In Love

In Love
Sidang Pertama



Susah payah Nadia tegakkan kerah blazernya walaupun terlihat aneh tapi ia harus lakukan itu karena Alex yang tak bisa menahan dirinya dan memberikan tanda kemerahan di sana.


Padahal mereka tak melakukan "hal itu", yang keduanya lakukan hanya sebatas bertukar saliva melalui ciuman panas yang membuat Nadia terbang ke awan dan tak menyadari jika bibir Alex yang basah dan kenyal sudah menyusuri sepanjang leher hingga tulang selangka lalu menyesap nya dalam dan meninggalkan jejaknya di sana. Nadia hanya bisa menggigit bibir bawahnya sembari memejamkan mata, menahan rasa ngilu dan juga nikmat secara bersamaan ketika Alex melakukan sesapan itu padanya.


Sialnya, Nadia hari ini mengenakan blouse putih dengan potongan bagian depan yang agak rendah sehingga tanda merah itu terlihat dengan jelas. "Alexhhh..., apa yang kamu lakukan ?" cicit Nadia ketika ia melihat tanda itu melalui cermin.


"Salahmu sendiri karena begitu menggemaskan," jawab Alex tanpa merasa bersalah dan Nadia pun mendelikkan matanya dengan sengit. Menatap kesal pada Alex karena kini ia harus segera menutup jejak suaminya itu dengan sedikit sentuhan make up sebelum ia kembali ke kantornya.


"Pas aku melakukannya tadi, kamu gak marah kaya gini," protes Alex. Saat ini keduanya tengah berada di dalam mobil Alex, di mana Nadia tengah mengoleskan krim di sekitar tanda itu. Walaupun sudah tak begitu kentara tapi tetap saja ia merasa tak percaya diri hingga harus menegakkan kerah blazernya.


Nadia yang mendengar itu mengalihkan pandangannya dari cermin kecil yang ia gunakan saat ini dan berganti menatap Alex dengan kesalnya.


Alex tundukkan kepala, sadar jika sang istri sedang dalam mode singa. Menatap dirinya dengan sengit dan siap menerkam kapan saja. "Maafin aku," ucap Alex lirih sambil terus menundukkan kepalanya. "Aku salah karena tak bisa menahan diri," lanjut Alex lagi menyesali perbuatannya.


Nadia merasa kesal namun juga gemas secara di waktu yang sama. "Kali ini aku maafin, tapi lain kali lihat situasi dan kondisi dulu. Kamu ngerti ?" tanya Nadia masih terdengar ketus padahal yang sebenarnya terjadi dalam hatinya, Nadia ingin mengatakan pada Alex bahwa ia tak marah lalu membawa Alex dalam pelukannya dan membelai rambut Alex dengan jemarinya.


"ok, aku janji," sahut Alex seraya mengangkat kedua jarinya di tambah dengan senyuman manis di wajahnya. Siapa yang akan menyangka jika seorang Alex yang terkenal dingin dan tegas tapi begitu takluk pada istrinya.


Nadia tak sanggup lagi memasang wajah galaknya, pada akhirnya ia pun ikut tertawa. "Give me a kiss," (Berikan aku sebuah kecupan ) ucap Alex sebelum istrinya benar-benar turun dari mobilnya.


Nadia turuti yang Alex inginkan, ia condongkan tubuhnya hingga mendekat pada Alex dan mencium suaminya itu sekilas saja. "Aku benar-benar harus pergi," ucap Nadia sembari melihat jam yang membelit sempurna pergelangan tangannya. Waktu jam makan siangnya nyaris habis.


"Oke, maaf aku tak bisa mengantarkan hingga ruangan mu karena aku harus bertemu seseorang setelah ini," sahut Alex.


Pintu mobil telah terbuka, satu kaki Nadia telah menginjak tanah karena ia akan keluar dari mobil suaminya itu tapi ia langsung menahan diri dan kembali berpaling pada Alex. "Seseorang ?" tanya Nadia penuh selidik.


"Laki-laki, Yank. Aku akan bertemu dengan seorang laki-laki," jawab Alex gemas.


"Awas kamu !" ancam Nadia sambil memicingkan mata.


"Ya ampun... semua orang juga tahu jika aku hanya mencintaimu dan tak mungkin berpaling pada yang lain," sahut Alex. Wajahnya memelas saat mengatakan itu.


Nadia pun keluar dari mobil mewah Alex dan berjalan menuju pintu masuk kantornya dengan kerah blazer yang berdiri tegak. Beberapa kali ia membetulkan posisi kerahnya itu hingga beberapa pasang mata memperhatikannya. Nadia terus berjalan dan berusaha mengabaikan beberapa orang yang melihatnya dengan aneh dan tersenyum canggung padanya mengingat siapa Nadia saat ini.


