
Cukup lama Alex lakukan itu, menundukkan kepalanya meresapi rasa rindunya yang tak tertahankan, hingga bunyi bel pintu menyadarkannya dan ia pun mengusap pipinya yang masih basah dengan punggung tangan. Menarik nafas dalam sebelum ia berdiri dan melangkah gontai menuju pintu.
"Mama ?" ucap Alex sedikit terkejut. Berdirilah sang mama dengan banyak kantong makanan di tangannya ketika pintu itu terbuka.
"Kamu pasti belum makan," ucap mamanya sembari menerobos masuk.
"Bagaimana mama tahu ?" tanya Alex seraya menutup pintu.
Mama Alex tak menjawab pertanyaan anaknya itu, yang ia lakukan adalah berjalan menuju dapur dan menyiapkan makan malam untuk anak kesayangannya.
Alex duduk dalam diam dan sang mama menyiapkan makanan. Beberapa kali sang mama mencuri pandang pada anaknya yang tertunduk lesu. Matanya sedikit sembab dan memerah, mama Alex tahu jika anaknya baru saja menangis.
Padahal ia tahu jika Alex seseorang yang kuat dan hampir tak pernah menangisi apapun yang terjadi dalam hidupnya tapi kini ia bisa melihat Alex yang begitu rapuh. Meskipun ia kesal dengan yang Alex lakukan hingga Nadia pergi tapi bagaimanapun anak tetaplah anak dan karena itulah mama Alex berada di sini, yaitu menemani Alex yang tengah dirundung rasa sepi.
"Makan dulu," ucap mama Alex sembari meletakkan sepiring penuh makanan kesukaan anaknya itu. Ia pun mengusap puncak kepala Alex penuh kasih sayang.
Tanpa aba-aba, Alex memeluk erat tubuh sang mama yang berdiri di sebelahnya, "Ma, maafin Alex ya, lagi-lagi Alex bikin Mama kecewa," ujarnya pelan.
"Sudahlah, ayo makan dulu," timpal sang mama tapi Alex malah menggelengkan kepala.
"Ma, aku jatuh cinta sama menantu Mama. Aku jatuh cinta pada Nadia tapi malah terus menyakitinya," ucap Alex tanpa berani melihat wajah sang mama.
Mama Alex menarik nafas dalam dan kembali mengusap puncak kepala anaknya dengan lembut. Ia terus mendengarkan luapan perasaan Alex tanpa menghakiminya.
"Jika benar mencintainya, buktikanlah...," sahut sang mama tanpa menghentikan belaiannya yang lembut. "Nadia pun sangat mencintai kamu, perbaiki pernikahanmu sebelum terlambat," lanjut mama Alex kemudian.
Alex mengangguk pelan tanda setuju, "Yakinkan hati kamu, dan juga yakinkan Nadia bahwa dia satu-satunya wanita yang kamu cinta, Alex," ucap mama Alex menasehati.
"Hanya Nadia yang aku cinta, Ma," sahut Alex dan ia pun mengeratkan pelukannya pada sang mama.
"Tak hanya dengan ucapan tapi buktikanlah dengan perbuatan. Jika kamu mencintai Nadia, lepaskan masa lalumu. sekarang kamu tahu bagaimana Lola yang sebenarnya bukan ?"
"Kini hanya ada Nadia seorang, tak ada wanita lain yang aku inginkan selain dia. Tentang Lola, mama jangan khawatir. Aku sudah menyelesaikannya," jawab Alex.
"Syukurlah.... Ayo sekarang makan dulu, jangan siksa dirimu seperti ini. Butuh tenaga ekstra ketika nanti menjemput Nadia. Mama ingin kalian segera membuatkan cucu untuk mama," ucap mama Alex sembari menguraikan pelukan anaknya.
Alex yang mendengar itu merasakan panas di pipinya. Ia merasa sedikit malu ketika sang mama berucap seperti itu.
"Kenapa ? bener kan yang mama bilang ? hamili lagi Nadia biar dia gak pergi ninggalin kamu," ucap mamanya tanpa rasa bersalah.
" Mama !!" keluh Alex, tak percaya jika mamanya mampu berkata-kata seperti itu.
"Apa salahnya ? benarkan apa yang mama katakan ?" kilah mama Alex. "Jika kalian kembali bersama mama akan berikan hadiah," lanjutnya lagi.
"Kami pasti akan kembali bersama dan kali ini aku tak akan melepaskannya lagi," sahut Alex. Ia tujukan kata-kata itu untuk dirinya sendiri.
