In Love

In Love
Katakan Padaku



"Katakan kamu cinta aku, karena aku lebih membutuhkan itu daripada sekedar pelukan atau kata rindumu,"


-Nadia Wirahma-


Happy reading ❤️


"Sumpah demi Tuhan... Kini pada Lola,  tak satupun jenis cinta yang kamu terangkan tadi aku rasakan padanya," jawab Alex tanpa ragu.


"Hah ?" Nadia berkerut alis tak paham.


"Tapi aku tahu apa yang aku rasakan padamu," lanjut Alex dengan tatapan mata yang tak bisa Nadia artikan.


Nadia menelan salivanya sendiri, sesekali ia mengusap pipinya yang basah dengan punggung tangan. Alex yang melihat itu langsung berdiri dan berjalan memutar mendekati sang istri tanpa melepaskan pandangannya.


Alex memutar kursi yang Nadia duduki dengan perlahan, hingga kini mereka saling berhadapan. Ia berlutut dan membawa jemari Nadia yang dingin dalam genggamannya.


"Jangan menangis, kamu jelek banget kalau cengeng begini," ucap Alex seraya mengusap pipi Nadia yang basah dengan jempolnya.


Nadia yang mendengar itu tersenyum kesal dengan lelaki yang kini berlutut dihadapannya. Ia pun mencebikkan bibirnya dan Alex tersenyum penuh arti menatapnya.


"Dengarkan Nadia, aku seringkali merindukanmu tanpa sebab. Aku selalu ingat padamu di manapun aku berada. Mengkhawatirkan mu, ingin selalu melihat wajahmu, ingin mendengarkan suaramu, bahkan aku suka ketika berdebat denganmu, semua yang ada padamu membuatku selalu rindu dan ingin dekat denganmu." Jelas Alex perlahan.


Nadia menarik nafas dalam, dadanya berdebar kencang saat Alex mengatakan itu semua.


"Aku ingin kamu tinggal bersamaku untuk selamanya dan menjadi milikku seorang," lanjut Alex masih menggenggam jari Nadia yang terasa dingin.


"A-Alex aku...," Nadia membuka mulutnya yang bergetar karena rasa gugup.


"Ayo kita mulai dari awal... Pernikahan ini kita lakukan dengan sebenarnya," ucap Alex seraya menatap dalam mata Nadia yang masih saja mengeluarkan air bening.


"Ta-tapi kita... Perasaan kita...," Nadia menunggu kata-kata penuh makna itu dari mulut suaminya. Ia menunggu Alex untuk menyatakan rasa cintanya.


"Aku..." Kata Alex menjeda ucapannya, bola matanya yang hitam menatap kian dalam


"Aku ingin bersamamu dan aku tak ingin kehilanganmu," kata Alex kemudian.


Nadia menatap Alex dengan rasa kecewa karena 'magical words' ( kata ajaib ) yang ia tunggu tak terucapkan oleh suaminya.


"Nad... Ku mohon... Untuk saat ini biarkan  seperti ini... Kita mulai perlahan hingga perasaan yang ada diantara kita tumbuh semakin kuat," lanjut Alex. Ia mulai putus asa karena Nadia diam terpaku membisu.


"Perasaan apa ?" Tanya Nadia frustasi.


"Perasaan kita... Semoga kian kuat seiring waktu dan kebersamaan kita," jawab Alex.


"Entah kutukan apa yang wanita sialan itu berikan padamu hingga sulit sekali bagi kamu untuk mengatakan kata cinta," Nadia begitu frustasi memikirkan itu semua.


"Nadia, sayang... Kumohon...," Mohon Alex seraya menciumi punggung tangan Nadia yang ada dalam genggamannya.


"Ayo kita jalani pernikahan ini sebenarnya," lanjut Alex masih berlutut memohon pada istrinya.


"Jika ingin menjalani pernikahan ini dengan benar maka lepaskan Lola dari hidupmu. Pernikahan ini tak bisa dijalankan oleh tiga orang," jawab Nadia pada akhirnya.


