In Love

In Love
Aku Membutuhkanmu



"Lebih dari itu, dia segalanya bagi saya," jawab Nadia. Dan setiap kata-kata, ia ucapkan dengan penuh kesadaran.


Daniel yang mendengar itu mengulum senyum, padahal yang sesungguhnya terjadi adalah ia merasa kecewa dan juga patah hati.


"Patah hati ?" batin Daniel.


Daniel kembali tersenyum, bagaimana dirinya tak patah hati ? walaupun ia baru mengenal Nadia selama satu Minggu saja tapi dirinya sudah begitu tertarik pada wanita itu.


Bagi Daniel, Nadia adalah seseorang yang menyenangkan dan mudah bergaul. Kecerdasannya membuat Nadia terlihat se*si di mata Daniel dan wajahnya yang cantik menyempurnakan semuanya. Tak butuh waktu lama bagi lelaki itu untuk merasa tertarik pada Nadia meskipun belum lama mengenalnya tapi belum apa-apa Daniel harus menelan pil pahit kekecewaan. Pada kenyataannya, hati Nadia telah tarpaut pada lelaki lain.


Dengan jelasnya Nadia membentengi diri, mengatakan bahwa dia tak lagi tertarik untuk berkencan dan ada seseorang yang telah menjadi segalanya bagi Nadia, seolah mengatakan jika hatinya telah menjadi milik orang lain dan tak ada celah bagi Daniel untuk memasukinya.


Tapi jika memang Nadia telah memiliki seseorang yang dicintainya, kenapa ia berada di Bandung seorang diri. Rasa penasaran masih menyelimuti Daniel saat ini.


"Apakah itu dia ?" tanya Daniel seraya menunjuk cincin yang tergantung di leher jenjang Nadia dengan matanya.


Nadia menundukkan kepalanya dan melihat apa. yang Daniel maksudkan. Ternyata cincin pernikahan yang selama ini selalu ia sembunyikan, saat ini terpampang nyata karena tak lama sebelum Daniel datang, Nadia tengah memainkan nya dan lupa untuk kembali menyembunyikannya di balik blouse yang ia kenakan. Ia mengangguk pelan dan membenarkan.


"Kalau dia segalanya, kenapa kamu berada di sini seorang diri ?" tanya Daniel kemudian, masih merasa penasaran.


Nadia terdiam untuk sesaat sebelum ia menjawab. Sedikit terkejut akan pertanyaan Daniel yang menurutnya kurang pantas karena sudah masuk ke ranah pribadinya . "Its complicated" ( ini rumit ) jawab Nadia singkat.


"Ah sorry," sahut Daniel setengah malu. Ia sadar jika Nadia tak terlalu suka dengan pertanyaan yang ia lontarkan. Wanita di hadapannya ini benar-benar membentingi diri.


"I'm just curious," (aku hanya penasaran) lanjut Daniel lagi, terlihat canggung karena ucapannya sendiri.


Nadia tersenyum dan menyenderkan tubuhnya di kursi. "Tak ada yang menarik tentang saya," sahut Nadia berusaha mengakhiri pembicaraan diantara mereka.


"Kamu salah," timpal Daniel. "Semua tentangmu membuatku ingin tahu lebih tentangmu," lanjutnya kemudian.


Nadia tertegun dan terdiam, "Percayalah... Tak ada yang menarik tentang saya," jawabnya.


"Kita tak akan tahu jika tak saling mengenal," kilah Daniel masih bersikeras. "Apa boleh jika sekali-kali kita pergi makan malam untuk lebih saling mengenal ?" tanya Daniel dan Nadia menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban.


"As a friend ?" ( sebagai teman ) tanya Daniel lagi, masih belum menyerah tapi lagi-lagi Nadia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


" Apa dia yang melarang kamu untuk berteman dengan lelaki lain ?"


"Aku... aku yang sudah tak ingin berteman dengan laki-laki lain," jawab Nadia tanpa ragu.


Jawaban yang Nadia berikan cukup menjadi pukulan telak bagi Daniel hingga ia kembali merasa tak percaya.


"Karena dia segalanya ?" tanya Daniel untuk kesekian kalinya.


Nadia menarik nafas dalam dan menghembuskan nya pelan, ia bayangkan jika Alex lah yang duduk di sana, di hadapannya dan bertanya padanya. "Sudah ku katakan berulang kali... Alex, kamu lebih dari itu," jawab Nadia sembari tersenyum penuh arti.


Daniel pun ikut tersenyum walaupun dalam hati ia merasakan ngilu, pendekatannya di tolak mentah-mentah. Padahal di luar sana banyak wanita yang mendambanya untuk menjadi seorang kekasih.


