In Love

In Love
That Kiss



Happy reading ❤️


"Sorry, kita gak bisa bersenang-senang malam ini karena gue ada urusan." Ucap Alex seraya meninggalkan wanita yang entah bernama siapa itu dengan g gara-gara lo, Nadia," gumam Alex lirih. Bagaimana mungkin ia bisa meninggalkan seorang mangsanya padahal saat ini dirinya sangat menginginkan pelepasan yang bisa membuatnya pening karena rasa nikmat yang bukan kepalang.


"Kamu berhutang sesuatu padaku, Nadia...," Gumam Alex frustasi.


Ia tiba di apartemennya pada dini hari, dan melemparkan dirinya ke atas sofa dan teringat bagaimana Nadia duduk di atas lantai dengan kacamata besarnya dan menjelaskan tentang kendala yang Alex alami dengan mudahnya.


"Nadia... Nadia... Nadia," gumam Alex setengah mabuk. Ia tersenyum ketika mengingat itu semua, namun tak lama senyum itu surut dari bibirnya berganti pandangan mata muak.


"ingat Alex, semua wanita itu sama. Mereka akan meninggalkan lo begitu saja, meskipun lo mati-matian berjuang untuknya. So... gunakan mereka hanya sebatas pemuasmu saja dan Nadia telah berhutang satu kali untuk itu." Racau Alex seraya memejamkan matanya.


***


"Hah... Hah.. hah...," Nadia terbangun karena mimpi buruk yang baru saja menghampirinya.


"Mbak baik-baik saja ?" Tanya Dian si anak magang yang kini jadi teman sekamarnya.


"Aku mimpi jelek banget," jawab Nadia sembari mengusap dahinya yang berpeluh. Ia bermimpi Alex menceburkannya ke dalam laut.


"Ah sialan, aku lagi liburan aja dia masih nindas lewat mimpi," ucap Nadia lirih.


"Siapa yang nindas Mbak ?" Tanya Dian setengah mengantuk.


"Nghh nggak kok, ayo kita tidur lagi. Besok acara di mulai dari pagi sekali." Ajak Nadia dan ia pun kembali merebahkan tubuhnya. Tak lupa Nadia kembali berdoa agar Alex tak datang lagi dalam mimpinya.


Esok paginya Nadia terbangun dengan bayangan mimpinya tentang Alex. Terbiasa satu minggu ini hidup bersama dengannya membuat ia sedikit merasa ada yang kurang ketika tak bertemu dengan suaminya itu.


Nadia memeriksa ponselnya dan tak ada pesan ataupun panggilan telepon dari suaminya yang ada hanya beberapa pesan dari ayah ibunya agar ia berhati-hati selama mengikuti kegiatan kantor itu.


"Nadia... Udah aku bilang berkali-kali jangan berharap lebih pada Alex. Ia tetaplah Alex yang menyebalkan, cerita perjodohan yang menggemaskan hanya terjadi di dalam novel." Benak Nadia dalam hatinya, ia memperingatkan dirinya sendiri untuk tak terjebak dalam pernikahan bohongan ini.


Bagaimana Nadia tak terbawa perasaan, Alex adalah lelaki kedua yang dekat dengannya setelah Bimo dan sifat mereka sungguh bertolak belakang. Jika Bimo bersikap lembut dan melindungi sedangkan Alex sebaliknya, tapi meksipun begitu perhatian yang Alex berikan cukup berdampak besar pada hatinya.


Ia ingat bagaimana 2 malam lalu Alex menatapnya tanpa jeda dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Nadia merasakan degupan jantungnya yang menggila. Bahkan setelahnya ia sangat sulit untuk tidur.


"Mbak, ngapain sih ngelamun mulu ? Ayo semua udah siap di luar." Ajak Dian. Kali ini Nadia menghabiskan waktunya dengan teman kantor yang lain karena Meta yang sedang berbadan dua tak bisa ikut.


"Ah iya, ayo kita pergi sekarang !" Nadia berusaha untuk bersemangat di hari pertamanya dan menghilangkan pikiran tentang Alex meski hanya sesaat.


***


Acara hari ini dipenuhi oleh kegiatan bermain bersama di daerah pantai. Mereka membuat kelompok dan saling berlomba. Nadia bersorak gembira karena kelompok yang ia pimpin beberapa kali memenangkan lomba.


Namun meksipun Nadia dalam euforia kemenangan tapi beberapa kali ia memeriksa ponselnya dan tak ada satu pesan pun dari seseorang yang ia harapkan untuk mengirimkannya walaupun hanya sekadar mengatakan 'hai'.


"Mbak Nadia keren banget !" Ucap salah seorang yang menjadi anggotanya.


"Kalau kita menang terus bisa jadi juara umum loh, Mbak," timpal yang lain.


"Ah oke, permainan selanjutnya harus tetap kompak ya." Ucap Nadia penuh semangat dan lagi-lagi berusaha menghilangkan Alex dari kepalanya.


"Hebat kamu, Nad," puji pak Adi yang merupakan managernya. Nadia yang mendengar itu hanya tersenyum simpul. Tak hanya cerdas namun Nadia juga sangat gesit dan cepat tanggap dalam setiap tindakannya. Hanya satu yang kurang darinya yaitu tak begitu berpengalaman dalam hubungan asmara meskipun ia dan Bimo berhubungan selama 7 tahun lamanya namun bukanlah hubungan cinta romantis dan penuh gelora.


