In Love

In Love
Syarat



Happy reading ❤️


Ibunya membuka pintu itu dengan wajah terkejut yang tak bisa Nadia artikan.


"Aku pulang dianterin Bimo," ucap Nadia lagi. Tanpa ia sadari Alex yang telah lebih dulu tiba, melihat juga mendengarkan semua yang istrinya itu lakukan.


"Ehemm," Alex berdehem untuk memberikan tanda bahwa ia ada disana. Meski terkejut namun Nadia berusaha untuk tetap tenang.


Tak hanya Nadia, tapi Bimo juga melihat ke arahnya dan tersenyum.


"Syukurlah Alex udah ada, jadi kamu nanti pulang sama dia ya. Kalau begitu aku pamit pulang ya, Bu. Mami udah nunggu," ucap Bimo bohong. Ia hanya beralasan agar hubungan Nadia dan Alex  tak memburuk.


"Loh kok cepat-cepat ? Ini ibu baru masak karena Alex juga datang mendadak jadi gak masakin dulu. Ayo makan dulu, Bim,"


"Makasih Bu, tadi kebetulan saya mau pulang ke rumah Mami. Eh gak taunya Nadia dan Meta ikut. Tapi karena rumah Meta lebih dekat dengan pintu tol jadi aku antar dia duluan,"


Nadia hanya terdiam, Bimo berbohong hanya untuk menjaga perasaan Alex agar tidak lebih marah lagi karena wajah Alex sungguh tak bersahabat saat ini.


"Ya ampun !! Kalian masih bolos bareng saja ? Ini bukan jaman sekolah lagi," kata ibu Nadia mengingatkan.


Bimo hanya tertawa renyah menanggapinya. Yang ia lakukan kemudian adalah menyalami ibunya Nadia juga Alex untuk berpamitan. Alex menyambut uluran tangan itu dan menjabatnya dengan dada yang terasa panas menahan amarah yang siap meledak. Bimo tentu saja menyadarinya, namun sebisa mungkin ia terus bersikap ramah .


"Makasih tumpangannya, Bim," kata Nadia sebelum lelaki itu pergi.


"Its oke, aku pulang ya," sahut Bimo. Hampir saja tangannya akan mengacak rambut Nadia lagi namun ia urungkan ketika ingat ada Alex disana.


Akhirnya semua duduk di meja makan dengan ayah ibu juga kedua adik Nadia. Alex duduk tepat di sebelah Nadia dan keduanya tak berbincang sedikitpun.


Tapi Nadia masih melayani Alex dengan menyiapkan makan siang yang terlambat itu, ia menyendokkan nasi dan lauk-pauk yang Alex sukai.


Alex memperhatikan apa yang istrinya lakukan, meksipun baru menikah beberapa bulan tapi Nadia sudah mengetahui apa saja yang suka dan tidak disukainya. Tak seperti Lola, meskipun mereka telah menjalin hubungan lama tapi wanita itu tak  pernah memperhatikan hal-hal kecil tentang dirinya. Alex tersenyum miring mengingat itu semua.


"Mau apa lagi ?" Tanya Nadia membuyarkan pikiran suaminya.


"Hah ? Oh tidak...  Ini cukup. Terimakasih," sahut Alex.


Tentu saja semua memperhatikan pasangan suami-istri itu dan orang tua Nadia yakin jika hubungan keduanya tidak baik-baik saja.


"Apa kalian akan menginap ?" Tanya ayah Nadia memecahkan keheningan.


"Nggak, aku mau pulang sama Alex setelah makan siang," jawab Nadia.


"Kamu mau pulang sama aku ?" Tanya Alex langsung menolehkan kepala.


"Hu'um, masa aku pulang sendiri," decak Nadia sembari tertawa seolah tak terjadi apapun.


"Aku dan Alex sedang melakukan proyek bersama. Kemarin kita pergi ke Bali berdua dan pulang ke sini untuk mengambil sesuatu yang dibutuhkan untuk proyek tersebut," jelas Nadia.


"Hanya saja Alex ada urusan dulu jadi kami janji temu di sini," lanjut Nadia lagi dan Alex menganggukkan kepalanya membenarkan. Keduanya tak mau orang tua Nadia merasa curiga.


"Kapan kalian akan menginap ? Semenjak nikah gak pernah sama sekali," tanya ayahnya lagi.


"Mmm.. setelah semua urusan kita selesai. Iya kan, Alex ?" Tanya Nadia.


"Hu'um sure, setelah urusan kita selesai," sahut Alex dengan pandangan mata penuh maksud.


Nadia tersenyum samar seraya menelan saliva, mata hitam Alex berkilat ketika mengatakan itu.


***


"Oke, bye semua... Kita pulang yaa...," Sahut Nadia seraya melambaikan tangan pada keluarganya. Alex yang duduk tepat di sebelah Nadia di dalam mobil pun melakukan hal yang sama.


"Terimakasih, Alex." Ucap sang ayah dan Alex hanya menganggukkan kepala. Apa yang ayahnya ucapkan dan juga Alex lakukan membuat Nadia terheran. Namun Alex langsung menjauhkan tubuhnya dari sang istri ketika jendela telah tertutup rapat.


Alex duduk di pojok dekat jendela dengan pandangan mata ke arah luar jendela begitupun Nadia yang duduk di sisi lainnya dan melakukan hal yang sama. Hening diantara keduanya hanya bunyi deru mesin mobil yang terdengar. Pantas saja Nadia tak sadar Alex datang ke rumahnya karena ia mengenakan mobil yang lain. Dan kedatangannya dengan Bimo pasti membuat Alex berpikiran buruk.


