
Happy reading ❤️
Ponsel Alex berdering juga bergetar, di layarnya tertera nomor tak dikenal. Tapi karena Alex tengah dalam pertemuan penting ia mengabaikan itu semua. Tak lama nomor asing itu mengirimkan pesan pada aplikasi pesan singkatnya namun lagi-lagi Alex mengabaikannya.
Saat ini Alex tengah melakukan pertemuan dengan perusahaan besar yang cukup ternama di Asia. Peluang yang sangat luar biasa dan ia tak akan mengacaukan pertemuan kali ini, siapapun tak ada yang bisa mengganggunya kecuali jika istri tercintanya yang menghubungi tentu Alex akan menerima panggilan atau membaca pesan yang disampaikannya.
Tapi ia ingat hari ini pun Nadia akan melakukan sebuah pertemuan dengan calon kliennya. Tadi pagi ketika sarapan mereka membicarakan itu semua. Ada yang aneh pagi itu, rasanya Alex tak rela Nadia bertemu dengan kliennya. Begitu berat rasanya membiarkan Nadia pergi.
Terlebih akhir-akhir ini istrinya terlihat sendu. Alex kira ini adalah pengaruh hormon dari kehamilannya hingga ia berusaha untuk mengerti dan tak banyak menuntut. Bahkan ia pun tak menanyakan siapa lelaki yang akan ditemui Nadia nanti siang.
Rasa keberatannya pun tak berani Alex utarakan, tapi satu yang pasti ketika kehamilan Nadia mulai terlihat ia akan meminta istrinya itu untuk mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja dan memintanya untuk fokus pada kehamilannya itu namun jika Nadia tetap ingin bekerja, Alex akan dengan senang hati menerimanya di perusahaan miliknya. Dengan begitu ia akan semakin dekat dan jujur saja itu yang sebenarnya Alex inginkan.
Bukan hanya karena Nadia istrinya namun juga karena potensi yang dimilikinya. "Aahhh," gumam Alex sambil tersenyum samar. Bahkan di tengah pertemuan pentingnya saat ini, ia masih saja memikirkan sang istri. "Jangan salahin aku, Nad. Kamu buat aku jatuh cinta lagi dan aku akan sangat posesif padamu," Alex masih berpikir dalam batinnya.
Alex melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya dan ia yakin saat ini Nadia juga tengah menemui calon kliennya. "Jangan lama-lama ketemunya, aku cemburu," masih Alex berkata dalam hatinya dan ia menarik nafas dalam-dalam ketika memikirkan itu semua.
"Huuufffffttt," Alex menghela nafasnya yang terasa berat. Hingga membuat beberapa orang yang ada di ruang pertemuan itu melihat ke arahnya.
"Are you ok?" Tanya salah satu calon kliennya karena ia melihat wajah Alex yang berubah sendu
"Oh sure, im fine. Just go on," jawab Alex sedikit sedikit kikuk. Padahal yang sebenarnya terjadi ia merasa tak baik-baik saja. Entah mengapa berpikir tentang Nadia membuatnya khawatir. Dan ia pun berusaha meyakinkan diri untuk tidak cemburu berlebihan.
Beberapa puluh menit kemudian pertemuan itu pun berakhir dengan hasil yang baik tentu saja. Setelah mengantarkan tamunya menuju lift, Alex kembali ke ruangannya. Hal yang pertama ia lakukan adalah menghubungi Nadia dan memberikan kabar jika ia telah berhasil mendapatkan tender besar dan kali ini bertaraf internasional.
Siapa yang tak bangga ? Dan Alex rasa semuanya ini ada campur tangan istrinya walau itu secara tak langsung.
'tuuuttt' bunyi nada tunggu itu berkali-kali Alex dengar hingga tanda telepon tak dijawab muncul di layarnya. Alex mengulang panggilan itu namun hal yang sama terjadi, Nadia tak menjawab teleponnya.
Alex menjauhkan ponselnya dengan berkerut dahi karena biasanya Nadia tak akan lama membuatnya menunggu walau dalam keadaan apapun. Ia pun menggulir layar dan mencari aplikasi pesan untuk mengirimkan sesuatu pada istrinya itu.
Nomor asing yang tadi menghubunginya berkali-kali yang Alex dapatkan di list paling atas pesannya dan nomor itu mengirimkan tak hanya satu pesan namun lebih dari itu. Masih juga mengabaikan, Alex memilih untuk mencari nomor istrinya dan mengirimkan pesan. "Sayang, kamu dimana ? Ngapain ?" Tulis Alex beruntun dan kemudian ia menunggu beberapa saat dengan harapan Nadia segera membalasnya namun apa yang ia inginkan tak terjadi. Nomor istrinya saat ini sedang dalam mode offline.
