In Love

In Love
Terungkap



Happy reading ❤️


"Sshhh," des*h Nadia menahan hujaman Alex yang begitu kencangnya hingga ia harus meremas kain sprei di bawahnya. Setengah tubuhnya menelungkup menyentuh sprei sedangkan bok*ngnya terangkat untuk menerima hentakan Alex di belakang sana.


"Alexxhhh, pelan sedikit," pintanya dengan suara lirih.


Alex tak peduli, mata hitamnya berkilat penuh amarah. Ia meluapkan emosi nya pada tubuh Nadia yang kini berada dalam kuasanya.


Email yang baru ia dapatkan menjungkirbalikkan dunianya seketika. Bisa-bisanya wanita yang menjadi cinta pertamanya, menipu dirinya selama ini padahal cinta yang Alex berikan  padanya begitu tulus. Bahkan ia dengan berani meminta Alex untuk memberikan kesempatan padanya agar bisa membuktikan rasa cintanya. Pantas saja Lola tak tahu apa-apa tentangnya, wanita itu tak pernah mencintainya.


"*****ng b*tch," umpat Alex penuh penekanan, bahkan ia menjambak kasar rambut Nadia hingga kepalanya menengadah ke atas dan tubuhnya menggeliat karena rasa ngilu ia rasakan di bawah sana. Hentakan yang Alex berikan kian kasar dan kencang.


"Alexhh," lenguh Nadia menahan rasa ngilu nya tapi Alex terus menghentak dan menghujam tanpa henti hingga gelombang pelepasannya tiba. "Arggghhhhh," erang Alex dan ia pun jatuhkan dirinya di sebelah tubuh Nadia yang juga ambruk dengan posisi menelungkup dengan nafas tersengal dan rambut tak beraturan.


Nafas keduanya memburu saling berebut oksigen, mata hitam Alex menatap kosong langit-langit di atasnya. Sedangkan Nadia menolehkan kepalanya menatap sang suami yang  terlentang tanpa bersuara.


"Alex ?" Tanya Nadia tak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi. Alex tak pernah melakukannya se-kasar ini, dan bila ia tak salah dengar Alex juga mengatakan kata umpatan saat puncaknya akan tiba.


Alex mengatur nafasnya dengan menariknya dalam dan menghembuskan nya perlahan, ia tak menjawab pertanyaan Nadia yang sedang kebingungan saat ini.


"Alex ?" Tanya Nadia lagi.


"Maafin aku," potong Alex cepat. Ia pun memposisikan tubuhnya menghadap Nadia yang masih tidur menelungkup dengan nafas terengah.


"Maaf ya," ulang Alex dan ia pun mencium dahi Nadia dengan dalam dan mata terpejam. Menyesali apa yang baru saja terjadi. Ia melampiaskan rasa marah dan kecewanya pada wanita yang tak bersalah.


Nadia memejamkan matanya menikmatinya ciuman yang Alex berikan walaupun biasanya lelaki itu akan memeluknya erat untuk beberapa saat setelah kegiatan panas yang baru saja mereka lakukan, namun kali ini perlakuan Alex berbeda. Nadia yakin jika suaminya itu sedang tak baik-baik saja.


Alex bangkit dari ranjang dan berdiri masih dengan tubuhnya yang polos, ia menjambak rambutnya kasar seolah tengah memikirkan sesuatu dan kemudian pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri tanpa sepatah kata apapun lagi yang keluar dari mulutnya.


Nadia menatap nanar punggung suaminya yang kian menjauh, meskipun hubungan mereka sudah sangat dekat namun ia sadar belum sepenuhnya bisa menyelami isi hati Alex. Hati dan pikiran Nadia berubah sendu karena melihat perubahan sikap Alex saat ini.


***


Sikap Alex masih belum berubah, ia lebih diam dari biasanya. Hingga tiba saat makan malam pun sikap Alex masih sama.


"Alex, apa kata mama tadi ?" Tanya Nadia takut-takut. Ia ingat sikap Alex berubah setelah mendapatkan telepon dari mamanya yang kini kembali tinggal di Belanda.