"Kita menuju ke mana, Pak ?" Tanya supir pribadi Alex.


Wajahnya masih ditekuk membuat Nadia kebingungan. "Kok dia yang merajuk ? Kan seharusnya aku," gumam Nadia seraya mencebikkan bibirnya.


Setelah beberapa puluh menit berkendara tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulut keduanya. Akhirnya mereka sampai di apartemen Alex.


Alex berjalan lebih dulu tanpa menunggu Nadia, sedangkan di belakang mereka sang supir mengikuti dengan membawakan koper bossnya.


Alex melirik Nadia dengan ujung mata, ia tersenyum muak ketika melihat Nadia tak membawa apapun selain tas ransel kecil dan beberapa buku dari rumahnya.


Pikiran buruk kembali merasuki Alex. Ia menyangka jika koper sang istri pasti berada di mobil mantan kekasihnya dan kemana mereka pergi tadi pagi ? Melihat Nadia mengenakan dress Bali yang sedikit terbuka meskipun tertutup jaket jeansnya juga membuat Alex meradang.


Padahal sudah ia katakan sebelumnya agar Nadia tak memakai baju terbuka.


Belahan paha yang tinggi juga tanda kemerahan yang Nadia coba tutupi membuat Alex semakin berpikiran buruk.


"Kamu boleh pergi," kata Alex pada supirnya ketika mereka baru saja memasuki apartemen.


'Brak,' terdengar suara pintu yang ditutup membuat Nadia melonjakkan tubuhnya karena terkejut.


Tanpa bersuara Alex langsung merengkuh pinggang Nadia agar padu dengan tubuhnya. Mata hitamnya berkilat bagaikan pemangsa pada buruannya.


"Kamu sengaja memakai gaun seperti ini agar mantan kekasihmu dapat menyentuhmu seperti ini hemm"


Alex berbisik dengan suara serak, dan membelai paha bagian dalam istrinya. Ia menelesupkan telapak tangannya ke sela-sela belahan dress Nadia


"Asal kamu tahu aku pun bisa memuaskan mu seperti dia" bisik Alex dengan suaranya yang telah terdengar berat.


"A-Apa kamu gila Alex? Aku gak ngerti apa maksudmu" jawab Nadia terbata. Mendapatkan sentuhan yang begitu intimnya membuat sekujur tubuh Nadia bergetar hebat.


"Jangan pura-pura polos. Aku hampir gila mencarimu dari Bali dan kamu datang dengan pakaian seperti ini dengan tanda merah di leher ? Kamu tahu aku pun sangat bisa melakukannya, dan kamu tahu? Aku yang lebih berhak atas tubuhmu bukan dia !" desis Alex seraya merengkuh tubuh Nadia lebih erat lagi.


Nadia menatap mata hitam suaminya, bohong jika ia tak merasa ketakutan. Dengan gemetar, ia memberanikan diri untuk meletakkan telapak tangannya di dada Alex dan merasakan debaran jantung suaminya yang menggila. Nadia tahu hanya kelembutan yang bisa memenangkan Alex saat ini.


"Jangan melihatku seperti itu, aku tak seburuk yang kamu pikirkan," ucap Nadia pelan. Ia berusaha menenangkan suaminya.


"Jika kamu ingin hak mu sebagai suami dengan senang hati akan aku layani tapi seperti pernikahan kita yang penuh akan syarat, aku pun ingin mengajukan syarat mengenai hal ini," ucap Nadia seraya menelan saliva.


"Apa yang kamu inginkan ?" Tanya Alex tak sabaran.


"A-aku hanya ingin kamu melakukan hal ini denganku seorang," jawab Nadia masih dengan gugupnya.


"Maksudmu?" Tanya Alex lagi.


"Jika kamu menginginkan aku untuk berci*ta denganmu maka kamu tak boleh melakukannya dengan wanita lain. Selama kita terikat pernikahan kamu hanya boleh melakukannya denganku," jawab Nadia seraya menatap dalam mata suaminya.


"Tak masalah, aku bisa melakukannya. Tapi kamu harus bersedia setiap aku memintanya," timpal Alex.


"Termasuk dengan Laura atau Lola. Kamu tak boleh tidur dengannya, tak hanya itu kamu juga tak boleh bersentuhan ataupun berciuman dengannya," lanjut Nadia dengan jelasnya.


"Dia bertahun-tahun di luar negeri. Apa kamu kira dia setia ? Aku tak mau terkena penyakit memalukan," ucap Nadia dan itu membuat Alex tercengang. Apa yang Nadia ucapkan memang benar adanya.


"Aku setuju, aku hanya akan menyentuhmu seorang saja. Tidak Lola atau wanita lainnya," jawab Alex tanpa ragu.


"Kamu yakin ?" Tanya Nadia memastikan.


"Sangat yakin," jawab Alex.


"Jika kamu melakukannya,Alex. Aku pun bisa melakukannya dengan laki-laki lain. Aku bisa berc*nta dengan mereka dan kamu tahu aku sangat mampu," ancam Nadia dan tentu saja ia bohong. Tak pernah sekalipun ia berdekatan dengan lelaki lain secara intim seperti yang ia lakukan dengan Alex.


"Akan aku bun*h setiap lelaki yang berani mendekati kamu," desis Alex penuh rasa posesif dan ia pun membenamkan bibirnya diatas bibir Nadia dengan sempurna.


Nadia mengalungkan tangannya dan membalas ciuman itu. Membuat hasrat primitif Alex kian tersulut. Dengan tak sabaran Alex membawa sang istri ke dalam kamarnya.


To be continued ❤️


Thanks for reading 😘