In Love

In Love
Cemburu



Joy dan Heru menanti dan tunggu pertanyaan itu dengan rasa cemas karena takut kehilangan pekerjaan mereka.


"Apa.. menurut kalian aku ini ganteng ? Atau mungkin sudah berubah jelek hingga tak menarik lagi di mata wanita ?" tanya Alex dengan mimik wajah serius. Matanya menyorot tajam dan rahangnya menegas menandakan ia tak main-main dengan pertanyaan yang dilontarkannya.


Heru dan Joy saling beradu pandang. Melihat satu sama lain. Mata mereka mengisyaratkan pertanyaan yang sama yaitu "Apa aku tak salah dengar apa yang Pak Henry tanyakan ?"


Joy menggeleng pelan pertanda tak yakin, sedangkan Heru menelan ludahnya dengan susah payah. Ia takut bila memberikan jawaban yang salah. Kariernya sedang dipertaruhkan.


"Apa kalian tuli ?" Tanya Alex dengan suara meninggi.


"Ya Pak ?" Tanya keduanya dengan kompak.


" Apa menurut kalian, aku ini masih terlihat ganteng ? Aku tahu usiaku semakin bertambah. Sudah memasuki kepala 3 dan mungkin tak menarik lagi di mata wanita," ucap Alex lagi. Ia menanti jawaban dari kedua orang kepercayaannya itu sembari sandarkan tubuhnya di kursi.


"Anda masih sangat tampan, Pak. Jika boleh jujur... Saya akan sangat-sangat tertarik pada bapak tapi sayangnya anda sudah menikah dan saya pun begitu," jawab Joy sejujurnya.


"Apa pak Henry benar-benar gak tahu jika selama ini dirinya menjadi objek cuci mata bagi para pegawainya ?" Tanya Heru dalam hatinya.


"Mmm... Saya saja sebagai laki-laki mengakui jika anda sangatlah tampan dan tubuh anda sangatlah bagus, apalagi para wanita yang melihatnya," kali ini Heru sang asisten pribadi yang menjawabnya.


"Sebenarnya aku tak peduli pendapat wanita lain... Aku hanya ingin terlihat menarik bagi...," Alex menjeda ucapannya. Tak mungkin ia mengatakan sejujurnya pada kedua pegawainya itu jika ia hanya ingin Nadia


Walau bagaimanapun ia tak mau kedua pegawainya mengetahui jika Nadia sang istri sedang tak mau dengannya.


Alex tundukkan kepalanya, melihat pada perutnya yang terlihat datar namun ia merasa disitulah letak kekurangannya.


"Tolong carikan tempat gym yang bagus dan juga dengan personal trainer terbaik yang berpengalaman. Jadwalkan latihan fisik untuk 3 kali dalam seminggu," titah Alex pada asistennya dan juga pada sekretaris pribadinya.


"Kalian boleh pergi !" Titah Alex masih dengan wajahnya yang tak bersahabat.


Heru beranjak pergi tapi tidak Joy yang masih berdiri di hadapan Alex. "Ada apa ? Apa kamu tak mengerti dengan apa yang aku perintahkan ? Buatkan jadwal untuk kegiatan gym sebanyak 3 kali dalam seminggu," ucap Alex terdengar ketus pada sekretarisnya itu.


"Bu-bukan itu, Pak. Tadi, ibu datang dan ingin bertemu anda. Tapi karena anda mengatakan tak ingin diganggu oleh siapapun termasuk Bu Nadia, maka saya katakan bahwa anda sedang sangat sibuk dan tak ingin diganggu," jelas Joy.


Alex terperangah mendengar Nadia mencarinya. Tapi meskipun begitu, Alex tak langsung merasa senang. Ia teringat bagaimana tadi pagi Nadia menolak sentuhannya dengan telak. Membuat Alex merasa istrinya itu tak lagi menginginkannya.


Sepanjang pagi hingga siang Alex tak berkonsentrasi untuk bekerja karena kepalanya penuh dengan pikirannya tentang hubungan yang kian memburuk dengan sang istri. Seandainya saja Nadia tahu jika Alex terus memikirkannya.


