
Alex eratkan dekapannya pada tubuh Nadia yang meringkuk bagai janin. Aroma bunga menguar dari rambutnya yang panjang, beberapa kali Alex memberikan kecupannya pelan. Ia tak ingin membangunkan istrinya yang sudah tertidur pulas itu. Nafas Nadia yang menderu teratur dan bibirnya yang sedikit terbuka menandakan ia telah memasuki alam mimpinya. Alex amati wajah Nadia dalam cahaya temaram, "Cantik," gumam Alex pelan seraya kembali memberinya ciuman.
Waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi dini hari tapi Alex belum bisa memejamkan matanya. Apa yang terjadi di hari ini membuatnya sulit untuk tidur. Yang Alex lakukan hanyalah mendekap erat Nadia seolah tak ingin kehilangannya. Malam ini Alex ingin merasakan Nadia dalam pelukannya, merasakan Nadia nyata bersamanya. "Jika kamu tahu, kamu pasti berpikir jika aku kehilangan kendali atau gila karena melakukan ini. Memelukmu semalaman hanya untuk merasakan kehadiranmu. Seandainya kamu tahu, betapa aku takut kehilanganmu karena aku akan tersesat tanpamu," batin Alex dalam hati sambil terus menatapi wajah Nadia dan membelai lembut rambutnya yang panjang dan tak beraturan.
"Aku tak ingin sendirian lagi," bisik Alex tepat di telinga Nadia dan itu membuat Nadia menggeliatkan tubuhnya pelan.
Alex benarkan letak tangannya agar bisa terus mendekap Nadia tanpa membangunkannya, "ssshhhhh," lirih Alex berusaha untuk membuat Nadia tetap dalam alam mimpinya padahal ia lah yang terus menggangu istrinya itu.
Nadia kembali tidur meringkuk dan Alex kembali menatapi wajahnya dalam cahaya temaram, "You' ll pull through it, you can do it," (kamu akan melewatinya, kamu bisa melakukannya ) ucap Alex lirih tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun. Ia tahu Nadia seseorang yang kuat. Beberapa kali ia melewati masa sulit seorang diri hingga kini masih bertahan di sisinya. Tapi sekarang situasinya berbeda, Alex akan selalu bersamanya di setiap waktu.
"kamu aman bersamaku, kali ini kita akan lalui semuanya bersama," masih Alex berkata dengan lirih pada istrinya yang tertidur pulas. "Aku mencintaimu, dan akan selalu begitu," lanjutnya lagi dan ia pun mengeratkan pelukannya sembari memejamkan mata berusaha untuk memasuki alam mimpi walau hanya sekejap saja.
Alex bernafas lega dengan senyuman terukir di wajahnya karena saat ini Nadia membelitkan tangannya dan membalas pelukan Alex sama eratnya. Sungguh Alex merasa nyaman luar biasa dan merasakan berada di tempat yang tepat yaitu dalam dekapan wanita yang dicintainya, Nadia.
***
"Sayang !" ucap Alex panik karena ia merasakan 'kosong' dalam pelukannya. Ia pun bangkit dengan tergesa dan berjalan keluar kamar ketika yakin Nadia tak ada di sampingnya.
Rasa paniknya menghilang ketika ia mendapati Nadia yang tengah berdiri di dapur dalam balutan kaos hitam milik Alex yang terlihat kebesaran di tubuhnya. "Pagi," sapa Nadia seraya meletakkan 2 gelas mug yang bertuliskan namanya dan juga Alex di atas meja. Baru saja ia membuatkan kopi untuk Alex dan teh untuknya sendiri. Bukannya menjawab sapaan sang istri, yang Alex lakukan adalah berjalan mendekati dan memeluk erat Nadia dari arah belakang.
Mendapatkan perlakuan seperti itu membuat Nadia mengerutkan kedua alisnya karena tak mengerti kenapa Alex bersikap lain pagi ini. "ada apa ?" tanya Nadia tapi Alex yang membenamkan kepalanya di ceruk leher Nadia hanya menggeleng pelan.
Nadia ingat -ingat apa yang terjadi semalam, apa ia ada salah ucapan atau sikap hingga membuat Alex bersikap seperti ini. "Apa aku melakukan kesalahan ?" tanya Nadia, tapi lagi-lagi Alex menggelengkan kepalanya pelan.
