In Love

In Love
Aku Mencintaimu



Mata hitam Alex yang biasanya berkilat tajam kini terlihat sayu dan menatap Nadia penuh damba. Nafas keduanya menderu, dengan dada yang berdegup kencang.


"I miss you so much," ucap keduanya lirih secara bersamaan.


Alex mengulum senyumnya ketika ia mendengar kata-kata rindu dari istrinya dan tak lama senyuman itu menular pada Nadia yang kini masih saja menempelkan dahinya.


"Tapi aku yang lebih merindukan kamu," lirih Alex, ia semakin menundukkan wajahnya dan meraih bibir Nadia dengan bibirnya lalu mengulumnya rasa-rasa setelah bibir keduanya saling menyatu satu sama lain dengan sempurna.


Nadia semakin eratkan belitan tangannya di leher Alex agar lelaki itu tak melepaskan tautan bibir mereka, sedangkan Alex menyenderkan tubuh Nadia pada dinding dan semakin menghimpitnya hingga makin padu pertemuan tubuh mereka yang masih terbalut pakaian.


Keduanya memejamkan mata, menikmati rasa rindunya yang kini tersampaikan melalui sebuah ciuman. Alex miringkan kepalanya agar bisa mencium Nadia lebih dalam lagi. Sedangkan Nadia membuka bibirnya, mempersilahkan Alex untuk mengeksplorasi kehangatan lidahnya yang kini saling membelai lembut. Suara decapan khas orang yang sedang berciuman terdengar dengan jelasnya.


"Aleeexxhhh, mmmmmhhhh" lirih Nadia tertahan. Sebisa mungkin ia membalas ciuman Alex yang begitu dalam dan penuh tuntutan. Ciuman yang Alex berikan membuat Nadia kesulitan untuk bernafas.


Walaupun enggan namun pelan-pelan Alex lepaskan tautan bibirnya, ia menatap sayu bibir Nadia yang basah dan sedikit membengkak karena ulahnya. "Maaf," ucap Alex begitu lirih seraya menyentuh lembut bibir Nadia dengan jemarinya.


"Aku sangat merindukanmu hingga tak bisa menahan diri," lanjut Alex. Matanya tak sekalipun mengalihkan pandangannya dari wajah Nadia hingga membuat istrinya itu merona malu.


"Aku... aku pun sangat merindukanmu, Sayang," sahut Nadia sama lirihnya. Ia menggigit bibir bawahnya malu-malu setelah mengatakan itu.


Senyuman kembali terkembang di wajah tampan Alex, ia merasa sangat bahagia ketika Nadia mengucapkan kata rindu padanya ditambah ungkapan sayang yang jarang Nadia ucapkan padanya.


Masih dengan menggendong Nadia seperti koala, Alex membawa istrinya itu menjauhi dinding. "Kamarnya di sana," ucap Nadia dengan semburat merah di pipinya, ia menunjukan pintu kamarnya yang tertutup dengan telunjuknya.


"Aku tahu," sahut Alex tersenyum geli namun juga merasa senang. Ia membawa Nadia memasuki kamar sederhana itu masih dengan cara menggendongnya dan mata mereka terus saling bertatapan penuh cinta. Tak tahan lagi, Alex pun kembali memagut bibir Nadia dengan lembut dan penuh perasaan.


Untuk kedua kalinya Alex pisahkan tautan bibir mereka walaupun enggan. Lalu kemudian ia rebahkan tubuh Nadia dengan perlahan ke atas ranjang, dan ia menyusul istrinya itu dengan memeluk tubuh Nadia rasa-rasa. Ia tak ingin menyakiti Nadia karena pelukan posesifnya yang seolah-olah takut kehilangan.


Nadia kembali mengigit bibir bawahnya pela karena rasa gugup dan juga tak percaya dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Bagaikan mimpi, kini Alex sedang berada di sebelahnya dan memeluknya rasa-rasa. Dadanya berdegup kian kencang seiring tatapan mata Alex yang terus memandanginya penuh puja, penuh damba.


