In Love

In Love
Ketika Hujan



Happy reading ❤️


Hujan turun membasahi bumi yang masih diselimuti gelap karena sinar matahari belum menampakkan dirinya. Buliran titik-titik air menghiasi kaca, ada yang bertahan ada pula yang meluruh jatuh. Seseorang yang masih terjaga memerhatikan itu semua dalam sunyi dengan perasaan tak karuan.


Nadia lah yang memperhatikan itu semua, pandangan matanya jauh menerawang pikirannya melayang pada lelaki yang kini tengah memeluknya erat. Seperti yang Alex katakan sebelumnya, ia ingin memeluk Nadia erat dan itulah yang ia lakukan.


Alex melingkarkan tangannya di atas perut Nadia yang datar dan sesekali mencium gemas puncak kepala istrinya itu hingga ia tertidur dengan sendirinya. Tapi tidak dengan Nadia, ia tetap terjaga walaupun telah berusaha untuk memejamkan matanya.


Pelukan Alex begitu nyaman dan menenangkan. Dekapan yang selalu Nadia inginkan tapi hanya dalam beberapa waktu lagi semua itu tak akan ia rasakan lagi.


"Kamu pasti akan baik-baik saja tanpa Alex," kata-kata itu Nadia ucapkan berulang kali dalam hatinya. Berusaha meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja.


"Dan kita tak memiliki apa-apa lagi untuk saling bertahan satu sama lainnya, cinta yang kita rasakan selalu berakhir pahit dan aku akan mati jika itu terjadi lagi," masih Nadia berpikir dalam kepalanya.


Tapi mengapa... Mengapa hanya dengan memikirkannya saja tubuh Nadia gemetar dan hatinya terasa sakit. Ia mengusap pipinya yang basah dan menarik nafas dalam.


"Hanya cinta yang bisa menyakiti seperti ini," gumam Nadia lirih hampir tak terdengar.


Cinta yang Nadia rasakan terlalu besar hingga rasanya sakitnya pun ia rasakan dengan hebatnya. "Mencintai Alex adalah rasa sakit yang paling manis," batin Nadia dalam hati. Ia mengusap belitan tangan Alex dengan lembut. "Aku akan selalu mencintaimu, Alex, tak akan ada yang lainnya lagi. Hanya kamu," Nadia pun menitikkan air matanya.


***


"Ayo bangun tukang tidur !" Ucap Nadia sambil menggoyang-goyangkan tubuh Alex pelan, berharap suaminya itu terbangun.


"Alex, ayo bangun ! Banyak yang harus kita lakukan," kali ini Nadia merengek dengan suaranya yang manja hingga Alex pun membuka matanya pelan.


"Aarrggghhh," erang Alex dengan meregangkan tubuhnya. Senyuman melengkung sempurna di wajah alex ketika ia melihat Nadia yang bermanja padanya.


"Selamat pagi," ucap Nadia. Giginya yang berderet putih terlihat berseri karena ia tersenyum dengan lebarnya.


"Pagi," sahut Alex. Suaranya yang serak karena baru saja bangun dari tidurnya terdengar begitu menggoda.


"Aku akan merindukan suaramu," ucap Nadia sambil terus menatapi wajah Alex. Dengan kedua tangan menopang dagunya Nadia tidur telungkup menghadap Alex yang kini duduk bersandar pada kepala ranjang.


"Suaraku yang pertama akan kamu dengar di setiap paginya, mulai sekarang kita tak akan terpisah lagi. Sesibuk apapun aku akan berusaha untuk pulang padamu," sahut Alex. Ia mengira Nadia kehilangan karena beberapa malam ia tak pulang padahal yang Nadia maksudkan bukanlah itu.


Nadia tersenyum tanpa menanggapi, ia hanya diam sembari menikmati pemandangan di hadapannya yaitu lelaki yang paling ia cintai sepenuh hati.


"What ?" Gumam Alex sambil tertawa ringan, ia merasa salah tingkah karena Nadia terus memperhatikannya.


"Nothing," jawab Nadia. "Gak ada pa-pa kok," lanjutnya lagi. Kemudian Nadia pun bangkit dari tempat tidur dan hendak beranjak pergi tapi dengan secepat kilat Alex merengkuh pinggang Nadia dan kembali membaringkannya.


Nafas Nadia menderu pendek-pendek, dadanya kembali berdetak dengan menggila karena saat ini Alex menindih tubuhnya.


