In Love

In Love
Bonchap 3



Happy reading ♥️


Hari bergulir dengan cepat dan berganti bulan. Kehamilan Nadia mulai terlihat dari perutnya yang membuncit dan Alex sangat menyukai itu. Ia akan mengajak buah cinta mereka berbicara setiap harinya. "Baik-baik di dalam sana, jangan buat mama mual ya, cukup papa saja. Aku mencintaimu, juga sangat cinta mama mu. Kalian lah duniaku," itulah kata-kata yang hampir setiap hari Alex ucapkan tepat di atas perut Nadia yang membuncit


Walaupun ia cukup tersiksa dengan kehamilan simpatik yang dialaminya karena harus mengalami mual di pagi hari dan menginginkan beberapa jenis makanan yang tak pernah Alex coba sebelumnya, tapi Alex sangat menikmati itu semua. Ia menikmati perannya sebagai suami juga sebagai calon ayah.


"Bagaimana mungkin aku menginginkan rujak jambu pada jam seperti ini," keluh Alex sembari melihat jam yang menunjukkan pukul setengah 11 malam. Saat ini ia sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa dan kepalanya dalam pangkuan istrinya.


Nadia yang mendengar itu terkekeh geli, sembari membelai lembut rahang dan dagu Alex yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus dan tangan lainnya memegang buku parenting yang ia baca.


"Harusnya kamu beli pas melihatnya tadi sore dan simpan di kulkas, jaga-jaga bila jam seperti ini kamu menginginkannya." Nadia ingat tadi sore ketika mereka pulang kantor bersama, ia dan Alex duduk bersama di bangku penumpang karena supir mereka yang menjalankan kendaraannya. Waktu itu jalanan macet dan tak jauh dari tempat mobil terhenti ada seorang penjual rujak jambu kristal yang menjajakan dagangannya.


"Apa itu ?" tanya Alex sembari menggoyangkan tangannya yang sedang menggenggam jemari Nadia.


Ya... walaupun telah menikah 3 tahun lamanya tapi Alex masih sangat menyukai itu. Ia sangat suka jika jemarinya saling bertautan dengan milik istrinya.


Nadia menolehkan kepala ketika ia merasa Alex membutuhkan perhatiannya dari sinyal genggaman tangannya. "Apa ?" Nadia balik bertanya karena tak paham.


"Apa yang dijual orang itu ?" tanya Alex sembari menunjuknya.


Mata Nadia pun menangkap apa yang Alex maksudkan, "oh itu rujak jambu,"


"Bagaimana rasanya?" tanya Alex tanpa mengalihkan pandangannya dari penjual itu.


"Mmm... manis, asin dan pedas," jawab Nadia. "Kamu mau ?" tanyanya kemudian.


Alex menggelengkan kepalanya pelan, ia bayangkan jika makanan itu akan memiliki rasa yang aneh karena yang Alex tahu hanya mangga atau nanas yang bisa dibuat menjadi sebuah rujak.


"Kamu yakin ?" tanya Nadia untuk meyakinkan.


"Hu'um, rasanya pasti aneh banget," jawab Alex.


Dan beginilah Alex sekarang yang merengek ingin memakan rujak jambu di waktu hampir tengah malam. Ia menggulir layar ponselnya dan mencari penjual rujak tersebut melalui aplikasi online namun sayangnya tak ada.


Kadang Nadia merasa kasihan melihat Alex yang masih saja mengalami kehamilan simpatik padahal usia kandungan Nadia hampir memasuki bulan ke 5.


Nadia menutup bukunya dan menyimpannya di atas meja. "Sebaiknya kita tidur, besok pagi kamu ada pertemuan penting bukan ?" bujuk Nadia agar suaminya itu segera tidur saja daripada mencari penjual rujak di malam hari.


Alex yang keras kepala tak mau mendengarnya, ia masih menggulir layar untuk mencarinya.


Nadia yang melihat itu merasa gemas juga kasihan, akhirnya ia mengeluarkan jurus terampuh untuk membujuk Alex yang merajuk. "Mmm.. sayang... seperti kamu yang ingin memakan rujak, anakku jiga ingin ditengok papanya," ucap Nadia terdengar lirih hingga Alex menghentikan pergerakan jarinya di layar ponsel dan menatap Nadia dengan tersenyum simpul.


"Benarkah ?" tanya Alex tanpa bisa menyembunyikan wajah sumringahnya.


Nadia menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban dan Alex pun segera bangkit dari sofa. Ia langsung memangku Nadia bagai koala. "Baiklah Sayang, papa akan menemui mu," ucap Alex. Ia langsung melupakan drama rujak tersebut dan berjalan menuju kamar mereka untuk 'menengok' anak yang ada dalam kandungan istrinya.


***


Nadia berjalan menuju ruangan Alex dengan suasana hati yang baik, percintaannya dengan Alex semalam sangat mengesankan. Ia senang ketika Alex dengan terang-terangan memuja tubuhnya yang tengah berbadan dua. "Kamu cantik banget, apa aku harus terus menghamili kamu ?" tanya Alex sembari menciumi setiap inchi tubuhnya bahkan ia berlama-lama mengecupi perut Nadia yang sedikit membuncit.


"Joy, tamu bapak sudah datang ?" tanya Nadia ketika ia tiba di depan pintu ruang kerja Alex. Suaminya tadi meminta ia datang untuk sama-sama menemui calon klien Alex yang baru.