Alex membelai wajah Nadia dengan lembut sebelum ia mulai berbicara. "Aku datang hanya untuk menemui mu, aku datang hanya untuk mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu dan tak dapat hidup tanpamu," ucap Alex tepat di wajah Nadia dengan jelasnya. "Aku datang hanya untuk mengatakan bahwa aku benar-benar membutuhkanmu dan tak ingin berpisah lagi darimu walaupun sekejap saja, kamu adalah segalanya bagiku" lanjut Alex tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya, membuat Nadia harus menelan ludahnya paksa karena debaran jantungnya kian menggila.


"A-Alexhh" lirih Nadia sembari menahan rasa haru yang tak terkira.


"Aku juga meminta maaf karena telah menyakitimu dan membuatmu kecewa, aku benar-benar menyesalinya," potong Alex dan wajahnya menunjukkan rasa bersalah ketika ia mengatakan hal itu.


"Ayo, kita mulai dari awal lagi. Hanya kamu, aku dan cinta kita. Aku tak bisa menjamin jika perjalanan cinta kita berdua akan mudah dan tanpa rintangan tapi aku berjanji apapun yang terjadi kita akan bergandengan tangan dan menghadapinya bersama dengan rasa cinta," ucap Alex dengan matanya yang kini telah mengembun.


"Aku cinta kamu, Nadia. Please... ( ku mohon ) katakan padaku jika kamu mencintai aku juga, katakan padaku jika kamu akan memberikan kesempatan pada cinta kita, katakan padaku jika aku adalah satu-satunya lelaki yang bisa memilikimu," mohon Alex dengan bibir yang bergetar dan suaranya yang terdengar lirih. Bahkan ia harus menghapus air bening yang meluruh jatuh di ujung matanya dengan jari.


Nadia pandangi wajah Alex lekat-lekat, dengan lembut ia mengusap pipi Alex yang basah dengan jemarinya padahal Nadia juga sama-sama terisak menahan tangisnya.


"Aku sangat mencintaimu, Alex," ucap Nadia dengan jelasnya. Matanya menatap dalam mata Alex, meyakinkan lelaki itu jika apa yang dikatakannya saat ini benar adanya.


"Aku tak pernah menyangka jika berpisah darimu adalah hal yang paling menyakitkan dalam hidupku. Aku kira, aku akan baik-baik saja tanpamu tapi ternyata aku salah... I've fallen in love so hard over you ( aku telah jatuh cinta dengan sangat padamu )." Nadia mengucapkannya dengan perlahan dan jelas agar Alex mengetahui apa yang ia rasakan saat ini.


Alex yang mendengar itu tersenyum dengan mata mengembun menahan haru. Jakunnya bergerak naik turun karena ia menelan ludahnya paksa.


"Tahukah kamu ? setiap hari aku berharap kamu mengetuk pintu rumah ini dan menjemputku pulang, karena kini aku sadar tempatku bahagia hanya di sisimu," ucap Nadia sembari kembali membelai wajah Alex dengan lembut dan Alex menggerakkan kepalanya agar ia bisa mencium tangan Nadia yang sedang membelainya.


"Maafkan aku baru datang, karena aku harus menyelesaikan dulu semua masalah dan aku telah melakukannya," sahut Alex.


"Dan terima kasih karena telah setia padaku," lanjut Alex seraya mencium punggung tangan Nadia dengan bibirnya yang setengah basah.


"Setia ?" tanya Nadia berkerut alis tak paham.


"Walaupun kita berjauhan tapi aku tahu semuanya tentangmu. Aku harus menjaga milikku dengan baik, seorang pun tak boleh mendekati kamu tapi ternyata aku tak usah merasa khawatir karena kamu bisa menjaga dirimu dengan baik dan mengusir semua lelaki yang mendekati kamu," jelas Alex sambil tertawa ringan.