"Ya, katakan saja padanya jika saya sedang sibuk dan tak bisa ditemui," ucap Alex.


"Jika Bu Nadia ingin bertemu lagi, saya harus katakan itu ?" Tanya Joy.


"Ya ! Saya sedang tidak ingin bertemu siapapun dalam waktu yang tak bisa ditentukan,"


Sepeninggal Joy dan Heru, Alex kembali menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan. Mencoba untuk mengalihkan perhatiannya dari pikiran tentang Nadia yang selalu menolaknya.


Bahkan Alex mematikan daya ponselnya agar tak seorangpun menganggunya dan juga agar dirinya tak selalu melihat foto sang istri yang memenuhi galeri ponselnya itu.


Tepat satu jam kemudian, sang sekretaris mengabarkan jika Alex bisa mulai berlatih fisik di gym hari ini juga dengan seorang pelatih pribadi. Sebenarnya tubuh Alex masih terlihat sempurna dengan otot dan guratan-guratan urat tak berlebihan itu. Tapi penolakan Nadia membuat dirinya tak percaya diri.


Alex tinggalkan ruang kerjanya untuk pergi ke gym padahal jam pulang kantor masih lama, tapi karena ia adalah pemiliknya maka ia bebas untuk melakukan apa saja.


Ia menyambar kunci mobilnya dan sebuah tas yang berisikan keperluan olahraganya yang telah disiapkan oleh sekretaris juga asisten pribadinya.


"Apa yang harus saya katakan pada Bu Nadia jika beliau menanyakan anda ?" Tanya Joy sebelum Alex benar-benar pergi.


"Katakan saja saya sedang mengikuti rapat penting," jawab Alex sekenanya dan berlalu pergi tanpa menemui Nadia sama sekali.


***


Tepat seperti dugaan Joy, Nadia datang kembali untuk menemui suaminya. Dan seperti yang Alex perintahkan, Joy mengatakan jika bosnya itu tengah mengikuti rapat penting di sebuah perusahaan dan baru saja pergi.


Lagi-lagi Nadia menelan pil kekecewaan. Ia tak bisa menemui Alex. Ada rasa sedih bercampur kecewa yang memenuhi hatinya saat ini. Bahkan dengan susah payah dirinya menahan air bening yang sudah siap ditumpahkan dari matanya.


Nadia pun tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Ia yang menghindari Alex, bahkan dirinya secara terang-terangan menolak Alex yang mengajaknya berc*nta tadi pagi. Tapi ketika Alex marah dan menghindarinya, Nadia merasa sedih luar biasa.


Nadia berjalan menuju ruang kerjanya sendiri dengan kepala tertunduk. Ia berusaha untuk menyembunyikan air matanya yang sudah terlanjur turun membasahi pipinya. Cepat-cepat ia merogoh ponsel miliknya yang berada di saku celana kerjanya. Ia akan menghubungi Alex dan bertanya kemana lelaki itu pergi.


Ia mengusap layar ponselnya dan memilih aplikasi pesan berwarna hijau. Alih-alih mencari nama Alex, jari Nadia tak sengaja meng-klik pembaharuan status kontaknya.


Mata Nadia membulat sempurna saat ia melihat Alex baru saja memposting photo dirinya yang tengah berolahraga dengan mengenakan celana pendek saja dan bertelanjang dada.


Tak hanya itu, disampingnya berdiri seorang wanita dengan pakaian olahraga yang minim bahan dan sepertinya mereka sedang melakukan olahraga bersama.


Air mata Nadia pun turun semakin deras. Ia merasa sakit hati karena Alex telah berbohong. Pada kenyataannya lelaki itu tak pergi untuk menghadiri rapat penting tapi berolahraga dengan seorang wanita.


Dada Nadia bergemuruh dan nafasnya memburu tak beraturan. Ia tengah merasakan cemburu dengan hebatnya.


to be continued ♥️


jangan lupa tinggalkan jejak yaaa.


terimakasih