"Lalu kenapa ?" tanya Nadia untuk ketiga kalinya.
"Aku tak suka terbangun sendirian, aku tak mau ditinggalkan," jawab Alex pada akhirnya.
Nadia menarik nafas dalam dan membelai lembut tangan Alex yang tengah mendekapnya erat. ,"Aku tak pergi ke mana-mana, aku hanya membuatkanmu kopi," jawab Nadia dengan suaranya yang tenang.
Alex tak mengucapkan sepatah kata pun, yang ia lakukan hanya terus memeluk Nadia sembari menikmati aroma tubuh istrinya itu dengan intens.
"Maafkan aku yang membuatmu cemas, aku tak akan melakukannya lagi. Aku tak akan mendiamkanmu apalagi pergi dari sisimu. Aku bukan apa-apa tanpamu," ucap Nadia berusaha menenangkan suaminya itu. "Hu'um.." gumam Alex menyahuti ucapan istrinya itu.
Cukup lama Alex lakukan itu, memeluk Nadia dengan membenamkan wajahnya di ceruk leher sang istri. Menikmati dan merasai kehadiran Nadia dalam dekapannya. Sedangkan Nadia membiarkan Alex melakukan itu padanya dan ia pun menikmati pelukan suaminya.
"Ayo kita mandi bersama," ajak Alex seraya melepaskan belitan tangannya dan berganti menautkan jemarinya pada genggaman tangan Nadia dan istrinya itu pun menurutinya dengan berjalan di belakangnya.
***
"Love you," ucap Alex pada Nadia sebelum ia turun dari mobilnya. Saat ini ia tengah mengantarkan istrinya itu pergi bekerja. Tanpa Nadia tahu jika Alex hampir semalaman tidak tidur dan hanya merangkul sembari mengaguminya saja.
"Love you more, Sayang," balas Nadia dan ia pun membuka pintu tapi Alex menahan lengannya agar Nadia tidak terburu-buru pergi. Merasa senang dengan jawaban yang Nadia berikan membuat Alex mencuri sebuah kecupan dari bibir istrinya itu.
"Oh Gosh... bikin kaget saja," ucap Nadia sambil mengusap dadanya. "Tapi aku harus segera pergi, ada briefing pagi," lanjutnya kemudian.
"ok, selamat bekerja. Aku jemput nanti sore. Love you," sahut Alex dan ia pun membiarkan Nadia keluar dari mobilnya.
"Love you more," jawabnya seraya menutup pintu. Nadia lambaikan tangannya pada mobil Alex yang bergerak menjauhi. Sedangkan Alex mengulum senyumnya sembari memperhatikan sang istri melalui kaca spion di atas kepalanya. Ia merasa lega karena kini setiap masalah bisa diselesaikan dengan cepat tanpa berlarut-larut. Komunikasi yang baik membuat semuanya menjadi mudah.
Nadia berjalan memasuki kantornya sembari membalas setiap sapaan dan senyuman yang ditujukan padanya, tapi tetap dalam kepalanya hanya ada tentang Alex saja.
Sikap Alex yang manis membuatnya nyaman luar biasa, tadi pagi pun ketika mandi bersama Alex memperlakukannya dengan sangat lembut. Ia sabuni dan sirami tubuh Nadia dengan pelan dan seksama dengan pandangan mata penuh puja.
Tak ada nafs* berlebihan, malah suaminya itu tak meminta haknya padahal Nadia akan dengan senang hati melayaninya tapi Alex tak meminta itu. Ia benar-benar hanya memandikan istrinya saja.
Nadia tersenyum dengan wajah merona merah ketika ingat itu semua. Alex dan segala pesona yang dimilikinya selalu mampu membuat perasaan Nadia luluh lantak dalam cinta. "Ah indahnya cinta," gumam Nadia lirih dan ia pun memasuki ruang kerjanya.
Baru berjalan beberapa langkah saja Nadia sudah disambut beberapa orang yang yang mengucapkan kata terimakasih padanya seraya sedikit membungkukkan tubuh mereka dan itu membuatnya terheran. "kenapa berterimakasih padaku ?" tanya Nadia dalam hati sambil berkerut alis tak paham tapi ia terus berjalan menuju tempat kerja Dian si anak magang.