Sedangkan Alex, ia belum juga menjalankan kendaraannya. Yang Alex lakukan adalah terus memperhatikan istrinya itu hingga ia benar-benar menghilang di balik pintu dan meyakinkan diri jika Nadia sudah memasuki kantornya.


Alex akan terus mencurahkan segala perhatian dan kasih sayangnya pada Nadia hingga istrinya itu merasakan bahwa ia tak sendirian. Ada Alex yang akan selalu berada di sampingnya di dalam setiap keadaan dan akan terus melindunginya dari segala ancaman. Alex akan membuat Nadia merasa aman jika bersamanya. "Kamu aman bersamaku, tak akan kubiarkan siapapun menyakiti kamu," gumam Alex saat Nadia tak ada lagi dalam pandangannya.


Alex pun memacu mobilnya untuk pergi ke tempat yang ia tuju.


***


Hari terus berlalu dengan cepat, tanpa terasa waktu sidang pun telah tiba. Beberapa waktu lalu akhirnya Alex memberanikan diri untuk mengatakan pada istrinya itu bahwa Nadia harus datang ke persidangan untuk memberikan kesaksian dan Alex cukup terkejut saat Nadia menyetujuinya tanpa harus Alex bujuk rayu dengan susah payah.


Meskipun pada awalnya wajah Nadia terlihat ketakutan dan tertekan saat Alex menjelaskan tentang persidangan tapi ketegangan itu berangsur pudar setelah Alex mengatakan bahwa ia akan terus berada di samping Nadia selama persidangan itu berlangsung dan tanpa banyak drama Nadia pun langsung menyetujuinya.


"Selama kamu di sampingku tak ada lagi yang aku takutkan," ucap Nadia dan itu membuat Alex merasa lega. "Aku akan selalu bersamamu, kamu kamu tak akan pernah merasakan sendirian," janji Alex pada istrinya itu.


Dan di sinilah mereka saat ini, ditemani tim pengacara Alex di ruang sidang yang tertutup dari publik. Alex meminta agar persidangan ini dilakukan secara tertutup dan tidak terendus oleh wartawan. Alex tidak ingin masalah ini menjadi sesuatu yang besar dan membuat Nadia semakin tertekan.


Nadia duduk dengan gelisah, beberapa kali ia mengubah cara duduknya bahkan wajahnya terlihat pucat dan Alex rasakan telapak tangan yang dingin karena rasa gugup saat Alex menggenggamnya.


Semua sudah duduk ditempatnya masing-masing, dari perusahaan Nadia diwakilkan oleh Pak Adi sang manager dan ditemani oleh Dian si anak magang yang mengetahui bagaimana cerita itu terjadi dan di lain waktu mereka pun akan duduk di hadapan majelis sidang sebagai saksi.


Cukup lama menanti akhirnya datanglah salah satu terdakwa dengan mengenakan baju berwarna jingga khas tahanan dan dikawal ketat oleh dua orang petugas polisi. Ia berjalan dengan tertatih dibantu oleh dua tongkat sebagai penyangga tubuhnya. Dia adalah Lola yang harus kehilangan sebelah kakinya akibat pergumulannya dengan Nicky beberapa waktu lalu.


Mata Nadia membulat sempurna dengan apa yang dilihatnya saat ini. Hampir saja ia tak mengenali wanita yang berjalan dengan baju tahanan itu dan Nadia pun menutup mulutnya dengan kedua tangan karena tak percaya dengan apa yang dilihatnya yaitu kenyataan jika Lola kehilangan sebelah kakinya. "Ya.. Tuhan....," gumam Nadia lirih dan ia rasakan Alex menggenggam tangannya kian erat di bawah meja. "Sayang, ingat aku selalu bersamamu," bisik Alex.


Nadia masih tak bisa mengalihkan pandangan matanya dari Lola. Dulu wanita bernama Lola itu terlihat sempurna di mata Nadia. Dengan tubuhnya yang proporsional dan berbalutkan pakaian ketat yang bisa membuat para pria akan menahan nafas ketika melihatnya. Wajah cantiknya selalu berpoles make up dan itu menyempurnakan penampilannya. Wanita mana yang tak akan iri melihat penampilan Lola yang penuh percaya diri.


Tapi kini wanita itu terlihat sangat berbeda, wajahnya terlihat terlalu cepat menua. Tubuhnya tak lagi sempurna karena ia harus kehilangan salah satu kakinya tapi satu yang pasti tatapan matanya tak pernah berubah.


