
Sudah 3 hari berlalu sejak Nadia meniggalkan perusahaannya yang lama dan bergabung bersama Alex. Saat ini ia sedang mengerjakan tugasnya dengan serius di ruangannya yang baru kepalanya tertunduk pada berkas yang berada di atas meja dan membacanya dengan seksama.
Sedangkan di depan sana duduk bossnya yang baru dengan bertumpang kaki, ini adalah sidaknya yang kedua kali sepanjang pagi hingga siang ini. Nadia mengalihkan pandangannya dari atas berkas dan menatap Alex yang sedang memperhatikannya.
"Alex sampai kapan kamu mau duduk di sini ? apa tak ada kerjaan ? bagaimana omongan orang-orang nanti ?" tanya Nadia beruntun. Sungguh ia merasa gemas karena Alex terus mendatanginya.
"Salahmu sendiri tak mau datang ketika aku panggil untuk datang ke ruangan aku," jawab Alex tanpa dosa.
"Alex ! aku harus bekerja karena bossku yang baru itu sangat menyebalkan !! dia terus mengganggu aku tapi di sisi lain aku harus menyelesaikan semua tugas yang diberikannya dengan sempurna. Kamu tahu kenapa ? karena dia sangat perfeksionis ! aku akan mendapatkan hukuman hanya dengan kesalahan kecil yang aku buat," ucap Nadia menyindir suaminya itu.
"Tapi kenapa kamu selalu mendes*h setiap boss mu memberikan hukumannya ?" tanya Alex sembari memajukan tubuhnya mendekati Nadia yang kini terlihat tak berkutik.
Bagaimana ia tak mendes*h jika Alex menghukumnya dengan sebuah senyuman panas padahal kesalahan yang ia lakukan hanya kecil saja.
Ponsel Alex bergetar dan berbunyi dari saku jasnya, ia pun merogohnya dan menerima panggilan itu yang ternyata dari sekretarisnya.
"Saya sedang sidak di ruangan manager perencanaan, Joy," ucap Alex tanpa mengalihkan pandangannya dari Nadia yang duduk di hadapannya.
"Baiklah, saya akan naik sekarang," lanjut Alex.
"Aku harus pergi Sayang, ada Heru yang ingin menyerahkan laporan dan aku tentunya tak bisa menyuruh dia datang kesini karena ingat, hanya aku lelaki yang boleh masuk ke ruangan kamu," ucap Alex sembari berdiri dan berjalan mendekati istrinya itu. Ia kecup dahi Nadia sebelum benar-benar pergi.
"Kerja yang benar, jangan mikirin aku terus !" ucap Alex lagi tepat sebelum ia keluar dari ruang kerja istrinya.
Nadia mencebikkan bibirnya karena kesal, namun tak lama kemudian ia melengkungkan senyumnya karena begitu gemas dengan kelakuan suaminya itu.
Apa yang Alex ucapkan benar adanya, tak ada seorang lelaki pun yang bisa masuk ke dalam ruangan istrinya bahkan cleaning servis pun bisa memasuki ruangan itu jika istrinya tak berada di tempat.
Alex berjalan penuh wibawa kembali menuju ruang kerjanya. Bila biasanya Alex akan sulit terlihat walaupun ia sedang berada di kantor karena ia hanya akan berdiam diri di ruangannya, tapi kini ia sering terlihat berlalu lalang di sekitar kantor hingga para pegawainya lebih sering melihatnya.
Sudah seperti rahasia umum jika Alex keluar ruang kerjanya hanya untuk menemui istrinya yang sudah 3 hari bekerja dengannya bahkan lelaki itu tak lagi malu-malu menggandeng tangan Nadia ketika pulang bersama. Beberapa wanita yang bekerja padanya sering menatap iri, membayangkan diri mereka menjadi seorang Nadia tapi Alex yang pikiran dan hatinya hanya berpusat pada sang istri tak pernah menyadari hal itu. Berbeda dengan Nadia yang merasakannya tapi ia tak khawatir karena ia yakin Alex hanya mencintai nya saja.
***
Waktu berlalu begitu cepat, ini sudah memasuki Minggu ke 4 sejak Nadia bekerja satu kantor dengan Alex dan lelaki itu masih saja sering melakukan sidak padanya. Boss baru Nadia memang se-rajin itu atau kadang ia memanggil Nadia untuk datang ke ruangannya dan tentunya panggilan untuk Nadia jauh lebih sering di bandingkan dengan pegawai Alex yang lain.
