
Happy reading ❤️
Nadia terus membawakan presentasi dengan bersemangat di depan sana sedangkan Alex mulai merasakan sesak dan panas dalam dadanya sampai ia harus melonggarkan dasinya sendiri hanya untuk bisa bernafas dengan lega.
"Aarrgghhhh," erang Alex seraya melonggarkan dasinya membuat ia menjadi pusat perhatian seketika. Semua mata yang tertuju pada Nadia kini beralih padanya. Termasuk sang istri yang harus menghentikan dulu apa yang sedang dijelaskannya.
"Anda baik-baik saja, Pak ?" Tanya Joy sang sekretaris.
"Eheeemm, apa AC nya rusak Joy ? Saya merasa sedikit kepanasan," Alex berdehem menetralkan tenggorokannya dan balik bertanya dengan sesuatu yang tak masuk akal karena suhu AC di ruangan itu sudah sangat dingin membuat yang lain saling beradu pandang terheran karena pertanyaan yang Alex lontarkan.
"Tidak rusak sama sekali, Pak." Jawab Joy dengan yakinnya.
"Saya kira suhunya sudah sangat dingin," kali ini pak Adi sang manager yang menjawab dan disetujui yang lainnya, sedangkan mata Heru terus tertuju pada Nadia. Ia tak menghiraukan apa yang sedang dikeluhkan oleh bossnya itu.
"Oh baiklah, ini hanya perasaan saya saja," sahut Alex dengan tersenyum penuh wibawa.
"Apa perlu saya bawakan air mineral yang ditambahkan batu es ?" Tanya Joy lagi.
Melihat semua orang terheran, Alex pun menolaknya. "Tak perlu, terimakasih," jawab Alex kemudian.
"Bisa saya lanjutkan ?" Tanya Nadia.
"Sure, silahkan," jawab Alex dengan berusaha untuk tetap tenang. Ia tak habis pikir bagaimana mungkin Nadia bisa mengendalikan emosinya. Ia memaparkan materi dengan lancar tanpa terganggu oleh kehadirannya. Bukannya saat ini seharusnya Nadia merasa terkejut dengan kehadirannya ? Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Kini Alex yang perasaannya begitu tak karuan.
Alex meraih paksa buku notulen rapat yang sedang Joy tulis dan menyerahkannya pada Heru sang asisten karena ia terus saja fokus memperhatikan sang istri dan Alex sangat membenci itu.
"Catat bagian-bagian yang penting, jadi kamu tak hanya memperhatikan," kata Alex dengan ketusnya.
Heru terlihat terkejut begitu juga Joy namun keduanya tak dapat membantah apa yang boss nya itu inginkan.
Cukup lama Nadia menjelaskan hingga mereka masuk ke dalam sesi tanya jawab. Alex memberikan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan materi dan Nadia menjawab pertanyaan itu dengan sempurna.
Heru yang duduk di sebelah Alex kini sibuk menulis semua yang terjadi di ruang rapat itu.
"Saya sangat terkesan dengan proposal juga presentasi yang anda bawakan," kata Alex sungguh-sungguh.
"Terimakasih Pak Henry, saya sangat menghargainya," jawab Nadia dengan tegas.
"Jarang sekali wanita yang mengambil disipilin ilmu seperti ini. Saya sangat salut dengan pilihan dan kemampuan anda. Tentunya dalam bidang yang anda geluti ini mengharuskan anda banyak bergaul atau berteman dengan laki-laki. Apakah ini yang anda inginkan ? Apa anda senang menjadi pusat perhatian mereka?" Tanya Alex dengan menatap tajam Nadia.
Apa yang Alex tanyakan membuat semua orang menoleh kepadanya dengan wajah tak percaya.
"Pak Henry, sepertinya pertanyaan bapak tak ada hubungannya dengan materi ini," jawab pak Adi.
Namun Alex tak bergeming ia masih saja menatap dalam Nadia dan menantikan sebuah jawaban dari istrinya itu.
"Biar pak, gak apa-apa. Saya akan jawab semua pertanyaan pak Henry. Mungkin beliau kurang percaya dengan kemampuan seorang wanita seperti saya," kata Nadia menimpali ucapan atasannya itu.