Hal pertama yang Lola lakukan ketika ia memasuki ruang persidangan adalah menyadari kehadiran Alex. Ia layangkan pandangan sayu pada mantan kekasihnya itu, berharap Alex merasakan kasihan juga iba kepadanya hingga lelaki itu bersedia mencabut tuntutannya, tapi sayang Alex tak sekalipun melihat ke arahnya. Alex terlalu fokus menenangkan istrinya, Nadia.


Lola alihkan tatapannya pada Nadia yang ternyata tengah memperhatikannya. Lola sunggingkan senyum miring di wajahnya dan balas menatap Nadia dengan sinis. Kebenciannya pada Nadia terlihat begitu kentara.


Sidang pun dimulai, Nadia dan Lola duduk berseberangan dengan pengacara masing-masing. Jika Nadia ditemani tim pengacara terbaik yang disediakan Alex untuknya, maka Lola hanya ditemani oleh seorang pengacara yang disediakan negara.


Hakim membacakan pembukaan sidang, semua mendengarkan dengan seksama dan mengangguk patuh tapi tidak dengan Lola. Beberapa kali ia mencuri pandang pada Alex yang terus memberikan perhatiannya pada sang istri dan itu membuat Lola meradang dalam hati.


Sadar merasa diperhatikan, Nadia pun tolehkan kepala dan mendapati Lola tengah melihat ke arahnya. Pandangan matanya berubah dalam sekejap mata saat Lola menatap Nadia.


Lola menatap Nadia dengan penuh intimidasi dan rasa benci. Dalam hati Lola selalu menyalahkan Nadia dengan apa yang terjadi dengannya saat ini.


Sidang berlangsung dengan cukup alot karena Lola memberikan jawaban yang berbelit-belit dan tidak konsisten, selama ia duduk di depan majelis dengan berani matanya selalu tertuju pada Alex seolah meminta perhatian darinya dan itu membuat Nadia merasa tak nyaman.


Banyak hal yang muncul dalam pikiran Nadia. Beberapa kali ia menatapi Alex dan menebak-nebak apa yang sedang dirasakan oleh suaminya, apa Alex terpengaruh oleh tatapan mata Lola yang terus tertuju padanya ? Apa yang Alex rasakan dalam hatinya ? Apa dirinya sendiri mampu melewati persidangan ini ? pertanyaan-pertanyaan itu berputar dalam benak Nadia.


Bertemu dengan Lola saja sudah membuatnya frustasi bagaimana jika dia harus bertemu lelaki itu ? lelaki yang dulu hendak menyakitinya. Tubuh Nadia menegang seketika saat memikirkannya.


"Sayang... ," bisik Alex lirih. Ia mengusap lembut punggung Nadia dengan telapak tangannya yang besar. Berusaha untuk menenangkan, karena ia sadar jika Nadia sedang tidak baik-baik saja.


Setelah beberapa puluh menit sidang pun terhenti dan akan dilanjutkan kembali dalam beberapa hari ke depan. "Kamu hebat, kamu bisa menjawab pertanyaan dengan baik," puji Alex pada istrinya itu.


Semua orang sudah mulai berdiri dan bersiap untuk pergi namun langkah mereka terhenti saat Lola mulai berteriak. "Dasar jal*ng kecil kamu, Nadia !!! kamu merebut kekasih ku !! balasan mu adalah kehilangan bayimu dengan Alex, dan kamu memang pantas mendapatkannya. Kamu tidak akan pernah bahagia dengan Alex !!!" teriak Lola penuh emosi sembari menjatuhkan kedua penyangga tubuhnya hingga menimbulkan bunyi nyaring dan sontak membuat panik.


"Diam kamu !!!" sentak Alex pada Lola yang kini tubuhnya ditahan oleh 2 orang petugas polisi yang berusaha menenangkannya.


"Balasan untuk wanita sepertimu adalah kehilangan bayimu !! Ha.. ha.... ha..." Lola masih berteriak walaupun tubuhnya diseret paksa untuk keluar dari ruangan itu.


"F*ck," maki Alex dengan mengepalkan kedua tangan. Ia tak menyangka jika Lola akan melakukan hal itu. Terlalu terkejut dengan apa yang Lola lakukan hingga Alex sedikit melupakan keberadaan istrinya itu.


Alex pun menolehkan kepalanya dan mendapati Nadia yang berdiri dengan tatapan mata kosong dan air mata berhamburan. "sayang...," ucap Alex seraya kembali meraih jemari Nadia dalam genggamannya.


"Le-lepaskan aku, Alex," ucap Nadia terbata. Ia menepis genggam tangan Alex pada jemarinya.


To be continued ♥️


terimakasih untuk kalian yang masih setia baca ♥️