"Iya bu, Nona Marcela dan asistennya sudah datang. Ibu silahkan masuk," jawab Joy dengan sopan.


"Marcela ?" tanya Nadia terheran karena seingatnya Alex menyebutkan nama seorang laki-laki yang akan menjadi tamunya pagi ini.


Tanpa banyak bicara, Nadia membuka pintu ruang kerja Alex dengan perlahan. Alex tengah duduk di atas sofa yang diperuntukkan untuk menerima tamu dan tak jauh darinya duduk seorang wanita dewasa dan seorang laki-laki muda. Tapi yang kini menjadi pusat perhatian Nadia adalah seorang wanita yang duduk dengan bertumpang kaki hingga rok mininya semakin tertarik keatas dan memperlihatkan kaki mulusnya yang jenjang dan tak hanya itu, wanita itu juga membuka 2 kancing kemeja yang berada di balik blazernya hingga belahan dadanya terlihat menggoda.


Jangankan Alex yang seorang laki-laki tapi Nadia pun yang seorang wanita bisa melihat dengan jelas jika tamu Alex pagi ini terlihat begitu menggoda dan mungkin berusaha menarik perhatian Alex.


'Panas' itulah yang Nadia rasakan saat ini. Ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan. "Selamat pagi," ucap Nadia ketika ia melangkah masuk hingga semua mata tertuju padanya.


"Dan ini adalah Nadia Wirahma tenaga ahli yang saya ceritakan tadi," ucap Alex sembari berdiri dan menyambut kedatangan Nadia.


"Dan juga istrinya," lanjut Nadia seraya berjalan menuju Alex lalu mengusap seduktif lengan suaminya dan itu membuat Alex tersentak untuk sesaat karena Nadia tak pernah melakukan hal itu sebelumnya.


"Ya, Nadia adalah istri saya," lanjut Alex dan ia rasakan rengkuhan tangan Nadia di pinggangnya. Lagi-lagi Alex merasa terheran untuk kedua kalinya.


Wanita bernama Marcela dan asistennya berdiri dan menyambut kedatangan Nadia. Wajahnya yang cantik dengan polesan make up tebal menyunggingkan senyuman kecut ketika menyambut uluran tangan Nadia untuk berjabat tangan.


"Marcela, senang berkenalan dengan anda." ucapnya terdengar dingin. "Nadia Wirahma," jawab Nadia dengan tegas.


Marcela pun kembali duduk di atas sofa dan kembali bertumpang kaki. Nadia pun melakukan hal yang sama, duduk di sebelah Alex dengan sama bertumpang kaki hingga kaki jenjangnya pun terlihat dengan jelas. Tak hanya itu, Nadia juga menyentuhkan ujung sepatutnya yang lancip pada betis bagian dalam Alex hingga lelaki itu menoleh ke arahnya.


"Sayang ?" tanya Alex sembari berbisik. Matanya menatap Nadia penuh maksud. Ia tak menyadari jika istrinya sedang merasa cemburu dan sedang berusaha mengklaim bahwa Alex miliknya pada wanita yang duduk di hadapannya.


"Hu'um ? sebaiknya kita mulai berbicara tentang pekerjaan ini," jawab Nadia sembari kembali menggoda kaki Alex dengan sentuhan sepatunya.


Dibandingkan dengan rasa cemburu istrinya, otak mesoom Alex lebih cepat bekerja. Ia pun meletakkan tangannya di atas paha Nadia seolah itu hal biasa padahal dalam hatinya mati-matian menahan hasrat yang mulai tersulut.


Wanita yang duduk dihadapan mereka menatap tak suka, sedangkan Nadia sesekali masih menggoda Alex dibawah sana.


Setelah beberapa menit membicarakan pekerjaan, Alex pun tak tahan lagi. "Sayang, bisa bantu aku carikan berkas data di meja ?" tanya Alex pada istrinya itu sembari menarik tangannya untuk berdiri.


Nadia menurutinya, ia lingkarkan tangannya pada pinggang Alex ketika mereka berdiri dan berjalan menuju meja kerja Alex. Ia tengah menunjukkan pada wanita itu jika Alex adalah miliknya. Nadia sedang mengklaim kepemilikan Alex dengan jelasnya.


Alex membalas rengkuhan tangan Nadia dengan rangkulan di pundak istrinya itu dan menariknya mendekat. "Sayang, apa anakku ingin ditengok papanya seperti tadi malam ?" tanya Alex dengan otak mesoom nya yang sedang bekerja. Ia masih saja tak sadar antara persaingan dua wanita di ruangannya.


Nadia menolehkan kepalanya tak percaya. "Jika itu maunya, aku pun sama. Aku sangat ingin menemuinya lagi. Bisa tunggu satu jam lagi ? eh setengah jam lagi. Aku akan mempersingkat pertemuan ini," ucap Alex masih dengan berbisik. Mata hitamnya berkilat sayu penuh damba.


"Aku milikmu Sayang... Kapanpun kamu menginginkan aku, aku pasrahkan dirimu hanya untukmu seorang," lanjut Alex. Sepertinya ia benar-benar salah paham dengan maksud istrinya.


To be continued ♥️


lah kan udah tamat ya kenapa bersambung lagi 🤣🤣🤣