"Bidang ini adalah passion saya. Meskipun saya seorang wanita tapi saya menggelutinya dengan sungguh-sungguh. Bagi saya tak masalah bergaul dengan banyak orang termasuk laki-laki selama itu tidak melampaui batas. Dan selama itu memberikan pengaruh yang positif bagi saya, daripada hanya berteman dengan seseorang yang hanya memberikan pengaruh buruk bagi kita," jawab Nadia dengan jelasnya.
"Sepertinya anda memiliki banyak teman?" Tanya Alex.
"Ya dan saya bersyukur karena itu," jawab Nadia lagi.
"Saya memerlukan rekan bisnis yang loyal ( setia ) agar kerja sama bisa berjalan dengan baik. Apa anda loyal pada pasangan ?"
"Pak ?" Kini Heru yang bertanya pada Alex. Ia merasa heran pada bosnya itu dan juga kebingungan apa harus menuliskan pertanyaan itu pada buku rapatnya namun lagi-lagi Alex tak menghiraukannya.
"Moral hidup saya sangat simpel, Pak." Jawab Nadia.
"Saya akan memperlakukan siapapun sesuai dengan apa yang mereka lakukan pada saya. Jika mereka berlaku baik maka saya akan membalasnya dengan baik pula. Begitu juga terhadap pasangan jika ia setia maka saya akan lebih setia, namun jika ia berkhianat maka saya pun bisa melakukan apa yang dilakukannya," lanjut Nadia lagi.
"Termasuk mempunyai kekasih di belakang suamimu ?" Tanya Alex dengan suara meninggi.
"Ya mungkin saja jika suami saya pun dekat atau memiliki hubungan istimewa dengan wanita yang lain,"
"Nadia !!!" Hardik Alex sembari menggebrak meja membuat yang lain terkejut luar biasa. Sedangkan Nadia masih terlihat tenang di hadapannya.
"Maaf," kata Alex karena tak bisa mengontrol emosinya
"Apa mempunyai banyak teman pria itu termasuk berselingkuh dari pasangan ?" Tanya Alex lagi.
"Tidak selama tidak melibatkan perasaan di dalamnya," jawab Nadia dan Alex menganggukkan kepalanya.
"Sepertinya anda lebih sering menghabiskan waktu dan membagi mimpi dengan teman-teman anda dibandingkan dengan pasangan sendiri,"
"Karena pasangan saya lebih suka membagi mimpi dan keberhasilannya dengan wanita lain yang telah meninggalkannya di masa sulit dan datang kembali sebagai parasit," sahut Nadia menimpali pernyataan Alex.
Rahang Alex mengeras ketika ia mendengar tanggapan yang Nadia berikan. Sedangkan peserta rapat yang lain menonton perdebatan ini dengan terheran.
"Jika menurut anda 'Sok tahu' itu adalah berbicara sesuai dengan fakta maka saya bersedia dikatakan seperti itu,"
"Nadia !" Sentak Alex membuat yang lain terkejut.
"Pak Henry, saya rasa pertanyaan ini telah melenceng terlalu jauh. Nadia adalah salah satu pegawai terbaik kami dengan kinerja yang luar biasa walaupun dia seorang wanita. Saat ini beliau masih single dan belum menikah jadi saya rasa Nadia tidak begitu paham dengan apa yang anda tanyakan," bela pak Adi.
"Belum menikah huh ?" Tanya Alex dengan matanya yang berkilat menatap Nadia tanpa jeda.
"Anda masih sendiri ?" Tanya Heru dengan tersenyum penuh arti.
"Sudah saya katakan fokus pada pencatatan rapat !" Hardik Alex pada asistennya itu dan Heru pun terdiam seketika.
"Saya rasa cukup presentasi yang dibawakan dan saya sangat tertarik. Oleh karena itu saya minta saudari Nadia untuk tinggal," ucap Alex menutup pertemuan ini.
"Maaf saya tak bisa lakukan itu, meninggalkan anak buah saya di sini," jawab pak Adi yang terlihat sedikit cemas .