"Hum ?" Alex balik bertanya, sepertinya ia tak fokus dengan apa yang istrinya itu tanyakan.


"Tadi, mama mengatakan apa ?" Nadia mengulang pertanyaannya.


"Oh... Nothing... Mama hanya menanyakan kabar," jawab Alex. Dan tentu saja ia bohong.


Nadia menatap dalam mata Alex ketika lelaki itu berbicara dan tentu saja Nadia sadar ada sesuatu yang Alex sembunyikan darinya.


"Alex, katamu... Sekarang semuanya tentang kita. Dan aku tahu jika ada sesuatu yang tak beres denganmu, maukah kamu berbagi denganku ?"


Alex terdiam dan menghentikan makannya untuk sesaat, "gak ada apa-apa," jawabnya kembali berbohong.


"Eh Nad, pembangunan untuk kantor ku yang baru sudah di mulai," ucap Alex. Ia berusaha mengalihkan arah pembicaraan.


"Oh ya ?"


"Hu'um, nanti aku ingin ajak kamu melihatnya kesana. Karena kamulah semuanya bisa terlaksana. Terimakasih, sayang," ujar Alex sungguh-sungguh, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa jam ini Alex memperlihatkan senyumnya.


"Bukan karena aku, tapi karena kerja keras mu," sahut Nadia.


"Dan kamu yang membantu mewujudkannya," kata Alex penuh kesungguhan.


Nadia tersenyum samar, dalam hati ia merasa bahagia karena telah menjadi bagian penting dari hidup suaminya.


"Ayo cepat habiskan makannya, besok kita akan sibuk sekali,"ucap Alex.


Nadia mengangguk pelan dan patuh dengan apa yang suaminya katakan.


***


"Sshhhh," Nadia bangkit dari tempat tidurnya masih dengan meringis menahan rasa ngilu di pangkal pahanya.


Alex yang mendengar itu langsung membuka matanya, "apa masih sakit ?" Tanya Alex dengan rasa bersalah. Ia pun segera bangkit dan mendekati Nadia.


Hentakan yang keras dengan anaconda yang ukurannya tak kecil itu tentu saja membuat Nadia sedikit kewalahan.


"Nggak kok," jawab Nadia dengan wajah merona.


"Jangan bohong," ucap Alex seraya memicingkan matanya.


"Mmm sedikit," jawab Nadia sedikit ragu.


Mendengar itu Alex pun langsung berdiri dan memangku Nadia ala bridal style dan membawanya ke kamar mandi.


"Alex kamu ngapain ?" Tanya Nadia dengan hatinya yang berdegup kencang.


"Aku akan membantumu mandi," jawab Alex.


"Tenang..  aku gak akan meminta 'sekali ini saja' aku hanya akan membantumu mandi," ucap Alex dan ia mendapatkan cubitan gemas dari istrinya.


Setelah membantu Nadia membersihkan diri Alex pun membantu istrinya itu berpakaian, padahal Nadia telah mengatakan berulang kali jika ia baik-baik saja tapi Alex tetap melakukan itu.


"Kita akan terlambat Alex, kamu sebaiknya bersiap," ucap Nadia seraya melihat jam dinding  yang menunjukkan pukul 7 pagi,"


"Its oke," sahut Alex sembari mengeringkan rambut istrinya yang basah.


"Apa pekerjamu tak curiga jika kita selalu terlambat ? Tanya Nadia.


"Mereka gak akan protes," sahut Alex.


"Mmm... Setelah pekerjaan hari ini selesai, siang ini juga kita harus kembali ke Jakarta. Aku harus ke kantor, ada sesuatu yang penting." ucap Alex


Nadia terdiam, biasanya mereka akan pergi selama 2 atau 3 hari untuk melakukan dinas kerja, namun kini baru juga satu hari Alex sudah mengajaknya pulang.


"Oh ok, terserah kamu," sahut Nadia. Padahal biasanya mereka selalu menghabiskan waktu bersama di kamar hotel dan memadu kasih karena setelah selesai urusan pekerjaan Alex akan langsung mengurungnya di kamar dan melakukan kegiatan pavorit mereka.


