
Nadia terduduk di kursi dengan menatap kosong pantulan bayangannya sendiri di dalam cermin. Sudah hampir 10 menit ia melakukan itu, mengingat apa yang belum lama ini ayahnya ucapkan padanya bahwa ayahnya itu begitu ketakutan karena perpisahannya dengan Alex dan beberapa kali Nadia melihat ayahnya mengusap dada.
Tanpa Nadia sadari buliran air turun dari matanya dan membasahi pipi. "Sungguh aku begitu egois," gumam Nadia. Mengingat bagaimana ia memutuskan untuk berpisah dengan Alex tanpa memikirkan perasaan orang-orang di sekitarnya. Tak terbayangkan jika ayahnya tahu yang sebenarnya terjadi. "Mungkin ayah akan terkena serangan jantung untuk ke dua kalinya," ucapnya lirih sembari mengusap buliran air mata dengan punggung tangannya.
"Ya Tuhan... betapa bodohnya aku," ucapnya lagi. Kepalanya tertunduk dengan dua tangan sebagai penopangnya. Ia sungguh menyesali perbuatannya di waktu lalu dan di saat yang bersamaan Nadia pun merasa bersyukur karena Alex telah menyelamatkannya.
Tapi tak hanya itu saja yang membebani pikirannya saat ini. Kenyataan bahwa ia harus menjalani sidang dan berhadapan dengan lelaki jahat itu juga membuatnya ketakutan.
Tadi, di ruang makan Nadia berusaha terlihat baik-baik saja, ia tak mau membuat orangtuanya khawatir padahal yang sebenarnya terjadi kakinya gemetar dan kedua telapak tangannya yang berada di bawah meja basah akan keringat. Alex yang sadar jika istrinya tidak baik-baik saja meraih jemari Nadia ke dalam genggamannya. Walaupun Alex tak mengatakan apapun padanya tapi genggaman tangan Alex seolah mengatakan jika semua akan baik-baik saja dan dia akan selalu berada di sisinya selama proses itu terjadi.
"Ah Alexhhh....," des*h Nadia lirih. Tak bisa Nadia bayangkan jika tak ada Alex di sisinya. Perasaan cinta Nadia pada suaminya itu semakin besar di setiap waktunya.
"Aku di sini, kamu udah gak tahan kah ? aku juga," ucap Alex yang tanpa Nadia sadari kehadirannya. Sibuk dengan pikirannya sendiri membuat Nadia tak menyadari kedatangan Alex ke kamarnya. Lelaki yang duduk di atas ranjang dan tak jauh darinya itu sudah mulai membuka kancing kaos berkerahnya.
Nadia mengangkat wajahnya dan menatap Alex lekat-lekat, ia langsung menghambur ke dalam pelukan suaminya hingga Alex terjengkang ke atas kasur.
"Sabar sayang, aku belum selesai membuka baju," ucap Alex lagi. Ia masih mengira jika Nadia sama inginnya dengan dia. Sama-sama ingin melakukan pergulatan penuh peluh.
Alex belai lembut rambut panjang istrinya, ia juga memberikan ciuman mesra di puncak kepala Nadia. Saat ini Nadia menelungkupkan tubuhnya tepat di atas tubuh Alex yang terbaring karena ulahnya.
"Kenapa pikiranmu selalu menjurus ke arah sana saja ?" keluh Nadia manja.
Alex terkekeh geli ketika mendengar keluhan istrinya. "Tadi aku dengar kamu panggil nama aku, pasti kamu lagi mikirin aku kan ?" tanya Alex yang merasa jumawa ( angkuh/ besar kepala ) saat ini.
Nadia mengangkat wajahnya dan menatapi wajah Alex dengan begitu dekat, jarak antara keduanya hanya sekitar 5cm saja. Nafas Alex yang hangat bisa Nadia rasakan menerpanya.
"Memang benar aku memikirkan kamu," jawab Nadia.
"Tuh kan...," Alex kian besar kepala saja karena apa yang ia kira benar adanya.
"Tapi aku tak berpikiran mesoom sepertimu," elak Nadia dan itu membuat Alex menaikkan alisnya tak percaya.
"Kamu ingin tahu apa yang aku pikirkan ?" tanya Nadia. Ia menggulingkan tubuhnya ke sisi ranjang yang kosong hingga kini kedua terbaring dengan saling berhadapan.
"Apa yang kamu pikirkan tentang aku ?" tanya Alex seraya merapikan helaian rambut Nadia yang menutupi wajah cantiknya.
"Kamulah bahagiaku, tak ada seorang lelaki pun yang aku inginkan selain dirimu. Kamu lah belahan jiwaku, Alex. Aku tak ada apa-apanya tanpamu. Genggam tanganku selalu dan berjanjilah kita akan menua bersama." Mata Nadia mengembun dan bibirnya bergetar ketika mengatakan itu semua.
