
Happy reading ❤️
Mati-matian Nadia berusaha menutup matanya dan berpura pura tidur karena air matanya akan berhamburan keluar jika ia membukanya.
"Nadia, sayang..," ucap Alex lagi. Ia masih berusaha untuk membangunkan istrinya yang tertidur. Tak hanya mengguncang tubuh Nadia halus, tapi ia juga membelai rambut istrinya yang panjang. Alex amati wajah cantik istrinya yang akhir-akhir ini selalu memenuhi pikirannya.
Nadia tak bergeming, ia sedang tak ingin melihat wajah Alex saat ini. Cemburu, sakit hati dan kecewa adalah 3 hal yang sedang ia rasakan saat ini.
"Alex makan dulu." Terdengar suara mama Alex yang menyuruh anak kesayangannya itu untuk makan.
"Aku udah makan, Ma," Alex mengeraskan suaranya menyahuti sang mama dan ia pun berdiri.
"Liar..." (Pembohong) Batin Nadia dalam hatinya.
"Kamu bilang tadi akan pulang sebelum makan malam dimulai, tapi inilah yang kamu lakukan," masih Nadia merasa kesal dalam hatinya.
Untuk sesaat tak terdengar suara Alex yang berusaha membangunkannya namun beberapa detik kemudian ranjang terasa bergelombang menandakan Alex naik ke atasnya untuk membaringkan diri dan benar saja apa yang Nadia pikirkan karena suaminya itu kini berada disebelahnya dan melingkarkan tangannya yang kekar di atas perut Nadia yang datar.
"Cepet banget sih tidurnya," ucap Alex seraya mencium puncak kepala Nadia gemas.
"Sini aku peluk, kamu suka kan ?" Alex masih berbicara sendiri seraya mengeratkan pelukannya. Karena setahu Alex, Nadia sangat suka untuk ia peluk tanpa tahu arti pelukan itu yang sebenarnya.
Semakin Alex mengeratkan pelukannya semakin Nadia ingin menumpahkan air matanya dan berteriak pada suaminya arti pelukan itu.
Ingin Nadia mengatakan jika pelukan itu adalah tanda jika ia begitu menginginkan cinta Alex. Tapi sebisa mungkin Nadia tahan walaupun perih ia rasakan dalam hatinya.
Nadia juga ingin sekali melepaskan pelukan itu, karena ia rasa hatinya kian ngilu saja. Namun jika ia lakukan itu, Alex akan tahu jika dirinya belum tertidur.
"Jangan permainkan hatiku, Alex," ucap Nadia dalam hati dan setitik air bening terjatuh dari ujung matanya.
***
Pagi masih gelap ketika Nadia menginjakkan kaki telanjangnya di lantai dapur rumah orang tua Alex. Rumah mewah itu terasa begitu sunyi dan suara guyuran air hujan di luar menambah suasana kian muram saja.
Nadia dudukkan tubuhnya di salah satu kursi dan tak lama asisten rumah tangga mama Alex datang memasuki ruangan itu untuk menyiapkan sarapan.
"Loh Non udah bangun ?" Tanyanya sopan.
"Sudah, Bi. Mmm bisakah bibi buatkan aku teh hangat ?" Tanya Nadia.
"Oh tentu saja," jawabnya sembari mengisi teko air dan meletakkannya di atas kompor kemudian menyalakannya
"Hujan ya, Bi?" Tanya Nadia basa-basi.
"Iya dari subuh udah turun hujan," jawabnya.
Nadia menatap jauh keluar, memperhatikan air hujan yang turun. Hari ini hari Minggu namun suasana begitu muram seperti hatinya saat ini.
"Non, pakai gula ?" Tanya bibi, namun Nadia tak menjawab ia masih asik dengan lamunannya.
"Non, pakai gula nggak teh panasnya ?" Ia mengulangi pertanyaannya karena Nadia tak jua menjawab.
"Non ?" Ini kali ke tiga bibi bertanya pada Nadia dan akhirnya Nadia pun menjawab pertanyaannya.
"Oh maaf, Bi." Sahut Nadia.
"Tehnya pakai gula ?"
"Nggak usah, Bi. Saya lebih suka teh tawar," jawab Nadia pada akhirnya.
Bibi pun menyerahkan satu cangkir teh tawar panas pada Nadia yang telah kembali larut dalam lamunan.
Semalam, setelah Alex tertidur, ia lepaskan belitan tangan Alex dengan perlahan. Kepalanya terasa pening karena menahan tangis dan setelah itu sangat sulit bagi Nadia untuk tidur.
