkraman tangan Alex pada lengannya.
"Akan aku lakukan apapun untuk menebus semua salahku, Alex. Meskipun aku harus menjadi budak mu, aku mau... Tapi jangan tinggalin aku," Lola memohon dengan mengatupkan kedua tangannya.
"Budak ? Lo tau ? Gue jijik dengan semua tentang lo, jal*ng !" Jawab Alex seraya menghempaskan tubuh Lola dengan sangat kasar hingga Lola kembali terduduk di atas lantai kamar kostnya yang dingin.
"Aku akan teriak, Alex ! Hingga semua orang mengira kamu mau perk*sa aku !" Ancam Lola dengan senyum seringai di wajahnya.
"Teriak ! Teriak sekeras yang lo bisa ! Mana ada wanita yang diperkosa melucuti pakaiannya sendiri ? Semua orang akan tahu kalau lo cuma seorang jal*ng yang hina," kata Alex sembari mengapit kasar kedua pipi Lola dengan tangannya dan menghempaskan nya hingga wajah Lola tertoleh ke samping.
"Lo hancurin gue, Laura," ucap Alex lirih. Tak hanya hatinya yang hancur namun mentalnya pun ikut terseret.
"Did you ever love me ?" (Pernahkah kamu mencintai aku ?) Tanya Alex setengah berbisik dengan suara bergetar namun bukannya menjawab, Lola hanya terdiam terpaku menatap mata Alex dengan rasa bersalah.
"Did you ever love me, Lola ??" Teriak Alex penuh penekanan, ia membutuhkan sebuah jawaban.
"I don't know," (aku tak tahu ) jawab Lola spontan. Ia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan karena ia sendiri terkejut dengan jawaban yang diberikannya.
Dan itu membuat Alex tersenyum muak menyadari jika wanita yang selama ini ia cintai dengan dalam hanya memanfaatkanya saja.
"Maafin aku Alex... Im so sorry...," Ucap Lola lirih dan ia pun menumpahkan air matanya.
"Aku serahkan semua untukmu, aku berkorban banyak hanya padamu tapi ternyata kamu gak layak untuk itu semua, aku kira cinta kita nyata tapi ternyata itu semua hanya tipu daya," hati Alex tercabik-cabik ketika mengatakan itu semua. Ia merasa hancur saat tahu semua cinta dan semua pengorbanannya sia-sia belaka.
"F*ck you Laura ! F*ck you !!!" Maki Alex dengan suaranya yang meninggi. Ia pun keluar dari kamar kost Lola dengan membanting pintu se-keras yang ia bisa hingga menimbulkan bunyi dentuman yang cukup keras. Lola yang terkejut memeluk tubuhnya sendiri yang masih tak mengenakan apapun. Ia pun segara berdiri dan mengais pakaiannya yang tercecer.
Sementara itu di dalam mobil, Alex memukuli setir mobilnya mencoba untuk menyalurkan rasa kecewa juga marahnya.
Membayangkan rasa cinta yang telah ia berikan selama ini, juga semua pengorbanannya hanya sia-sia. Alex selalu merasa jika dirinya tak pantas untuk Lola karena ia belum menjadi seseorang yang sukses namun nyatanya wanita itu hanya menipunya.
"Cinta hanya sebuah omong kosong," gumam Alex. Ia tak mau untuk jatuh cinta lagi pada wanita manapun saat ini. Ia tak mau kembali merasakan sakit dan juga kecewa.
***
Nadia menunggu dan menanti dengan cemas seseorang yang sangat dicintainya. Alex bilang tadi hanya akan pergi ke kantor sebentar saja tapi hingga pukul 1 malam lelaki itu belum pulang juga.
Sudah berkali-kali Nadia menghubunginya namun ponsel Alex sedang mati daya. Ia pun mencoba menghubungi Joy di kantornya namun sekretaris Alex itu mengatakan jika Alex tak ada datang ke kantor hari ini karena seharusnya jadwal Alex masih di Bali bersama Nadia.
Pikiran buruk sudah menggelayuti kepalanya, Nadia sudah berpikir jika Alex pasti menemui kekasihnya. Beberapa kali Nadia berharap dalam hati memohon pada Tuhan agar Alex tak menemui wanita bernama Lola itu.
"Sayang... Kamu dimana ?" Lirih Nadia sembari menelungkupkan kepalanya di atas kedua tangannya. Saat ini ia tengah duduk diruang makan sendirian.
Berdirilah seseorang yang sudah Nadia nantikan kedatangannya. Siapa lagi jika bukan Alex.
