In Love

In Love
Tenggelam



Happy reading ❤️


Alex merapikan celananya yang masih setengah terbuka, begitu pun Nadia yang kini mengais kain berbentuk segitiga dengan motif polkadot yang tadi Alex buang sembarang. Keduanya baru saja melakukan kegiatan panas di tengah hari karena Alex yang tak bisa menahan diri.


Namun Nadia pun tak bisa menyalahkan suaminya itu. Meksipun mulutnya berkata tidak dan berusaha menolak tapi nyatanya tubuhnya berkata lain, ia menerima semua sentuhan Alex dengan suka cita.


"Huuufffffttt," Nadia menarik nafas dalam. Ia sungguh benci dengan dirinya sendiri karena masih saja tak bisa menolak  semua tentang Alex padahal suaminya itu masih bersikap abu-abu.


Meksipun banyak kata rindu dan cemburu yang ia ucapkan namun nyatanya kata cinta tak pernah terucap dari mulutnya.


Walaupun Alex mengatakan jika ia menginginkan Nadia seorang tapi nyatanya ia belum juga bisa melepas masa lalunya.


Cinta bisa membuat orang menjadi begitu bodoh dan lemah. Tapi itulah nyatanya yang Nadia rasakan saat ini. Di mana hati mengalahkan segala logika dalam kepalanya. Terlalu mencintai hingga ia berusaha bertahan dan berharap jika cinta Alex akan menjadi miliknya seorang suatu saat nanti dan mengatakan banyak kata cinta hanya untuknya.


"Kenapa melamun ? Lapar ?" Tanya Alex seraya mendudukkan tubuhnya tepat di sebelah sang istri yang masih merapikan pakaiannya.


"Hum ? Ah aku cuma mikirin pekerjaan," jawab Nadia bohong dan ia pun tersenyum untuk menyempurnakan kebohongannya itu.


Alex balas tersenyum dan menatap sayu Nadia yang masih terlihat berantakan karena aksinya baru saja. Rambut panjangnya tergerai tak beraturan, dan itu membuat Alex sedikit merapikannya dengan belaian tangan.


Alex menarik wajah Nadia untuk lebih dekat dan 'cup !' sebuah kecupan yang dalam ia berikan di atas dahi istrinya itu.


Nadia memejamkan matanya, menikmati kelembutan yang tengah Alex berikan. Bagaimana hatinya tak terus jatuh cinta jika Alex terus bersikap manis seperti ini.


"Biasanya aku memelukmu setiap kita selesai melakukan kegiatan pavorit kita, ku harap ini cukup sebagai gantinya," ucap Alex lirih.


"Kegiatan pavorit kita," gumam Nadia kesal dan ia pun mencubit gemas pinggang Alex hingga lelaki itu terkekeh karena rasa geli yang ia rasakan.


"Iyalah pavorit kita berdua, karena kamu pun sangat menikmatinya," sahut Alex.


"Iisshhh aku gak seperti itu," sangkal Nadia tak terima.


"Lalu tadi yang mengatakan 'faster Alex, faster !!' siapa ?" Tanya Alex penuh goda membuat semburat merah menghiasi wajah Nadia saat ini karena ia merasa begitu malu.


"Kayanya kamu salah dengar," elak Nadia. Ia masih tak mau mengakuinya.


Alex tertawa ringan dan kemudian menarik dagu Nadia dengan jempolnya hingga kini mata mereka saling terkunci dalam pandangan penuh cinta.


"Its oke, aku suka kok. Suka banget setiap kamu mengatakan itu," ucap Alex seraya membenamkan bibirnya di atas bibir Nadia dan mengulumnya lembut.


"Aku akan meminta Joy untuk menyiapkan makan siang," gumam Alex tepat diatas bibir Nadia yang basah karena ulahnya baru saja.


Nadia mengangguk pelan, jantungnya masih saja bekerja extra setiap kali Alex menciumnya padahal lelaki itu sudah amat sering melakukannya.


