In Love

In Love
Dinas Kerja Kali ini.



Happy reading ❤️


"Jangan berani macam-macam dengannya, kamu ngerti ? Dia milikku,"


"Ba-baik, Pak," jawab Heru lagi. Ia semakin terkejut saja.


Lalu Alex pun menutup panggilan itu dengan kasar. Pundaknya naik turun karena nafasnya yang menderu terengah. Terlintas dalam kepalanya bagaimana Nadia akan menghabiskan waktu dengan asistennya itu untuk beberapa hari ke depan dan sungguh itu membuatnya tak suka. Ia berusaha untuk tak melibatkan hati tapi nyatanya tak bisa.


"Aku pergi," ucap Nadia sembari menarik kopernya.


Alex pun menolehkan kepala ke arah suara dan berjalan mendekatinya. "Kamu jaga diri, Nad," Ia begitu terlihat cemas dan itu membuat Nadia terheran.


"Ok, thanks...," Sahut Nadia singkat.


"Aku serius, Nadia," kata Alex lagi. Bahkan tangannya kini mencekal lengan istrinya.


"Ini bukan pertama kali aku dinas luar kota, Alex," Nadia menimpali. Ia kian bingung saja.


Alex terdiam, ini memang bukan yang pertama untuk Nadia dinas ke luar kota tapi itu dulu. Berbeda keadaannya dengan sekarang.


"Aku tahu, tapi jaga diri baik-baik," Alex masih terlihat cemas mengatakan itu.


Nadia menganggukkan kepalanya dan mulai berjalan mendekati pintu. Ia tak sadar jika Alex terus mengikuti langkahnya dari arah belakang.


"Awww," Pekik Nadia ketika sebuah tangan kekar merengkuh pinggangnya dan mendekap erat.


Dapat Nadia rasakan hembusan nafas Alex yang hangat menerpa wajahnya. "Jangan macam-macam, Nad. Kamu istriku," ucap Alex dengan suaranya yang berat. Mata hitamnya berkilat ketika ia mengatakan itu.


Nadia tak langsung menjawab, yang ia lakukan adalah menatap mata Alex sama dalamnya. "Kalau kamu begitu cemas kenapa biarkan aku pergi dengan orang lain ?" tanya Nadia.


Alex menelan salivanya paksa, ia tak menyangka Nadia akan bertanya seperti itu, hingga lidahnya begitu kelu tak dapat berkata-kata.


Nadia mulai melepaskan diri karena Alex tak juga menjawab pertanyaannya. Ia pun keluar dari apartemen tanpa berkata apa-apa lagi.


"F*ck," umpat Alex.


Ia begitu frustasi dengan perasaannya sendiri. Cinta ini begitu menyiksanya. Ingin memiliki Nadia tapi di lain sisi juga sangat takut untuk kehilangan.


Sedangkan Nadia kini sudah lebih tenang dari sebelumnya. Ia bertahan untuk membereskan masalahnya satu persatu. Ia berharap agar pekerjaannya lancar hingga dapat membayar hutang dengan uang bonusnya pada mama Alex, dan di dalam waktu itu ia pun berharap dapat menunjukkan pada Alex jika cinta itu ada namun jika hingga pada akhirnya Alex tak bisa merasakannya maka ia akan mundur dengan lega.


Lega, karena setidaknya telah mencoba.


***


Setengah jam berlalu Nadia pun bertemu dengan Heru dan menunggu pesawat bersama di ruang tunggu penumpang.


Ada yang berbeda dengan asisten Alex itu. Jika beberapa hari sebelumnya ia begitu antusias dan penuh semangat untuk pergi dinas ini, namun ketika bertemu langsung Heru lebih banyak diam.


"Apa anda baik-baik saja ?" Tanya Nadia karena Heru terlihat menjaga jarak dengannya.


"Hu'um, saya baik-baik saja," jawab Heru singkat. Bagaimana mau baik-baik saja jika bossnya terus menerus menekannya untuk tak berdekatan dengan Nadia bahkan Alex menyuruh asistennya itu untuk menjaga pandangannya.


