
Happy reading ❤️
"Angkat teleponnya, Nadia ! Atau aku akan terbang ke Bali sekarang juga dan menyeret mu pulang,"
Nadia membaca pesan yang dikirimkan suaminya dengan pelan. "Issh kenapa lagi sih si bocah tengik ini ?" Decak Nadia kesal. Saat ini ia dan kedua temannya tengah menikmati waktu santai di sore hari karena seharian ini mereka mengecek lokasi proyek yang akan Nadia kerjakan. Kedua temannya itu harus masuk kerja lagi di esok hari. Hanya hari ini mereka cuti untuk menyambut kedatangan Nadia dan membantunya.
Layar ponsel Nadia berkedip lagi dan tertera nama Alex di sana. Meskipun enggan tapi akhirnya ia harus menerima penggilan itu.
"Eh bentar ya, aku harus terima telepon dari sua... Eh bocah tengik dulu," kata Nadia pada Lia temannya itu.
"Hah ? Bocah tengik ? Bimo ?" Tanya nya dengan berkerut dahi tak paham.
"No, bukan Bimo lah. Tunggu sebentar," kata Nadia lagi sembari berdiri.
"Kamu mau kita pesankan apa ?" Kini Arif yang bertanya. Ia adalah teman satu kelas Nadia ketika kuliah dan merupakan suami dari Lia.
"Minuman dingin ma cemilan aja," jawab Nadia sambil tergesa pergi karena nama Alex kembali muncul di layar ponselnya.
Ia segera mencari tempat yang terlihat sepi karena tahu pasti akan sedikit berdebat dengan suaminya itu.
"Jadi ini yang kamu bilang dinas kerja huh?" Tanya Alex begitu Nadia menerima panggilannya.
Bahkan ia harus menjauhkan ponselnya dari telinga karena suara Alex yang begitu kerasnya. Nadia yakin jika suaminya itu tengah berteriak saat ini.
"Pergi ke pantai dengan baju minim bahan dan seorang lelaki. Apa kamu tak punya sedikit rasa malu ? Kamu itu adalah istriku, Nadia. Istriku !!" Alex masih melanjutkan omelan nya di ujung telepon.
"Disini tak ada seorangpun yang tahu jika aku istrimu, jadi kamu tenang saja," jawab Nadia setengah berbisik.
"Apa ???"Alex kembali berbicara dengan nada meninggi di ujung sana.
"Dan kamu harus mulai mengenakan kaca mata karena sepertinya penglihatan mu mulai berkurang," kata Nadia lagi.
"Jangan bercanda denganku, Nadia !!!" Sahut Alex semakin gusar.
"Kamu perhatikan baik-baik ! Aku tak hanya berduaan dengan laki-laki. Disebelahku duduk Lia dan dia adalah istrinya," jelas Nadia dengan kesal.
"Istrinya ?" Tanya Alex dengan suara yang lebih lembut dari sebelumnya.
"Iya, dan sebenarnya aku pergi dengan siapapun bukan urusanmu. Kamu pergi dengan kekasihmu pun aku tak pernah ikut campur," kata Nadia dengan menahan rasa sakitnya.
"What ?" Gumam Alex pelan.
"Ya, aku saja tak pernah ikut campur dalam urusan pribadimu," jawab Nadia lirih.
Tiba-tiba hening menyelimuti keduanya dan terdengar suara Alex yang menghela nafasnya.
"Aku hanya khawatir padamu... Ponselmu tak dapat dihubungi dan tiba-tiba aku melihat fotomu yang seperti itu. Aku takut kamu bertemu orang yang jahat, hanya itu," jelas Alex.
"Aku tak sadar ponselku mati karena begitu tiba aku langsung menuju tempat proyek kerja. Maaf jika membuatmu khawatir," sahut Nadia.
"Hubungi aku biar aku tak merasa khawatir seperti ini. Rasanya mau gila karena memikirkan kamu disana," ucap Alex pelan.
Lagi-lagi untuk kesekian kalinya perkataan Alex membuat hati Nadia kembali terpaut padanya. Ia pun menarik nafasnya dalam dan mengusap dadanya yang berdebar lebih kencang.
"Kan udah aku jelaskan tadi pagi bahwa aku akan sangat sibuk, dan mungkin kita tak ada waktu untuk berbicara," tutur Nadia masih dengan suaranya yang pelan.