Ia terjaga hampir sepanjang malam memikirkan rasa cemburu yang bersatu dengan sakit hati, dan pagi ini Nadia termenung menatapi air hujan masih dengan perasaan yang sama.
"Telah aku berikan segala yang aku miliki. Tak hanya tubuh, tapi juga hati tapi semua itu ternyata tak bisa membuatmu menjadi milikku," batin Nadia dalam hatinya. Ia tersenyum getir ketika memikirkan itu semua.
***
Tangan Alex mencari seseorang yang pergi dari dekapannya. Ia menepuk tempat di sebelahnya yang ternyata telah kosong di tinggalkan.
"Nadia," gumam Alex sedikit panik dan ia pun terbangun dengan mendudukkan tubuhnya di atas ranjang.
Masih dengan kepala pening khas orang bangun tidur Alex mengedarkan pandangannya dan tak ada seorangpun disana. Kamarnya telah kosong ditinggalkan, hanya ada ia seorang.
Alex merasa kehilangan karena biasanya Nadia akan bermanja-manja dan meminta dirinya untuk memeluk tubuhnya dengan erat. Hal yang terjadi hampir di setiap paginya. Ia pun bangkit dan segara beranjak ke kamar mandi untuk membasuh muka dan membersihkan diri setelah itu ia akan mencari keberadaan istrinya.
***
Terdengar suara percakapan dari arah dapur, ia mengira pasti Nadia berada disana dan apa yang Alex pikirkan memang benar adanya. Istrinya itu tengah berbicara dengan mamanya di ruang makan.
Hal pertama yang Alex lakukan adalah mencium puncak kepala istrinya. "Kenapa ninggalin aku sendiri ?" Tanya Alex dan kemudian mendudukkan tubuhnya tepat di sebelah Nadia.
Semua terjadi tiba-tiba, Nadia tak dapat menghindari ciuman itu karena sebenarnya ia sedang enggan untuk Alex sentuh.
Sedangkan di sebrang meja, mama Alex tersenyum bahagia melihat anak dan menantunya yang menikah karena perjodohan itu kini bisa saling menerima.
"Setelah hujannya reda, kita pulang ke apartemen," kata Alex kemudian.
"Iisshhh gak bisa, hari Nadia mau nemenin mama belanja," potong mama Alex cepat.
"Hah ? Benarkah ? Tapi Nadia gak bilang sama aku," Alex menolehkan kepala dan menatap wajah istrinya ketika mengatakan itu.
"Mendadak kok rencananya. Ayo Nad mandi dan kita bersiap pergi," mama Alex berdiri penuh semangat diikuti oleh Nadia kemudian, namun langkahnya terhenti ketika Alex menahan lengannya.
"Jangan lama-lama, aku sendirian,"
***
Hari telah berganti malam namun Nadia belum juga pulang dengan mamanya padahal Alex telah berulangkali menelponnya untuk segera pulang. Hingga akhirnya mereka tiba di apartemen pukul 10 malam. Sepanjang perjalanan Alex menekuk muka karena kesal.
Nadia bersikap biasa saja seolah tak terjadi apapun. "Kamu sama mama kemana sih seharian pergi ? Apa gak mikirin aku yang nunggu di rumah ?" Tanya Alex sedikit merajuk.
"Ke banyak tempat belanja," jawab Nadia singkat.
"Aku telponin kamu , Nad. Berulang kali....,"
"Aku pergi dengan mama kamu, Alex. Dan kamu lihat sendiri. Aku bukannya pergi keluar sendiri terus bertemu dengan siapa yang tak kamu ketahui," Nadia memotong pembicaraan Alex dengan sedikit menyindir.
Alex terdiam ketika apa yang diucapkan istrinya itu mengenai hatinya.
"Aku cape, aku tidur duluan," ucap Nadia seraya memasuki kamarnya meninggalkan Alex yang terdiam membisu menatap kepergiannya.
***
Siang esok harinya Nadia beserta beberapa rekan kerja juga atasannya datang ke kantor Alex untuk menandatangani kontrak perjanjian kerja.
Mereka berkumpul di ruang rapat besar. Alex pun ada disana bersama orang kepercayaan dan sekretarisnya.
Nadia duduk tepat dihadapan Alex dan diapit oleh kedua rekan kerjanya yang laki-laki. Beberapa kali Alex mencuri pandang pada istrinya itu namun Nadia terus mengabaikannya.
"Saya juga ingin menawarkan pekerjaan yang berlokasi di Semarang dan Jogjakarta," ucap Alex dan tentunya disambut hangat oleh pihak perusahaan Nadia.
"Namun dengan syarat ibu Nadia Wirahma lah yang menjadi pilot projeknya dan saya sendiri yang akan turun ke lapangan," ucap Alex selanjutnya.