Alex terdiam terpaku seolah waktu membeku begitu saja, ia menelan ludahnya paksa dan dengan perlahan menempelkan telapak tangannya di atas dahi sang istri. "Nggak demam," gumam Alex.
"Alex aku serius !!" Nadia berdecak kesal karena Alex mempermainkan ungkapan perasaan cintanya.
Alex menyunggingkan senyumnya, mata hitamnya menatap dalam Nadia dan ia pun membelai wajah Nadia dengan jemarinya.
"Aku pun... aku sangat mencintaimu lebih dari yang kamu tahu. Saat kamu mengatakan semua kata cinta maka aku menjadi lelaki paling bahagia di dunia ini. Tak hentinya aku bersyukur pada Tuhan karena kita ditakdirkan untuk bersama. Kita akan menua bersama dalam cinta. Kita akan terus bergandengan tangan, through the good and bad times together ( melalui waktu baik dan buruk bersama ). Setiap kamu pergi aku rasakan hampa di dalam jiwa, oleh karena itu jangan pernah pergi tinggalkan aku lagi," pinta Alex.
Alex memejamkan mata, menikmati apa yang Nadia lakukan padanya. "Love you, baby," gumam Nadia di atas bibirnya yang basah.
"Love you more, pumpkin," (Aku lebih mencintai mu, sayang). balas Alex dengan jelasnya.
"Dan terimakasih tadi telah menyelematkan aku di depan ayah. Terimakasih karena sudah menutupi apa yang sebenarnya terjadi. Tak terbayangkan jika ayah tahu bahwa kita hampir saja berpisah," ucap Nadia. Ia masih berada di atas tubuh suaminya.
Alex tersenyum penuh maksud, dengan sekali gerakan ia mampu menukar posisi hingga kini Nadia berada di bawahnya. "Oh Gosh...," lirih Nadia sembari membelalakkan mata ketika itu terjadi.
"Tapi itu tidak gratis Nyonya Alexander Henry Salim," bisik Alex sambil tersenyum miring penuh maksud. Lalu ia pun membenamkan bibirnya di atas bibir Nadia dan melu-matnya penuh tuntutan.
Nadia membalas ciuman itu sama panasnya, kini keduanya sudah dalam rasa yang sama. Sama-sama saling menginginkan satu sama lain.
***
Senin pagi Nadia tiba di kantornya, ia baru saja turun dari mobil mewah Alex. Langkahnya terasa begitu ringan dan ia merasa lebih percaya diri dari sebelumnya. Alex lah yang membuatnya seperti itu. Setiap orang yang berpapasan dengannya mengangguk pelan dan Nadia tersenyum menanggapinya.
"Mbak Nadia udah datang ? ayo sini....," ucap Dian si anak magang ketika Nadia sampai di lantai tempatnya bekerja.
"Kenapa, Di ? tunggu," sahut Nadia karena gadis muda itu menarik tangannya dengan penuh semangat.
Setelah beberapa menit berjalan menelusuri lorong kantor dan melewati banyak bilik para pegawai, sampailah keduanya di depan pintu sebuah ruangan yang seluruhnya hampir kelilingi kaca setengah buram.
"Taraaaaa !!!" Dian membuka pintu ruangan itu dan terlihatlah isi ruangan itu yang terkesan mewah dengan jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota Jakarta di bawahnya.
"Wow, " decak kagum tak bisa Nadia tahan dari mulutnya. Kursi kerja berbahan kulit dan berwarna hitam terlihat begitu kokoh dan meja kerja dengan warna senada juga makin menyempurnakan isi ruangan itu. Ruang kerja bernuansa hitam putih itu terlihat elegan dan memanjakan mata.
"Nadia Wirahma, manager perencanaan," baca Nadia pada sebuah plakat yang terletak di atas meja. "Ya Tuhan.. ini terlalu berlebihan," gumamnya pelan.
Ia pun berjalan memasuki ruangan itu dan tercengang ketika melihat ada beberapa photo pribadinya dengan Alex terpampang jelas dalam pigura kaca dan terletak antara deretan buku kerja miliknya. "Ya Tuhan...," Nadia kembali berdecak kagum tak percaya.
Tak hanya sampai di sana, sebuah buket bunga mawar putih pun terdapat di salah satu sudut ruangan itu dengan sebuah kartu ucapan di dalamnya. Nadia meraih kartu itu dan membacanya pelan.
"Semoga sukses dan semakin bersemangat untuk bekerja di ruanganmu yang baru,"
Dari lelaki yang paling mencintaimu,
-Alex-
to be continued ♥️
jangan lupa like dan komen ya
makasih ♥️