"Jika kamu benar-benar ingin denganku, mantapkan hatimu hanya untukku Alex. Lepaskan segala masa lalumu, dan kita melangkah bersama hanya kamu dan aku saja. Dan ku harap kamu mencintaiku pada akhirnya" kata Nadia dengan jelasnya.


Alex menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban, kata cinta yang Nadia ucapkan menghantam dadanya. Ia rasakan sesak luar biasa ketika kata sakral itu terucap.


"Hanya kamu dan aku... Kita...," Ucap Alex lirih dan ia pun meraih wajah Nadia agar mendekat dan meraih bibirnya untuk ia kulum penuh perasaan.


Nadia memejamkan matanya dan membalas ciuman itu dengan sama hanyutnya. Kini mereka berciuman dalam rasa yang sama, rasa ingin saling memiliki dan rasa cinta yang sebenarnya saling mereka rasakan namun tak terucapkan.


Ciuman itu kian lama kian menuntut hingga Alex mengajak Nadia untuk berdiri dan memangkunya menuju kamar mereka.


Nadia membelitkan kakinya, ia mengalungkan tangannya pada leher Alex dengan bibir masih bertautan. Ia menuruti apa yang Alex lakukan karena dirinya pun sama inginnya.


Alex menutup kamar mereka dengan kakinya dan tak lama mereka pun melakukannya.


***


Alex tertidur dengan menelungkupkan tubuhnya, ia kelelahan setelah percintaan hebat yang mereka lakukan. Tak hanya satu atau dua kali tapi lebih dari itu.


Nadia amati wajah suaminya yang terlihat begitu damai. Ia sisir lembut rambut Alex dengan jemarinya, rasa cinta yang Nadia rasakan lebih besar lagi dari sebelumnya.


Meskipun Alex belum mengatakan kata ajaib itu tapi Nadia yakin jika suaminya itu memiliki perasaan yang sama dengannya.


"Katakan kamu cinta aku, karena aku lebih membutuhkan itu daripada sekedar pelukan atau kata rindumu," bisik Nadia lirih.


"Aku tak akan mengatakan rasa cintaku jika kamu pun tak mau mengatakannya. Tapi aku yakin suatu hari nanti kata itu akan terucap dari bibir kita," masih Nadia berkata dalam lirih.


"Aku ingin kamu ucapkan kata cinta itu dengan panas membara hingga aku bisa merasakannya melalui setiap desiran darah hingga ke tulang dan menetap di hati untuk selamanya. Jika kamu mencintai aku, Alex... Maka aku jamin rasa cintaku akan lebih besar dari milikmu," bisik Nadia lirih dan ia pun mengecup kening Alex dengan dalam sebelum memutuskan untuk bangkit dari tempat tidurnya dan membersihkan dirinya sebelum pergi ke kantor.


Tepat setelah Nadia berdiri, Alex membuka matanya dengan perlahan dan menatap kepergian Nadia dengan pandangan mata dalam.


***


Nadia baru saja membuka pintu kamarnya setelah bersiap untuk pergi ke kantor, berbarengan dengan seorang wanita yang Nadia kenali memasuki ruangan apartemennya melalui pintu utama.


Tak hanya Nadia kenali tapi kini wanita itu Nadia benci.


"Ah maaf aku masuk tanpa menekan bel, aku hanya mencoba peruntungan dan ternyata Alex masih menggunakan tanggal ulang tahunku sebagai kata kunci pintu apartemennya. Ia samasekali tak berubah," ucap Lola yang kini sudah berada di ruang tamu.


"Alex masih di kamarnya, aku harus pergi." Ucap Nadia tanpa menanggapi apa yang lola ucapkan tadi.


"Mmm, sebenarnya aku ingin ketemu kamu makanya datang sepagi ini." Kata Lola lagi.


"Aku ?"


"Ya, bisa kita bicara sebentar ? Please...," Jawab Lola penuh mohon.