Alex berdiri dan berjalan menuju mejanya untuk menghubungi Joy namun terlebih dulu ia memutar kunci pintu ruang kerjanya. Sedangkan Nadia memasuki kamar mandi yang letaknya berada di ruangan suaminya itu.


Nadia menyalakan keran air untuk membasuh muka, samar-samar ia mendengar apa yang Joy katakan pada suaminya itu. Ia pun segera mengecilkan putaran keran itu agar suara Joy terdengar lebih jelas lagi.


"Nona Laura mengirimkan anda makan siang dan tadi dia cukup lama menanti anda keluar dari ruangan. Tapi karena terlalu lama menunggu, nona Laura memutuskan untuk pergi,"


"Oh ya ? Berapa lama dia menunggu ?" Terdengar suara Alex yang menanggapi ucapan sekretarisnya itu.


"Sekitar 30 menit," jawab Joy.


"Makanan apa yang dia kirimkan ?" Tanya Alex lagi.


"Saya tidak tahu,"


"Periksa isinya apa dan buang atau berikan pada siapa saja yang mau, lalu siapkan makan siang untuk aku dan istriku." ucap Alex kemudian.


"Baik pak," sahut Joy patuh


"Oh ya Joy, awas kamu jangan membahas makan siang yang dikirimkan Laura untukku di hadapan istriku, ngerti Joy ?" tanya Alex.


"Oh ya tentu saya tak akan membicarakan soal itu lagi," jawab Joy takut-takut.


Setelah perkara tentang Lola selesai dibahas oleh keduanya, Nadia pun kembali memperbesar putaran air keran dan membasuh mukanya yang telah basah.


Bukan hanya basah karena basuhan air tapi juga basah karena air matanya yang jatuh tanpa ia minta.


Sungguh  Nadia sangat tak suka pikirannya saat ini. Ternyata Alex masih saja tak bisa bersikap tegas pada Lola agar tak mengganggunya lagi. Atau hal yang paling mudah adalah mengakuinya sebagai istri hingga Lola pun mengerti.


Tapi... Lagi-lagi Nadia tak bisa menyalahkan Alex, karena dulu ia sendiri yang mengaku sebagai sepupunya.


"Beg* banget sih kamu, Nad," umpat Nadia yang ia tujukan untuk dirinya sendiri.


Setelah menunggu beberapa puluh menit akhirnya pesanan makan siang pun datang dan mereka memutuskan untuk menikmatinya bersama di atas sofa. Nadia baru saja akan menikmati makanannya saat Alex menahannya untuk sesaat.


"Hah kenapa ?" Tanya Nadia terheran. Ia sangat kelaparan saat ini karena tubuhnya lelah akibat percintaan hebat tadi, dan pikirannya lelah karena ternyata Lola masih mendatangi suaminya.


"Sebentar," tahan Alex dan ia pun berdiri untuk keluar dari ruangannya.


Nadia pun patuh, ia menunda makan siangnya dan menunggu Alex yang tengah pergi keluar. Setelah menunggu beberapa menit Alex muncul dari balik pintu dengan sebuah kantong plastik di tangannya.


"Ini," Alex menyerahkan kantong itu dan Nadia meraihnya.


"Kerupuk ?" Tanya Nadia terheran.


"Hu'um, tadi Joy lupa memesannya. Jadi aku nyuruh ob buat beli. Takutnya makan siang kamu berkurang nikmatnya karena gak ada kerupuk yang menemani," ucap Alex seraya tersenyum penuh arti.


"Terimakasih," sahut Nadia setengah tak percaya.


Jangan salahkan Nadia yang tenggelam dalam cinta butanya. Sikap Alex yang manis membuat ia tenggelam makin dalam saja.


***


"Ah shiiiit," umpat Nadia kesal karena pintu apartemennya tak juga terbuka padahal ia telah memasukkan kata kunci kombinasi sebanyak 2 kali.