Nadia menolehkan kepala dan menatap suaminya itu, "Tak hanya saya, perusahaan juga memiliki karyawan lain yang sangat kompeten," ucap Nadia.
"Tentu, saya percaya itu. Hanya saja saya sangat ingin anda lah yang menemani saya dalam setiap projeknya," sahut Alex tanpa bisa dibantah.
"Tentu, Nadia yang akan menjadi pilot projeknya," timpal boss Nadia cepat. Ia tak mau kehilangan kesempatan emas ini.
"Selamat, Mbak. Kamu emang hebat," bisik Bagas yang merupakan rekan kerja dalam satu bagian itu. Ia mencondongkan tubuhnya agar bisa lebih dekat dalam berbicara.
"Thanks, tapi nanti bantu aku ya," jawab Nadia balas berbisik dan Bagas menganggukkan kepalanya seraya tersenyum pada Nadia.
Apa yang keduanya lakukan tentu saja menjadi perhatian Alex, mata hitamnya berkilat melihat kedekatan istri dan temannya itu. Tangannya mengepal di bawah meja, menahan rasa cemburu yang merasuki dada.
Cukup lama mereka berbicara tentang kerjasama selanjutnya dan setelah itu pihak perusahaan Nadia pun undur diri termasuk sang istri.
Nadia berjalan beriringan bersama rekan kerjanya, ia hampir saja menaiki lift ketika Joy menghentikan langkahnya.
"Ibu Nadia ? Maaf ada beberapa berkas yang anda belum tanda tangani dan pak Henry menuggu anda di ruangannya,"
"Hah ? Rasanya tak ada yang terlewat satu pun," jawab Nadia terheran.
"Gak pa-pa, Nad. Kamu periksa dulu. Kita tunggu di bawah," ucap pak Adi manajernya.
Nadia mengangguk patuh dan ia pun pergi untuk menemui Alex di ruangannya.
Nadia mengetuk pintu sebelum ia memasuki ruangan suaminya itu. Terlihat Alex sudah berdiri di depan meja kebesarannya dengan berpangku tangan. Sepertinya ia memang telah menunggu kedatangan istrinya itu.
Nadia berjalan mendekati, begitu juga Alex yang melangkahkan kakinya menuju sang istri.
"Berkas mana yang belum aku tanda tangani ?" Tanya Nadia ketika Alex berdiri tepat di hadapannya.
Bukannya sebuah jawaban yang Nadia dapatkan, namun rengkuhan tangan Alex di pinggang dan tangan yang satunya di punggung yang kini didapatkannya. Alex mendekap tubuhnya dengan erat.
"Apa yang telah aku katakan tentang berteman dengan lelaki lain, hum ? Tidak boleh terlalu dekat, Nad. Apa kamu sengaja ingin membuatku cemburu ?" Tanya Alex dengan mata hitamnya yang berkilat.
"Aku tak melakukan apapun," jawab Nadia.
"Berbisik-bisik di depanku ? Aku yakin dia bisa mencium aroma tubuhmu yang harusnya hanya untukku,"
"Jika tak ada yang penting sebaiknya aku pergi," ucap Nadia mencoba untuk melepaskan diri.
Alex makin eratkan pelukan, bahkan ia menahan leher belakang istrinya itu agar dapat melu-mat bibirnya.
"Mmmhh," gumam Nadia seraya memukul-mukul dada Alex. Ia berusaha untuk melepaskan dirinya.
Namun lagi-lagi Alex semakin mengeratkan pelukannya dan memperdalam ciumannya.
"Ya Tuhan, maafkan saya," ucap Joy yang tak sengaja melihat adegan mesra itu. Sadar ada orang yang melihat Nadia pun mendorong Alex dengan kuat hingga ia bisa melepaskan diri.
Joy menundukkan kepalanya karena merasa bersalah,"maaf pak Henry, pintunya setengah terbuka saya kira tak masalah untuk masuk ke dalam ruangan anda. Saya mengantarkan makan siang anda yang dikirimkan oleh nona Laura. Saya sudah menolaknya namun beliau bersikeras mengatakan jika anda yang memintanya sendiri dari tadi malam," jelas Joy masih dengan kepala tertunduk.
Nadia yang mendengar itu tersenyum muak, "Makan siangmu sudah datang, sebaiknya aku pergi,"
To be continued
Thanks for reading 😘
Sekarang aku up gak tentu jamnya tapi insyaallah up setiap hari.
Jangan ditunggu tengah malam ya...
kalau suka novelnya dukung ya.. dengan like komen juga hadiah.
mumpung Senin vote yuuukkk 😘😘😘
terimakasih 🙏🙏