***


Sore menjelang malam keduanya telah sampai kembali di kota Jakarta. Alex langsung pergi ke kantornya setelah ia terlebih dahulu mengantarkan Nadia ke apartemen.


Belum  juga lama Nadia sampai di apartemennya, ponselnya berbunyi dan menunjukkan nama Meta di sana.


"Adin, kamu udah pulang ya ?" Tanya Meta ketika panggilan itu terhubung.


"Iya, kok tahu sih ?" Tanya Nadia.


"Aku lihat mobil Alex," jawab Meta.


"Ah iya.... Dia mau ke kantor,"


"Aku lihat mobil Alex di jalan xxx," ucap keduanya berbarengan.


Nadia terdiam, begitu juga Meta. Keduanya sadar jika Alex ternyata tidak pergi ke kantornya seperti yang tadi ia bilang.


***


Alex duduk di kursi sederhana dalam sebuah kamar kost, menanti seseorang datang. Beruntung bagi Alex karena yang ia tunggu akhirnya datang setelah beberapa menit menunggu.


"Ah sialll," ucap Lola terkejut mendapati Alex tengah duduk di sana dengan raut wajah yang terlihat marah. Makan malam yang Lola bawa jatuh ke atas lantai karena rasa terkejutnya yang luar biasa


"Bagaimana kamu bisa masuk ?" Tanya lola kemudian. Namun Alex tak menjawabnya. Tentu saja dengan sedikit sogokan uang ia bisa dengan mudah mendapatkan kunci cadangan dari penjaga kosnya


Alex amati penampilan mantan kekasihnya itu yang mengenakan selendang penutup kepala serta kacamata besar berwarna coklat muda padahal hari mulai malam.


"Kenapa kamu pakai baju seperti itu ?" Tanya Alex.


"Mmm, karena udara mulai dingin," jawab Lola.


"Tapi jika kamu gak suka aku akan membukanya," jawab Lola dengan suaranya yang kini berubah penuh goda.


Ia pun membuka selendang juga kacamatanya. Tak berhenti sampai disitu, Lola juga mulai melucuti pakaiannya sendiri satu persatu hingga ia tampil tanpa sehelai benangpun. Ia lakukan itu karena mengira Alex sedang menginginkannya. Kedatangan Alex ke tempat kostnya adalah suatu keajaiban.


Alex tak bergeming, pandangan matanya tetap dingin dan itu membuat Lola kebingungan.


"Aku... Aku sudah siap jika kamu menginginkannya," ucap Lola tak se-percaya diri sebelumnya.


Alex berdiri dan berjalan mendekati Lola yang telah berdiri dengan tubuhnya yang polos.


"Jadi begini rupa seorang jal*ng pengkhianat ?" Tanya Alex seraya menarik kasar rambut Lola hingga kepala wanita itu menengadah.


"Alex, sakiit.. lepaskan...," Lirih Lola. "Kamu ini kenapa ?" Rintih Lola.


Alex pun melemparkan beberapa lembar kertas ke wajah Lola hingga kertas-kertas itu berhamburan di lantai dan Lola pun mengambilnya.


"Akhirnya model ternama Abigail Claire memenangkan tuntutannya pada sang suami yang merupakan seorang pengacara kondang bernama Andrew Bright dan merebut kembali semua harta yang telah dilarikan oleh sang suami dengan kekasih gelapnya yang bernama Laura Valentina."


"Laura Valentina, wanita yang menjadi simpanan pengacara kondang selama bertahun-tahun hingga memiliki anak yang berusia 6 tahun,"


"Andrew Bright ditahan karena kekerasan dan penelantaran ke 3 anaknya dari model ternama Abigail Claire. Begitu juga Laura Valentina yang kini menjadi buronan karena menelantarkan anaknya sendiri,"


"Andrew Bright dan kekasihnya jatuh miskin setelah Abigail Claire memenangkan tuntutannya dan akan menjebloskan keduanya ke dalam penjara."


Lola membaca penggalan-penggalan berita itu dengan mata memerah menahan tangisnya.


To be continued ❤️


Thanks for reading 😘


Mumpung Senin vote yuuukkk biar aku makin semangat nulisnya.


Terimakasih 🙏