Nadia menebak-nebak jika saat ini Alex tengah berbicara mengenai Daniel yang mendekatinya, "Bagaimana mungkin aku bisa menerima lelaki lain jika hati dan tubuhku ini hanya menginginkan kamu," sahut Nadia malu-malu dan itu membuat Alex tersenyum bahagia.


Tanpa banyak bicara, Alex memajukan wajahnya dan membenamkan bibirnya ke atas bibir Nadia dan kembali mengulumnya dengan lembut. Nadia membalas ciuman itu dengan sama inginnya.


Mata hitam Alex menatap sayu wajah Nadia yang kini berada di bawahnya. "Bolehkah ?" tanya Alex dengan suaranya yang kini terdengar parau.


Senyuman terukir di wajah Alex saat ini. Jemarinya memberikan belaian dan sentuhan halus di rambut istrinya yang panjang dan merambat menuruni pipi, dan Nadia akan menelan ludahnya paksa setiap jemari Alex menyentuh kulit tubuhnya dengan tidak sengaja.


Alex menarik tubuh Nadia yang terbaring dengan lembut hingga istrinya itu terduduk dan saling berhadapan dengan dirinya. Alex tersenyum penuh arti menatapi wanita yang sangat dirindukannya


Tapi saat ini bukan hanya hadirnya Nadia yang menjadi pusat perhatiannya, melainkan cincin pernikahan yang istrinya itu kenakan sebagai liontin dan menggantung indah di lehernya yang jenjang.


Alex meraba cincin itu pelan, "Aku mengenakannya tepat setelah kita berpisah, aku melakukan itu agar bisa merasakan kehadiranmu di sisiku," jelas Nadia malu-malu sembari menundukkan kepalanya menatap cincin yang sedang Alex perhatikan.


Alex pun tak diam, ia langsung menunjukkan cincin yang melingkar sempurna di jari manisnya. "Aku pun melakukan hal yang sama. Aku mengenakannya tepat setelah kamu pergi, agar bisa merasakan kehadiranmu dan agar menyadarkan aku untuk tidak tergoda wanita lain karena aku sudah terikat padamu selamanya," jelas Alex.


Nadia yang mendengar itu memajukan tubuhnya untuk mendekati Alex, "Aku sangat mencintaimu, Alex," sahut Nadia sembari menarik tengkuk Alex agar bisa meraih bibir suaminya itu dan mengulumnya rasa-rasa dan Alex membalasnya dengan cara yang sama.


"Tahukah kamu jika aku begitu tersiksa tanpa hadirmu di sisiku ?" tanya Alex ketika tautan bibir mereka terpisah. "Entah berapa kali aku terbangun di tengah malam karena rasa rindu yang menggebu padamu dan begitu kesakitan ketika sadar bahwa kamu tak ada di sisiku. Aku kehilangan, rasanya bagai separuh diriku hilang," lanjut Alex kemudian.


Nadia yang mendengar itu membulatkan matanya tak percaya karena ia pun merasakan hal yang sama.


"Itulah alasan aku memakai cincin pernikahan kita, untuk merasakan kehadiranmu di sisiku, aku akan memainkannya dengan jemari ku untuk merasakan cintamu," jelas Alex.


"Aku pun begitu...," jawab Nadia. "Aku mengenakannya di hari pertama kita berpisah. Tahukah Alex ? sejak langkah pertama aku meninggalkan apartemenmu, hatiku sudah terasa hancur dan jiwaku kosong karena aku harus pergi meninggalkan lelaki yang paling aku cintai yaitu kamu," lanjut Nadia.


"Setiap hari aku berjuang untuk meyakinkan diri bahwa aku mampu tanpamu dan aku selalu mengatakan bahwa aku bisa tapi nyatanya tidak. Aku hanya membohongi diriku sendiri karena yang hatiku inginkan sebenarnya adalah menanti kedatanganmu untuk menjemputku pulang seperti yang kamu katakan ketika aku hendak pergi," jelas Nadia kemudian.


