In Love

In Love
Rindu



Happy reading ❤️


"Tak usah sungkan, pak Henry mengatakan jika tugas saya adalah menjaga keselamatan istrinya selama ia pergi keluar kota,"


"Hah ? Istri ?" Tanya Nadia tak percaya. Ia membulatkan matanya ketika mengatakan itu.


"Iya, pak Henry sendiri yang mengatakan itu. Tugas saya adalah mengantar jemput ibu Nadia Wirahma, istrinya. Saya harus memastikan anda pulang tepat waktu dan dalam keadaan selamat,"


"Ta-tapi tak banyak yang tahu tentang status kami. Saya harap bapak tidak membicarakannya pada yang lain. Apa Alex juga berpesan hal yang sama ?" Tanya Nadia masih dalam rasa ketidakpercayaannya.


"Alex ? Maksud ibu pak Henry ?"


"Iya Alex itu Henry," jawab Nadia.


"Bapak tak mengatakan apapun lagi, hanya menyuruh saya untuk mengantar jemput ibu selama beliau di Surabaya,"


Nadia menepuk pelan dahinya sendiri. Ia tak habis pikir dengan apa yang Alex lakukan, bukannya lelaki itu ingin menyembunyikan pernikahan mereka ?


"Mari, Bu."


Ajakan supir pribadi Alex menyadarkan Nadia dari pikirannya. Ia pun segera menaiki mobil mewah yang sering Alex gunakan tiap harinya dan duduk di bangku belakang. Ini adalah pertama kalinya ia bepergian menggunakan seorang supir pribadi.


Sementara itu Alex sudah berada dalam pesawat dan duduk tepat sebelah jendela, ia melihat keluar dimana awan putih terlihat bagai kapas yang mengambang. Pikirannya melayang pada pertanyaan Nadia tadi pagi yang menyangkut perjanjian pernikahan mereka.


Alex ingat jika mereka akan bertahan sekuat yang mereka bisa dan waktu itu dirinya terang-terangan mengatakan jika ia masih mencintai wanita lain yaitu Lola dan akan melepaskan Nadia jika wanita itu menginginkannya.


Tapi kenapa semua terasa berbeda saat ini. Setelah memiliki Nadia seutuhnya, Alex tak ingin melepaskan wanita itu pada lelaki mana pun.


Namun ia takut jika dirinya jatuh cinta pada Nadia, wanita itu akan meninggalkannya dan ia akan terluka lagi seperti sebelumnya. Jika itu terjadi, Alex yakin dirinya akan lebih hancur lagi.


Alex bayangkan bagaimana hebatnya percintaan mereka tadi malam. Tak hanya sekedar melepaskan hawa nafs* tapi ia hanya ingin melakukannya dengan Nadia seorang tak ada wanita lain yang Alex inginkan.


Sebelum pergi pun ia mencari jalan agar bisa menjaga Nadia walaupun berjauhan. Tak ada cara lain yaitu dengan memberinya supir pribadi dan mengatakan jika Nadia adalah istrinya agar Aji menjaganya dengan sungguh-sungguh.


Padahal Alex hanya pergi selama 3 hari saja namun kenapa rasanya begitu berat. Ini adalah pertama kalinya ia merasakan cemas karena seorang wanita.


"Nadia...," gumam Alex seraya membayangkan wajah istrinya yang merona.


***


Nadia pulang tepat waktu dan seperti yang Alex inginkan, kini ia menggunakan supir pribadi atau lebih tepatnya seperti seorang pengawal karena lelaki itu mengantarkan hingga Nadia benar-benar memasuki apartemennya.


Pukul 7 malam Alex melakukan panggilan video dan lelaki itu masih mengenakan jas yang tadi pagi dan masih berada di suatu ruangan kantor.


"Hai sudah di rumah ? Sudah beli buat makan malam ? Atau mau aku yang pesankan ?" Tanya Alex beruntun. Wajahnya yang terlihat lelah memenuhi layar ponsel Nadia saat ini.


Nadia tersenyum mendengar itu semua, ia merasa tinggi di awan karena perhatian yang Alex berikan.


