In Love

In Love
Yang Kemudian Terjadi



Happy reading ❤️


"Ini perintah dari boss besar, Nad. Direktur sendiri yang memerintahkan, bukan saya," ucap pak Adi sungguh-sungguh.


Nadia menarik nafas dalam, masalah yang ia miliki bertumpuk. Sungguh ia sedang tak bersemangat namun setiap pekerjaan harus di sikapi dengan professional bukan ?


"Baiklah," jawab Nadia pada akhirnya walaupun ia terpaksa melakukan hal itu.


"Siapa yang rekomendasikan saya pada orang itu, Pak ?" Tanya Nadia.


Pak Adi tak langsung menjawab, ia menatap datar Nadia saat ini. "Saya juga kurang tahu, tapi katanya dia sangat merekomendasi kamu," jawabnya.


"Oooh," Nadia hanya ber-oh ria dan tak bermaksud untuk bertanya lebih lanjut, karena dalam hatinya sungguh ia tak bersemangat mengenai hal ini.


Gangguan kehamilan dan rumor tentang dirinya sungguh sangat membuatnya cemas.


"Oke, besok aku kasih tahu lagi apa yang harus disiapkan untuk bertemu klien baru kita," ucap pak Adi sembari berdiri dan tak lama ia pun pergi.


Nadia kembali membuka laptopnya, berusaha mengalihkan pikirannya dengan bekerja meksipun rasanya begitu sulit.


Pandangannya ia fokuskan pada layar walaupun pikirannya melayang entah kemana namun ia mengerjapkan matanya ketika sebatang coklat kesukaannya menutup sebagian layar.


"Ngemil yu ?" Tanya seseorang yang suaranya sangat Nadia kenali. Siapa lagi jika bukan Meta.


Meta sama sekali tak memperlihatkan wajah marah atau kesal. Ia tersenyum seperti biasanya seolah-olah tak ingin Nadia tahu apa yang belum lama dirinya alami.


"Ngemil ?" Nadia balik bertanya.


"Hu'um, aku lagi males banget kerja," jawab Meta sembari menduduki kursi yang belum lama pak Adi duduki juga dan ia pun menyerahkan coklat itu oada Nadia seolah untuk menghiburnya.


Nadia meraih coklat itu dengan tersenyum penuh makna. Ia merasa terharu dengan apa yang sahabatnya itu lakukan . Setelah membelanya kini ia datang untuk menemaninya dalam masa sulit.


"Terimakasih," sahut Nadia. Ia tak lagi bisa menahan air matanya yang terlanjur jatuh.


"Jangan menangis," ucap Meta seraya membawa Nadia pad pelukannya.


"Terimakasih," ucap Nadia lagi diantara isakan tangisnya.


"Terimakasih sudah membela aku," lanjut Nadia. Pundaknya naik turun menandakan ia tengah menangis lebih kencang dari sebelumnya.


Meta terdiam mendengarkan, ia yakin jika Nadia pada akhirnya tahu apa yang terjadi walaupun ia telah sekuat mungkin menyembunyikan rumor itu dari sahabatnya.


"Jangan takut dan jangan kalah untuk sesuatu yang tidak kita lakukan," ucap Meta menenangkan dan Nadia mengangguk paham. Ia semakin mengeratkan pelukannya dan bahkan ikut menitikkan air matanya


"Mereka akan merasa malu sendiri jika tahu status pernikahan kalian yang sebenarnya. Kamu jangan banyak pikiran, ada aku," lanjut meta kemudian.


"Iya," sahut Nadia singkat walaupun ia merasa sangat terpukul karena hal ini. Padahal sudah hampir 2 tahun ia bekerja di perusahaan itu dan berhubungan baik dengan sesama pegawai namun bila hal buruk terjadi ternyata kini semua orang terlihat watak aslinya.


"Kenapa menjadi seperti ini ?" Tanya Nadia lirih.


"Entahlah, tapi setahuku seseorang tanpa nama mengirimkan email pada alamat kantor dan di dalamnya terdapat beberapa photo yang menunjukkan kamu dan Alex keluar dari rumah sakit dan beberapa photo lain yang menunjukkan kamu memasuki mobil Alex di banyak waktu yang berbeda. Sepertinya seseorang sengaja melakukan ini padamu," jawab Meta, ia menjelaskan sebatas yang dirinya tahu.