"Nad, jangan bikin aku takut deh !" Decak Alex terdengar kesal dan ia pun menekan tombol 'kembali' dan lagi-lagi yang terlihat adalah nomor asing itu.
Malas-malasan Alex menekan nomor itu dan membaca pesannya satu persatu.
"Rasanya aku ingin tertawa tepat di depan wajahmu Alex. Kamu ingat ? Waktu itu kamu bilang aku adalah wanita jal*ng yang menjajakan tubuhku demi yang aku inginkan. Well...siapa yang tidak ???" Isi pesan itu yang terdiri dari beberapa baris dan di bawahnya terdapat beberapa photo dua orang yang tengah berciuman di dalam sebuah rumah makan.
Alex sangat mengenali sang wanita yang tengah memejamkan matanya dan bibir bertautan dengan seorang laki-laki yang tak bisa Alex lihat dengan jelas karena ia duduk membelakangi.
"F*ck !!!" Maki Alex dengan dadanya yang terasa sesak juga panas. Ia meremas rambutnya dengan kesal. Seketika tubuhnya bergetar hebat.
"Sorry gak bisa dapatkan gambar si lelaki dengan jelas karena aku duduk cukup jauh dari mereka, tak perlu berterimakasih aku hanya ingin kamu tahu siapa sebenarnya istri yang kamu banggakan itu, salam sayang Laura,"
Tulisnya lagi di bawah photo-photo yang menunjukkan Nadia sedang berciuman.
Alex segera menghubungi lagi istrinya itu. "Angkat Nadia, please... Jangan buat aku gila," gumam Alex dengan tak sabaran. Tangannya telah basah akan keringat karena cemburu dan resah yang ia rasakan secara bersamaan.
"Nadia...please angkat....," Lirih Alex kian frustasi namun bukannya sebuah jawaban yang Nadia berikan tapi ponselnya kini mati daya.
Alex yang menyadari itu kian panik saja, meskipun enggan akhirnya ia menekan nomor asing itu yang diakui sebagai milik Laura.
"Angkat jal*ng !!!" Maki Alex karena wanita itu pun tak juga menjawab panggilannya hingga Alex harus melakukan panggilan itu berulang kali.
Alex hendak menekan kembali nomor Laura tapi ternyata wanita itu lebih dulu mengirimkannya pesan.
"Lama sekali reaksimu Alex, seharusnya aku tak khawatir berlebihan karena ternyata kamu gak begitu cinta istrimu seperti kamu cinta aku," tulis Laura dan tentu saja itu membuat Alex geram.
Tak menunggu lama ia pun segera kembali menghubungi Laura, "dimana istriku ? Kamu pasti menjebaknya kan?" Tanya Alex ketika panggilan itu terhubung.
"Hahahaha, untuk apa aku berurusan dengan perempuan seperti Nadia ? Agar kamu tahu dia itu bukan level aku," jawab Laura sembari tertawa.
"Katakan dimana mereka ?" Tanya Alex kian tersulut emosi.
"Tenang Alex, kurasa mereka sedang menikmati SAL," jawab Laura masih dengan suaranya yang ia buat setenang mungkin.
"SAL ?" Gumam Alex tak paham
"Seexx After Lunch, karena tadi aku ikutin mereka ternyata memasuki sebuah hotel yang letaknya tak jauh dari restoran ini," sahut Laura seolah menjawab pertanyaan Alex.
"Gak mungkin !!! Nadia bukan jal*ng kaya lo !!!" Hardik Alex dengan suara meninggi.
"Aku lihat mereka memasuki hotel beberapa puluh menit yang lalu, mungkin saat ini bisa jadi permainan yang ke 3 atau ke 4 mereka," ucap Laura memanas-manasi.
"Gue gak percaya !!" Kata Alex gusar.
"Terserah, ini nama hotelnya," ucap Laura namun ia segera menutup panggilannya sebelum nama hotel itu ia katakan.
"F*k f*ck f*ck !!!" Maki Alex geram. Dadanya kian terasa sesak dan panas bahkan ia merasa sulit bernapas karena rasa panik menyerangnya.
"Hotel Five Season, jln XXX Jakarta, kamarnya aku gak tau," tulis Laura singkat.
Yang Alex lakukan segera menghubungi manager Nadia dan menanyakan dengan siapa Nadia melakukan janji temu tapi ternyata rasa panik tak hanya melanda Alex saja, sang manager pun sama paniknya.
Beberapa menit yang lalu sang manager baru saja mendapatkan sebuah photo selfie dari dua orang yang sedang berciuman melalui email resmi kantor dengan kata-kata yang cukup mencengangkan.
"Terimakasih untuk servis sempurna yang pegawai anda berikan,"
To be continued ❤️
Thank you for reading 😘