***


Alex terbangun karena bunyi bel di pintu dan, ia mengerjapkan matanya berkali-kali agar kesadarannya terkumpul. Ia memeriksa jam yang membelit pergelangan tangannya dan sudah menunjukkan waktu hampir jam 12 siang. Ternyata semalaman ia menghabiskan waktunya dengan tertidur di atas sofa.


Bel di pintu terdengar lagi, dengan malasnya Alex pun berjalan dan membukanya.


"Apartemen pak Alexander ?" Tanya seorang lelaki yang berseragam suatu perusahaan jasa dekorasi apartemen.


"Iya," jawab Alex dengan setengah mengantuk.


"Kami dari home decor La Bonita," ucapnya lagi.


"Ya.. kami memohon maaf karena untuk mendapatkan pesanan yang sama persis dengan barang-barang milik anda sedikit sulit. Jadi kamar mana yang harus kami dekor ulang?"


Alex pun mempersilahkan beberapa orang yang akan bekerja untuk membenahi apartemennya itu untuk masuk dan mulai bekerja karena ia ingin semuanya selesai dalam 2 hari ini.


***


Waktu pun berlalu hingga tiba masanya untuk Nadia pulang ke apartemen suaminya. Walaupun ia harus menelan pil pahit karena kenyataannya Alex tak sekalipun menghubunginya selama 2 malam ini.


"Kamu bisa," Nadia menarik nafas dalam sebelum ia membuka pintu apartemennya.


"Aku pulang !" Ucap Nadia dengan nada suara yang ia buat se-biasa mungkin.


"Uhuk-uhuk," bukannya sebuah sahutan namun yang terdengar adalah suara orang terbatuk-batuk dari arah dapur. Nadia yang mendengar itu segera melangkahkan kakinya kesana.


Terlihat Alex yang terbatuk dengan wajah memerah, Nadia pun segera mengambilkannya segelas air putih.


"Alex, minum dulu !" Ucapnya panik dan menepuk-nepuk punggung suaminya. "maafkan aku karena membuatmu kaget," lanjut Nadia penuh sesal.


Alex mengacungkan jempolnya menandakan jika ia baik-baik saja, tapi Nadia yang masih merasa tak enak hati duduk di hadapan suaminya itu.


Tawa Nadia pecah seketika, ia melihat Alex sedang memakan sepiring mie goreng instan dengan porsi jumbo. Mungkin yang membuat Alex terkejut bukan karena kedatangannya namun karena ia takut tertangkap basah memakan sesuatu yang dulunya pernah ia cela.


"Ini gak seperti yang lo pikirin, Nad." Elak Alex tapi Nadia tetap mentertawakan Alex dengan wajah jahilnya.


"lagian lo pulang gak ngabarin dulu, jadi kan bisa gue jemput." Lanjut Alex dan lagi-lagi perkataan lelaki itu membuat hati Nadia menjadi tak menentu.


Nadia tak menjawab yang ia lakukan hanya menopang dagunya dan memandangi wajah tampan di hadapannya.


"Ya ampun, Nad ! Iya deh gue ngaku mie gorengnya emang bikin nagih," ucap Alex kesal. Padahal Nadia tak bermaksud untuk itu, ia hanya merasa senang saja bisa berada dekat dengan Alex lagi.


Kulit Nadia terlihat menggelap karena paparan sinar matahari namun meksipun begitu kecantikannya tak berkurang sama sekali.


"Lo pasti seneng-seneng ya sampai gak inget buat hubungin gue," ucap Alex setengah merajuk.


"Kamu yang sibuk weekend an sampai gak inget aku," timpal Nadia dan untuk ke sekian kalinya perkataan Alex membuatnya terbawa perasaan.


"Eh Nad, kemarin ada suara-suara aneh gitu dari kamar lo. Coba cek sana !" Titah Alex.


"hah seriusan ?" Tanya Nadia dengan membulatkan matanya.


"Hu'um, coba cek takutnya ada barang punya lo yang jatuh,"


Nadia pun menuruti apa yang Alex ucapkan dan dengan perlahan membuka pintu kamarnya. Seketika ia berteriak dan melompat-lompat karena terkejut.


Terkejut luar biasa karena kamarnya telah berubah tak lagi seperti gudang namun menyerupai kamar Alex hanya ukurannya saja yang lebih kecil.


Nadia berlari kecil menuju Alex terduduk dan tanpa sadar mengalungkan tangannya dari arah belakang dan mencium pipi suaminya dengan mesra.


"Terimakasih, Alex," bisik Nadia dan ia pun melepaskan pelukan itu dan pergi berlalu meninggalkan Alex yang terdiam membeku seolah terhipnotis oleh ciuman istrinya.


Alex menelan salivanya sendiri karena bibir Nadia yang basah dan kenyal masih terasa begitu nyata di pipinya.


To be continued ❤️


Thanks for reading ❤️


Yang suka novelnya jangan lupa untuk vote dan hadiah juga boleh karena aku suka sogokan wkkwkwkwkwk


Buat yang ikhlas aja ya..


Maaciw Zheyenk ❤️❤️❤️❤️