"Sebenarnya kita selalu memiliki rasa cinta yang sama tapi sepertinya tidak semudah itu bagi kita untuk bersatu," sahut Alex.


"Hu'um kita memiliki rasa cinta yang besar, rindu yang menggebu dan saling membutuhkan tapi Tuhan membuat kita berpisah untuk sementara agar kita saling berpikir tentang perasaan kita masing-masing," timpal Nadia menyetujuinya.


"Tak hanya saling berpikir, tapi juga untuk saling menyadari... dan aku benar-benar sadar bahwa aku tak bisa tanpamu. Seperti janjiku, aku sudah menyelesaikan semua masalah kita dengan sungguh-sungguh dan kini hanya ada kamu seorang dalam hati dan hidupku. Aku juga sudah mengatakan pada seluruh dunia bahwa kamu adalah istriku, milikku,"


Nadia tersenyum mengingat bagaimana Alex mengakui semua nya di majalah bisnis yang ia baca Minggu lalu.


"Terimakasih," ucap Nadia dengan tersenyum lembut.


"Akulah yang harus berterima kasih karena kamu masih mau memberikan aku kesempatan untuk mencintaimu padahal aku telah banyak melukai perasaanmu," sahut Alex sungguh-sungguh.


"Mungkin itulah yang namanya cinta buta," ucap Nadia dengan terkekeh geli ketika ia ingat bagaimana ia tak bisa sedikitpun membenci Alex walaupun lelaki itu membuatnya patah hati berkali-kali.


"Aku terlalu mencintaimu Alex, hingga tak bisa membencimu walaupun hanya sebentar saja. Hati ini selalu saja memberontak ketika logika ku berkata untuk tidak suka padamu," Nadia menahan tawa ketika mengatakan itu. Mengingat pergulatan batinnya yang hebat saat kepalanya berkata untuk membenci Alex tapi hatinya dengan lancang terus saja mencintai suaminya itu.


"Aku pun mencintaimu, sangaaattt cinta kamu. Maafkan aku yang bodoh ini, Sayang. Aku mencintaimu tapi terus membuatmu kecewa," ucap Alex penuh sesal.


"Jadi, maukah kamu menerima aku dan segenap rasa cintaku ?" Tanya Alex seraya membawa jemari Nadia pada genggamannya.


Nadia yang mendengar itu langsung mengangguk pelan sebagai jawaban.


"Maukah kamu kembali padaku dan memulainya dari awal ? kita akan memulai hubungan ini dengan cinta yang lebih kuat," lagi-lagi Alex bertanya untuk memastikan.


"Ya, aku mau !!" jawab Nadia sembari berhambur pada dada Alex dan memeluknya erat.


Mata Alex memburam karena air bening yang menggenang di pelupuk matanya. Rasa haru bahagia membuat ia menumpahkan air matanya padahal Alex hampir tak pernah menangisi apapun yang terjadi dalam hidupnya.


"Mungkin kamu bosan mendengarnya, tapi aku akan selalu mengatakannya. Aku mencintaimu, Nadia. Sangat cinta kamu. Aku tak akan pernah menyakiti mu lagi," ucap Alex seraya membalas pelukan Nadia sama eratnya. Pundaknya naik turun menandakan bahwa ia sedang menangis.


Dapat Nadia rasakan hangatnya air mata Alex yang membasahi pundaknya. Ia tak menyangka jika suaminya itu akan menangis haru seperti ini. Dada Nadia menghangat karena euforia bahagia.


"Aku pun sangat mencintaimu Alex, dan tak akan bosan mendengar segala kata cintamu. Kamu tak tahu, kata-kata magis itulah yang selalu aku ingin dengar dari dirimu," sahut Nadia dengan suara bergetar. Ia pun menangis haru bahagia.


to be continued ♥️


Mon maap baru up... 😁


dobel up nya besok aja.