"Di, kena....?
"Mbak Nadia, terimakasih !!" potong Dian tanpa membiarkan Nadia menyelesaikan kalimatnya. Dian menunjukkan beberapa cup berisikan makanan yang berbeda.
"Hah ?" tanya Nadia tak paham.
"Pak Henry mengirimkan makan siang untuk divisi kita," ucap Dian. "Dan makanannya enak banget dari restoran hotel bintang 5," lanjut Dian antusias.
Nadia tersenyum menanggapinya tapi dalam hatinya ia merasa kesal karena Alex mengirimkan makan siang untuk banyak orang tapi tidak untuknya.
"Oh, ya udah selamat makan. Aku balik ke ruanganku ya," ucap Nadia. Ia mengurungkan niatnya untuk mengajak Dian makan siang.
"Oke, Mbak," jawab Dian dengan mulutnya yang penuh.
"Ck ! Alex mengirimkan makanan untuk banyak orang tapi untukku tidak," decak Nadia terdengar kesal juga cemburu. Ia berjalan sembari mencebikkan bibirnya karena kesal dan kembali ke ruangannya.
"Dari mana saja ?" tanya Alex yang tengah membenahi makanan di atas meja kerja Nadia. Bahkan ia telah membuka jasnya ketika melakukan itu. Sepertinya Alex datang begitu Nadia pergi meninggalkan ruang kerjanya.
"Kamu gak lupa sama aku ?" tanya Nadia malu-malu.
Alex menautkan kedua alisnya karena bingung. "Lupa ?" tanya Alex kemudian.
"Hu'um, tadi aku pergi untuk mengajak Dian makan siang tapi ternyata kamu udah kirim makanan untuk semua bagian di divisi aku,"
"Tambah Meta, aku juga mengiriminya makan siang," ralat Alex memotong ucapan istrinya.
"Ohh... tapi aku tak mendapatkan apa-apa, aku kira kamu lupa," lanjut Nadia sambil menahan rasa malu.
"Untukmu spesial, tak hanya makan siang... tapi aku mengirimkan diriku sendiri sebagai makanan penutup mu," ucap Alex sembari mengedipkan sebelah matanya penuh maksud dan Nadia yang paham akan kode itu mengulum senyumnya dengan pipi merona merah.
"Tadinya aku ingin mengajakmu makan di luar, tapi aku tahu kalau kamu sedang banyak pekerjaan oleh karena itu aku membawa makan siang kita kesini," ucap Alex.
"Tapi kenapa harus mengirimkan makanan untuk banyak orang ?" tanya Nadia ingin tahu.
"Sogokkan agar aku bisa makan siang dengan manager mlereka berduaan saja," jawab Alex sekenanya dan itu membuat Nadia kembali merona.
"Bukannya kamu juga sibuk ?" tanya Nadia.
"Hu'um, tapi aku ingin bertemu dan makan siang denganmu jadi disini lah aku sekarang. Ayo jangan banyak tanya, kita makan siang agar kamu bisa segera menikmati makanan penutup mu," Alex kembali mengedipkan sebelah matanya penuh goda.
Nadia tertawa dan menuruti perintah suaminya itu, ia duduk berhadapan dengan Alex dan menatapi wajahnya dengan lekat. Teringat jika Alex beberapa kali memintanya untuk pindah agar bekerja satu kantor dengannya. Apa ia harus menuruti Alex ? hatinya terenyuh dengan apa yang Alex lakukan saat ini. Walaupun sibuk dan letak kantor mereka berjauhan tapi Alex sempatkan diri untuk menemui dan menemaninya makan siang. Hal manis yang Alex lakukan membuat Nadia merasa dicintai.
Dan bagi Alex, mengapa ia lakukan itu semua ? agar Nadia tahu jika ia tak sendirian. Alex ingin Nadia tahu jika ia akan selalu ada untuk istrinya itu.
To be continued ♥️
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiah ya.
terimakasih juga yang sudah memberikan vote berupa koin.
Semoga rezeki reader semua senantiasa berlimpah.