In Love

In Love
Ancaman



"Sa-saya Nadia Wirahma, senang bisa berkenalan dengan anda," ucap Nadia sembari menahan malu. Pipinya terasa panas dan kedua lututnya tiba-tiba lemas. Ia melirik Alex yang ternyata sedang melihat ke arahnya. Suaminya itu menaikkan kedua alisnya sembari mengusap dagu, memandang Nadia tak percaya. Namun sedetik kemudian Alex tersenyum miring penuh maksud sembari menyipitkan matanya. Mengisyaratkan jika Nadia harus bersiap dengan hukuman yang akan ia berikan.


Masih dengan membalas tatapan Alex, Nadia kembali menelan ludahnya paksa. "Mati aku," batin Nadia dalam hati. Membayangkan apa yang akan suaminya itu lakukan padanya.


Sadar akan situasi canggung ini. Tamu Alex yang merupakan seorang laki-laki paruh baya dan berkacamata, berdiri menyambut kedatangan Nadia. "Ehhem...Selamat atas pernikahan anda, Pak Henry. Saya mengetahuinya melalui berita di majalah 'Sukses' beberapa bulan lalu yang saya baca. Senang akhirnya bisa bertemu dengan Anda dan istri," ucap salah satu tamu Alex sembari berdiri dan menyalami Nadia. Ia berusaha mencairkan suasana yang tadi sempat kikuk karena peringatan Nadia pada suaminya yang mengandung unsur 21plus dan membuat yang ada di ruangan itu syok mendengarnya.


Masih dengan bahasa tubuh yang salah tingkah Nadia menyambut uluran tangan itu dan menjabatnya erat. "Maaf kita berkenalan seperti ini," ucapnya pelan. Menyesali apa yang baru saja terjadi. Ia kembali melirik Alex dengan ujung mata dan suaminya itu masih saja menatap ke arahnya dengan memicingkan mata.


"Ah itu sudah biasa bagi pasangan pengantin baru," sahutnya berusaha memahami dan itu membuat Nadia semakin merasa panas di wajahnya karena malu.


"Duduk, Sayang" pinta Alex pada istrinya itu sembari menepuk tempat kosong di sebelahnya dan Nadia pun menuruti. Keadaan yang canggung pun berangsur mencair seiring pembicaraan bisnis mereka.


Nadia memperlihatkan keahliannya dalam bidang yang ia geluti. Ia mendeskripsikannya dengan jelas dan penuh semangat dan itu membuat Alex menatapnya kagum. Alex selalu terpesona dengan kecerdasan istrinya dan ia melihat itu sebagai kelebihan Nadia yang menurutnya terlihat sangat seeksi.


Sampai-sampai Alex hampir tak mengedipkan matanya dengan mulut sedikit terbuka . Dalam kepalanya sudah terbayangkan bagaimana cantiknya Nadia mengenakan kacamata besar yang kini membingkai wajahnya dalam balutan baju dinas malamnya. Alex pun menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan. Apa yang Alex lakukan tak lepas dari perhatian tamu nya saat ini.


"Anda sangat hebat dalam menguasai dan memaparkan materi. Tak hanya saya saja yang terpukau, tapi suami anda juga," ucap lelaki bernama Erwin itu sembari tersenyum samar. Ia membetulkan letak kacamatanya saat mengatakan itu.


Nadia menolehkan kepala pada Alex yang tengah memandanginya sambil tersenyum penuh arti namun senyum Alex surut ketika ia sadar jika calon kliennya tengah memperhatikan dirinya.


"Ah maaf," ucap Alex sedikit malu karena ia terciduk mengagumi istrinya sendiri dengan pikirannya yang sudah melambung jauh.


"Tidak apa-apa, Pak Henry. Istri anda memang hebat," sahut lelaki itu sedangkan asistennya yang berusia lebih muda, duduk tepat di sebelahnya hanya mencatat bagian-bagian yang penting dari pertemuan itu.


"Yes, she is," ( Ya dia memang hebat ) sahut Alex menyetujui seraya kembali menatap istrinya penuh cinta dan menggenggam tangan Nadia yang berada di atas paha.


Nadia yang tadi sempat kesal pada suaminya itu kini tak lagi. Malah ia merasa beruntung karena Alex begitu mencintainya dengan sangat dalam. Ia tak pernah menyangka akan menjalani kehidupan cintanya seperti dongeng atau novel cinta yang sering ia baca. Jatuh cinta dan dicintai oleh lelaki yang nyaris sempurna padahal ia gadis biasa-biasa saja, tak ada yang bisa Nadia banggakan dari dirinya tapi Alex selalu bisa melihat kelebihan yang dimilikinya.