"Kita kan baru belanja, aku mau masak sendiri aja," jawab Nadia.


"Ough ya... Tapi kalau kamu males masak biar aku pesankan," kata Alex lagi.


Nadia menolak dan keduanya pun terlibat pembicaraan tentang kegiatan mereka masing-masing di hari ini.


"Sepi gak ada kamu di sini," ucap Nadia tanpa ada kebohongan di dalamnya.


"Kamu takut ? Mau aku telponin mama buat nemenin kamu ?" Tanya Alex terlihat cemas.


"Gak usah, aku baik-baik saja tapi rasanya ada yang kurang karena kamu gak ada disini," jelas Nadia.


Kangen... Itulah yang sebenarnya Nadia rasakan namun ia tak berani untuk mengungkapkannya langsung pada Alex, jadi ia hanya menyimpannya dalam hati.


Begitu juga Alex, setelah ada waktu luang dari kegiatannya yang padat. Hal pertama ia lakukan adalah menghubungi istrinya itu dan memastikan jika ia baik-baik saja.


Baru kali ini ia melakukan perjalanan dinas namun ingin segera pulang dan bertemu istrinya. Sudah terbayang apa saja yang akan dilakukan jika berada dekat Nadia, padahal sebelumnya Alex tak pernah merasa seperti ini.


"Kangen ?" Batin Alex dalam hatinya. Apa ia tengah merasakan hal yang telah lama hilang itu ? Apa saat ini ia sedang merindukan istrinya. Namun lagi-lagi Alex tak mampu mengatakannya karena ia akan merasakan sakit luar biasa jika  ternyata Nadia tak merasa hal yang sama. Jadi sedikit rasa rindu itu ia simpan dalam hati tanpa berani mengungkapkannya.


"Aku hubungi lagi setelah sampai hotel oke ? Jangan lupa makan malam," ucap Alex sebelum ia menutup panggilan video itu.


***


Nadia terbangun dengan rasa sepi, hal pertama yang ia lihat adalah tempat kosong disebelahnya di mana Alex biasanya terbaring. Memang belum lama mereka tidur di ranjang yang sama tapi rasanya kehilangan sekali ketika laki-laki itu tak ada.


Semalam Alex menepati janjinya, ia menghubungi Nadia lagi setelah sampai di hotelnya tapi panggilan telepon itu tak berlangsung lama karena Alex merasa kelelahan.


Dengan langkah gontai Nadia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap pergi ke kantor. Ia menikmati sarapan pagi sendiri dalam sunyi.


Setelah selesai dengan sarapannya, ia pun pergi. Seperti halnya hari kemarin, supir pribadi Alex telah menunggunya di pelataran parkir.


***


Ini hari kedua Alex berada di Surabaya, matahari mulai menampakkan diri tapi ia masih bergelung dalam selimut dan tanpa disadarinya tangan Alex berusaha menggapai seseorang untuk ia peluk erat. Tangan itu terus bergerak mencari tapi tak ada seorangpun di sana hingga akhirnya Alex pun terbangun.


"Aahhhh, shiiit," umpat Alex kesal seraya meraup wajahnya. Ia sadar jika saat ini sedang berada di sebuah kamar hotel, bukan berada di apartemennya di mana setiap malamnya kini ada yang menemani ia tidur yaitu istrinya Nadia.


Memang belum lama mereka bersama tapi Alex mulai membutuhkan Nadia. Seperti pagi ini, terasa begitu ada yang kurang ketika ia tak bisa mendapatkan Nadia dalam dekapannya.


Dengan malas Alex mendudukkan tubuhnya di atas ranjang dan mencari benda pipih yang ia letakkan di atas meja. Ia menggulir layar ketika telah mendapatkan ponselnya.


Alex tersenyum senang ketika ia dapati sebuah pesan dari istrinya yang mengatakan ia telah pergi ke kantor dengan supir yang Alex sediakan dan mengingatkan Alex untuk sarapan serta doa semoga seluruh kegiatannya lancar di hari ini. Sebuah pesan yang sederhana tapi Alex sangat bahagia karenanya.