Lelaki itu berdiri dengan menyenderkan tubuhnya di pintu. Penampilannya sangat berantakan dengan mata memerah karena pengaruh minuman beralkohol.
"Sorry bangunin kamu, aku lupa password nya," ucap Alex dengan suara mengalun khas orang mabuk dan aroma alkohol menguar dari mulutnya ketika ia berbicara.
Alex menerobos masuk dan berjalan sempoyongan, Nadia berusaha untuk memapahnya namun ia menolak. Alex memilih untuk berjalan sendiri menuju ruang makan dan duduk di sana.
"Kepalaku sakit sekali," kata Alex sembari menjambak rambutnya kasar.
"Tunggu aku siapkan air hangat dan obat sakit kepala," sahut Nadia. Lalu ia pun mengambil sebuah gelas dari lemari dapur dan menuangkan air hangat ke dalamnya. Tak lupa ia pun mengambil sebutir obat pereda sakit kepala dari dalam kotak obat.
Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan, Nadia pun menyerahkan semua pada Alex yang duduk tertunduk di ruang makan, kemudian ia memilih kursi tepat di hadapan Alex untuk diduduki.
Hening untuk sesaat, tak ada ucapan apapun dari keduanya. Yang Nadia lakukan saat ini hanya menatap sedih lelaki yang dicintainya.
"Kamu dari mana ?" Tanya Nadia memecahkan keheningan.
Alex yang mendengar itu mengangkat wajahnya dan menatap Nadia yang melihatnya sendu.
"Kamu mau tahu cerita lucu ?" Alex balik bertanya.
"Cerita apa ?" Tanya Nadia.
Alex terdiam beberapa saat sebelum ia menjawab. Sungguh ia sangat mabuk saat ini.
"Ini cerita nyata, bukan hoax," jawab Alex.
"Katakan padaku," sahut Nadia. Ia ingin mendengar apa yang hendak Alex katakan padanya.
"Ternyata cinta itu tak ada, itu hanya sebuah kata dalam khayalan," ucap Alex dengan perlahan dan jelas hingga membuat hati Nadia mencelos seketika.
"Apa maksudmu ?" Tanya Nadia. Seketika tubuhnya bergetar hebat.
"Cinta, itu ternyata hanya sebuah ilusi karena semua wanita hanya berpura-pura merasakan itu pada lelakinya. Mereka ( wanita ) sangat manipulatif. Dengan mudahnya membuat lelaki menjadi bodoh karena kata cinta yang diucapkannya padahal pada kenyataannya ia tak merasakan itu," jawab Alex.
"Dan satu lagi... Wanita bisa dengan mudahnya membuat para lelaki merasa dirinya tak layak untuk kekasihnya padahal yang sebenarnya terjadi si wanita itulah yang tak pernah menghargai segala pengorbanan lelakinya karena ia tak pernah mencintainya," lanjut Alex dengan matanya yang hitam menatap dalam Nadia saat ini.
"Tidak semua wanita seperti itu, ada yang benar-benar jatuh cinta pada kekasihnya hingga ia mau bertahan meksipun merasakan sakit berkali-kali," sahut Nadia. Ia mengungkapkan apa yang sedang dirasakannya saat ini.
Alex tersenyum miring mendengar apa yang Nadia ucapkan. "Itu hanya ada di novel cinta yang kamu baca atau di cerita dongeng saja. Trust me, (percaya padaku) Nadia... Cinta itu tak ada," sahut Alex.
"Dan aku... Tak akan pernah jatuh cinta lagi pada siapapun," lanjut Alex kemudian. Ia bersungguh-sungguh ketika mengatakan itu.
Nadia mengusap pipinya yang ternyata sudah basah karena air matanya. Ia menelan paksa salivanya yang kelat.
"Kalau kamu tak mau jatuh cinta lagi, lalu bagaimana dengan ujungnya kisah kita ? How about us ?" (Bagaimana dengan kita ?" Tanya Nadia masih dengan menyeka air matanya yang terus jatuh.
Alex kembali terdiam, bibirnya seolah kelu untuk berkata-kata. Yang ia lakukan hanya menatap Nadia tanpa jeda.
"Alex, how about us ?" Nadia mengulang pertanyaannya.
Hening....
"There is no us," (tak ada 'kita') jawab Alex pada akhirnya.
To be continued ❤️
Thanks for reading 😘
Aku menulis sesuai alur yaaa
Mon maap jika ada yang tak sejalan 🙏