In Love

In Love
Setelah Pertengkaran



Happy reading ❤️


"Im sick of it ( aku muak dengan semuanya )," lanjut Nadia. Ia mengucapkannya dengan perlahan dan begitu jelas hingga membuat Alex tercengang mendengarnya.


Nadia melangkahkan kaki pergi menuju kamarnya dan membanting pintu sekeras yang ia bisa meninggalkan Alex yang terdiam membeku.


"Nadiaaaaa......" Geram Alex seraya mencengkeram sandaran kursi dengan kerasnya. Pundaknya naik turun menandakan nafasnya yang memburu. Perkataan terkahir dari istrinya itu melukai harga dirinya sebagai laki-laki.


Di dalam kamarnya, Nadia terus berusaha mengeringkan air matanya dengan punggung tangan. Melihat pantulan dirinya dalam cermin begitu menyedihkan. Ia mengambil tisu basah dan menghapus sisa riasan yang masih tersisa di wajahnya.


'Braaakkk !!' terdengar suara dentuman pintu kamar Alex yang ditutup dengan kasar. Membuat Nadia melonjakkan tubuhnya karena terkejut.


Masih dengan tubuh yang gemetar Nadia melemparkan dirinya sendiri ke atas ranjang dan menutupi kepalanya dengan bantal ia berharap lirih suara tangisnya tak terdengar.


"Jangan katakan kamu jatuh cinta padaku, Nadia. Jangan melakukan hal yang bodoh."


Apa yang Alex katakan terus berputar dalam kepalanya.


Ya Alex memang benar, untuk pertama kali dalam hidupnya sebagai wanita dewasa Nadia merasakan jatuh cinta. Bila orang lain yang sedang jatuh cinta di hiasi gelembung cinta berwarna merah muda 💗 karena euforia rasa bahagia, maka gelembung miliknya adalah hitam pekat 🖤 karena sang lelaki yang telah membuatnya jatuh cinta tak merasakan hal yang sama.


"Ibu..." Lirihnya pilu. "Rasanya aku tak sanggup lagi hidup dengan Alex," Nadia memejamkan matanya dan menarik nafas dalam.


"Yes im In Love... but its hurt," bisik Nadia lirih sembari kembali menumpahkan air matanya.


***


Di dalam kamarnya, Alex melepaskan kemeja yang menempel pada tubuhnya dengan tak sabaran. Dengan bertelanjang dada ia menarik bedcover yang terlipat rapi di atas ranjang dan melemparkannya ke lantai tak hanya itu ia juga meraih benda yang ada dalam jangkauannya dan semua benda itu mengalami hal yang sama.


"F*ck, Nadia !! F*ck, f*ck" Makinya berkali-kali. Alex melemparkan tubuhnya yang setengah telanjang ke atas ranjang dan memijit pelipisnya yang terasa ngilu.


Pertemuannya dengan Lola dan pertengkaran dengan Nadia membuatnya  sakit kepala. Perkataan Nadia banyak yang memojokkannya.


"kamu lelaki bodoh yang masih mengejar wanita yang jelas-jelas meninggalkanmu dalam keadaan sulit dan sekarang datang hanya untuk menikmati kesuksesanmu. Kamu tahu Alex ? Jika dia benar-benar mencintaimu dia akan  bertahan apapun kondisinya. Bukannya pergi tanpa jejak."


Alex merasa marah juga tertampar dengan apa yang istrinya itu ucapakan. Meksipun mereka tak pernah membahas masa lalu masing-masing tapi pasti Nadia tahu dari mamanya bagaimana cerita cintanya yang lalu. Seperti Alex yang sedikit banyak tahu tentang Nadia dan Bimo.


Namun bedanya, dari cerita yang ia dengar Bimo adalah lelaki yang nyaris sempurna namun dia juga tak mampu membuat Nadia jatuh cinta.


"F*ck," makinya lagi. Alex teringat ucapan Nadia yang menggebu dan menyebutkan muak pada setiap ciumannya  membuat harga diri  dirinya terhina. Diluar sana  para wanita rela melemparkan dirinya dengan suka rela hanya untuk bisa dekat dengannya. Lola saja yang dari dulu dikenal sebagai wanita ambisius dan mempunyai selera tinggi kembali padanya tanpa perlu Alex cari.


"Kalau yang lain gak bisa naklukin Lo, Nad. Gue yang akan lakuin itu," lirih Alex dengan memejamkan matanya.


Bukankah menyenangkan mendapatkan 2 wanita sekaligus ? Mata hitam Alex berkilat ketika memikirkan itu.


Ia menyalakan kembali ponselnya dan meletakkannya di atas nakas. Banyak pesan dan email yang masuk tapi Alex tak peduli ia mencoba untuk menutup mata padahal pagi sudah menyapa.


***


Pukul 7 pagi Nadia telah bersiap untuk ke kantor, ia keluar dari kamar dan melihat pintu kamar Alex yang masih tertutup rapat. Ia membawa plastik besar yang berisikan lingerie yang akan dirinya buang. Lalu dengan langkah gontai dan hati yang masih merasakan sakit Nadia membersihkan meja makan dan membuang semuanya tanpa tersisa ke dalam kantong yang ia bawa.


Inilah bukti cinta pertamanya yang langsung kandas. Semuanya berada dalam kantong sampah ini. Nadia tersenyum masam mengingatnya.


