
Happy reading ❤️
"Kamu harus dengarkan semua," lanjut Alex tak terbantahkan dan akhirnya Nadia pun meletakkan pinsilnya di atas meja lalu mengangkat wajahnya menatap Alex yang terlihat begitu serius saat ini.
"Aku akan bercerita tentang masa laluku dengan Laura. Dengarkan baik-baik," ucap Alex dengan wajahnya yang dingin.
Nadia berusaha untuk terlihat kuat, ia tak menunjukkan wajah terkejut ataupun sakit hati padahal saat ini dadanya berdebar kencang, suaranya tercekat di tenggorokan, dan lututnya gemetar karena cemas dengan apa yang akan Alex ceritakan. Bahkan ia menarik tangannya dari atas meja untuk ia kepalkan di bawahnya. Nadia melakukan itu untuk menyalurkan rasa gelisahnya.
Melihat Nadia yang terdiam membisu membuat Alex meneruskan perkataannya.
"Aku bertemu Lola atau Laura ketika umurku masih sangat muda, mungkin 18 atau 19 tahun namun sudah duduk di bangku kuliah di universitas yang sama dengannya. Ia adalah senior di kampusku dengan jurusan yang berbeda. Sejak pertama melihatnya aku langsung jatuh cinta, kami bertemu di acara kampus. Waktu itu ia menjadi salah satu pembicara yang mewakili siswa berprestasi. Dia sangat pintar, cerdas dan cantik. Sejak saat itu hanya dia seorang yang terlihat di mataku, karena dia wanita yang sangat sempurna," jelas Alex perlahan.
Mendengar kata jatuh cinta membuat Nadia menelan salivanya, ia merasa kian cemburu. Dadanya memanas namun masih tak bisa berkata-kata.
"Dia memang bukan kekasihku yang pertama tapi dia adalah cinta pertamaku, segalanya bagiku. Tak mudah bagiku untuk mendapatkannya karena ia sulit untuk didekati. Butuh satu tahun untuk bisa menjadikannya kekasih dan selama itu, aku lakukan apapun yang ia minta," Alex tersenyum samar mentertawakan dirinya sendiri.
"Setelah resmi berpacaran pun Lola masih sangat menjaga jarak, dia sering pergi dan dekat dengan lelaki lain secara terang-terangan di depan mataku, hingga banyak temanku yang mengatakan aku ini lelaki bodoh. Tapi itulah aku, rela disakiti asal dia menerima cintaku. Aku terus bertahan meksipun cinta Lola tak pasti untukku,"
Nadia menelan salivanya, yang Alex lalui dulu adalah yang sedang Nadia lakukan saat ini. Ia bertahan dalam rasa sakit hanya agar bisa dekat lelaki yang sangat dicintainya itu.
"Cinta memang membuat kita melakukan hal yang bodoh," sahut Nadia dengan suara yang bergetar.
"Yeah right...," Sahut Alex membenarkan.
"Aku terus bertahan, aku lakukan apapun yang Lola inginkan agar dia gak ninggalin aku. Memasuki tahun ke 3 aku memohon padanya untuk tinggal bersama dan ketika Lola mengatakan iya, aku adalah lelaki paling bahagia di dunia tapi itu pun tak semulus yang diimpikan. Lola mulai bekerja di firma hukum ternama sedangkan aku masih duduk di bangku kuliah. Karirnya begitu melesat dalam waktu singkat,"
"Lola sangat hebat," potong Nadia menimpali. Ia tersenyum dipaksakan ketika mengatakan itu.
"Selama Lola bekerja dia selalu membicarakan atasannya yang sukses. Ia sangat terpesona dengan kerja keras dan keberhasilan atasannya itu. Kadang aku merasa cemburu namun mungkin itu cara Lola untuk membuat aku pun seperti itu, agar aku mau bekerja keras," lanjut Alex.
"Karena kinerja Lola yang baik dalam waktu singkat ia menjadi orang kepercayaan bosnya itu sedangkan aku masih bergelut dengan diktat kuliah. Jujur saja... Karena aku dimanjakan mama membuat aku sedikit malas, Lola yang melihatku seperti itu semakin sering membandingkan aku dengan bosnya," lanjut Alex, kemudian ia menenggak minuman dulu sebelum melanjutkan ceritanya kemudian.
"Pernah suatu waktu Lola mengajakku ke pesta kantornya. Pesta yang dipenuhi banyak orang muda yang sukses termasuk bosnya. Kulihat Lola begitu antusias dengan dunianya dan itu membuatku silau, apalagi melihat kedekatannya dengan sang bos yang terbilang masih berusia muda walaupun dia telah menikah dan memiliki anak. Aku lihat mata Lola memandangnya kagum setiap kali mereka bicara dan tak pernah sekalipun Lola melihatku begitu. Aku semakin merasa insecure ( tak aman/ tidak percaya diri ) dari sana aku semakin ketakutan kehilangan wanita yang sangat aku cintai. Untuk memenangkan hatinya aku lakukan apapun yang Lola minta, aku perlakukan dia layaknya ratu hanya agar Lola tak meninggalkan aku. Aku mulai belajar dan berubah, berharap Lola tak pergi hingga akhirnya aku memutuskan untuk melamar Lola di hari ulangtahunnya. Aku nekad melakukan itu padahal usiaku baru memasuki 22 tahun karena aku begitu takut kehilangannya," Alex menarik nafas dalam dan menjeda ceritanya. Ia tak sadar wanita di hadapannya menahan tangis karena itulah yang Nadia inginkan, dicintai Alex sedalam itu.
"La-lalu apa yang terjadi ?" Tanya Nadia terbata dengan suaranya yang bergetar.
