
Happy reading ❤️
"Eh soal photo tadi... Apa yang kamu lakukan ?" Tanya Nadia penasaran.
"Akhirnya aku bersedia, karena orang itu terus mendesak," jawab Alex.
"Terus mendesak ?" Nadia kembali bertanya dengan berkerut alis.
"Hu'um, aneh bukan ? Aku juga sebenarnya agak jengah untuk melakukannya tapi dia berkata sangat mengagumi pencapaianku,"
"Ah.. mungkin dia sangat terpesona dengan keberhasilanmu," sahut Nadia.
"Siapa yang tak akan silau dengan keberhasilanmu, laki-laki saja sudah terpesona apalagi para wanita," batin Nadia dalam hati.
"Hei... Mikirin apa ?" Tanya Alex karena Nadia menatap kosong ke sembarang arah.
"Hum ? Tidak...," Jawab Nadia dengan senyum yang dipaksakan.
"Ayo tidur, sudah malam," ajak Alex sembari mengulurkan tangannya untuk Nadia raih.
Nadia tatap uluran tangan Alex tanpa meraihnya, lalu ia alihkan pandangannya menuju tumpukan berkas di atas meja. "Tapi pekerjaanmu belum selesai," sahutnya.
"Aku akan nemenin dulu kamu tidur lalu meneruskan pekerjaan nanti. Ayo, kamu harus banyak istirahat," kali ini Alex yang menarik halus tangan Nadia agar ikut dengannya menuju kamar tidur mereka.
Nadia pun menurutinya, ia berdiri dan berjalan mengekori Alex yang masih tak melepaskan genggaman tangannya.
Nadia naik ke atas ranjang dan tak lama Alex pun menyusulnya, ia membawa istrinya itu dalam pelukannya. Nadia pun menelusup kan kepalanya di dada Alex dan menghirup rakus wangi maskulin yang menjadi ciri khas suaminya.
Alex yang menyadari itu membalas dengan memberikan istrinya itu banyak ciuman di puncak kepala, lalu ia pun membelai lembut rambut panjang Nadia berulang kali hingga tak lama deru nafas teratur terdengar oleh Alex menandakan Nadia telah memasuki alam mimpi.
"Cepat sekali tidurnya," lirih Alex sembari tertawa ringan.
Alex terus melakukan itu, memeluk dan membelai rambut Nadia untuk beberapa saat hingga ia merasa yakin jika istrinya itu telah tertidur pulas dan dengan perlahan ia pun menguraikan dekapannya.
Setelah terlepas dengan sempurna, Alex pun siap beranjak pergi kembali ke ruang tamu dan meneruskan pekerjaannya. Namun sebelum ia memutuskan untuk berdiri, Alex menolehkan wajahnya dan menatap lekat-lekat wajah Nadia yang tengah tertidur pulas.
Alex menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan. Dalam hatinya yang paling dalam terasa ada sesuatu yang mengganjal namun entah apa itu. Ada rasa cemas yang tak terucapkan. Yang ia lakukan kemudian adalah memohon pada Tuhan agar semua baik-baik saja.
Dengan langkah gontai Alex kembali ke ruang tamu di mana banyak berkas menumpuk yang harus ia kerjakan.
Pikirannya melayang pada kejadian tadi siang dimana seseorang yang baru saja dikenalnya begitu antusias untuk melakukan kerjasama bahkan sedikit memaksa. Jika saja lelaki itu bukan dari perusahaan yang ternama, Alex tak ingin menanggapinya. Tak hanya itu, Alex pun merasa pernah melihat wajah lelaki itu sebelumnya namun entah dimana.
***
Waktu berjalan begitu cepat, sudah berlalu hampir satu minggu sejak kejadian itu. Alex juga Nadia sedang menikmati masa-masa indah mereka. Tak ada satu hari pun yang terlewati sia-sia. Keduanya saling menunjukkan rasa cintanya masing-masing walaupun beban pekerjaan kian bertambah.