Tanpa malu-malu Alex tunjukkan bagaimana dirinya begitu terobsesi dan candu terhadap dirinya dan itu membuat Nadia merasa begitu berarti tapi memang terkadang Alex terlalu berlebihan menunjukkannya.


Setelah cukup lama mereka berbincang-bincang, akhirnya 2 orang tamu yang merupakan calon klien Alex itu berpamitan undur diri dan akan menindaklanjuti kerjasama ini dalam waktu secepatnya.


Alex dan Nadia mengantarkan kedua tamunya hingga pintu, Alex mengucapkan kata-kata perpisahan dengan ramah pada tamunya.


Nadia yang melihat Alex tengah berbasa-basi langsung mengambil kesempatan untuk melarikan diri. Ia menyelinap dari belakang tubuh Alex agar bisa keluar dari ruangan suaminya itu.


Tapi...


Refleks tangan Alex lebih cepat dari yang Nadia kira. Sebelah tangan suaminya itu dengan sigap menahan laju tubuh Nadia agar tak bisa melalui Alex begitu saja. "Joy, Saya akan sibuk selama 30 menit ke depan. Jadi saya tidak bisa menemui siapapun selama waktu itu. Mengerti ?" tanya Alex pada sekretarisnya yang duduk tepat d depan pintu ruangannya dan tangannya masih saja menahan tubuh Nadia agar tak bisa melaluinya.


"Baik Pak, saya mengerti," jawab Joy patuh dan ia pun tersenyum iba pada Nadia yang sudah memasang wajah muramnya. Joy sangat tahu jika bossnya itu selalu saja mengganggu istrinya.


"Masuk !!" titah Alex tak terbantahkan. Ia memasang wajah dingin seolah marah.


Nadia yang tadinya terbawa perasaan saat Alex memandanginya penuh cinta kini kembali merasa kesal pada suaminya itu. "Tak sepenuhnya salahku," batin Nadia dalam hati. Ia tak tahu jika Alex sedang menerima tamu karena setiap Alex memanggilnya untuk datang ke ruangannya akan selalu berakhir dengan bibir yang saling melu-mat dan roknya yang tersingkap bahkan terkadang kain segitiga yang Nadia kenakan sudah terlepas entah kemana.


"Duduk !" titah Alex sembari menunjuk sebuah kursi yang letaknya berhadapan dengan meja kerja Alex. Nadia pun menurutinya, ia duduk dengan kepala tertunduk dan wajah ditekuk. Entah Alex akan memarahinya atau memberikan hukumannya, Nadia menebak-nebak dalam kepalanya.


Alex berdiri sembari menyandarkan bokongnya ke meja kerja dan ia berpangku tangan menatapi istrinya yang kini tertunduk lesu. Hening untuk beberapa saat hingga akhirnya Nadia mengangkat wajahnya "Maaf," ucapnya pelan. Wajahnya menampakan rasa sesal. Alex yang melihat itu merasa gemas luar biasa. Ingin ia mencium istrinya itu namun mati-matian ia tahan. Saat ini ia ingin menunjukkan sikapnya sebagai atasan yang sebenarnya.


"Lain kali sebelum mulai berbicara ada baiknya jika kamu memperhatikan ada siapa saja di dalam ruangan, karena kamu tahu sendiri kalau aku seringkali menerima tamu," ucap Alex dengan mimik wajah serius dan Nadia yang melihat itu semakin merasa bersalah.


"Tapi ini semua bukan murni kesalahan aku ! Beberapa kali kamu memanggil aku hanya untuk melakukan hal-hal yang... mmmm... hal yang diluar pekerjaan. Padahal kamu tahu pekerjaanku sedang banyak tapi kamu selalu saja mengganggu aku !" protes Nadia pada Alex bossnya yang baru.


"Apa salahnya memintamu datang untuk melepas rindu ? karena kamu istriku. Yang salah itu jika aku menyuruh istri orang lain datang kesini dan mengajaknya bermesraan," ucap Alex membela dirinya sendiri dan apa yang Alex katakan membuat Nadia membulatkan matanya tak percaya.


Alex yang mendengar ancaman Nadia langsung melepaskan pangkuan tangannya karena tiba-tiba saja ia merasa lemas. Sangat sulit untuk membujuk istrinya itu agar bekerja satu atap dengannya dan kini ia mengancam pergi ?