"Baguslah... dan mama percaya sama kamu, mama selalu percaya dengan mu jadi kali ini jangan kecewakan mama ya,"
Alex menganggukkan kepala menyetujui, ia pun menikmati makan malam bersama mamanya yang selalu mencintainya tanpa sarat.
Cukup lama mamanya menemani Alex yang tengah kesepian, mendengarkan cerita Alex yang tak ada habisnya. Dalam hatinya ia bersyukur pada Tuhan karena membawa Nadia pada hidup Alex ternyata sesuatu yang benar, Nadia adalah obat bagi Alex walaupun kini keduanya tengah diuji akan kesungguhan cinta mereka.
Alex tak lagi bermain wanita tak lagi menghabiskan waktu di tempat hiburan malam dan tak lagi minum minuman terkutuk. Jika dulu Alex selalu menghabiskan waktu akhir pekan nya untuk berpesta tapi tidak kali ini. Ia hanya berdiam diri di apartemennya. Dan yang paling membuat mama Alex bahagia, kini anaknya tak lagi mati rasa. Alex dapat kembali jatuh cinta.
"Kenapa mama senyum-senyum ?" tanya Alex menghentikan ceritanya.
"Engga pa-pa, ayo teruskan ceritamu,"
"Enggak, sampai mama bilang kenapa mama senyum-senyum seperti itu," sahut Alex. Ia masih saja bermanja pada mamanya.
"Mama senyum karena bahagia, kini kamu banyak berubah. Tak lagi keluyuran di luar, tak lagi bergaul dengan wanita yang tak jelas. Tahukah kamu ,Nak ?mama yang tua ini merasa bahagia juga lega," jawab mama Alex sembari membelai lembut wajah Alex penuh kasih sayang.
"Mama pasti tahu siapa yang bisa merubahku seperti ini," ucap Alex. Wajahnya berubah sendu karena kembali mengingat istrinya, Nadia.
"Ya mama tahu, cepat kejar dia sebelum terlambat,"
***
Alex rebahkan tubuhnya di atas ranjang yang dingin, matanya masih menatapi buliran air hujan yang belum juga reda. Mamanya telah pulang dari beberapa jam yang lalu, meninggalkannya dalam sepi.
Alex rasakan hampa dalam dirinya, tak ada Nadia di sisinya membuat Alex begitu hancur. "Nad....Sayang...., aku membutuhkanmu," ucap Alex lirih sembari memejamkan matanya berusaha untuk memasuki alam mimpi walaupun begitu sulit. Hanya suara hujan dan petir yang saling bersahutan yang menjadi temannya di malam yang sunyi ini
***
Esok paginya Alex terbangun dengan wajah sembab dan kantung mata yang terlihat begitu jelas. Seseorang berusaha menutupi itu semua dengan keahliannya menggunakan make up.
"Anda telah siap ?" tanya seseorang yang bertugas untuk menjemputnya.
"Ya," jawab Alex tegas dan ia pun berjalan menuju sebuah studio yang di gunakan untuk mewawancarai dirinya.
Berdirilah seorang wanita yang sudah berpenampilan sama rapihnya seperti Alex. Matanya berbinar ketika melihat kedatangan Alex dan menyambutnya hangat.
"Pak Alexander Henry Salim," sapa wanita itu begitu antusias sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Panggil Henry saja," sahut Alex seraya meraih uluran tangan itu dan menjabatnya erat.
Sang wanita melirik dengan ujung mata, melihat cincin emas yang melingkar sempurna di jari manis Alex dan ia pun tersenyum kecut karena kecewa.
"Ternyata rumor itu benar ya," ucap wanita yang ternyata bernama Imelda itu. Ia bertugas mewawancarai Alex hari ini.
"Rumor ?" tanya Alex berkerut kening tak paham.
"Rumor bahwa anda sudah menikah," jawabnya.
"Oh, tu bukan rumor, saya memang sudah menikah," sahut Alex membenarkan.
"Oh ya ? selamat, dia pasti menjadi wanita yang paling beruntung di dunia," ucap Imelda lagi.
"Saya lah yang beruntung mendapatkan dia," sahut Alex dengan jelasnya hingga wanita itu tak bisa berkata apa-apa lagi.
Padahal sebelumnya Imelda sangat antusias dan begitu bersemangat ketika ia mendapatkan tugas untuk mewawancarai Alex.