"Hum ?" Alex balik bertanya. Dan ia pun tersenyum dipaksakan setelahnya.
"Ketika aku datang ke apartemen dengan sebuah cincin berlian di dalam kotak, tak ada siapapun disana. Yang sangat aku takutkan terjadi, Lola pergi meninggalkan aku. Tak ada gelagat apapun sebelumnya dan tak ada pertengkaran. Ia meninggalkan aku tanpa jejak dengan secarik kertas bertuliskan "maafkan aku", hancur duniaku seketika," lanjut Alex seraya menatap dalam mata Nadia yang telah mengembun.
"Butuh waktu lama untuk menyembuhkan luka hati. Aku mengalami gangguan tidur juga makan dalam waktu berminggu-minggu hingga mama begitu khawatir, aku pulang kembali ke rumah. Patah hati membuatku hampir gila,"
"Ya aku tahu... Jatuh cinta dan patah hati karena karena orang yang sangat kita cintai dengan dalam rasanya begitu hebat," potong Nadia. Ia tersenyum getir ketika mengatakan itu.
"Yeah right... Kamu pernah merasakannya ?" Tanya Alex.
Nadia mengangguk pelan, ia tersenyum kecut. Ingin rasanya Nadia berteriak pada Alex bahwa dia lah yang telah membuatnya jatuh cinta dan juga patah hati hingga membuat Nadia pun merasa hampir gila karenanya.
"Rasanya seperti hampir gila bukan ?" Tanya Alex lagi.
"Lebih dari itu," jawab Nadia membenarkan. "Lalu apa yang terjadi setelah Lola pergi ?" Tanya Nadia kemudian.
"Dan kamu berhasil...," Sahut Nadia. "Kamu hebat Alex,"
"Setahun bekerja, aku memutuskan untuk keluar dan mulai membangun perusahaanku sendiri dengan serius dan inilah hasilnya dari kerja keras dan keberuntungan yang aku miliki,"
"Kamu berhasil menjadi orang sukses dan membuat Lola kembali," sahut Nadia. "aku salut padamu,"
"Puncak kesuksesanku adalah ketika mengerjakan proyek besar waktu itu dan kamulah yang sangat membantuku. Kamu ingat ? Hasil perhitungan dan penjelasan mu membuat proyek itu berhasil dengan sempurna. Setelah itu aku semakin mendapatkan banyak tawaran kerja sama hingga namaku melesat dan tercatat dalam majalah bisnis. Terimakasih Nadia," ucap Alex sungguh-sungguh.
"Aku hanya membantu sedikit, kesuksesan kamu tak ada kaitannya denganku," ucap Nadia sungkan.
"Proyek ini aku kerjakan berbulan-bulan. Klien selalu merasa kurang puas, namun setelah kamu ikut campur di dalamnya semua berubah. Hampir saja aku kehilangan pekerjaan itu tapi kamu yang menyelamatkannya. Dan aku tak bohong soal itu," jelas Alex.
"Mmm... Kalau begitu aku senang bisa membantumu," ucap Nadia.
"Sepertinya Lola membaca namaku dalam majalah bisnis hingga memutuskan ia untuk kembali,"
"Akhirnya Lola bisa melihatmu berhasil," potong Nadia.
"Ia kembali tepat di hari ulang tahunku, malam ketika kamu menyiapkan kejutan untukku dan maafkan aku yang pulang terlambat waktu itu," kata Alex dengan pandangan mata bersalahnya.
"Mmm, itu sudah lalu. Aku hanya iseng menyiapkan itu semua," Nadia merasakan perih di hatinya ketika mengingat untuk pertama kalinya ia begitu patah hati.
"Lola kembali dan tentu saja aku sangat bahagia karena itu yang aku inginkan, itu tujuanku untuk sukses. Aku ingin Lola melihatku seperti ia melihat bosnya san pada akhirnya aku bisa melihat Lola yang memandangku penuh rasa kagum,"
"Selamat Alex kamu bisa membuat wanita yang sangat kamu cintai kembali padamu dan mungkin kini saatnya bagi kalian untuk bersatu. Jika kalian inginkan itu, maka aku siap untuk mundur," ucap Nadia dengan menahan tangisnya yang kini siap meledak. Bahkan ia mengusap ujung matanya yang sedikit basah.
"Tapi... Kini banyak janji yang aku ingkari padanya," ucap Alex dengan jelasnya.
"Hah ?" Nadia berkerut alis tak paham.
"Aku banyak mengingkari janji padanya hanya untuk bisa bersamamu,"
"What ?" Gumam Nadia, ia semakin tak mengerti.
"Banyak janji yang aku batalkan pada Lola karena aku lebih senang menghabiskan waktu denganmu Nadia," jawab Alex dengan menatap dalam mata istrinya itu.
"Karena segs ? Kamu senang denganku hanya karena itu bukan ? Karena aku melarangmu untuk melakukan hal itu dengan Lola?" Tanya Nadia beruntun.
"Tidak bukan karena itu, asal kamu tahu Lola juga beberapa kali menawarkan tubuhnya untuk ku nikmati, dan jika aku mau aku bisa saja melakukannya dengan Lola lalu berbohong padamu tapi nyatanya aku tak bisa melakukan itu karena wajahmu lah yang selalu terbayang jika aku berada didekatnya dan itu membuat aku tersiksa," jawab Alex tanpa ragu.
"Hah ?" Gumam Nadia seraya menelan salivanya.
"Aku tak tahu apa ini, tapi aku hanya menginginkan kamu seorang Nadia, dan setiap melihatmu dekat dengan lelaki lain membuatku gila karena rasa cemburu. Aneh bukan ?"
To be continued ❤️
Thanks for reading