Akhirnya mereka duduk berdua di atas sofa. Nadia menunda keberangkatanya dengan hati panas membara menahan rasa marah juga cemburu.


"Mmm.. kamu kan sepupu Alex... Sedikit banyak kamu pasti tahu tentang dia. Aku dan Alex sedang memperbaiki hubungan, dan dia menuntutku untuk melakukan hal-hal konyol sebagai pembuktian perasaan,"


"Lalu ?" Tanya Nadia ketus.


"Katakan apa saja yang Alex suka dan tidak suka. Lama berpisah dengannya membuatku sedikit lupa tentang itu semua," jawab Lola.


Nadia tersenyum muak, ia tahu jika Lola tak tahu sedikitpun tentang lelaki yang dulu tergila-gila padanya. Nadia yakin jika wanita di hadapannya ini hanya memanfaatkan cinta buta yang Alex rasakan padanya.


"Kalau kamu benar-benar pernah mencintai Alex, harusnya kamu tahu semua," kata Nadia dengan suara meninggi.


"Yang itu bukan urusan kamu, aku hanya ingin mencari tahu sedikit untuk mengingatkanku tentang Alex,"


"Apa kamu udah pikun sampai lupa semuanya ?" Tanya Nadia makin emosi saja. Sungguh Lola adalah racun bagi hidup Alex, ia membuat hidup Alex hancur tanpa rasa bersalah.


"Jaga mulut kamu ! Aku datang baik-baik, jangan mentang-mentang kamu sepupunya jadi bisa bicara seperti itu sama aku. Asal kamu tahu, begitu aku dan Alex resmi bersama... Kamu akan langsung aku tendang dari apartemen ini. Alex akan selalu menuruti keinginan aku," jawab Lola dengan sombongnya.


Suara gaduh membuat Alex keluar dari kamarnya dan terkejut luar biasa melihat istrinya yang tengah beradu mulut dengan Lola.


"Ada apa ini ?" Tanya Alex dengan suara meninggi.


"A.. Alex.. sepupu kamu kasar banget sama aku," jawab Lola terbata.


"Gimana aku gak kasar. Pacar kamu ini mau pakai cara licik buat menjerat kamu lagi, Alex. Dia tanya semua yang kamu suka sama aku karena ternyata dia gak tahu apa-apa tentang kamu. Hahaha lucu !!" Jawab Nadia penuh emosi.


"Ngapain kamu ke sini ? Sudah aku bilang jangan datang ke apartemen aku," tanya Alex pada Lola.


"Aku cuma pengen sarapan bareng kamu," ucap Lola dengan manjanya.


"Cih," decak Nadia kesal.


"Kamu juga, ngapain bukain pintu buat dia ?" Tanya Alex pada Nadia. Maksud Alex, jika Nadia tak suka kenapa membiarkan Lola untuk masuk ke apartemen mereka.


"Dia masuk sendiri, tentu saja ia bisa lakukan itu karena tanggal ulang tahunnya kamu jadikan kata kunci apartemen kita !" Jawab Nadia dengan suara meninggi tak bisa menahan rasa cemburunya.


Alex meraup wajahnya frustasi ketika menyadari itu semua.


"Alex sudah ada, kamu bisa tanya langsung sama dia karena aku harus pergi ke kantor dan tak ingin terlibat cinta murahan kalian !" Ucap Nadia penuh emosi seraya menyambar tas kerja nya.


"Nad, Nadia !! Tunggu, kamu pergi sama aku," kata Alex. Ia berusaha untuk menahan istrinya.


Lola yang melihat itu terdiam memperhatikan, ia semakin sadar jika ada yang Alex sembunyikan.


Nadia membalikkan tubuhnya menghadapi Alex yang menahan kepergiannya. "Bereskan urusanmu dengan dia sekarang juga jika kamu masih ingin bersamaku seperti yang kamu ucapkan semalam," ucap Nadia seraya menunjuk dada Alex dengan penuh rasa emosi.


To be continued


Thanks for reading ❤️