
"Morning beautiful," sapa Alex pada Nadia yang baru saja membuka matanya. Pagi ini Alex bangun lebih dulu karena ia ada penerbangan di jam pertama.
"Selalu terasa berat kalau harus pergi ninggalin kamu," ucap Alex lagi. Dirinya sudah terlihat rapi dengan setelan jas berwarna abu-abu tua. Wangi maskulin khas pria dewasa menguar dari tubuhnya.
"Lusa pun kita akan bertemu. Aku dan Nadine akan menyusul mu setelah semua pekerjaanku selesai," sahut Nadia yang masih bergelung di dalam bedcover. Dirinya nyaris polos karena sisa kegiatan panasnya semalam bersama Alex. Lelaki itu selalu minta "bekal" sebelum perjalanan dinasnya.
"Baiklah... Lusa, aku sendiri yang akan menjemput kamu dan Nadine ke bandara," ucap Alex seraya membelai lembut pipi sang istri. "Aku pergi. Jaga dirimu baik-baik," Alex pun berdiri di susul oleh Nadia yang dengan susah payah membelitkan kain bedcover untuk membungkus tubuhnya yang hampir polos itu.
"Tak usah antarkan aku ke depan. Kamu beristirahatlah," Alex tahu jika Nadia pastilah sangat lelah karena Alex mengajaknya 'bermain-main' semalaman.
Nadia pun menuruti perkataan suaminya itu. Ia hanya mengantarkan Alex hingga pintu kamar dan melepaskan kepergiannya tapi Alex masih berdiri tak buru-buru pergi. "Kenapa ?" Tanya Nadia terheran.
"See.. belum apa-apa aku udah kangen kamu," jawab Alex dengan wajahnya yang memelas. Entah kutukan apa yang Nadia berikan padanya hingga laki-laki itu begitu mencintainya padahal mereka telah menikah lebih dari 10 tahun lamanya.
"Apakah bekal 3 ronde semalam tidak cukup, Pak Henry ?" Tanya Nadia sembari memicingkan matanya.
"Never enough," jawab Alex sambil tertawa. Matanya langsung menelisik Nadia yang saat ini tubuhnya terbalut oleh kain putih bed cover. Bahu telanj*ng Nadia membuatnya menelan ludah.
"Sebaiknya, kamu cepat kembali ke dalam kamar atau aku akan melakukan seperti yang tadi malam," ancam Alex.
Nadia tertawa. Tak ingin suaminya ketinggalan pesawat, Ia pun masuk kembali ke dalam kamar dan menutup pintunya rapat-rapat.
Setelah itu ,terdengar suara pintu yang terbuka. Nadia yakin jika Alex memasuki kamar anak perempuan mereka untuk berpamitan. Biasanya suaminya itu akan memberikan Nadine ciuman yang banyak di puncak kepalanya sebelum ia benar-benar pergi.
Nadia mengulum senyumnya. Dirinya benar-benar merasa bahagia karena mendapatkan Alex sebagai suami dan juga ayah dari anaknya.
Jika mengingat awal pernikahan mereka, Nadia tak pernah menyangka jika Alex akan menjadi sosok laki-laki yang seperti sekarang ini. Ia begitu penuh rasa cinta, lembut, perhatian dan juga menjadikannya ratu dalam hidupnya. Dan Nadia sangat bersyukur akan hal itu.
***
Waktu pun berlalu dengan cepat. Seharusnya hari ini Nadia pergi menyusul Alex ke Jogjakarta bersama Nadine putri mereka. Tapi tanpa sepengetahuan Alex, ternyata Nadia merasa kurang sehat dua hari terakhir ini. Tubuhnya terasa lemas dan ia kehilangan nafsu makan.
Nadia mengira dirinya sakit karena kelelahan dan tidur tanpa menggunakan pakaiannya dua hari yang lalu. Pandangan matanya yang berkunang-kunang dan tubuhnya yang terasa lemas membuat Nadia membatalkan niatnya untuk menyusul sang suami.
Beruntung bagi Nadia karena Nadine sang putri kesayangan sangatlah pengertian walaupun usianya masih 6 tahun.
Melihat mamanya sakit, Nadine pun tak merasa marah ketika mereka harus membatalkan rencana untuk menyusul Alex ke Jogjakarta dan berakhir pekan.
Mendapatkan pembatalan dari Nadia membuat Alex panik. Ia memutuskan untuk segera pulang ke Jakarta dan melihat kondisi sang istri yang katanya sedang sakit.
Itulah alasan Nadia tak mau mengabari Alex jika dirinya sedang sakit. Alex pasti akan langsung menunda pekerjaan untuknya dan Nadia tak mau itu.
***
"Bagaimana keadaan Ibu ? Kenapa kalian tak memberi tahu aku ?" Terdengar gaduh suara Alex yang sepertinya baru saja tiba. Alex pasti sedang menginterogasi asisten rumah tangga mereka.
"Apa dokter sudah datang kemari ?" Terdengar Alex bertanya lagi dan Nadia pun tersenyum karenanya.
Saat ini Nadia tengah membaringkan dirinya di atas sofa yang berada di ruang keluarga ditemani Nadine yang sedang mewarnai sebuah gambar.
"Sayang...," Sapa Alex seraya melonggarkan dasinya ia berjalan tergesa pada Nadia yang terbaring lemah.
"Papa !" Pekik Nadine, ia pun berhambur pada Alex dan meminta lelaki untuk memangkunya.
Alex mengangkat tubuh Nadine tinggi-tinggi dan mencium wajah cantik gadis itu bertubi-tubi hingga Nadine kegelian dan meminta untuk diturunkan.
Setelah puas melampiaskan rasa rindu pada anak gadisnya itu, Alex pun beralih pada Nadia yang kini sudah duduk tegak dan bersandar di sofa.