Pesona Alex sebagai pengusaha muda yang sukses dan berparas tampan menarik perhatiannya. Tadinya ia berharap bisa mengenal Alex lebih dekat dan lebih intim lagi tapi ternyata Alex kini mengakui pernikahannya dengan bangga dan lelaki itu mengabaikannya walaupun Imelda menunjukkan rasa tertariknya dengan begitu kentara.
Ia menatap dalam mata Alex ketika berbicara, dan sesekali mencondongkan tubuhnya agar bisa lebih dekat dengan lelaki itu tapi Alex tak menanggapinya. Cukup lama keduanya saling berbicara sebelum wawancara itu dimulai.
Lampu-lampu pun dinyalakan, semua orang sudah pada tempatnya masing-masing sesuai tugas mereka, Alex pun sudah duduk saling berhadapan dengan Imelda dan siap untuk diwawancarai
Kamera tertuju pada keduanya, beberapa kali wanita itu bergerak dengan bahasa tubuh yang menggoda namun Alex yg terus mengabaikannya.
Banyak pertanyaan yang dilontarkan dan Alex menjawabnya dengan jelas, tegas dan tak berbelit-belit.
"Anda baru saja menandatangani kontrak kerjasama dengan perusahaan AAA yang merupakan perusahaan raksasa di Asia. Itu adalah prestasi yang sangat membanggakan. Anda sungguh luar biasa," puji Imelda yang tak bisa menutupi kekagumannya.
"Terimakasih," jawab Alex singkat. Sesekali Alex mengangkat tangannya hanya untuk sekedar menyentuh bibir atau alisnya yang tak terasa gatal padahal yang sebenarnya terjadi adalah ia ingin memperlihatkan cincin pernikahannya.
"Anda sangat hebat karena bisa meraih kesuksesan dalam waktu yang singkat, maksud saya anda memang sudah sukses tapi usaha anda semakin sukses dalam beberapa bulan terakhir ini. Bahkan saya juga mendengar kabar jika anda membeli saham PT XYZ yang belum lama ini bekerja sama sama dengan perusahaan anda. Jadi apa rahasia di balik kesuksesan anda ?"
Alex mendengarkan pertanyaan itu baik-baik dan tersenyum penuh arti sebelum ia menjawab."Pernikahan yang membawa kesuksesan pada saya," jawab Alex dengan jelasnya.
Imelda yang mendengar itu, menahan nafas dan bertanya dengan matanya apa Alex yakin memberikan Jawaban seperti itu karena ia tahu jika Alex sangat tertutup dengan kehidupan pribadinya.
"Ya, my marriage bring me to success," ( pernikahanku membawaku menuju kesuksesan ). ucap Alex mengulang jawabannya.
"Ooh, betapa sebuah kejutan yang menyenangkan. Jadi anda sudah menikah ?" tanya Imelda seolah terkejut, padahal ia telah tahu kabar itu sebelum wawancara ini di mulai.
"Ya, saya menikah dengan seorang wanita luar biasa. Dialah yang membantu saya dalam meraih kesuksesan," jawab Alex.
"Jadi istri anda itu semacam keberuntungan ?"
"Lebih dari itu, Nadia adalah segalanya bagi saya." jawab Alex tanpa sedikitpun rasa ragu.
"Wanita beruntung itu bernama Nadia ?"
"Nadia Wirahma," jawab Alex membenarkan. "Kami sudah menikah beberapa bulan yang lalu dan sayalah lelaki yang paling beruntung karena mendapatkan istri sepertinya. She is so smart ( dia sangat cerdas ), penuh cinta, penyabar, pengertian, sangat mendukung pekerjaan saya dan juga setia. Dia lah Nadia Wirahma, wanita paling sempurna dan paling saya cintai." papar Alex dengan jelasnya. Matanya berbinar bahagia ketika bercerita tentang wanita yang sangat dicintainya.
"Benar kata pepatah di belakang lelaki yang sukses ada seorang wanita yang menemaninya," ucap Imelda. Ia menyunggingkan senyum kekecewaan di wajahnya.
"Di sebelahku," ralat Alex.
"Maaf ?" tanya Imelda berkerut alis.
"Saya meraih kesuksesan karena kehadiran Nadia di sisi saya, dia tak pernah berada di belakang tapi selalu di sebelah saya menemani tiap langkah bersama," jawab Alex dengan jelasnya.
This episode dedicated to Kak Imas Tuti ♥️
Happy anniversary yaaa kak.. semoga samawa, bahagia selalu sehidup dan sesurga... Aamiin...