Apa yang Heru dapatkan jauh dari ekspektasi, tadinya ia ingin melakukan pendekatan tapi nyatanya dirinya tak bisa melakukan itu.


Nadia kembali menyibukkan diri dengan ponselnya, ia melakukan itu karena Heru terlihat tak nyaman dengannya. Mereka duduk berjauhan dalam situasi yang canggung hingga panggilan untuk menaiki pesawat pun terdengar.


***


Sore hari Nadia dan Heru baru sampai di hotel karena mereka menuruti perintah Alex untuk langsung menuju lokasi proyek begitu sampai di Jogja. Padahal jika dengan Alex, lelaki itu akan langsung membawa istrinya ke hotel dengan alasan untuk beristirahat padahal yang sebenarnya terjadi tentu bukanlah itu.


Sebenarnya sebutan dinas kerja tidak cocok disematkan jika itu bersama Alex. Julukan bulan madu akan lebih tepat lagi, karena Alex akan mengurung Nadia di kamar untuk memadu kasih dan malamnya mereka akan berkeliling untuk kota dan melakukan makan malam romantis. Baru esok harinya mereka akan pergi ke tempat projek itu dikerjakan.


Alex akan menatapi istrinya itu dengan kagum karena saat bekerja Nadia akan menjadi seseorang yang sangat berbeda. Ia serius, detail dan perfeksionis seperti halnya dirinya sendiri.


Baik Alex maupun Nadia sama-sama memikirkan apa yang telah mereka lalui di kota jogjakarta beberapa waktu yang lalu, walaupun kini keduanya sedang berada di tempat yang berbeda dan saling berjauhan. Mereka memikirkan juga merindukan hal yang sama.


"Kami baru sampai hotel, Pak," ucap Heru ketika baru saja turun dari mobil yang membawa mereka. Ia memutar bola matanya malas karena Alex meneleponnya bagai teror.


Sedangkan Nadia yang berjalan di depannya dan tak mendengar itu semua. Alex hanya bertanya satu kali melalui pesan ketika ia baru saja sampai. Setelah itu ia tak menghubunginya lagi, padahal yang sebenarnya terjadi adalah Alex terus menerus meneror asistennya hanya untuk mengetahui keberadaan Nadia.


"Awas !!!" Panik Heru dan ia pun segera menangkap tubuh Nadia yang tiba-tiba limbung.


Beruntung bagi Nadia karena Heru segera menangkap tubuhnya hingga ia tak terjatuh. Tanpa sadar asisten Alex itu mematikan panggilan bosnya dengan sepihak.


"Kamu gak pa-pa ?" Tanya Heru.


"Ah maaf... Saya sedikit pusing mungkin hanya karena terlalu lelah saja," jawab Nadia seraya berusaha untuk berdiri tegak karena tiba-tiba pandangannya terasa gelap.


"Duduk dulu, kalau begitu," ucap Heru menyarankan dan Nadia pun menurutinya.


Sebenarnya sejak tadi pagi sebelum berangkat dinas kerja Nadia mulai merasakan pening di kepalanya. Bahkan ia tak sarapan karena merasa mual.


"Kayanya masuk angin," gumam Nadia pada dirinya sendiri.


"Ha...,"


"Kamu kenapa ?" Tanya Alex cepat. Bahkan Nadia belum sempat menyelesaikan kata 'halo' yang diucapkannya.


"A-aku gak pa-pa," jawab Nadia terbata.


"Jangan bohong, kamu mau jatuh kenapa ?" Tanya Alex lagi.


"Kok kamu tahu ?" Bukannya menjawab, Nadia malah balik bertanya.


"Gak penting aku tahu dari mana, yang penting kamu kenapa ?" Tanya Alex lagi penuh tuntutan.


"Gak tahu, aku tiba-tiba saja merasa pusing," jawab Nadia.


Mendengar jawaban istrinya, Alex pun segera mengalihkan panggilannya menjadi video.


"Kamu sakit ? Apa aku harus ke Jogja sekarang juga ?" Tanya Alex tanpa bisa menyembunyikan rasa cemasnya ketika panggilan itu terhubung.