"Kenapa gak bilang lagi sakit ? Padahal aku selalu menanyakan kabarmu setiap waktu," Alex sedikit marah, ia tak suka Nadia menyembunyikan sesuatu darinya.
Nadia malah tersenyum melihat Alex seperti itu membuatnya menjadi gemas. Suaminya itu memang selalu berlebihan dalam mencemaskan dirinya.
"Aku gak mau ganggu kerja kamu. Aku tahu kalau kamu pasti langsung pulang dan meninggalkan pekerjaanmu, aku gak mau itu," jawab Nadia beralasan.
"Walaupun begitu, aku tak akan lepas tanggung jawab. Aku akan meminta adikmu atau Heru yang menggantikan,"
"Terus bagaimana sekarang ? Masih pusing?" Tanya Alex seraya mendudukkan tubuhnya tepat di sebelah Nadia dan ia pun meletakkan telapak tangannya di atas dahi sang istri untuk mengukur suhu tubuhnya.
Tapi...
Tiba-tiba saja Nadia bergerak menjauh, ia tak ingin disentuh oleh suaminya itu. Perutnya bergejolak ingin mengeluarkan isinya saat ia mencium bau parfum suaminya itu.
"Jangan mendekat !!" tolak Nadia lirih. Ia bergerak menjauhi Alex sembari menutup hidung dan mulutnya.
Deg ! Jantung Alex hampir jatuh dari tempatnya. Ia sangat terkejut dengan penolakan sang istri yang dirindukannya itu.
"Aku jauh-jauh pulang karenamu dan ini yang aku dapatkan ?" Tanya Alex tak suka.
"Sebaiknya kamu mandi dulu, atau berganti baju," sahut Nadia lirih. Ia sendiri pun tak mengerti kenapa bisa seperti itu pada suaminya.
Alex mengendusi dirinya sendiri. Tak ada yang aneh padanya. Sebelum pulang ke Jakarta pun Alex sempatkan diri untuk mandi.
"Nadine Sayang," sahut Alex pada anak gadisnya itu.
Nadine yang sedang mewarnai gambar pun melihat pada Alex. "Ya, Papa ?"
"Coba kesini dan cium Papa," titah Alex.
Gadis kecil itu menyimpan pinsil gambarnya dan berjalan menuju Alex yang duduk tak jauh dari Nadia.
Nadine pun memberikan banyak ciuman di wajah Papanya itu. "Apakah papa bau ?" Tanya Alex takut-takut.
"No, Papa selalu wangi seperti biasanya. Dan Nadine suka !" Jawab gadis itu seraya memeluk Alex dengan erat.
" See... Aku gak bau !" Protes Alex.
Tapi tidak untuk Nadia yang terus membekap mulutnya sendiri.
"Baiklah ! Aku akan mandi lagi. Mungkin bau kendaraan," ucap Alex mencari alasan untuk dirinya sendiri.
"Kamu udah ke dokter ?" Tanya Alex lagi dan Nadia menggelengkan kepalanya pelan.
Ia merasa sakitnya itu akan sembuh dengan hanya beristirahat saja.
"Setelah aku mandi kita akan pergi ke dokter dan kamu gak boleh menolaknya !"
***
Alex berdiri di bawah guyuran air shower. Ia tengah membersihkan dirinya. Ini adalah kali yang ke tiga Alex menyabuni tubuhnya yang polos. Ia lakukan itu untuk menghilangkan bau yang Nadia tak suka.
Tak hanya tubuhnya saja, tapi Alex juga mencuci rambutnya berulang kali, ia takut dari situlah bau tak sedap itu berasal.
"Huufft," Alex menarik nafas dalam dan segera bersiap-siap. Ia mengenakan pakaian yang lebih kasual dan tak lupa menyemprotkan parfum mahal andalannya.
Alex telisik tampilannya sendiri di cermin. Ia terlihat sangat tampan dengan kaos hitam dan celana abu-abunya. Rambutnya yang setengah basah tersisir rapi. Ia pun tersenyum lebar memastikan gigi-giginya bersih.
"Tak mungkin Nadia nolak kamu lagi," ucap Alex pada dirinya sendiri di hadapan cermin.
Alex pun menyambar dompet dan ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ia akan membawa sang istri ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatannya. Dengan langkah tergesa Alex kembali ke lantai 1 di mana istrinya berada.
Alex sudah sangat percaya diri jika istrinya itu tak akan menolaknya lagi. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya. Lagi-lagi Nadia tak ingin berdekatan dengannya.
"Kamu ini kenapa ?" Tanya Alex frustasi.
"Gak tau !" Nadia pun tak mengerti dengan dirinya yang merasa mual bila berdekatan dengan suaminya itu.
"Aku sudah mandi, berganti baju dan mengenakan parfum yang paling kamu sukai ! Tapi kenapa kamu menolakku terus ?"
"Entahlah Alex, tapi aku tak bisa berdekatan denganmu. Aku mual...,"
"2 hari kita terpisah dan kini kamu berubah. Tak ingin aku dekati... apakah...," Alex menjeda ucapannya.
"Apakah apa ?" Nadila berkerut alis tak paham.
"Apakah kamu memiliki Pria idaman lain ? Apakah kamu mengkhianati aku, Nadia ?"
Mata Nadia langsung membola, ia sungguh tak suka dengan tuduhan suaminya itu.
bersambung...
kenapa In Love jadi bersambung lagi... 🥲
gpp deh tapi slow update yaaaa...
boncap ini sebagai permintaan maaf juga sebagai tanda terimakasih untuk bestie akooh evagelista yang belum lama ini jadi fans diamond di novel In Love.
terimakasih atas dukunganmu bestie..