***


Sore harinya Nadia sudah sampai di apartemen. Ia pulang lebih cepat karena merasa tak enak badan padahal yang sebenarnya terjadi adalah hatinya terasa begitu kalut karena rasa rindu yang tak tertahankan.


Baru kali ini ia merasakan hal seperti itu, merindukan seorang lelaki dengan hebatnya hingga sangat mempengaruhi dirinya. Ini adalah akhir pekan, besok Nadia tak usah masuk kerja. Tapi sayangnya Alex baru akan pulang besok malam atau bahkan Minggu pagi jika ia benar-benar sibuk.


Nadia sedang asik terbaring di atas ranjang Alex ketika lelaki itu menghubunginya.


"Loh kamu udah pulang ?" Tanya Alex terheran ketika ia melihat Nadia sudah berada di apartemennya padahal hari masih sore.


"Hu'um, aku pulang cepat," jawab Nadia.


"Kenapa ? Sakit ?" Tanya Alex terlihat cemas.


"Mmm...nggak, pekerjaan ku emang udah selesai. Lagian kan aku pulang di jemput supir kamu, jadi ya... Sampai apartemen lebih cepat," jawab Nadia beralasan.


"Are you sure ?" ( Apa kamu yakin ?) Tanya Alex memastikan.


"Iya Alex, aku baik-baik saja. Kamu juga udah selesai ?" Tanya balik bertanya.


"Ya, ini dijalan mau pulang ke hotel. Setelah ini ada perjamuan makan malam dan besok ada kegiatan hiburan sebagai penutup kegiatan yang di berikan klien," jawab Alex.


Nadia sedikit paham, biasanya klien akan berusaha menyenangkan rekan bisnisnya dengan memberikan pelayanan yang sempurna dan tak sedikit yang memberikan layanan itu dengan menyajikan wanita-wanita cantik sebagai pelengkapnya.


"Jangan nakal Alex, ingat janjimu," ucap Nadia tak bisa lagi menahan rasa dalam hatinya. Belum apa-apa ia sudah merasa cemburu.


Alex tersenyum di ujung sana, ia merasa senang diingatkan. "Gak akan nakal, aku janji," jawab Alex seraya mengangkat ke 2 jarinya.


"Awas kalau bohong !! Aku gak mau lagi sama kamu," ancam Nadia dan itu membuat Alex tertawa.


"Kalau aku gak bohong, aku minta jatahku lagi begitu sampai Jakarta," ucap Alex dengan mendekatkan wajahnya ke layar ponsel.


"Oke, siapa takut," jawab Nadia dan Alex pun kembali tertawa.


***


Pukul 10 pagi Nadia sudah mandi, untuk menghilangkan sepi ia memilih untuk membuka pekerjaannya yang tersimpan di dalam laptop.


Dengan tubuh menelungkup di atas ranjang dan keyboard di hadapannya, jemari Nadia dengan lincah bergerak di atasnya.


Telinganya tertutup pengeras suara yang memutar lagu-lagu kesukaannya. Begitulah Nadia yang harus bekerja diiringi suara musik.


Ia melihat jam dan membayangkan apa yang sedang Alex lakukan saat ini. Mungkin suaminya itu tengah bersiap pergi ditemani wanita cantik yang penuh goda.


"Awas kamu !! Lihat aja kalau berani macam-macam, aku gak mau lagi berc*nta denganmu," gumam Nadia kesal.


Nadia terkejut luar biasa dan hampir saja berteriak ketika seseorang menindih tubuhnya dan melepaskan pengeras suara dari telinganya.


"Aku pulang, dan aku gak macam-macam di Surabaya. Ayo kita berc*nta," ucap Alex yang kini telah berada di sana di atas tempat tidurnya.


Nadia terbelalak tak percaya karena seharusnya Alex tiba malam hari nanti di Jakarta. "A-Alex ??? "


"Iya.. ini aku... aku pulang lebih cepat buat kamu," lanjutnya lagi. Tanpa banyak bicara, Alex merubah posisi Nadia untuk tidur menghadapnya.


Dengan tak sabaran Alex menyatukan bibirnya dengan bibir Nadia dan mengulumnya penuh rasa rindu.


To be continued ❤️


Thanks for reading 😘