"Enggak sakit, kayanya kecapean sama masuk angin aja," jawab Nadia.


"Tadi siang makan ?" Tanya Alex.


Nadia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Makan teratur kok, nanti malam juga mau makan sama Heru. Katanya, dia tahu tempat makan yang enak," ucap Nadia.


"Dasar bajing*n....," Gerutu Alex dengan wajahnya yang terlihat kesal.


"Apa ?" Tanya Nadia.


"Gak apa-apa, kamu istirahat di kamar hotel saja. Aku pesankan makan malam,"


"Aku bisa....,"


"Aku bilang aku pesankan !" Potong Alex.


"Tak usah, aku bisa sendiri,"


"Nadia !" Sentak Alex.


Nadia segera mematikan panggilan itu, entah kenapa ia begitu kesal hanya karena suara Alex yang meninggi ketika menyebutkan namanya. Hanya karena itu saja matanya mengembun menahan tangisnya.


***


Esok paginya Nadia kembali merasakan mual. Ia pun melihat kalender dan mendapati jika dirinya memang sudah terlambat datang bulan selama 2 hari. Tapi rasanya terlalu cepat jika ia menyimpulkan bahwa rasa mualnya itu karena sebuah kehamilan.


"Bagaimana jika aku hamil ?" Tanya Nadia pada dirinya sendiri dengan perasaan khawatir.


Sebenarnya yang sangat Nadia cemaskan adalah bagaimana reaksi Alex jika dirinya benar mengandung. Tentunya lelaki itu belum siap menjadi seorang ayah apalagi kondisi mereka sedang memburuk saat ini.


Meskipun Nadia pernah berucap memintanya untuk jangan dulu hadir dalam hidupnya, tapi instingnya sebagai wanita merasakan bahagia ketika tanda kehadiran buah hatinya sudah terasa. Belum juga pasti ia ada, namun Nadia sudah merasakan cinta dalam hatinya.


"Mama akan melindungi kamu," ucap Nadia seraya mengusap perutnya yang masih datar. Meksipun ia merasakan pening namun Nadia berusaha sekuat mungkin untuk menahannya agar dapat menyelesaikan pekerjaan hari ini dengan baik karena Alex merubah rencana kerja mereka dan memadatkannya.


***


Pukul 9 pagi di hari ke tiga Nadia dan Heru sudah kembali ke Jakarta. Semua lebih cepat dari yang diperkirakan karena Alex memerintahkan seperti itu. Meksipun Nadia dan Heru yang berada di jogjakarta namun keduanya berada di bawah kendali Alex.


Lelaki itu begitu dominan dan tak terbantahkan. Jadwal yang begitu padat membuat Nadia kelelahan. Seperti pagi ini wajahnya terlihat pucat ketika mobil dinas dari kantor Alex menjemput mereka di bandara dan mengantarkan Nadia lebih dulu ke kantornya. Itu perintah Alex tentu saja.


"Terimakasih sudah mengantarkan saya," ucap Nadia yang telah tiba di kantornya dan Meta sudah menanti kedatangannya dengan antusias seperti seseorang yang sudah lama tak bertemu.


"Sama-sama," sahut Heru sungkan dan ia pun hendak beranjak pergi dengan supirnya tapi suara teriakan Meta membuatnya urung.


"Nadia !" Ucap Meta dengan suara meninggi karena tubuh Nadia yang tiba-tiba menjadi limbung. Beruntung ada beberapa orang disana yang dapat menahannya.


Heru pun turun dari mobil yang ia tumpangi dan segera berlari kecil menghampiri.


"Nadia kenapa ?" Tanya Meta pada Heru dengan pandangan mata curiga.


"Saya tidak tahu, selama di Jogja pun bu Nadia terlihat kurang sehat," jawab Heru.


"Ayo kita bawa ke rumah sakit 'Mulia' !" Ajak Heru, dan ia pun memapah Nadia yang masih setengah sadar dengan Meta menuju rumah sakit besar yang letaknya tak jauh dari tempat Nadia bekerja.


To be continued ❤️


vote yuuuk mumpung Senin...


mon maap baru up lagi 🙏