"Lola," gumam Nadia. Tiba-tiba nama itu muncul di benaknya, karena selama ini ia tak pernah memiliki seorang musuh namun perkataan Lola terakhir kali membuat Nadia cemas luar biasa.


"Kalian tak akan bahagia," kata-kata itu terngiang begitu jelasnya di kepala Nadia bagai potongan film yang rusak.


"Sebaiknya kamu bicarakan ini dengan Alex dan cari jalan keluar bersama. Kurasa bukan hal buruk jika kalian mengumumkan pernikahan ini,"


"Hu'um, aku akan berusaha berbicara padanya. Namun ada hal yang lebih penting dan lebih mengganggu pikiranku," sahut Nadia dengan wajahnya yang terlihat lebih cemas lagi.


"Kenapa ?" Tanya Meta yang kini terlihat sama cemasnya.


"Aku...,"


Pada akhirnya Nadia menceritakan keluhan pada perutnya karena Meta sendiri sedikit banyak tahu tentang perihal kehamilan Nadia, ia lah yang mengantarkan sahabatnya itu untuk menemui dokter kandungan sebelum Alex datang.


"Mmm... Itu bisa karena stress atau kecapean, kapan harus menemui dokter lagi ?" Tanya Meta.


"2 Minggu yang akan datang," jawab Nadia.


"Walaupun belum pasti tapi sebaiknya kamu memeriksa kan diri lagi dan ajaklah Alex agar ia paham," sahut Meta menimpali.


"A-ku takut...," Ucap Nadia terbata.


"Kenapa takut ?"


"Aku takut jika hasilnya tak baik dan aku takut jika Alex akan merasa kecewa karena ia begitu antusias dengan kehamilan ini, bahkan ia mengatakan kata cinta setelah tahu aku 'mungkin' hamil anaknya. Aku takut jika Alex menyatakan perasaannya karena kandunganku," jawab Nadia dengan bibir bergetar menahan tangisnya.


Meta menatap Nadia yang terlihat begitu rapuh saat ini. Ia tahu betul jika Nadia seorang yang kuat dan tak mudah menyerah namun ternyata kelemahannya adalah rasa cinta yang ia miliki untuk Alex.


Tak bisa menyalahkannya, karena Nadia menikah dengan jalan perjodohan dan ia tahu bagaimana sahabatnya itu jatuh cinta pada suaminya yang beberapa kali mematahkan hatinya, jika sekarang Nadia merasa takut tentunya Meta sangatlah paham.


"Jika begitu, kita periksa keadaan mu denganku saja," ucap Meta.


"Hah ?" Nadia menatap sahabatnya tak percaya.


"Kita pergi berdua untuk memeriksa keadaanmu. Alex tak perlu tahu dulu, mau ya ?"


***


Dengan alasan ada keperluan Nadia dan Meta lebih dulu pulang dari jam biasanya. Kini mereka berada di sebuah klinik khusus ibu dan anak.


Beruntung bagi Nadia karena Alex sibuk sekali hari ini hingga lelaki itu mengirimkan seorang supir untuk menjemputnya. Nadia pun menggunakan sibuk sebagai alasannya hingga ia bisa lebih lambat pulang ke apartemen padahal yang sebenarnya Nadia lakukan adalah memeriksakan diri ditemani sahabatnya.


Sama seperti hasil pemeriksaan sebelumnya, kantung kehamilan belum terlihat hingga Nadia harus memeriksakan diri lagi 2 Minggu mendatang. Namun meskipun begitu dokter kandungan yang ia datangi memberikan beberapa obat untuk dirinya dan menyarankan Nadia untuk bed rest tapi tentunya ia tak bisa melakukan itu karena tuntutan pekerjaan yang sedang banyak-banyaknya. Terlebih lagi adanya klien baru yang memintanya secara langsung untuk menangani sebuah proyek besar.


"Jaga dirimu baik-baik, jangan stress jangan terlalu cape," ucap Meta.


Kini keduanya telah keluar dari rumah sakit tersebut dan menunggu mobil jemputan Nadia di salah satu tempat makan.


"Hu'um," jawab Nadia sembari menganggukkan kepalanya pelan.