Tentang Lola, wanita itu lenyap bagaikan ditelan bumi. Walaupun rasa cemas kadang menghampiri Alex karena ia tahu bagaimana sifat Lola yang sebenarnya. Selalu berambisi untuk mencapai apa yang diinginkannya dengan berbagai cara. Dengan kata lain Lola akan melakukan apapun agar tujuannya tercapai meskipun itu dengan cara kotor. Terbukti dengan cara Lola menyerahkan tubuhnya pada suami orang dan menghancurkan keluarganya hanya untuk kepentingan pribadinya sendiri.
Namun bagi Alex yang terpenting saat ini adalah Nadia. Dan untuk memastikan keamanannya, Alex sendiri yang setia mengantar jemput istrinya itu setiap hari.
"Nad, seorang perwakilan dari PT. YYY masih bersikeras untuk bertemu denganmu," ucap pak Adi yang kini mendudukkan tubuhnya di kursi tepat di hadapannya.
Nadia yang sedang asik memainkan jari-jarinya di atas keyboard berhenti untuk sejenak.
"Apa harus saya ?" Tanya Nadia malas, ia pun menutup layar laptopnya agar bisa berbicara dengan lebih leluasa bersama atasannya itu.
"Iya, dia meminta khusus pada kami agar kamu yang datang untuk mengurusi kerjasama ini," jawab pak Adi lebih serius kali ini.
"Apa tak bisa oleh Bagas atau yang lainnya pak ? Saya bukannya menolak tapi kondisi badan kurang fit akhir-akhir ini," jelas Nadia.
Padahal yang sebenarnya terjadi adalah Nadia tahu jika beberapa orang membicarakannya di belakang. Entah karena iri atau yang lainnya. Tapi semenjak ia mendapatkan 3 pekerjaan berturut-turut dari seorang Alexander Henry Salim dan dengan nominal yang tidak sedikit membuat dirinya menjadi bahan gunjingan.
Tak satu atau 2 kali Nadia mendapati beberapa orang yang saling berbisik dan menatapinya dengan pandangan merendahkan. Ingin rasanya ia bertanya apa masalah mereka namun ia tak mau menjadi sumber keributan.
Kondisi pekerjaan yang padat dan beban pikiran membuat kondisi tubuh Nadia kian melemah. Bahkan 2 hari yang lalu ia mendapatkan bercak darah di celananya dan itu membuat Nadia kian panik saja.
Tak ada yang tahu tentang kondisi ini, Nadia menyimpannya rapat-rapat. Ia tak mau membuat suasana kian riuh. Berbekal informasi dari internet, Nadia berusaha menjaga dirinya sendiri.
"Kamu sakit ya, Nad ? Sakit apa ?" Tanya pak Adi dengan mimik wajah yang berubah. Ia terlihat cemas juga ingin tahu dalam waktu yang bersamaan.
"Ehhem," Nadia berdehem canggung, menetralkan suaranya yang tiba-tiba tercekat di tenggorokan.
"Bi-biasa pak, kayanya anemia," jawab Nadia sekenanya.
"Oh ya ? Pantas saja terlihat pucat dan kurang bersemangat. Udah ke dokter ?"
"U-udah, Pak," jawab Nadia kian gugup saja.
Pak Adi tak menanggapi, yang ia lakukan adalah menatap Nadia lekat-lekat dan tak lama ia pun tersenyum penuh arti. "Aku percaya sama kamu ,Nad. Potensi yang kamu miliki memang sangat luar biasa,"
"Hah ?" Nadia mengerutkan keningnya tak paham.
"Kinerja kamu sangat baik, dan kemampuanmu tak usah diragukan lagi. Aku percaya padamu." jawab pak Adi dan kemudian ia pun berdiri. Ia menepuk halus bahu Nadia lebih dari satu kali seolah memberikan sebuah kekuatan padanya.
"Te-terima kasih," jawab Nadia terbata. Ia masih tak mengerti dengan apa yang atasannya itu katakan padanya.
Tak mau ambil pusing, Nadia pun kembali membuka laptopnya dan menyelesaikan pekerjaan yang tadi sempat tertunda.
***
Pukul 2 siang Nadia hendak pergi ke toilet, padahal beberapa menit yang lalu ia baru saja kembali dari makan siang bersama Meta juga Bimo. Akhir-akhir ini rasa keram di perutnya lebih sering terasa.