Keduanya mulai tinggal di rumah yang baru tapi terkadang masih tinggal di apartemen Alex sebelum dijual untuk menambah modal kerja suaminya itu.
Mengenai Edo, lelaki itu tak pernah lagi mendekati Nadia. Ia hanya mengagumi wanita yang telah mencuri hatinya dari jauh saja karena Edo tahu jika tak ada tempat sedikitpun di hati Nadia untuknya. Dan bila mereka bertemu dengan tidak sengaja, Nadia masih menyapanya ramah namun ia tak lagi se-akrab dulu, tak lagi minum kopi bersama. Nadia membatasi dirinya untuk berteman dengan lelaki, kecuali dengan para sahabatnya yang dulu termasuk Bimo. Itu pun Nadia lakukan dengan izin suaminya tentu saja.
Nadia masih berkutat dengan berkas-berkas dihadapannya, kacamata besar membingkai wajahnya yang cantik. Ia hentikan pekerjaannya ketika telepon kantornya yang terletak di atas meja berbunyi. "Halo ,Joy ?" tanya Nadia ketika tahu yang menghubunginya saat ini adalah sekretaris pribadi Alex.
Oh iya, sudah 2 jam ini Nadia mematikan ponselnya dengan sengaja. Nadia mengancam Alex bahwa ia tak akan mau menggunakan baju dinas nya di malam hari kalau Alex terus datang ke ruangannya dan mengganggunya bekerja.
Tapi lelaki itu tak kehilangan akal, jika ia tak bisa mendatangi istrinya maka ia akan membuat Nadia yang datang padanya dan itu sudah Alex lakukan 2 kali sepanjang hari ini. Alex menghubungi istrinya itu melalui ponsel untuk datang ke ruangannya dengan alasan membicarakan pekerjaan. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah ia ingin mencumbu istrinya itu. Setiap Nadia datang menghadapnya akan berakhir dengan ciuman panas menggelora dan Nadia yang sedang dikejar deadline sengaja mematikan ponselnya agar Alex tak mengganggunya.
Tapi lihatlah kini... Alex menggunakan sekretarisnya untuk meminta Nadia datang dan mengatakan ada hal penting yang harus dibahas hingga Nadia harus datang ke ruangannya.
Malas-malas Nadia berdiri dan berjalan keluar ruangannya untuk pergi menemui Alex. Dalam benaknya sudah terangkai kata-kata untuk memarahi suaminya itu karena tidak bekerja dengan profesional.
"Aku langsung masuk saja ?" tanya Nadia dengan wajahnya yang kesal pada Joy yang tengah duduk tepat di depan ruang kerja Alex.
"I-iya Bu.. pak Henry sudah menunggu anda," jawab Joy sedikit terbata. Ia tahu jika Nadia sedang kesal.
Setelah mendengar jawaban Joy, Nadia pun membuka pintu ruang kerja Alex dengan sepenuh tenaga. "Alex, sudah ku katakan ! kamu tak bisa terus menerus memanggil aku seenaknya datang ke ruangan mu hanya untuk berciuman dan bercinta !" kesal Nadia pada Alex yang sedang duduk di atas sofa yang berada di ruangannya.
Alex tersentak dan jakunnya terlihat bergerak karena ia menelan paksa salivanya. "Dan... ini adalah Nadia Wirahma, tenaga ahli yang saya ceritakan tadi. Tak hanya sebagai tenaga ahli, tapi Nadia juga adalah istriku," jelas Alex pada kedua orang tamunya yang terlihat syok saat ini.
Nadia membulatkan matanya tak percaya, ia pun menelan ludahnya paksa dan menolehkan kepala pada dua orang lelaki yang duduk berhadapan dengan Alex. Ia tak menyadari kehadiran 2 tamu Alex itu karena tubuh mereka yang terduduk terhalangi sandaran sofa.
"Sa-saya Nadia Wirahma, senang bisa berkenalan dengan anda," ucap Nadia sembari menahan malu.
Sungguh bos barunya ini sangat menyebalkan.
to be continued ♥️
thanks for reading ♥️
jangan lupa like komen vote dan hadiah yaa