"Ingat... Kata dokter, stress sangat mempengaruhi keadaanmu," ucap Meta lagi. Ia masih begitu mencemaskan keadaan sahabatnya.


"Iya, terimakasih sudah mau menemani aku," sahut Nadia.


"Mengenai rumor di kantor jangan kamu hiraukan, nanti juga hilang sendiri. Gak semua orang percaya kok, beberapa dari mereka masih ada yang membelamu," ucap Meta berusaha menenangkan Nadia.


Nadia kembali mengangguk pelan dan ia pun tersenyum mendengarnya. Dalam hatinya ia sungguh merasa beruntung karena memiliki Meta di sampingnya.


***


3 hari pun berlalu, Nadia belum sempat bercerita tentang semua masalahnya pada Alex karena suaminya itu kembali disibukkan dengan pekerjaannya. Ia akan pulang malam sekali dan langsung beristirahat.


Pernah suatu pagi Nadia bertanya tentang Lola dan kemungkinan wanita itu berbuat sesuatu yang buruk pada mereka, namun Alex mengatakan jika Nadia jangan terlalu berlebihan memikirkannya. Sejak kejadian itu Lola tak pernah menampakkan batang hidungnya lagi, jadi kemungkinan besar wanita itu telah pergi.


Alex mengatakan itu untuk menenangkan istrinya padahal dalam hatinya pun ia merasa cemas. Alex takut Lola menyakiti istrinya tapi kesibukannya yang luar biasa membuat Alex sedikit lengah.


"Aku akan berusaha mencari tahu keberadaannya dan memastikan dia tak menyakiti kamu," ucap Alex waktu itu dan apa yang Alex katakan sedikit menenangkan hati Nadia.


"Udah siap ?" Tanya pak Adi membuyarkan lamunan Nadia.


"Hu'um," jawab Nadia sembari membereskan berkas yang hendak ia bawa.


"Sorry kamu jadinya harus pergi sendiri karena saya harus menghadiri rapat sedangkan Bagas sedang keluar kota," ucap pak Adi.


"Its oke, i can handle it," sahut Nadia seraya tersenyum dan pak Adi pun terlihat lega melihatnya.


Sebelum pergi Nadia menemui Meta terlebih dahulu, ia berpamitan. Kedua sahabat itu saling berpelukan seolah terasa berat untuk saling melepaskan padahal ini bukan pertama kalinya Nadia pergi keluar kantor sendirian.


"Jaga diri," ucap Meta sembari menguraikan pelukannya.


"Iya," sahut Nadia dan ia pun pergi untuk bertemu klien barunya.


***


Nadia tiba tepat waktu, ia memasuki sebuah restoran mewah di selatan kota Jakarta. Walaupun merasa enggan tapi Nadia berusaha seprofesional mungkin. Ia tersenyum hangat pada seorang laki-laki yang terlihat tampan di usianya yang telah berkepala 3. Lelaki itu telah tiba lebih dulu dan menanti kedatangannya.


"Nadia Wirahma ?" tanya Lelaki itu sembari berdiri dan menyambut kedatangannya.


"Iya, dan anda pasti Pak Nicky Budiman ?" Nadia balik bertanya dan menyambut hangat uluran tangan lelaki itu.


"Nick, panggil saja say Nick," jawabnya hangat.


"Silahkan duduk," ucap lelaki itu dan ia menunjukkan kursi yang harus Nadia duduki.


"Cantik, sangat cantik," gumam Nick namun Nadia masih bisa mendengarnya dengan jelas.


"Maaf ?" tanya Nadia dengan mengerutkan keningnya.


"Kamu cantik, sesuai yang dia ceritakan. Makanya saya ingin sekali bekerja sama dengan kamu,"


"Dia ?" tanya Nadia kian penasaran.


"Hummmm emang dia belum cerita ?" lelaki itu balik bertanya


Nadia menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban.


"Alex, emmm maksudku Henry tapi karena kita berteman dekat aku memanggilnya Alex."


To be continued ❤️


thanks for reading ❤️


genks, maapkan aku yang tak bisa up tiap hari karena di penghujung bulan suci ini ada saja kesibukan di dunia nyata.


Semoga masih semangat puasanya jangan lupa perbanyak amalan baik di hari-hari terakhir bulan suci ini.


Semoga Allah memberikan rahmatnya bagi kita semua.


Aamiin...