"Aku tahu kamu sangat sibuk tapi tolong hubungi aku walaupun hanya sebentar," sahut Alex.
Hening...
"Baiklah, akan aku usahakan. Sudah ya, aku di tunggu kedua temanku," ucap Nadia dan ia pun menutup panggilan itu lebih dulu.
Nadia menyenderkan tubuhnya di dinding, ia menarik nafas dalam. Bagaimana dia bisa sembuh jika Alex terus melakukan hal yang seperti itu.
"Jangan permainkan hatiku, Alex," gumam Nadia lirih dan ia pun mengusap pipinya yang basah.
***
Di Jakarta, di tempat Alex sedang berdiri saat ini langit terlihat lebih gelap karena awan mendung yang menutupinya.
Alex berdiri sendiri di ruangannya seraya memikirkan apa yang istrinya itu ucapkan.
"aku pergi dengan siapapun bukan urusanmu. Kamu pergi dengan kekasihmu pun aku tak pernah ikut campur,"
Apa yang Nadia ucapkan memang benar adanya, namun kenapa ia sangat tak rela ketika mendengarnya.
Alex menatap langit dengan pikirannya yang tak karuan hingga sebuah suara menyadarkannya.
"Alex, seharian ini Aku menunggu mu. Katanya kita akan makan siang bersama tapi kamu gak datang," ucap Lola dengan nada kecewa.
Alex menolehkan kepala ke arah suara dan meraup wajahnya. Karena pikirannya terlalu penuh dengan Nadia hingga ia melupakan janjinya untuk menemani Lola makan siang.
"Ah sorry, aku sibuk banget hari ini," jawab Alex.
"Tapi bisakah kamu temani aku makan malam ?"
"Mmm, baiklah... Tapi aku harus mengerjakan beberapa berkas lagi," jawab Alex.
"Its oke, aku akan menunggumu di sini," Lola pun mendudukkan tubuhnya diatas sofa yang berada dalam ruangan Alex.
"Tapi ini masih pukul 4 sore, kamu akan terlalu lama menungguku. Sebaiknya pulanglah dulu ke apartemen karena aku akan datang nanti,"
"Iya, aku pasti datang," janji Alex dan Lola pun kembali berdiri. Ia berjalan menuju Alex untuk memberinya sebuah kecupan.
"Aku tunggu nanti malam," bisik Lola pelan.
Dulu... Tubuh Alex akan bereaksi hebat jika Lola melakukan hal seperti itu tapi kali ini darahnya tak berdesir lagi. Ia merasa tak ada yang istimewa. Tapi meskipun begitu, Alex tetap mengiyakan apa yang Lola inginkan.
***
"Beri aku kabar, dan jangan pulang ke hotel terlalu malam," Nadia membaca pelan pesan yang baru saja Alex kirimkan dan berpikir untuk sesaat.
"Aku akan melakukan panggilan video setiap pukul setengah 8 malam dengan syarat kamu sudah berada di apartemen kita, jika aku tak boleh pulang malam maka kamu pun begitu," balas Nadia dengan tangannya yang gemetar. Ia berusaha untuk menahan Alex agar tak bertemu kekasihnya selama ia di Bali.
"Ok, deal ," balas Alex dengan cepatnya dan Nadia tersenyum ketika membacanya.
***
Telah hampir satu Minggu berlalu dan seperti perjanjian yang mereka lakukan Nadia melakukan panggilan video itu. Setiap malamnya mereka akan saling bicara namun sayangnya semua berakhir di malam ke 4 karena Alex ternyata berada di rumah sakit menemani Lola yang sakit.
Hubungan yang tadinya membaik kini kembali buruk setelah Alex melanggar janjinya padahal waktu kepulangan Nadia tinggal 2 hari lagi.
Lola sakit karena makannya yang tak teratur dan beban pikiran yang ia miliki. Lola mengatakan itu semua terjadi karena Alex yang terus mengabaikannya dan itu benar adanya, Alex tak pernah lagi melaksanakan janjinya pada wanita itu.
Hari ini adalah hari kepulangan Nadia dari Bali. Pekerjaannya telah rampung meksipun acara healing nya ( penyembuhan diri ) gagal total.