"Kamu gak bisa pergi begitu saja dari aku," ucap Alex lirih. Mata mereka terkunci dalam tatapan yang dalam.


Alex tersenyum dan kemudian membenamkan wajahnya di ceruk leher Nadia dan menghirup rakus aroma tubuh istrinya yang sangat ia rindukan. "I love you, babe. I love you so much," bisik Alex berulangkali. Seolah tak cukup baginya jika ia mengatakan kata cinta itu hanya satu kali saja.


"Alex gelii," lirih Nadia. Matanya memburam  karena air mata yang mulai menggenang.


"Aku cinta kamu, bawel," bisik Alex.


"Nadia si bawel," bisik alex lagi dan Nadia memejamkan matanya ketika mendengar itu, menahan tangisnya agar tidak pecah.


"Hari ini apa yang ingin kamu lakukan ?" Tanya Alex. Ia masih membenamkan wajahnya di ceruk leher sang istri.


"Re... Renang...," Jawab Nadia terbata.


"Baiklah, ucapanmu adalah titah bagiku," ucap Alex dan ia pun bangkit, menciptakan jarak dengan Nadia agar bisa menatap wajahnya dan mencium dahi istrinya mesra sebelum ia bangkit untuk membersihkan diri.


***


'Byuuurrrr !!!' alex mendorong Nadia hingga ia terjatuh ke dalam kolam renang. Sama persis seperti waktu dulu Alex mengerjainya namun bedanya kali ini lelaki itu langsung menceburkan dirinya juga ke dalam air Kemudian meraih tubuh Nadia dan memeluknya erat.


Nadia tersenyum puas, ketika yang ia inginkan terwujud. "Kenapa gak biarin aku tenggelam  kaya waktu itu ?" Tanya Nadia sembari mengalungkan tangannya pada leher Alex.


"Kenapa ? Pengen aku kasih nafas buatan lagi ?" Tanya Alex dengan wajahnya yang nakal.


Nadia menggigit bibir bawahnya pelan dan menganggukkan kepalanya.


Alex tersenyum melihat apa yang istrinya lakukan, lalu tanpa aba-aba ia pun menyatukan bibirnya dengan bibir Nadia dan mengulumnya lembut.


Nadia membulatkan matanya tak percaya, Alex menciumnya di tempat umum. Ia pun memukul dada Alex pelan agar lelaki itu melepaskan tautan bibirnya.


"Alex malu !!" Ucap Nadia sambil mengedarkan pandangannya dan walaupun beberapa orang mengetahui apa yang mereka lakukan tapi semuanya berusaha terlihat tak peduli.


"Its oke, aku cium istriku sendiri. Tak akan ada yang melarang," sahut Alex. Ia tak peduli pada sekelilingnya. Alex hanya melayangkan pandangannya pada Nadia seorang yang kini sedang ada dalam dekapannya. Pipi Nadia merona ketika ia mendapatkan perlakuan seperti itu.


***


"Kiriman paket makanan untuk 'Nadia si bawel'." Ucap seorang lelaki yang berdiri dengan beberapa kantong di tangannya.


"Tadi saya disuruh langsung membawanya ke sini," lanjut lelaki itu.


"Ya, saya 'Nadia si bawel'." Jawab Nadia. Senyum lebar menghiasi wajah cantiknya saat ini, dan ia pun meraih kantong yang berisikan banyak cup makanan.


Senyum Nadia kian lebar saja ketika lelaki itu menyerahkan satu kantong besar plastik berisi banyak kerupuk.


"Terimakasih," ucap Nadia. Bahkan ia memberikan uang tips yang cukup besar pada lelaki itu saking bahagianya.


Lalu Nadia membawa semuanya ke dapur dan menyiapkannya di atas meja makan. Ia terpukau dan tersenyum puas dengan apa yang ada di hadapannya. Apa yang Alex pesankan saat ini sama persis dengan apa yang Alex kirim pertama kali ke kantornya.


"Kamu suka ? Semua sama kan dengan yang aku kirimkan dulu ?" Tanya Alex yang kini sudah berada di dapur.


"Hu'um sama persis, kok bisa sih ?" Tanya Nadia terheran.


"Karena tentang kamu tak ada yang aku lupakan sedikitpun," jawab Alex sembari mendudukkan tubuhnya di atas kursi.


'Deg !' dada Nadia bagai terhantam sesuatu yang besar ketika ia mendengar itu.