"Huuufffttt," Daniel menarik nafas dalam dan kemudian ia berdiri untuk beranjak pergi."Baiklah, sebaiknya saya pergi sekarang karena ternyata semuanya telah dipenuhi Alex seorang," lanjutnya lagi dan Nadia yang mendengar itu hanya tersenyum dengan rasa bersalah.


"Maaf," sahut Nadia pelan. Bukannya besar kepala, tapi Nadia tahu dan paham jika Daniel berusaha mendekatinya bukan sebagai atasan dan bawahan tapi sayangnya Nadia tak ingin hubungan yang seperti itu.


"Kalau begitu saya pulang duluan, karena saya yakin kamu juga pasti menolak jika saya tawarkan untuk mengantarmu pulang,"


Nadia hanya tertawa ringan menanggapinya, ia tak menjawab pernyataan yang Daniel berikan dan lelaki itu pun pergi meninggalkan ruangan Nadia dengan rasa kecewa.


Masih dengan tubuhnya yang bersandar di kursi, Nadia memejamkan matanya. Membayangkan apa yang sedang Alex lakukan. Tepat satu Minggu lalu, Nadia datang ke apartemen Alex dan mengejutkan suaminya itu. Masih segar dalam ingatannya bagaimana Alex memagut bibirnya dengan penuh rasa rindu dan ia pun membalasnya dengan rasa yang sama.


Tepat satu Minggu lalu keduanya menikmati akhir pekan terbaik yang dipenuhi pelukan dan ciuman.


Namun kini tepat satu Minggu kemudian cinta keduanya terpisahkan oleh jarak yang membentang dan rindu yang kian menyiksa.


Lama terdiam membuat Nadia tak lagi bersemangat menyelesaikan pekerjaannya, ia memilih untuk membereskan meja kerjanya dan melanjutkan kembali esok pagi. Terlalu memikirkan Alex membuatnya tak lagi berkonsentrasi untuk bekerja.


Nadia mengeratkan jaket yang ia kenakan, udara malam ini terasa dingin. Seperti sebelumnya ia memilih untuk berjalan kaki menuju rumah dinas yang jaraknya tak terlalu jauh dari kantor tempatnya bekerja.


Ia melakukan itu untuk menghabiskan waktu dan juga membunuh sepi yang terus menghampiri dirinya. Nadia susuri jalanan yang basah karena ternyata langit menumpahkan airnya. Meskipun tak sederas tadi tapi titik-titik air hujan masih berjatuhan membasahi.


Nadia hentikan langkahnya untuk sesaat, ia pejamkan mata dan menikmati air hujan yang menetes di atas kepalanya lalu dengan perlahan membasahi tubuhnya.


Air hujan itu jatuh bersamaan dengan air matanya yang juga meluruh hingga ia rasakan hangat di pipinya. Hadir dengan jelas dalam ingatan Nadia bagaimana Alex meletakkan telapak tangannya yang besar di atas kepala agar ia tak kena air hujan namun kini tak ada seorang pun yang melakukan itu untuk melindunginya.


"Aleeexxhhh," lirih Nadia masih dengan mata terpejam di bawah guyuran hujan.


"Aku membutuhkanmu," lanjutnya lagi. Air matanya kian bercucuran seiring air hujan yang turun dengan derasnya.


***


Alex duduk termenung di apartemennya, matanya menatapi buliran titik-titik air hujan yang menempel pada kaca jendela. Pikirannya melayang pada seseorang yang ia rindukan dengan sangat.


"Nad... Sayang," desahnya pelan.


Dalam benaknya menebak-nebak apa yang sedang istrinya lakukan. "Apa di sana juga hujan ?" gumam Alex di dalam kesendiriannya. Ia pun tersenyum samar ketika mengingat bagaimana Nadia suka berjalan dalam hujan dengan telapak tangannya sebagai pelindung.


"Tak ada yang boleh melakukan itu selain aku," masih Alex berbicara pada dirinya sendiri.


Alex tersenyum samar ketika ia ingat Minggu lalu dirinya memagut bibir Nadia di bawah guyuran air hujan dan sungguh itu sesuatu yang luar biasa baginya.


Alex edarkan pandangan, menelisik apartemennya yang begitu sunyi. Padahal dulu Alex suka sekali dengan rasa sepi seperti ini, tapi setelah bertemu Nadia semua berubah. Ia tak lagi suka berada sendirian, ia tak lagi suka dengan kesunyian.


"Sayang... Aku membutuhkanmu," lirih Alex dengan kepala tertunduk dan tak lama ia rasakan asin di bibirnya karena ternyata air bening yang ia tahan akhirnya terjatuh juga. Pundaknya naik turun menandakan Alex tengah menangis, menumpahkan rasa rindunya yang tak terucapkan.


TBC ♥️


Jangan lupa vote karena kau mau dobel update lagi 😙


Like dan komen juga yaaa


maaciw zheyeenk 🥰