Ia pulang ke apartemennya yang begitu sunyi. Nadia yakin suaminya itu tengah menemani kekasihnya di rumah sakit. Nadia memasuki kamarnya dan melemparkan tubuhnya ke atas ranjang. Ia menutup kedua matanya dengan lengan dan merutuki kebodohannya sendiri karena kembali ke apartemen Alex dan kembali merasakan sakit hati.
***
Alex melihat jam yang melingkar di tangannya dan ia yakin saat ini Nadia telah sampai di apartemen mereka.
"Aku harus pulang," kata Alex pada Lola yang masih terbaring lemah.
"Kenapa kamu selalu ninggalin aku ?" Tanya Lola dengan mengeluarkan air mata.
"Karena aku harus pulang sekarang," jawab Alex sambil terus melihat ke arah jamnya bahkan ia tak sadar jika Lola tengah menangis. Ia pun segera pergi untuk menemui seseorang yang tak bisa ia keluarkan dari kepalanya.
***
Alex tiba di apartemennya pukul 9 malam. Yang ia lakukan adalah segera menemui sang istri. Ia mengetuk pintu kamar Nadia namun tak ada sahutan dari dalam kamarnya padahal Alex yakin Nadia sudah pulang dari sepatu yang diletakkan istrinya itu diatas rak.
"Nad kamu udah pulang ? Buka pintunya. Aku tahu kamu belum tidur,"
Nadia yang tahu Alex telah pulang langsung mengenakan pengeras suara pada telinganya. Ia tak mau mendengarkan apapun yang Alex katakan saat ini. Nadia memilih untuk mendengarkan lagu-lagu pavoritnya.
Cukup lama Alex memanggil nama Nadia namun tak ada jawaban juga, hingga emosinya pun memuncak dengan menendang keras pintu kamar istrinya.
Nadia yang terkejut langsung melepaskan pengeras suaranya dan membuka pintu dengan sama emosinya.
"Ngapain sih Lo ?" Tanya Nadia dengan suara meninggi.
"Aku panggilin kamu tapi tak mau jawab juga. Kamu ini kenapa ?" Tanya Alex berapi-api.
"Gue lagi kerja sambil dengerin lagu," jawab Nadia seraya menunjukkan ponselnya yang terhubung dengan pengeras suara.
Alex amati wajah Nadia yang seminggu terakhir ini semakin membuatnya tersiksa. Matanya dibingkai kacamata bulat dan rambutnya ia gelung asal menyisakan beberapa anak rambut yang menjuntai dan itu terlihat begitu menggoda dimata suaminya itu.
"Maafkan aku yang 2 malam lalu tak bisa tepati janji," ucap Alex dengan emosi yang telah mereda.
"Tak perlu meminta maaf, itu bukan urusanku," sahut Nadia.
"Nadia...,"
"Aku harus kembali bekerja, sebaiknya kamu jangan ganggu aku. Pekerjaan ini sangat penting bagiku," potong Nadia dan segera ia menutup pintu kamarnya kembali.
Nadia menyenderkan tubuhnya di balik pintu. Ia kembali meneteskan air mata untuk Alex yang entah untuk ke berapa puluh kalinya.
***
Kian hari sikap Nadia semakin tak bersahabat, ia selalu menghindari Alex dengan berbagai cara.
Alex yang diperlakukan seperti itu kian tersiksa saja. Bahkan ia tak bisa hanya untuk sekedar melihat wajah istrinya.
Lola pun telah pulang kembali ke apartemennya tapi belum sekalipun Alex menemuinya. Kesibukan adalah alasan Alex untuk tak bertemu dengannya.
Alex tengah melamun ketika joy membawa berkas perusahaan yang mengajukan kerjasama dengannya. Ia memeriksanya dengan malas namun tiba-tiba matanya membulat ketika melihat nama Nadia Wirahma dan nama perusahaan tempat istrinya itu bekerja tertera di salah satu berkasnya.
"Joy, datang kemari !" Kata Alex lewat panggilan telepon.
Tak lama Joy pun datang menghadapnya dan Alex segera memberikan Joy sebuah berkas.
"Katakan pada perusahaan ini jika aku sangat berminat. Minta mereka untuk datang dan melakukan presentasi di sini lusa. Katakan juga pada mereka jika aku Henry yang akan melihat secara langsung presentasi itu,"
Berzhembenk ❤️
Makasih yang udah baca...
Semoga puas ya ini panjang loh...
Wkkwkwkwk