"Angka sialaan," makinya lagi karena ia sangat benci angka-angka itu. Angka yang mengingatkan jika Alex masih saja peduli pada mantan kekasihnya.


Ia dan Alex baru saja pulang dari kantor bersama-sama tapi Alex harus menemui pengurus apartment dulu untuk menyelesaikan sesuatu.


Nadia memilih untuk pergi lebih dulu menuju unit apartemennya, namun ternyata ia tak bisa masuk karena pintunya tak mau terbuka. Ia pun mendudukkan tubuhnya di atas lantai tepat di depan pintu menunggu Alex datang.


"Ngapain kamu duduk begini sih ?" Tanya Alex terheran. "Kok gak masuk ?" Tanyanya lagi. Ia terkejut mendapati Nadia duduk di atas lantai dan asik memainkan ponselnya.


"Pintunya gak mau kebuka padahal aku udah masukin password nya dengan benar sebanyak 2 kali," jawab Nadia seraya berdiri dan merapikan roknya yang sedikit tersingkap.


"Oh ya ? Masa sih gak bisa kebuka ?" Tanya Alex lagi. Ia pun menekan 6 digit angka acak dan tak lama pintu itu terbuka.


"Hah kok bisa ?" Tanya Nadia dengan mata membelalak tak percaya.


"Bisa lah, kan aku tahu rahasianya," sahut Alex sambil tertawa.


"Hu'um, kamu pasti menekan angka-angka itu penuh cinta. 14-02-14... Angka yang mengingatkan pada hari kasih sayang Valentina," sindir Nadia dengan menahan rasa perih di dada karena rasa cemburu yang membakar jiwanya.


Alex yang mendengar itu segera menolehkan kepalanya pada sang istri dan meraih pinggang Nadia untuk padu dengan tubuhnya. Ia menahan punggungnya agar Nadia tidak menjauh atau berontak. Alex tatap dalam mata Nadia yang terlihat begitu rapuh saat ini.


"Aku sudah menggantinya," kata Alex pelan. "Aku sudah menggantinya agar ia tidak bisa masuk sembarangan dan menganggu mu," lanjutnya kemudian.


"Kok, gak bilang ?" Tanya Nadia dengan dadanya yang bertalu-talu karena dekapan dan tatap mata Alex yang begitu mempengaruhinya.


"Aku lupa... Maaf..." Jawab Alex tersenyum dengan rasa bersalah.


"Berapa nomor password nya yang baru ?" Tanya Nadia, ia menahan dada Alex dengan kedua tangannya karena ia rasa Alex mendekapnya kian erat saja.


"07-10-07, mudah diingat kan ?"


"Angka apa lagi itu ? Tanggal jadian kalian ?" Tanya Nadia.


"Hah ? Apa kamu lupa ?" Tanya Alex berkerut dahi karena tak suka.


"Mana aku tahu segala sesuatu tentang kalian," jawab Nadia yang sudah terbakar api cemburu.


"Itu tanggal pernikahan kita, Nyonya Alexander Henry Salim," jawab Alex gemas dan juga kesal dalam waktu bersamaan.


"Hah iya kah ? Pernikahan kamu dengan siapa ?" Tanya Nadia. Ia merasa malu karena telah curiga dan lupa dengan tanggal pernikahannya sendiri.


"Dengan wanita bawel yang jago ngeles," jawab Alex, ia pun menundukkan wajahnya untuk meraih bibir Nadia dengan bibirnya dan mengulumnya penuh penghayatan.


"Sudah kukatakan, sekarang hanya tentang kita berdua," ucap Alex lirih ketika tautan bibir mereka terpisah.


Bagaimana Nadia tidak semakin tenggelam dalam cinta butanya, perlakuan Alex yang manis membuatnya sungguh mabuk kepayang.


to be continued ❤️


thanks for reading 😘


Jum'at berkah... semoga Allah SWT memberikan kemudahan dalam segala urusan dan juga memberikan berkah yang berlimpah di hari ini. aamiin...


lop yu genks ❤️