"Tak bisa, aku lah yang mengatur mutasi karyawan," ucap Alex bohong karena bagian kepegawaian lah yang melakukan itu.


"Kalau begitu aku tinggal menyerahkan surat pengunduran diriku," sahut Nadia sama bohongnya dengan Alex karena tak mungkin ia melakukan hal itu.


Mendengar ancaman yang Nadia berikan kian sengit membuat Alex semakin panik dalam hatinya. "Apa mau mu?" tanya Alex.


Nadia tersenyum, ia merasa ancamannya berhasil kali ini. "Aku ingin kita bekerja dengan profesional. Kita hanya akan bertemu pagi, dan sore hari ketika pulang kerja. Kamu hanya boleh memanggil aku ke ruangan mu hanya sebatas membahas pekerjaan tak ada yang lainnya,"


"bagaimana ?" potong Alex.


"Begitu juga kalau kamu ingin datang ke ruangan aku, hanya boleh karena urusan pekerjaan," sahut Nadia cepat tanpa memberikan suaminya itu kesempatan untuk berbicara.


"Bagaimana dengan makan siang ?" tanya Alex dengan wajahnya yang sedikit ditekuk bagai anak-anak yang dimarahi oleh ibunya.


"Dan mengenai hal itu, aku ini bukan menu makan siang mu ! aku tak ingin mandi keramas di tengah hari bersama mu !" jawab Nadia berapi-api. Karena akan sulit mengeringkan rambutnya yang panjang setelah itu tapi bila tak melakukannya bagaimana Nadia bisa melakukan kewajiban ibadahnya. "Mungkin mulai hari ini aku akan makan siang di kantin kantor dengan pegawai lainnya" lanjut Nadia menambahkan.


"Ck !!" Alex berdecak kesal.


"Yaaannkkkk, gak gini juga kali," rengek Alex. Kini mimik wajahnya tak segalak tadi. Dulu, sebelum Nadia datang dan bergabung dengannya Alex bekerja bagai robot dengan jadwal kerja yang membosankan dan teratur tapi setelah istrinya datang semuanya lebih berwarna.


"Setuju atau saya harus mundur, Pak Henry ?" tanya Nadia sembari memicingkan mata.


Tentu saja Alex tak setuju tapi jika Nadia mundur, Alex lebih tak setuju lagi. Dengan berat hati, mau tak mau akhirnya Alex menyetujui.


"Baiklah, sebaiknya saya kembali ke ruangan saya," Nadia pun berdiri dan berpamitan pada boss barunya itu. "Ehem," Alex berdehem sebelum istrinya pergi. "Kacamatamu, jangan sampai ketinggalan di kantor. Kamu akan memerlukannya nanti malam," lanjut Alex.


"Kita akan kerja sampai malam di rumah?" tanya Nadia polos.


"Hu'um kita akan kerja semalaman," jawab Alex penuh maksud terselubung.


***


Seperti yang Nadia bicarakan pada Alex sebelumnya, ia benar-benar menikmati makan siangnya di kantin kantor dengan karyawati yang lain. Kantin besar yang di dalamnya banyak orang-orang yang makan siang bukan dari perusahaan Alex saja. Perusahaan Alex dan yang lainnya sama-sama menyewa tempat untuk dijadikan kantor di gedung pencakar langit tersebut.


Nadia asik menikmati makan siangnya bersama beberapa teman barunya. Ia adalah wanita yang mudah bergaul hingga tak kesulitan untuk mendapatkan teman.


Baru saja Nadia akan menikmati soto ayamnya yang masih hangat namun ia segera berdiri ketika merasa ada sesuatu yang kurang.


"Ini..., kamu pasti lupa kan?" tanya Alex yang tiba-tiba sudah duduk di sebelahnya sembari menyodorkan sekantung kecil kerupuk.


"Alex ? terimakasih," sahut Nadia pelan.


"Makanya kalau makan itu tunggu suami kamu biar ada yang selalu memperhatikan kebutuhan mu," timpal Alex seraya meletakkan nampannya di atas meja yang sama dengan istrinya.


Beberapa teman baru Nadia menatap sungkan pada boss mereka. Ini pertama kalinya Alex makan siang di kantin kantor hingga kini ia menjadi pusat perhatian.


To be continued


Terimakasih sudah baca.


jangan lupa ya vote poin karena ada hadiah yang menanti ♥️