Rasa takut menyelimuti dirinya saat ini, namun ia juga tak punya nyali untuk memeriksakan diri. Alex sangat antusias dengan kehadiran bayi dalam perutnya. Bagaimana jika hal buruk terjadi dan Alex menjadi kecewa padanya ? Tidak, Nadia belum siap akan hal itu.
Meksipun Alex mengatakan bahwa ia sangatlah mencintai Nadia tapi tentu saja kehadiran buah hati mereka yang menjadikan Alex seperti itu.
Nadia berjalan pelan-pelan, ia menyusuri lorong kantor sendirian. Pandangan mata menghakimi masih saja ia dapatkan dari beberapa orang yang berpapasan dengannya malah ada beberapa yang tersenyum sinis melihatnya. Nadia abaikan apa yang mereka lakukan padanya.
"Toh, aku gak pernah nyusahin mereka. Anggap aja buat ngurangin dosa," Nadia menghibur dirinya sendiri.
Ia baru saja akan memasuki toilet ketika suara beberapa orang wanita berdebat terdengar dengan jelasnya.
" Jangan bangga punya temen yang sukses ! Ya iyalah dia bisa dapat tender gede, orang pake jual diri bayarannya," ucap salah satu wanita yang tak bisa Nadia lihat wajahnya karena saat ini ia tengah berdiri di balik pintu untuk mencuri dengar perdebatan tersebut.
"Jaga mulut, Lo ! Nadia bukan cewek murahan yang seperti lo bilang ! Dia kerja keras buat dapatin ini semua !" Nadia hapal benar suara yang sedang berbicara ini. Siapa lagi jika bukan Meta sahabatnya.
"Buka mata lo ! Udah kesebar kok photo temen Lo lagi keluar dari klinik dokter kandungan dan laki-laki yang nemenin dia adalah pemain wanita kelas kakap. Udah jadi rahasia umum jika pengusaha itu memang suka berganti-ganti wanita buat hiburan dan gak nyangka salah satunya adalah temen lo ! Demi kerjasama demi karir, Nadia si polos menjajakan dirinya !!"
'plaakk,' terdengar suara tamparan . Nadia menutup mulutnya tak percaya, ia ingin masuk namun perut bawahnya terasa kian ngilu saja.
"Jaga mulut Lo !! Kalau gak tahu yang sebenarnya jangan asal tuduh," Meta kembali berbicara dengan suara meninggi.
" Kalo gak hamil udah gue lawan Lo !" Ucap wanita lainnya menimpali. Tentu saja kata-kata itu ditujukan untuk Meta.
"Lo tuh sahabat dia tapi beg* ! Masa temen sendiri jual diri gak tahu ? Beberapa hari yang lalu juga ada yang lihat si Nadia masuk mobil mewah yang berhentinya di halte. Mungkin lagi nego harga, hahahha," ucap yang lainnya. Nadia yang mendengarkan itu meneteskan air matanya, ingin ia berteriak jika semua itu tidak benar tapi sungguh ia merasa tak berdaya saat ini.
Ingin Nadia mengatakan jika Alex adalah suaminya, namun ia takut dianggap sebagai pengkhianat atau mata-mata perusahaan lain karena selama ini Alex dan Nadia bersikap seolah baru saling mengenal.
"Maafin aku, Meta," lirih Nadia sembari mengusap pipinya yang basah dan ia pun kembali ke bilik kerjanya.
Tak ada yang Nadia lakukan selama 15 menit duduk di bangkunya. Tatapan matanya kosong ke sembarang arah.
"Nad, 3 hari lagi kamu ditugaskan untuk bertemu dengan perwakilan PT.YYY itu," lagi-lagi pak Adi yang muncul di bilik kerjanya dan membuyarkan lamunan Nadia.
"Saya gak mau," sahut Nadia cepat.
"Ini perintah dari boss besar, Nad. Direktur sendiri yang memerintahkan, bukan saya," ucap pak Adi sungguh-sungguh.
to be continued ❤️
jangan lupa like dan komen ya
thank you ❤️