"Ngapain berdiri, ayo sini duduk biar aku suapi," Alex menepuk pangkuannya agar Nadia duduk di sana.


Nadia memutar bola matanya malas dan berusaha duduk di kursi yang ada dihadapan Alex tapi tangan lelaki itu bergerak lebih cepat, ia kembali merengkuh pinggang Nadia dan memaksanya duduk di atas pangkuannya.


"Aku bilang duduk disini," ucap Alex. Tangannya membelit erat agar Nadia tak pergi dari pangkuannya, kemudian ia mengecup pipi Nadia gemas.


"Makan dulu, Yank. Setelah ini kita pergi nonton," ucap Alex. Ia mulai menyendokkan makanan dan menyuapi Nadia seperti yang ia katakan tadi.


Nadia menuruti apa yang Alex lakukan padanya, ia tak menyangka mendapatkan lebih dari apa yang ia bayangkan sebagai kenangan sebelum perpisahan.


***


"Pegangan yang erat," ucap Alex mengingatkan. Saat ini Nadia tengah membelitkan kedua tangannya di pinggang Alex dan memeluknya erat. Alex memacu motor besarnya dengan kecepatan yang cukup tinggi hingga suara deru mesinnya terdengar jelas.


Di jalanan yang cukup lenggang, Alex meletakkan satu tangannya yang satu di stang motor dan tangan yang lain memegang tangan Nadia yang tengah memeluknya erat. Hal yang selalu Alex lakukan ketika mereka berkendara menggunakan motor dan Nadia benar-benar menyukai apa yang Alex lakukan padanya.


***


Alex tertegun tak percaya karena saat ini Nadia memilih sebuah film romantis padahal biasanya istrinya itu akan memilih film aksi yang menegangkan.


"Apa kita mau pacaran ?" Tanya Alex pelan, ia bertanya seperti itu karena Nadia memilih tempat duduk yang  berada di ujung tepi tak seperti biasanya.


"Hu''um, mojok kaya orang-orang," jawab Nadia sama pelannya dan Alex pun tertawa mendengarnya.


Kini keduanya telah duduk di dalam bioskop. Alex amati wajah Nadia dari tempat ia duduk. Ada yang berbeda dari istrinya itu dan memikirkannya saja membuat dada Alex terasa sesak dan perutnya mendadak sakit.


Mata Nadia tertuju pada layar tapi tidak dengan Alex, lelaki itu asik menatapi wajah Nadia dengan banyak pikiran di kepalanya. Tanpa aba-aba Alex menarik dagu Nadia dengan jempolnya dan menyatukan bibir mereka sempurna. Bila biasanya Nadia akan menolak namun kali ini tidak, ia membalas ciuman itu sama inginnya.


***


Seperti yang Nadia harapkan, hujan rintik-rintik turun membasahi bumi ketika keduanya keluar dari gedung bioskop. Nadia bersikeras untuk berlari dalam hujan walaupun Alex sempat menolak.


"Baiklah kita berlari tapi hanya untuk berpindah tempat, aku gak mau hujan-hujanan pakai motor nanti kamu sakit," ucap Alex dan Nadia pun menyetujuinya.


Seperti yang Nadia inginkan, Alex meletakkan telapak tangannya yang besar di puncak kepala Nadia. Melindungi istrinya itu dari rintikan air hujan.


Dada Alex bergemuruh hebat ketika melakukan itu, "something wrong," (ada sesuatu yang salah) batin Alex dalam hatinya.  Ia pun menghentikan langkahnya dan menarik tubuh Nadia agar  menghadapnya.


Nafas Alex menderu, mata hitamnya berkilat menatap wajah Nadia yang memerah dan menahan panas juga buram di matanya.


Alex rengkuh erat tubuh Nadia lalu ia tundukkan wajahnya dan meraih bibir Nadia dengan bibirnya. Ia mengulumnya rasa-rasa dan Nadia membalas dengan cara yang sama.


Tetesan air hujan membasahi keduanya. Dahi dan hidung mereka saling bersentuhan pelan, mata keduanya pun saling bertatapan.


"Aku mencintaimu, Nadia." Bisik Alex lirih tepat di atas bibir istrinya yang basah.


"Ku mohon, jangan tinggalkan aku," lanjut Alex. Bibirnya bergetar ketika mengatakan itu semua.


To be continued ❤️


Thanks for reading 😘