"Saya hanya ingin membahas projek ini lebih lanjut dan mungkin menawarkan beberapa pekerjaan lainnya. Dan anda juga jangan khawatir karena saya akan mengantarkannya dengan selamat sampai rumah. Ini kartu nama saya," jelas Alex.
Mendengar jika Alex akan menawarkan pekerjaan lainnya tentu saja membuat atasan Nadia terlihat senang dan menyetujuinya.
Semua mulai meninggalkan ruang rapat dengan wajah sumringah karena sepertinya kerjasama akan segera terjalin. Meninggalkan Alex dan Nadia yang masih terdiam di ruang rapat.
Nadia membereskan semua yang dijadikan bahan presentasinya dan Alex menunggunya dengan setia.
"Ayo kita bicara di ruangan aku," ajak Alex dan Nadia pun menurutinya.
Mereka berjalan berdampingan dan Alex masih saja tak bisa menghilangkan rasa takjub pada istrinya itu. Ia pun meraih pinggang Nadia untuk lebih dekat dengannya.
"Alex apa kamu gila ?" Tanya Nadia seraya menepis tangan suaminya.
"What ?"
" Semua orang bisa melihat kita dan mereka pasti akan berpikiran buruk," jawab Nadia.
"Aku tak peduli," sahut Alex dan ia pun kembali merengkuh pinggang sang istri untuk lebih dekat dengannya dan lagi-lagi Nadia menepisnya.
Semua mata tertuju pada keduanya termasuk Heru dan Joy. "Boss gercep banget kalau lihat yang bening gak kasihan sama kita," ucap heru dengan memelas. Joy tertawa mendengar keluhan temannya itu namun ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya. Apakah ini Nadia yang selalu dikirimi makan siang oleh bossnya itu.
"Duduklah," titah Alex pada Nadia ketika mereka memasuki ruangan Alex.
Ruangan yang mewah dan modern. Jauh lebih baik dari kantor yang ditempati oleh Nadia. Tak heran jika suaminya itu menjadi incaran banyak wanita.
"Alex, aku harap hubungan kita tidak mempengaruhi kerjasama ini karena aku melakukannya dengan sangat profesional dan tidak adil jika kamu mempermainkan ini semua hanya karena sikap isengmu. Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini," ucap Nadia dengan jelasnya.
Alex terdiam untuk sesaat seolah tengah memikirkan sesuatu. "Tentu saja, proposal yang kamu ajukan hampir sempurna dan aku benar-benar tertarik,"
"Beberapa hari ke depan perwakilan dari perusahaanmu dan juga dariku akan pergi ke Bali untuk mengecek ulang lokasi dan kamu tak boleh pergi karena bukan aku yang akan ke sana. Aku harus pergi ke Riau besok untuk mengerjakan sesuatu yang penting, kamu ngerti ? Kamu gak boleh pergi kalau bukan sama aku," lanjut Alex seraya menatap mata Nadia dengan dalam.
"Tapi berjanjilah kalau kamu akan melakukan ini secara profesional tanpa memasukkan masalah pribadi kita," tutur Nadia.
"Aku berjanji," jawab Alex tanpa ragu.
"Baiklah, aku akan menuruti keinginanmu"
"Good girl," sahut Alex seraya tersenyum puas.
Tak lama ponsel Alex bergetar dalam sakunya dan ia pun menerima panggilan itu.
"Halo, kenapa ?" Tanya Alex.
"Aku lagi sibuk," lanjutnya lagi. Mendengar nada suara dan bahasa yang Alex gunakan, Nadia tahu suaminya tengah berbicara dengan siapa.
Nadia pun memilih untuk membenahi barang yang ia bawa kemudian berdiri untuk bersiap pergi.
Secepat kilat Alex merengkuh pinggang istrinya itu agar tak pergi namun Nadia kembali menepisnya.
"Kumohon jangan pergi Nadia, kita pulang bersama," ucap Alex tanpa menjauhkan ponselnya yang masih terhubung pada Lola.
To be continued ❤️
Thanks for reading 😘
Mumpung Senin tolong sogok aku dengan vote yaaa..
Terimakasih 🙏🙏