Ia mengenakan sepatunya dan pergi keluar dengan kantong besar tersebut.


"Mbak yang tadi malam ya ?" Tanya seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.


"Sorry banget soal tadi malam, saya kira mau bertamu," lanjutnya lagi seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Oh its ok," jawab Nadia sambil berlalu.


"Ayo saya bawakan sebagai permintaan maaf," lelaki asing itu mengambil alih kantong sampah yang ia bawa.


"Gak usah," Nadia berusaha menolak.


"Saya Edward tapi biasa dipanggil Edo baru tinggal satu Minggu disini," ucapnya ramah seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Itu petugas kebersihan biar aku bawa kantongnya," lanjut Nadia tapi lelaki itu tetap menolaknya hingga petugas itu datang pada mereka.


Tanpa berpamitan Nadia meninggalkan lelaki yang katanya tetangganya itu. Ia tak peduli walaupun Edo terus memperhatikannya.


Seperti hari kemarin Nadia duduk di bis kota di bagian dekat jendela. Namun bedanya hari ini ia masih saja menangis mengingat pertengkaran antara dirinya dan Alex.


Ia menatap jalanan yang terlewati sembari mendengarkan lagu patah hati dari Olivia Rodrigo yang berjudul Traitor berulang kali.


Tapi sedikit pun Alex tak merasa bersalah malah ia mengatakan dirinya bodoh karena telah jatuh cinta padanya. Untung saja dirinya bisa mengelak mengatakan itu semua tak benar. Padahal di dalam dadanya terasa sakit ketika mengatakan itu. Sakit Karena mengingkari perasaannya sendiri.


Pandangan Nadia mulai terasa kabur dan tubuhnya menggigil. Ia menutup kepalanya dengan hoodie untuk memberikan rasa hangat dan menutupi wajahnya yang terus menangis.


***


Alex terbangun karena panggilan telepon berulangkali dan ternyata itu dari mamanya yang mengucapkan selamat ulang tahun dan Alex pun menanyakan perihal steak dan kue pada Mamanya.


Mamanya mengatakan jika ia tak lagi mengirimkan itu semua karena kini Alex telah menikah dan yakin jika sekarang anaknya itu akan merayakannya dengan sang istri. Namun meskipun begitu akhir pekan ini mamanya akan mengadakan acara untuk Alex dan ia mengharapkannya datang bersama Nadia.


Mendengar nama istrinya disebut Alex pun segera mengakhiri panggilan itu dan pergi keluar kamar untuk memeriksa. Tak ada seorangpun disana apartemennya telah kosong. Tanpa sengaja Alex menginjak gulungan kertas dan ia pun memungut dan membukanya.


Alex membacanya pelan dan ternyata itu adalah resep pembuatan tenderloin steak dan kentang tumbuk yang ditulis tangan Nadia.


Sedikit rasa penyesalan merambat memasuki hatinya, ia merasa reaksinya terlalu keras pada sang istri. Nadia telah berusaha untuknya, apa benar tebakannya jika Nadia mulai jatuh cinta padanya ? Bukannya dengan begitu lebih mudah untuk menaklukkannya ? Batin Alex terus berkecamuk tentang Nadia bukan euforia bahagia karena kedatangan Lola.


Setibanya di kantor Alex langsung meminta Joy untuk menghadapnya.


"Jadwal anda hari ini,"


"Stop ! Joy, kamu tahu cafe xxx ? Sebelum jam makan siang pesan ramen dan sushi. Kirimkan ke alamat yang biasa. Beri kartu permintaan maaf diatasnya. Tuliskan kata 'im sorry'. Kamu ngerti ?" Tanya Alex.


"Iya pak,"


"Ingat Joy harus tiba sebelum jam makan siang," ucap Alex. Ia mulai melakukan gerakannya.


"Bacakan jadwal saya hari ini," titah Alex.


***


Pukul 12 siang Alex kembali ke ruangannya setelah melakukan meeting penting dengan klien besarnya.


Dan Joy mengikutinya dengan terus berbicara.


"Pak, tadi ada wanita yang tadi malam datang katanya ingin menemui Bapak. Saya memintanya untuk menunggu di ruang tunggu tapi ia bersikeras untuk menunggu di ruangan anda."


Alex membuka pintu ruangannya dan melihat Lola tengah berkeliling memperhatikan serta menyentuh semua yang menarik perhatiannya. Membuat Alex tersenyum puas melihatnya.


"Mmm dan satu lagi, Pak. Bu Nadia tidak masuk kantor hari ini. Tadi kurir yang mengantarkan pesanan tak bisa menyampaikannya karena Bu Nadia tidak ada."


"Hah ? Apa maksud kamu Joy ? Kenapa Nadia gak masuk kerja ? Dia kemana ?" Tanya Alex beruntun dengan suara meninggi sehingga Lola pun ikut mendengarnya


"Sa.. saya tidak tahu Pak. Kurir yang mengantarkan hanya mengatakan jika Bu Nadia tidak masuk kerja hari ini," jawab Joy takut-takut karena Alex terlihat gusar saat ini.


"F*ck Nadia ! Kamu dimana ?" Maki Alex frustasi.


"Siapa Nadia ?" Tanya Lola yang kini sudah berada di tengah-tengah mereka.


To be continued ❤️


Thank you for reading


jangan lupa like dan komen ya